Jumat, 11 Mei 2018

Bagaimana Cara Mendengar Hati Nurani? (QS An-Nuur:35)


Manusia diciptakan memiliki fitrah. Fitrah tersebut adalah meyakini segala sesuatu tentang Allah,Tuhan Yang Maha Esa. Allah meletakkan fitrah ke dalam hati nurani setiap manusia, sebagai salah satu penuntun kepulangan kita menuju cahaya. Allah, cahaya langit dan bumi. Kemurnian hati nurani mampu merasakan cahaya Allah. Namun, dalam perjalanannya di dunia, fitrah tersebut terdistraksi. Kemurniannya tertutupi oleh berbagai macam penutup, terhalang oleh hal-hal yang membuat manusia lupa kepada Allah. Sehingga, manusia seringkali tak bisa mendengar hati nuraninya sendiri. Bahkan, manusia seringkali merasa samar. Itu soal ujiannya. Membedakan mana kata hati nurani, mana kata nafsu. Di manapun posisi kita sekarang, apa yang kita cari sebenarnya sama. Kita sedang mencari cahaya.

Pintu utama agar dapat mendengar hati nurani sendiri adalah pandangan. Sehingga, agar kita mampu mendengar hati nurani, kita harus menjaga pandangan dari hal-hal terlarang. Apa hubungannya memandang dengan mendengar? Bukankah keduanya terpisah?

 Kemampuan seorang mendengar, bisa menjadi ilmu, bisa juga tidak. Bisa menjadi ilmu jika dia punya kemampuan baik untuk mendengar. Begitu pula sebaliknya. Jika seseorang tak punya kemampuan mendengar, apapun yang didengarnya tidak akan menjadi ilmu.

Ilmu yang didapat, kemudian bisa jadi bermanfaat, bisa jadi tidak. Bermanfaat jika pada akhirnya ilmu tersebut menjadi hikmah. Tidak bermanfaat jika ilmu tersebut tidak diaplikasikan, tidak menjadi hikmah.

Nuurun 'ala nuur (نُّورٌ عَلَى نُورٍ). Cahaya di atas cahaya. Kalimat ini terdapat pada QS An-Nuur ayat 35. Ada dua cahaya yang disebut di sini. Cahaya yang bisa didapatkan ketika pandangan kita terjaga dari maksiat. Cahaya pertama adalah cahaya Allah. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Sehingga ketika cahaya Allah diperkenankan hadir pada hamba-Nya, setiap peristiwa yang dialami oleh sang hamba, selalu mampu mengantarkan untuk bisa merasakan keberadaan Allah.

Cahaya kedua adalah cahaya hati nurani. Jika kita mampu mendengar hati nurani dengan benar, apapun peristiwa yang kita alami selalu mampu mengantarkan kita kembali kepada Allah. Kembali mengingat Allah. Sehingga pada akhirnya hal tersebut mampu mengantarkan kita pada ihsanullah. Segala hal baik tentang Allah. Hingga, saat yang datang kepada kita adalah sesuatu yang menyakitkan pun, yang terasa di hati akhirnya hanya kebaikan Allah saja.

Ketika ayat di atas mampu berjalan baik dalam kehidupan kita, ada korelasi antara cahaya yang ditangkap oleh mata kepala dengan mata hati. Satu-satunya hal yang membuat terputus mata kepala dengan mata hati adalah ketidaktaatan mata kepala yang sering melihat sesuatu yang tak seharusnya. Jika hal ini terjadi, frekuensi antara kedua mata tersebut (mata kepala dan mata hati) menjadi tidak sinkron. Mata adalah indera untuk melihat apa yang bisa dilihat. Jika mata memandang apa yang seharusnya tidak dilihat, maka apa yang didengar oleh telinga akan menjadi kacau.

Berhasil 'mendengar', berarti menyadari segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Dan suara yang memberi tahu kita demikian, selalu berdengung di hati kita. Lantas apa yang kemudian mampu membuat kita mendengar dengungannya? Apa yang sanggup membuat kita memandang hal-hal yang baik saja?

Dzikrullah.

Ya, mataair semua kebaikan adalah dzikrullah. Jika orang mengawali hidupnya tanpa dzikrullah, dia tidak akan sampai kepada tujuannya. Tanpa dzikrullah, tidak akan ada air yang mengalir ke muara, sebab  dzikrullah adalah mataairnya. Maka, apapun yang kita lakukan awali dengan dzikrullah.

Disarikan dari kajian tafsir ayat 35 QS An-Nuur
Ust. Syatori Abdurrauf
Masjid Nurul Ashri 

Related Articles

0 komentar,saran,kritik:

Posting Komentar

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.