Kamis, 01 Februari 2018

Mengakhiri Januari





Buat saya, Januari sering membawa berita-berita muram. Termasuk, Januari tahun ini. Pekan terakhir bulan Januari saya tahun ini berakhir dengan cerita-cerita yang bikin patah hati dari beberapa teman. Cerita-cerita yang muncul berurutan setiap hari. Cerita yang cukup membuat saya mengerutkan kening, terkejut, keheranan, takjub, tak habis pikir, rasa yang tak bisa digambarkan dengan apapun juga.

Kebanyakan berita muram itu adalah berita menyoal cinta-cintaan. Ada yang akhirnya tidak dipilih setelah dia sudah siap terhadap jenjang yang lebih serius. Ada yang sedang bercerai. Ada yang diselingkuhi pasangan sahnya. Ada cerita tentang permainan ilmu hitam demi mendapatkan seseorang. Hem, detail cerita-cerita tadi tidak akan saya ceritakan di sini. Bisa jadi nanti justru menjelma menjadi cerita fiksi. 

Saya tidak tahu apa maksud kemunculan cerita-cerita itu kepada saya di saat yang berurutan. Cerita-cerita yang meluncur langsung dari pelaku utama kepada saya. Bisa jadi, sebagai pengingat atas ketidakpastian di masa depan. Bukankah yang pasti itu hanya ada sejengkal di depan mata? Lebih dari sejengkal, itu adalah teritorial milik ketidakpastian. Bisa jadi juga, cerita-cerita tadi didatangkan kepada saya untuk dituliskan ke dalam bentuk lain, entah apa faedahnya nanti. Seperti yang saya sebutkan tadi. Bisa jadi cerita-cerita yang saya dengarkan adalah inspirasi terciptanya cerita fiksi yang teramat dramatis nantinya.

Saya tidak akan menuliskan detail cerita-cerita tadi. Namun, saya akan menuliskan beberapa poin penting yang muncul sebagai pengingat untuk saya pribadi (syukur-syukur untuk para pembaca juga).

Poin pertama. Orang yang dizalimi doanya mudah terkabul. Meski doa yang terlantun adalah doa buruk. Meski yang terlantun sebenarnya hanya kata-kata yang tiba-tiba terbersit di kepala orang yang dizalimi, tanpa meniatkannya menjadi doa. Hati-hati terhadap orang yang dizalimi dan belum memaafkan sampai ke hati. Memaafkan lewat mulut memang mudah, memaafkan sampai ke hati adalah urusan yang teramat panjang prosesnya. Ia butuh ilmu ikhlas. Dan ilmu ikhlas bukan ilmu yang mudah dicari, juga bukan ilmu yang mudah untuk dipraktekkan oleh hati.

Poin kedua. Mana yang lebih menyedihkan? Dizalimi atau menzalimi? Jawabannya adalah menzalimi. Orang yang dizalimi hanya sakit sesaat saja. Orang yang dizalimi doanya sudah dijamin diijabah oleh Sang Pengabul Doa. Tak ada penghalang antara ia dengan Tuhannya. Orang yang menzalimi orang lain, akan berakhir menyedihkan. Balasan sesuai dengan amal perbuatan. Yang zalim, akan berakhir menyedihkan. Termasuk, zalim pada diri sendiri.

Poin ketiga. Jangan keterlaluan mencintai sesuatu, jangan keterlaluan menyayangi sesuatu. Jangan menomor satukan yang seharusnya bukan nomor satu. Siapa yang seharusnya menjadi nomor satu? Allah.

Poin keempat. Ketika sudah merasa tak ada jalan keluar lagi. Setelah usaha lahir batin benar-benar telah dilakukan. Buntu di mana-mana. Apa yang dilakukan? Pasrah. Lepaskan. Yang tersisa untukmu, itulah sebenarnya bagianmu.

Januari tahun ini masih membawa berita muram. Namun bersama kesulitan ada kemudahan. Kemuraman kali ini hendak menyuguhkan kebahagian yang membersamai. Bersama Februari mungkin. Atau Maret. Atau April. Atau Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Masih ada waktu panjang. Semoga ya.

Related Articles

0 komentar,saran,kritik:

Posting Komentar

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.