Sabtu, 24 Februari 2018

Ketika Pelakor Hadir Dalam Keluarga



Sekitar beberapa tahun ke belakang, publik semakin akrab dengan istilah pelakor. Pelakor merupakan akronim dari perebut lelaki orang. Istilah ini mulai viral di dunia artis ketika kasus salah satu pemain peran dituduh menjadi wanita simpanan dari seorang lelaki pengusaha kaya raya. Ada pergeseran istilah dalam menyebut wanita simpanan di sini. Jika dulu selingkuhan dari seorang lelaki disebut dengan istilah WIL (Wanita Idaman Lain), kini perempuan yang main belakang dengan suami orang diistilahkan sebagai pelakor. Kesannya, di sini wanita yang lebih agresif merebut suami orang. Sehingga di benak publik, wanitalah yang bersalah atas suatu hubungan perselingkuhan jika memakai istilah pelakor ini. Fiersa Besari, seorang penulis, berpendapat dalam salah satu status media sosialnya, bahwa istilah pelakor kurang tepat disematkan untuk suatu kasus perselingkuhan. Sebab, perselingkuhan hanya terjadi ketika ada persetujuan dari dua belah pihak. Jika hanya salah satu pihak yang menyetujui, perselingkuhan sebenarnya tak akan terjadi.

Baru-baru ini, publik kembali dikejutkan dengan kasus pelakor yang tiba-tiba menjadi viral dan langsung menjadi trending topic di twitter. Bu Dendy namanya, seorang wanita muda yang videonya tersebar luas di media sosial. Dalam video rekaman itu, tampak Bu Dendy sedang melabrak seorang wanita yang diduga adalah pelakor. Yang bikin warganet takjub adalah, Bu Dendy memarahi seorang sahabatnya yang dituduh menjadi pelakor sambil melemparkan uang ratusan ribu berlembar-lembar. Itulah yang kemudian memantik kreatifitas para warganet yang kemudian membuat meme beraneka ragam dari momentum tersebut.

Tahun 2017 merupakan tahun hits di mana kasus para pelakor terkuak di hadapan publik. Para istri sah semakin berani menguak kebusukan suami-suami mereka juga para pelakornya ke hadapan publik. Media sosial menjadi tempat curhat sehingga banyak yang bersimpati dan membuat para pelaku perselingkuhan ini semakin malu.

Jika dulu, saat terjadi perselingkuhan mungkin hanya tetangga kanan kiri saja yang tahu, kini seantero nusantara bisa tahu siapa berselingkuh dengan siapa jika kasus itu terbuka di muka publik (baca: di media sosial). Memang, hal tersebut bisa menjadikan jera para pelaku perselingkuhan. Namun, tak sedikit pelaku perselingkuhan yang malah menjadi-jadi dan masa bodoh atas berita yang mencatut nama mereka. Lalu efek samping yang tak disadari oleh publik adalah, publik tidak memikirkan keadaan psikis anak-anak yang orangtuanya berseteru akibat berselingkuh dan perselingkuhannya terbuka ke hadapan publik.

Hadirnya berbagai platform media sosial mempermudah penyebaran informasi. Bukan hanya informasi positif. Banyak juga informasi negatif yang dengan mudahnya menjadi trending topic. Salah satunya adalah informasi mengenai pelakor yang sangat hangat dibicarakan setahun terakhir ini.

Berselingkuh bukanlah hal baik. Namun ketika perselingkuhan sudah terlanjur terjadi, orangtua perlu memikirkan bagaimana masalah mereka tersebut tidak menimbulkan trauma berkepanjangan pada anak. Kebanyakan anak akan mendapatkan dampak buruk dari masalah perselingkuhan orangtuanya. Meminimalisir dampak yang ditimbulkan akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Beban mental bagi anak yang memiliki orangtua berselingkuh saja sudah berat, apalagi jika perselingkuhan yang dilakukan sampai tersebar luas di media sosial. Dampak yang ditimbulkan untuk anak bisa beraneka macam. Kehilangan rasa percaya diri, kehilangan kepercayaan pada orang lain, takut menjalin hubungan intim dengan pasangan ketika dewasa, kecemasan berlebihan, memantik jiwa pemberontak anak, kehilangan teman-temannya yang akhirnya memandang sebelah mata terhadapnya, sampai terjadinya upaya bunuh diri pada anak.

Biarpun berselingkuh adalah hal buruk, sebaiknya orangtua mampu menahan diri jika membicarakan hal sensitif ini di depan anak. Sebisa mungkin, orangtua tidak melibatkan anak-anak mereka ketika memiliki masalah dengan pasangan. Sebab, anak akan merekam apa yang pernah dilakukan orangtuanya, kemudian sebagian akan mengkopi perbuatan tersebut. Memburuk-burukan pasangan di depan anak juga hanya akan membuat anak membenci salah satu pihak orangtua. Padahal, kedua-duanya adalah orangtua kandung yang harus dihormati.


#WriterFighterJogja
#OneWeekOnePost

sumber gambar dari sini

Related Articles

1 komentar:

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.