Sabtu, 24 Februari 2018

Ketika Pelakor Hadir Dalam Keluarga



Sekitar beberapa tahun ke belakang, publik semakin akrab dengan istilah pelakor. Pelakor merupakan akronim dari perebut lelaki orang. Istilah ini mulai viral di dunia artis ketika kasus salah satu pemain peran dituduh menjadi wanita simpanan dari seorang lelaki pengusaha kaya raya. Ada pergeseran istilah dalam menyebut wanita simpanan di sini. Jika dulu selingkuhan dari seorang lelaki disebut dengan istilah WIL (Wanita Idaman Lain), kini perempuan yang main belakang dengan suami orang diistilahkan sebagai pelakor. Kesannya, di sini wanita yang lebih agresif merebut suami orang. Sehingga di benak publik, wanitalah yang bersalah atas suatu hubungan perselingkuhan jika memakai istilah pelakor ini. Fiersa Besari, seorang penulis, berpendapat dalam salah satu status media sosialnya, bahwa istilah pelakor kurang tepat disematkan untuk suatu kasus perselingkuhan. Sebab, perselingkuhan hanya terjadi ketika ada persetujuan dari dua belah pihak. Jika hanya salah satu pihak yang menyetujui, perselingkuhan sebenarnya tak akan terjadi.

Baru-baru ini, publik kembali dikejutkan dengan kasus pelakor yang tiba-tiba menjadi viral dan langsung menjadi trending topic di twitter. Bu Dendy namanya, seorang wanita muda yang videonya tersebar luas di media sosial. Dalam video rekaman itu, tampak Bu Dendy sedang melabrak seorang wanita yang diduga adalah pelakor. Yang bikin warganet takjub adalah, Bu Dendy memarahi seorang sahabatnya yang dituduh menjadi pelakor sambil melemparkan uang ratusan ribu berlembar-lembar. Itulah yang kemudian memantik kreatifitas para warganet yang kemudian membuat meme beraneka ragam dari momentum tersebut.

Tahun 2017 merupakan tahun hits di mana kasus para pelakor terkuak di hadapan publik. Para istri sah semakin berani menguak kebusukan suami-suami mereka juga para pelakornya ke hadapan publik. Media sosial menjadi tempat curhat sehingga banyak yang bersimpati dan membuat para pelaku perselingkuhan ini semakin malu.

Jika dulu, saat terjadi perselingkuhan mungkin hanya tetangga kanan kiri saja yang tahu, kini seantero nusantara bisa tahu siapa berselingkuh dengan siapa jika kasus itu terbuka di muka publik (baca: di media sosial). Memang, hal tersebut bisa menjadikan jera para pelaku perselingkuhan. Namun, tak sedikit pelaku perselingkuhan yang malah menjadi-jadi dan masa bodoh atas berita yang mencatut nama mereka. Lalu efek samping yang tak disadari oleh publik adalah, publik tidak memikirkan keadaan psikis anak-anak yang orangtuanya berseteru akibat berselingkuh dan perselingkuhannya terbuka ke hadapan publik.

Hadirnya berbagai platform media sosial mempermudah penyebaran informasi. Bukan hanya informasi positif. Banyak juga informasi negatif yang dengan mudahnya menjadi trending topic. Salah satunya adalah informasi mengenai pelakor yang sangat hangat dibicarakan setahun terakhir ini.

Berselingkuh bukanlah hal baik. Namun ketika perselingkuhan sudah terlanjur terjadi, orangtua perlu memikirkan bagaimana masalah mereka tersebut tidak menimbulkan trauma berkepanjangan pada anak. Kebanyakan anak akan mendapatkan dampak buruk dari masalah perselingkuhan orangtuanya. Meminimalisir dampak yang ditimbulkan akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Beban mental bagi anak yang memiliki orangtua berselingkuh saja sudah berat, apalagi jika perselingkuhan yang dilakukan sampai tersebar luas di media sosial. Dampak yang ditimbulkan untuk anak bisa beraneka macam. Kehilangan rasa percaya diri, kehilangan kepercayaan pada orang lain, takut menjalin hubungan intim dengan pasangan ketika dewasa, kecemasan berlebihan, memantik jiwa pemberontak anak, kehilangan teman-temannya yang akhirnya memandang sebelah mata terhadapnya, sampai terjadinya upaya bunuh diri pada anak.

Biarpun berselingkuh adalah hal buruk, sebaiknya orangtua mampu menahan diri jika membicarakan hal sensitif ini di depan anak. Sebisa mungkin, orangtua tidak melibatkan anak-anak mereka ketika memiliki masalah dengan pasangan. Sebab, anak akan merekam apa yang pernah dilakukan orangtuanya, kemudian sebagian akan mengkopi perbuatan tersebut. Memburuk-burukan pasangan di depan anak juga hanya akan membuat anak membenci salah satu pihak orangtua. Padahal, kedua-duanya adalah orangtua kandung yang harus dihormati.


#WriterFighterJogja
#OneWeekOnePost

sumber gambar dari sini

Rabu, 21 Februari 2018

Bagaimana Anak-Anak Generasi Z Mempelajari Alquran?

