Rabu, 21 Februari 2018

Bagaimana Anak-Anak Generasi Z Mempelajari Alquran?

Generasi yang terlahir dalam periode waktu antara tahun 1995 sampai 2010 merupakan keturunan dari Generasi X dan Generasi Y. Jika Generasi X dan Y merupakan para imigran di dunia digital (digital immigrants), yang dituntut untuk melek teknologi ketika mereka semakin beranjak dewasa, maka generasi Z merupakan generasi yang begitu lahir sudah disuguhi aneka macam teknologi. 

Generasi Z sudah sangat mahir menguasai berbagai macam teknologi digital bahkan ketika usia mereka masih balita. Ketika masih dalam perut ibu pun, mereka sudah didekatkan dengan aneka macam peralatan digital. Budaya mengasuh anak-anak generasi Z tidak bisa dipungkiri, sangat jauh berbeda dengan pola asuh orangtuanya yang terlahir sebagai generasi X dan generasi Y. Kini, anak rewel lebih sering dihibur dengan smartphone daripada diajak main dengan teman-temannya. Karena teman-temannya pun sama, lebih senang dengan teknologi yang dimiliki masing-masing. Apalagi, bagi anak-anak yang tinggal di kota-kota besar dengan orangtua yang memiliki tingkat kesibukan tinggi dan tingkat sosialisasi dengan lingkungan sekitar yang sangat kurang. Sehingga, generasi Z ditengarai sebagai generasi yang memiliki tingkat individualisme lebih tinggi dibanding generasi-generasi sebelumnya. 

Generasi Z atau generasi post-milenial memiliki tingkat kecerdasan mempelajari banyak hal baru yang diakui berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya. Generasi Z mampu dengan mudah menguasai banyak hal dalam waktu singkat. Kemampuan multitasking generasi Z tentu tidak diragukan lagi. Namun akibatnya generasi Z menjadi sulit fokus dalam satu hal karena apa yang mereka pikirkan cenderung bercabang.

Lalu bagaimana dengan Generasi Z muslim yang notabene memerlukan pendidikan islami sejak dini?

Karakteristik generasi post-milenial ini menjadi tantangan sendiri bagi pesantren. Berbeda dengan para santri zaman old yang betah mondok selama belasan bahkan puluhan tahun, generasi post-milenial cenderung memilih pendidikan di sekolah dan daerah yang berbeda-beda, karena mereka lebih terbuka kepada hal baru. Mereka ingin mendapat jaringan lebih luas dan pengalaman lebih banyak.

Namun sayang, berlama-lama mondok dan istiqomah yang diyakini mampu menembus kematangan dan keberkahan ilmu tidak lagi diminati oleh generasi Z ini. Dengan metode “melahap semua ilmu agama” yang diterapkan, pesantren akan kesulitan melahirkan para santri generasi post-milenial yang mampu menjadi pakar suatu bidang ilmu dengan rentang waktu mondok yang singkat (Fera Rahmatun Nazilah, islami.co)
Semakin banyak kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi dalam mempelajari ilmu agama, salah satunya mempelajari Alquran. Terdapat pergeseran metode generasi Z dalam mempelajari Alquran. Dahulu metode klasikal menggunakan mushaf fisik  di pesantren-pesantren atau di kelas-kelas tertentu tentu lebih efektif dibandingkan sekarang. Kini, cara belajar anak-anak generasi Z tentu tak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya yang belum terpengaruh oleh pesatnya perkembangan teknologi. Dahulu, belajar di kelas dalam jangka waktu lama bisa dilakukan oleh anak-anak karena belum ada smartphone di tangan. Belum ada platform sosial media yang lebih menggoda sehingga anak-anak lebih mudah fokus belajar di kelas dan mampu fokus terhadap apa yang diajarkan oleh guru di depan kelas.

Ali bin Abi Thalib, r.a pernah berucap, "Wahai kaum muslim, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu." Ungkapan ini masih sangat relevan diterapkan sampai sekarang. Anak-anak di masa kini lebih suka mempelajari sesuatu sedikit-sedikit namun bermacam-macam dibanding fokus dalam satu hal saja. Anak-anak di masa kini lebih tertarik kepada aspek visual yang dikemas secara apik dan menarik daripada duduk lama-lama sembari mendengarkan guru berbicara di depan kelas.

Memang, semakin lama, cara mempelajari Alquran semakin mudah dengan adanya teknologi. Anak-anak kecil sudah bisa memulai menghafal Alquran dengan mudah lewat berbagai medium yang tersedia. Hafidz doll, flash card, mushaf for kids, playpad, Alquran digital, hanyalah sedikit dari banyak alat yang kini dapat dengan mudah ditemui di pasaran. Rumah-rumah tahfidz pun semakin menjamur sampai ke pelosok negeri. Beraneka rupa grup belajar secara daring juga semakin banyak dan semakin mudah ditemukan. Sehingga sebenarnya tidak ada alasan bagi anak-anak muslim untuk tidak bisa mempelajari Alquran. Hanya saja, kemudahan yang tersedia juga berbanding lurus dengan tantangan yang ada. Semakin banyak kemudahan yang ditawarkan, semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi. Media sosial yang semakin bebas, situs porno, game online, aplikasi smartphone yang semakin sulit dipilah, dipilih, dan dibendung keberadaannya. Ditambah, perang pemikiran kini juga semakin terbuka. Maka menjadi orangtua untuk para generasi Z, generasi alpha, dan generasi-generasi sesudahnya jelas akan menjadi semakin menantang. 

#WriterFighterJogja
#OneWeekOnePost

Related Articles

1 komentar:

  1. tapi egk mudah juga, aku kirim anakku ke sekolah agama setidaknya dia bakalan betah 1 tahun disana. ternyata selang berapa bulan, egk lama minta pulang dan egk mau balik lagi -_-

    BalasHapus

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.