Rabu, 16 Mei 2018

[Hasil Baca] Aroma Karsa

sumber gambar: detikHot
Judul Buku
Aroma Karsa
Penulis
Dewi Lestari
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Tahun Terbit
Cetakan pertama, Maret 2018
Jumlah Halaman
710 Halaman

Ada yang sudah baca novel fiksi terbaru dari Dewi Lestari? Judulnya Aroma Karsa. Novel bersampul putih dengan ilustrasi aneka rupa bebungaan dan tanaman yang apik. Dari judulnya, sudah bisa ditebak novel ini bercerita tentang apa. Ya, tentang aroma. Tentang bebauan. 

Ide yang dihadirkan oleh Dee dalam setiap cerita yang digarapnya selalu menarik dan berada di luar jangkauan orang-orang awam kebanyakan. Bahkan ketika baca tulisan-tulisannya, saya pun selalu bertanya-tanya, kok bisa kepikiran ide kayak gini sih?

Selama saya baca karya-karyanya Ibu Suri (demikian warganet menyebut Dewi Lestari), novel dengan ide paling ringan menurut saya ada di novel berjudul Perahu Kertas. Novel-novel lainnya, selalu punya ide unik tak terkira. Sebut saja Supernova, salah satu novel science fiction yang membutuhkan pemahaman mendalam untuk bisa mencernanya dengan baik. Sekarang, Aroma Karsa pun demikian.

Tutur kalimat yang dibawakan Dee selalu punya ciri khasnya sendiri. Alur yang dibuatnya, membuat saya susah berhenti membaca di tengah jalan. Kok rasanya sayang aja kalau harus mengambil jeda terlalu lama untuk menyelesaikan bab demi babnya. Padahal, untuk ukuran novel, Aroma Karsa termasuk tebal. Bayangan saya sebelum membeli buku ini, "Ah, mungkin ini seminggu atau dua minggu baru bisa selesai."
Nyatanya saya salah. Baru tiga hari juga sudah tuntas bacanya.

Ada dua hal yang selalu saya suka dari Dee sebagai penulis. Pertama, Dee melakukan riset mendalam ketika menulis cerita meskipun cerita yang ditulis adalah cerita fiksi. Kedua, tokoh utama dalam cerita-cerita yang dibangun oleh Dee bukan tokoh putih, bukan pula tokoh hitam, melainkan tokoh abu-abu.


Penulisan Aroma Karsa melibatkan banyak tempat dan banyak individu dalam risetnya. Tengok saja dalam salah satu halaman ucapan terima kasih. Dee melibatkan TPA Bantar Gebang, sebuah perusahaan kosmetik Mustika Ratu, seorang pembalap Ananda Mikola, arkeolog dari Universitas Indonesia, juga melibatkan juru kunci Gunung Lawu. Hasilnya? Keseluruhan alur ceritanya tampak nyata meski cerita yang dituturkan adalah cerita fiksi. Itu semua meminimalisir "kebocoran alur" pada keseluruhan novel. Meski, memang ada fantasi-fantasi Dee yang muncul di dalamnya dan memang tak terjadi di dunia nyata. Misal pengaitan antara Prasasti Planggatan yang ditemukan di era Majapahit dengan prasasti lontar milik Janirah Prayagung yang diceritakan sebagai peta untuk menemukan Puspa Karsa. Juga, cerita tentang Banaspati dan tempat tinggalnya yang pastinya membuat pembacanya mengerutkan kening, memainkan fantasinya masing-masing.

Dee pernah mengungkapkan dalam salah satu kelas penulisan online, bahwa dia lebih suka menciptakan tokoh abu-abu ketimbang tokoh yang serba putih atau serba hitam. Artinya apa? Tokoh yang dibangunnya bukan tokoh yang sifatnya terlalu baik atau terlalu jahat seperti kebanyakan sinetron-sinetron masa kini. Tokohnya adalah tokoh abu-abu yang selalu memiliki sesuatu untuk dipertanyakan dalam hidupnya. Jati Wesi dan Suma adalah dua tokoh utama dalam novel ini yang digambarkan memiliki anugerah berupa penciuman teramat tajam, sekaligus memiliki sisi hidup yang terus dipertanyakan.

Indra seorang manusia yang berkembang pertama kali di dalam rahim adalah indera penciuman. Bagi Dee hal ini menarik. Dunia aroma membuat Dee selalu membaui banyak hal di sekitarnya. Untuk itulah Dee menuliskannya.

Dalam Aroma Karsa, mungkin banyak istilah-istilah latin yang membuat pembaca seperti saya cukup kebingungan dan menimbulkan kesan berat pada novel ini. Tapi itu semua ditutupi oleh gaya penceritaan yang dituliskan oleh Dee. 

Satu pesan penting yang saya dapatkan dan garis bawahi  setelah mebaca Aroma Karsa:
Ambisi yang terlalu besar tanpa mawas diri hanya akan menghancurkan. Kebaikan dan kejahatan dalam diri setiap manusia selalu berperang untuk menunjukkan eksistensinya masing-masing. Kita membutuhkan penjaga agar kejahatan bisa diredam dalam-dalam.

Apakah Aroma Karsa nantinya akan diangkat ke layar lebar seperti novel-novel Dee sebelumnya? Perahu Kertas, Supernova, Filosofi Kopi, Rectoverso, bukankah semuanya diangkat ke layar lebar? Hmm, kalau saja Aroma Karsa nantinya diangkat ke layar lebar, saya membayangkan akan ada scene seperti yang ada di cerita Wiro Sableng. Scene yang memiliki latar waktu di masa silam. Utamanya pada masa Kerajaan Majapahit. Pasti menarik.

Related Articles

0 komentar,saran,kritik:

Posting Komentar

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.