Minggu, 15 April 2018

Mengapa Menulis?



Muhidi M. Dahlan dalam bukunya berjudul Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta: Jalan Sunyi Seorang Penulis menuliskan rangkaian kalimat yang bunyinya begini:
“Ingat-ingatlah kalian hai penulis-penulis belia. Bila kalian memilih jalan sunyi ini, maka yang kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan bersiap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak akan berpikir untuk bunuh diri secepatnya.”
Memutuskan menjadi penulis berarti memutuskan untuk siap-siap tidak melulu berkelimpahan harta (meski tidak semuanya).  Ada proses panjang yang dilalui penulis dengan karya-karyanya. Tidak langsung BUM! Muncul sebuah karya sarat makna yang didapat dalam waktu singkat tanpa usaha, tanpa keterlibatan emosi di dalamnya. Penulis, harus terus membaca agar bisa menulis. Membaca buku, membaca tulisan orang lain, membaca lingkungan sekitar, membaca alam, membaca emosi dan pikirannya sendiri. Menulis tanpa membaca adalah suatu omong kosong. 

Penulis yang berhasil menghasilkan master piece-nya, tentu telah melalui proses panjang itu. Membaca, menulis, gagal, membaca lagi, menulis, gagal, membaca, riset, merenung, berpikir.... Sampai pada suatu titik apa yang diulang-ulangnya menghasilkan sesuatu yang memiliki makna dan mencuri hati pembacanya. Bahkan banyak sekali penulis yang harus melalui kepahitan sebelum menghasilkan suatu karya besar. Pramoedya Ananta Toer, Soekarno, Moh. Hatta, Hamka, Ibnu Taimiyah, Sayyid Qutub, Nelson Mandela, menghasilkan karya besar di balik penjara. Fiersa Besari dan Raditya Dika, JK Rowling, menghasilkan master piece setelah patah hati sepatah-patahnya. Banyak yang bilang, kepahitan hidup mampu menciptakan sesuatu karya yang kadang bikin terkagum-kagum. Sepertinya, itu memang benar.

Jika menulis tak semudah itu, mengapa saya terus menulis? Ada dua hal yang membuat saya suka menulis sampai sekarang.

Pertama. Menulis berarti melakukan terapi pada jiwa yang sedang goyah.

Ini berlaku ketika saya sedang merasa sangat sedih, sangat marah, sedang stress, merasa trauma, pun ketika sangat bahagia. Segala emosi itu membuat saya meluapkannya lewat tulisan. Emosi negatif, sedikit-sedikit lenyap bersama tulisan yang selesai saya buat.

Kedua. Menulis membuat saya semakin yakin bahwa Allah itu memang ada, dan cara kerja-Nya benar-benar mengagumkan.

Kadang-kadang saya menulis cerita fiksi. Apa yang biasa saya lakukan sebelum menuliskan cerita fiksi? Saya harus menentukan latar, tokoh, dan tentu saja alur agar cerita yang dibuat nantinya menjadi tampak nyata (meskipun ceritanya adalah cerita fiksi). Tokohnya nanti sifatnya seperti apa, gambaran bentuk fisiknya bagaimana, seperti apa sebaiknya cerita dimulai, nanti ada masalah apa, penyelesaiannya bagaimana. Kadang juga butuh riset agar latar yang dibangun juga kuat.

Dari situ saya berpikir. Baru cerita macam ini saja, ada banyak hal yang harus dipikirkan dan dilakukan. Pemeran utamanya hanya satu tokoh saja, perlu riset yang nggak main-main juga. Bagaimana dengan Allah? yang menuliskan kisah-kisah makhluknya satu per satu. Setiap makhluk menjadi pemeran utama atas kisahnya sendiri. Alur tercipta, jalin menjalin, A ketemu B, B ketemu C, C ketemu A. 

Benda pertama yang dicipta Allah adalah pena. Kemudian dengan pena itu, Dia tuliskan awal sampai akhir dunia. Dia tentukan tokoh-tokohnya, siapa protagonisnya, siapa antagonisnya, siapa tokoh penengahnya. Dia tentukan alur dan masalahnya. Kapan suatu peristiwa terjadi, apa masalah yang melatarbelakanginya, bagaimana kemudian masalah itu selesai, Dia tuliskan itu semua rapi-rapi. Dia mengawali penciptaan dunia dan seisinya dengan menulis di dalam sebuah kitab induk, Lauhul Mahfuz.

Kemudian dari Lauhul Mahfuz, dia tuliskan kitab-kitab samawi, yang kemudian sampai kepada hamba-hambaNya. Lalu, ia minta hamba-hambaNya untuk membaca kitabnya. Iqra!
Ketika dunia berlangsung sampai nanti dunia telah selesai pun, masih ada kitab pertanggungjawaban yang ditulis-Nya. Rapor kita nanti.

Ketika saya menulis, kemudian mengingat itu, yang saya simpulkan adalah: Allah adalah penulis skenario terhebat, dan itu mengagumkan.

Maka saya menulis. Dan saya membaca. Sebab itu adalah salah satu cara terbaik bagi saya, untuk semakin mengagumi-Nya. Dan setiap orang memiliki cara terbaiknya masing-masing.




 

Related Articles

0 komentar,saran,kritik:

Posting Komentar

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.