Kamis, 01 Februari 2018

[Seri Maluku] 3. Bukan Catatan Perjalanan




Lawamena Haulala sebenarnya adalah nama yang disematkan untuk tim pengerjaan peta ekosistem pesisir di daerah timur Indonesia. Inspirasi namanya entah dari mana. Sepertinya, dari semboyan TNI wilayah Maluku.

Saat pembagian awal tim survey, seharusnya aku ditempatkan di Maluku bagian utara, daerah Halmahera dan sekitarnya. Seharusnya begitu. Beberapa kali formasi tim diganti-ganti. Atas pertimbangan terakhir, aku akhirnya terlempar ke Maluku bagian tengah. Alasan mengapa aku akhirnya dilempar ke Maluku bagian tengah adalah, aku mendaftar PNS yang jadwal ujiannya tak hanya sekali dengan jadwal ujian yang masih belum jelas. Akses Maluku bagian tengah katanya lebih mudah. Maka, aku ditempatkan di situ bersama personel lain yang memiliki masalah serupa. Meski pada akhirnya, kawan-kawan satu timku termasuk aku, tidak ada yang jadi mengikuti ujian.

Seharusnya juga, aku masuk ke dalam tim mangrove. Sebab, sejak awal pengerjaan proyek, aku adalah anak mangrove. Namun suatu hari, aku ditanyai, "Kamu bisa berenang atau enggak?"
Aku jawab, "Bisa dikit. Dikit banget. Renang ngawur."
"Pernah snorkelling kan?" aku ditanya lagi.
"Ya pernah. Gimana emang?"
Jawaban itu membuatku berakhir di kumpulan tim terumbu karang.
Jadi, apakah selanjutnya aku akan menceritakan perjalananku selama bekerja -- yang lebih tepatnya disebut liburan-- di Maluku bagian tengah?

Sebenarnya, tidak tepat jika aku menyebutnya sebagai catatan perjalanan. Tulisan-tulisanku selanjutnya tidak akan bercerita tentang aku pergi ke mana saja, itinerarynya seperti apa, review tempat wisatanya bakal seperti apa, atau foto-foto indah di sana seperti apa. Sudah banyak orang lain yang lebih ahli membahas tuntas tentang itu semua.

Sebenarnya pula, sebelum berangkat ke Maluku, aku pernah berkeinginan untuk tidak menuliskan apapun tentang perjalananku di sana. Tujuan utamaku waktu itu adalah: aku ingin merenung. Aku ingin bersembunyi dari sosial media dan hal-hal lain yang waktu itu menjadi sesuatu yang kadang terasa memuakkan bagiku. Aku ingin bisa memaafkan diriku sendiri. Aku ingin meyakinkan hati atas keputusan yang kuambil pada tahun itu. Untuk itu, sepertinya aku butuh pergi jauh dari rumah untuk sementara waktu. Lawamena Haulala memberikan fasilitas itu pada waktu yang teramat tepat.

Jadwal yang dibikin Tuhan memang selalu tepat. Lauhul Mahfuz pun telah tertulis demikian.

Satu rangkaian kalimat yang masih dan akan terus aku yakini sampai sekarang adalah: tidak ada yang kebetulan di dunia ini! Bahkan soal siapa orang-orang yang kutemui, tempat-tempat yang kusinggahi, kapan aku kentut, kapan aku tertawa, hal seremeh itu telah dituliskan rapi-rapi sebelumnya. Termasuk, mengapa pada akhirnya aku berubah pikiran atas banyak hal. Salah satunya untuk mengunggah tulisan-tulisan tentang perjalanan kemarin di blog ini, itu sudah ditulis rapi-rapi juga oleh Sang Sutradara Alam Semesta.

Maafkan jika pada akhirnya rangkaian tulisan tentang Seri Maluku terkesan menjadi tulisan curhatan semata. Aku juga belum tahu apa manfaat tulisan-tulisanku nanti untuk orang lain. Aku hanya ingin menulis saja.

Apakah akhirnya aku berhasil memaafkan diriku sendiri di sana?
Ah sudah, baca saja. Baca pakai cinta.

Baca juga: [Seri Maluku] 1. Lawamena Haulala

Baca juga: [Seri Maluku] 2. Kepingan Rahasia?
Baca juga: [Seri Maluku] 4. Pantas Saja Bahagia

Related Articles

0 komentar,saran,kritik:

Posting Komentar

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.