Jumat, 09 Februari 2018

Jangan Bersedih



Sama seperti kemarin sore, langit di sebelah utara kembali gelap. Berkali-kali kilat membelah langit yang tertutup mega-mega mendung. Senja bersembunyi. Tak ada merah, tak ada jingga, tak ada ungu. Langit kelabu. 

Lembaran kertas berhamburan di atas meja kayu panjang. Aku terburu-buru membereskannya. Memasukkannya tergesa ke dalam tas. Disusul laptop yang akhirnya kumatikan. Tas menutup rapat. Langit sebelah utara makin gelap. Dapat kulihat dari jendela-jendela kaca yang dipasang memanjang, menyajikan pemandangan rumput menghijau di bawah, sekaligus menghamparkan apa yang dikabarkan oleh langit di atas sana.

Aku masih tergesa. Berjalan menyusuri lorong-lorong lebar sebuah gedung lima lantai. Di depan lift, tombol turun kupencet tak sabar. Lama. Aku terburu-buru. Ah lewat tangga saja. Otakku memberikan usulan demikian. Kakiku sigap menanggapi. Dia melangkah menjauh dari lift. Menuju tangga.

Masih saja tergesa. Agak berlari kecil, aku menuruni lantai demi lantai dari lantai lima. Fiuh, ngos-ngosan juga napas ini. Efek tak pernah berlatih kardio selama beberapa bulan terakhir. Gara-gara tujuh kata yang hampir membikin putus asa: skripsi.

Aku teringat pembicaraan setahun lalu. Saat aku sedang benar-benar tak ingin mengerjakan apa-apa. Lala, teman sekelasku SMA bertemu denganku di saat yang tepat. “Kerjakanlah itu tugas akhirmu,” dia melempar bantal ke arahku.

Lala mengunjungiku tepat setahun lalu. Mengantarkan barang pesanan mama. Satu set taplak meja makan yang diproduksinya. Lala pengusaha muda yang memulai usahanya sejak lulus SMA. Dia terlalu ulet dan sabar menjadi pengusaha. Selain laris, Lala dicintai pelanggan. Dia sangat menjaga kepercayaan, juga teramat ramah pada siapa saja. Pantas, dia juga masih awet menjadi teman baikku sampai sekarang.

“Lama-lama lelah juga ternyata,La. Mana setahun lagi aku terancam drop out kalau tak bisa menyelesaikan urusan satu ini. Argh!” aku melemparkan bantal yang dilemparkan Lala. Entah kulempar ke mana. Aku menarik gulingku, menutupi muka rapat-rapat dan bergumam pelan, “Boleh enggak sih direlakan aja?”

Seketika ekspresi Lala terkejut, tidak terima. “Maksudnya? Nggak mau menyelesaikan tugas akhir?!” Lala melotot ke arahku.

Enggak dosa kan ya? Kalau aku mundur?” badanku meringsek turun, membuang guling yang menutupi mukaku. Sekarang aku duduk di samping dipan. Mendekat pada Lala yang sedang membuka-buka selebaran yang didapatkannya kala berhenti di perempatan lampu merah sana.

“Itu pilihanmu sih,” Lala tampaknya tak ambil pusing soal perkataanku, “Tapi ya, kamu berani memulai masak iya, enggak berani menyelesaikan?”

Aku mendesis pelan.

“Ya ini masalah tanggung jawab aja sih. Tanggung jawab ke banyak hal. Tanggung jawab ke orang tuamu yang kepengin banget anaknya jadi sarjana. Tanggung jawab  ke beasiswamu. Tanggung jawab ke dirimu sendiri. Yang terpenting sih ini...,” Lala menyodorkan selebaran yang sedari tadi dibolak-baliknya. Ia menunjuk-nunjuk satu kalimat mutiara yang menghiasi bagian belakang selebaran.

Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Jangan bersedih, Allah bersamamu.

***

Jangan bersedih, Allah bersamamu.

Aku memelankan langkah. Napasku semakin ngos-ngosan tak karuan. Kurang dua lantai lagi. Padahal aku terburu-buru. Waktu mungkin juga sedang memburu-buru. Waktu tidak menyediakan jeda bagi seorang pemalas, seperti aku.

