Sabtu, 03 Februari 2018

Dia Yang Memilih Pembacanya


"Pernahkah kalian merasa, bahwa sebenarnya Alquran  memilih pembacanya?"

Ya, pernahkah kalian merasakannya?
Seorang kawan menyampaikan kalimat itu suatu waktu. Aku belum merasakannya ketika itu. Aku masih menganggapnya sebagai buku biasa. Semua bisa membacanya. Terjemahannya sudah ada, lengkap dengan bahasa aslinya ketika dia diturunkan berabad-abad tahun lalu, Bahasa Arab. Anak-anak di luar tanah Arab yang sejak kecil mulai mengeja huruf-huruf hijaiyah, melafalkan huruf demi huruf, membacanya dalam Bahasa Arab, mempelajari tajwid dengan baik dengan benar, kemudian menjadi lancar membacanya, lalu mengetahi artinya. Kukira itu sudah sangat cukup.

Ternyata, tidak sesederhana itu. 
Semua orang mungkin pandai membacanya. Membaca aksara-aksara hijaiyahnya, membaca artinya, melafalkan huruf-hurufnya dengan baik dan benar, bahkan banyak yang pandai menghafalnya. Tapi, tak semua merasa betah ketika membacanya berlama-lama, tak semua paham apa yang dibaca, tak semua mampu membawa ayat-ayatnya ke dalam dirinya sendiri secara menyeluruh. Menyeluruh, tak sekadar ucapan dan pemikiran semata. Menyeluruh, sampai pada tindak-tanduknya yang sederhana terpengaruh sekali oleh apa yang dituliskan Sang Penulis buku ini.

Ini bukan buku biasa. Dia punya efek candu. Dia jatuh cinta pada pembaca yang jatuh cinta kepadanya. Dia mampu membedakan mana orang berhati bersih, mana yang bukan. Apa yang tertulis dalam dirinya, hanya mampu dipahami secara tepat oleh orang-orang berhati bersih. Orang-orang yang bisa merasakan efeknya, hanya mereka yang benar-benar memercayai-Nya, memercayai apa yang dituliskan-Nya dalam surat cinta yang diturunkan terakhir ke bumi. Surat cinta, sekaligus buku manual "Bagaimana Cara Selamat Dari Dunia Menuju Rumah Terakhirnya".

Belum lama aku memahami apa maksud kalimat yang dilontarkan kawan tadi. Alquran memilih pembacanya. Dia tidak bisa 'dibaca sampai ke hati' oleh orang berhati kurang baik, oleh orang yang terlalu banyak melakukan hal-hal tak baik.

Percayakah? Ketika aku melakukan banyak kemaksiatan, rasanya sulit sekali membacanya. Menyentuhnya saja sulit. Jangan tanya soal menghafal. Hafalan baru tak masuk-masuk, hafalan lama lenyap begitu saja. Dia memilih pembacanya. Hanya orang-orang berhati baik yang mampu memahami ayat-ayatnya sampai ke hati, lalu menyalurkannya dalam tindakan. 

Alquran memilih pembacanya. Hanya orang-orang berhati bersih, hanya orang-orang yang percaya kepada Allah yang mampu memahaminya secara utuh dan benar. Sedikit saja rasa percaya itu terbersit dalam hati seseorang, Alquran akan memberi petunjuk lebih banyak dari apa yang ia yakini. Semakin bertambah rasa percaya dalam hati seseorang, semakin banyak petunjuk yang diberikan oleh Alquran yang dapat ia temukan.

Alquran memilih pembacanya. Orang yang akhirnya jatuh cinta kepadanya, akan dibalas cintanya olehnya. Ia akan menemani di saat sulit, ia akan menemani bahkan sampai ke liang lahat, ia akan menemani perjalanan selanjutnya di negeri akhirat.

Alquran memilih pembacanya. Yang bersungguh-sungguh kepadanya, ia juga akan bersungguh-sungguh pada orang tersebut.

Alquran memilih pembacanya. Hanya orang berhati baik yang mampu memahaminya.

Sumber gambar dari sini

Related Articles

1 komentar:

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.