Jumat, 02 Februari 2018

Masihkah Radio di Hati?



Apa yang beda dari cara menikmati musik masa kini dengan masa lalu? Generasi milenial pasti sangat tahu perbedaannya. Mereka yang lahir di antara tahun 1977 - 1994 mengalami masa transisi dari teknologi jadul sampai teknologi canggih masa kini. Mereka pernah merasakan bagaimana serunya menggunakan telepon genggam berantena sebesar ulekan yang bisa digunakan untuk melempar anjing nakal. Generasi milenial juga merasakan transformasi telepon genggam menjadi berukuran lebih mini dengan gambar hitam putih dan bunyi yang masih poliponik, sampai sekarang berakhir menjadi telepon genggam multifungsi yang tak hanya digunakan sebagai media telepon atau bertukar pesan saja. Lebih dari itu, telepon genggam yang kini disebut sebagai telepon pintar atau smartphone kini menjadi barang yang sulit dipisahkan dari keseharian. Salah satunya menjadi alat untuk menikmati musik dengan cara yang lebih modern.

Awal abad ke-20, menikmati musik memerlukan 'alat berat' semacam piringan hitam yang harus diputar dengan alat berupa gramafon. Setelah tahun 1970, piringan hitam berubah menjadi kaset pita, sementara gramafon berevolusi menjadi tape recorder. Bentuk yang lebih modern dari tape recorder kala itu ada walkman. Generasi 80an dan 90an adalah generasi yang merasakan betapa kerennya seorang remaja yang memiliki walkman yang bisa dibawa ke mana-mana. Koleksi kaset pita pada masa itu pun menjadi kegiatan yang teramat menyenangkan. Setelah tahun 1990, teknologi berkembang semakin cepat. Kaset pita kemudian digantikan oleh piringan compact disk, kemudian dengan cepat berubah menjadi media digital MP3. Hingga kini, semua musik dapat diputar melalui smartphone.

Tapi, di luar benda-benda pemutar musik tadi, ada satu cara menikmati musik yang masih sama dari dulu hingga sekarang yaitu, lewat radio! Walaupun secara fisik radio juga mengalami transisi tak jauh beda dengan piringan hitam dengan gramafonnya, tapi cara mendengarkan musik melalui dari radio tak mengalami banyak perubahan. Radio masih menyenangkan untuk digunakan sebagai media mendengarkan musik sembari berinteraksi dengan manusia lain. Ya, radio tak hanya digunakan untuk mendengarkan musik sendirian. Ada komunikasi antar manusia di dalamnya.

Ada keseruan ketika menanti penyiar favorit siaran dan mendengarkan suaranya misalnya. Atau menanti acara-acara radio tertentu untuk berkirim salam pada orang yang disukai. Atau menantikan acara curhat di stasiun radio tertentu dan berharap cerita curhatnya dibacakan oleh si penyiar. Atau tak sabar menanti kelanjutan drama radio yang ceritanya sulit ditebak setiap episodenya. 

Sampai sekarang pun, radio masih seperti itu, meskipun cara mendengarkannya sangat berbeda dengan masa lalu. Radio kini tak hanya diperdengarkan melalui radio tape saja. Pendengar radio masa kini memiliki fleksibilitas untuk mendengarkan radio. Nielsen Radio Audience Measurement (Nielsen RAM) memperlihatkan data yang cukup mencengangkan. Jika banyak orang mengira radio akan kehabisan pendengar seiring semakin banyak platform pemutar musik masa kini, data yang ditunjukkan oleh Nielsen RAM mengatakan sebaliknya. Dari tahun 2014 sampai 2016, waktu mendengarkan radio semakin bertumbuh. Generasi milenial menjadi pendengar utama radio sampai saat ini.

Jadi, masihkah radio ada di hati pendengarnya sampai saat ini? Tentu saja.

sumber gambar dari sini


#Artikel
#OneWeekOnePost
#WriterFighterJogja

Related Articles

1 komentar:

  1. aku pribadi dah jarang banget, egk pernah lagi malahan dengerin radio,

    BalasHapus

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.