Langit di luar kini gelap. Mendung di sisi utara sudah berpindah kemari, cepat sekali. Mungkin kilat juga ikut hadir di sini. Angin yang semula sepoi-sepoi berubah menjadi semakin kencang. Beberapa pohon merunduk-runduk didorong angin keras-keras. Banyak tangkai patah, daun-daun beterbangan. Air mulai menetes-netes dikeluarkan awan yang kelebihan muatan. Awalnya gerimis, lalu mendadak deras sekali.

Tapak kakiku sudah sampai di lantai dasar. Tepat di depan pintu keluar, hujan tertumpah ruah. Aku menghentikan langkahku, mendesah kecewa. Tapi hujan tak boleh dicaci maki. Mencaci maki hujan, sama saja artinya dengan mencaci maki Tuhan. Mencaci maki rezeki yang dengan baik hati dikeluarkan oleh Allah, Tuhan Semesta Alam.

Aku kemudian memilih duduk di kursi panjang yang terletak di dekat pintu keluar. Beberapa orang yang urung keluar juga memilih duduk di situ. Suara-suara hujan mengalahkan suara-suara obrolan orang. Mungkin ini saatnya mengobrol bersama hujan. Meresonansikan kenangan.
***
         

Setahun yang lalu, aku merasa hidupku berubah.

Orang bilang aku terlalu patah hati. Seorang lelaki yang telah menjanjikan banyak hal kepadaku nyatanya tidak berjodoh denganku. Orang-orang merasa kasihan kepadaku, lalu menghiburku.

Kalau aku bilang aku tidak sedih, maka aku berbohong. Aku sedih. Iya. Siapa yang tak sedih saat hal yang sama terjadi pada diri mereka. Jadi tampaknya aku memang patah hati. Dulu. Tapi kini aku berbahagia.

Rumi pernah menuliskan pada salah satu sajaknya. Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu. Dia benar.

Beberapa waktu lamanya, sejak setahun yang lalu, aku mengurung diri. Aku malas ketemu siapa pun, aku malas memercayai siapapun,  aku malas melakukan apapun, termasuk menyelesaikan tanggung jawab terakhirku di kampus. Skripsi.

Hanya Lala yang rutin mengunjungiku setiap pekan. Kadang bertemu mamaku, membicarakan bisnis yang sedang mereka bangun bersama. Sering, setelah urusan mereka selesai, Lala mengunjungiku di kamar. Kami mengobrol, tentang apapun. Tapi, Lala tak pernah sedikitpun menyinggung tentang apa yang membuatku sedih. Lala tak pernah berkomentar tentang masalah pribadiku. Aku menyukainya.

Lala kadang membagikan bacaan-bacaan menarik buatku. Bacaan yang dulunya kupandang sebelah mata. Tentang agama, tentang sejarah para nabi,  tentang cara menjadi wanita yang baik, tentang kehidupan dan kematian, sampai kehidupan sesudah mati. Kemudian, cahaya itu masuk, sedikit demi sedikit.
***


sumber gambar dari sini

Hujan lama-lama reda. Aku bersegera menuju parkiran motor. Setahun lalu, lewat seorang Lala, aku mulai jatuh cinta pada sesuatu. Sesuatu yang mampu menenangkan, kapan saja, di mana saja.

Lala memberikan sebuah buku lama yang kulupakan. Kitab akhir zaman, Alquran. Bersama buku yang diberikannya itu, Lala menyelipkan sebuah kertas dengan tulisan singkat di atasnya. 


Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan pedihnya pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia, maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya (Imam Syafi’i).

Hatiku bergetar mengingat itu. Aku menyalakan mesin motor. Sejak saat itu, aku mencoba jatuh cinta pada surat cinta yang dikirimkan oleh-Nya. Dia mengizinkannya. Dia mengumpulkanku bersama orang-orang yang merasakan hal serupa. Seperti sore ini, Dia mengumpulkanku di sebuah kelas tahsin Alquran bersama orang-orang baik.

Berita baiknya lagi. Pekan depan aku ujian sidang skripsi.

Jangan bersedih, Allah bersamamu.
[selesai]

Tulisan ini diikutsertakan pada kompetisi blog menulis cerita pendek yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena
kunjungi linknya di sini
#WiFiJogja
#OneWeekOnePost

Related Articles

1 komentar:

  1. bersedih boleh, yang sebaiknya dihindari adalah membiarkan diri tenggelam terlalu lama dalam kesedihan itu sendiri.

    BalasHapus

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.