Generasi yang terlahir dalam periode waktu antara tahun 1995 sampai 2010 merupakan keturunan dari Generasi X dan Generasi Y. Jika Generasi X dan Y merupakan para imigran di dunia digital (digital immigrants), yang dituntut untuk melek teknologi ketika mereka semakin beranjak dewasa, maka generasi Z merupakan generasi yang begitu lahir sudah disuguhi aneka macam teknologi. 

Generasi Z sudah sangat mahir menguasai berbagai macam teknologi digital bahkan ketika usia mereka masih balita. Ketika masih dalam perut ibu pun, mereka sudah didekatkan dengan aneka macam peralatan digital. Budaya mengasuh anak-anak generasi Z tidak bisa dipungkiri, sangat jauh berbeda dengan pola asuh orangtuanya yang terlahir sebagai generasi X dan generasi Y. Kini, anak rewel lebih sering dihibur dengan smartphone daripada diajak main dengan teman-temannya. Karena teman-temannya pun sama, lebih senang dengan teknologi yang dimiliki masing-masing. Apalagi, bagi anak-anak yang tinggal di kota-kota besar dengan orangtua yang memiliki tingkat kesibukan tinggi dan tingkat sosialisasi dengan lingkungan sekitar yang sangat kurang. Sehingga, generasi Z ditengarai sebagai generasi yang memiliki tingkat individualisme lebih tinggi dibanding generasi-generasi sebelumnya. 

Generasi Z atau generasi post-milenial memiliki tingkat kecerdasan mempelajari banyak hal baru yang diakui berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya. Generasi Z mampu dengan mudah menguasai banyak hal dalam waktu singkat. Kemampuan multitasking generasi Z tentu tidak diragukan lagi. Namun akibatnya generasi Z menjadi sulit fokus dalam satu hal karena apa yang mereka pikirkan cenderung bercabang.

Lalu bagaimana dengan Generasi Z muslim yang notabene memerlukan pendidikan islami sejak dini?

Karakteristik generasi post-milenial ini menjadi tantangan sendiri bagi pesantren. Berbeda dengan para santri zaman old yang betah mondok selama belasan bahkan puluhan tahun, generasi post-milenial cenderung memilih pendidikan di sekolah dan daerah yang berbeda-beda, karena mereka lebih terbuka kepada hal baru. Mereka ingin mendapat jaringan lebih luas dan pengalaman lebih banyak.

Namun sayang, berlama-lama mondok dan istiqomah yang diyakini mampu menembus kematangan dan keberkahan ilmu tidak lagi diminati oleh generasi Z ini. Dengan metode “melahap semua ilmu agama” yang diterapkan, pesantren akan kesulitan melahirkan para santri generasi post-milenial yang mampu menjadi pakar suatu bidang ilmu dengan rentang waktu mondok yang singkat (Fera Rahmatun Nazilah, islami.co)
Semakin banyak kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi dalam mempelajari ilmu agama, salah satunya mempelajari Alquran. Terdapat pergeseran metode generasi Z dalam mempelajari Alquran. Dahulu metode klasikal menggunakan mushaf fisik  di pesantren-pesantren atau di kelas-kelas tertentu tentu lebih efektif dibandingkan sekarang. Kini, cara belajar anak-anak generasi Z tentu tak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya yang belum terpengaruh oleh pesatnya perkembangan teknologi. Dahulu, belajar di kelas dalam jangka waktu lama bisa dilakukan oleh anak-anak karena belum ada smartphone di tangan. Belum ada platform sosial media yang lebih menggoda sehingga anak-anak lebih mudah fokus belajar di kelas dan mampu fokus terhadap apa yang diajarkan oleh guru di depan kelas.

Ali bin Abi Thalib, r.a pernah berucap, "Wahai kaum muslim, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu." Ungkapan ini masih sangat relevan diterapkan sampai sekarang. Anak-anak di masa kini lebih suka mempelajari sesuatu sedikit-sedikit namun bermacam-macam dibanding fokus dalam satu hal saja. Anak-anak di masa kini lebih tertarik kepada aspek visual yang dikemas secara apik dan menarik daripada duduk lama-lama sembari mendengarkan guru berbicara di depan kelas.

Memang, semakin lama, cara mempelajari Alquran semakin mudah dengan adanya teknologi. Anak-anak kecil sudah bisa memulai menghafal Alquran dengan mudah lewat berbagai medium yang tersedia. Hafidz doll, flash card, mushaf for kids, playpad, Alquran digital, hanyalah sedikit dari banyak alat yang kini dapat dengan mudah ditemui di pasaran. Rumah-rumah tahfidz pun semakin menjamur sampai ke pelosok negeri. Beraneka rupa grup belajar secara daring juga semakin banyak dan semakin mudah ditemukan. Sehingga sebenarnya tidak ada alasan bagi anak-anak muslim untuk tidak bisa mempelajari Alquran. Hanya saja, kemudahan yang tersedia juga berbanding lurus dengan tantangan yang ada. Semakin banyak kemudahan yang ditawarkan, semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi. Media sosial yang semakin bebas, situs porno, game online, aplikasi smartphone yang semakin sulit dipilah, dipilih, dan dibendung keberadaannya. Ditambah, perang pemikiran kini juga semakin terbuka. Maka menjadi orangtua untuk para generasi Z, generasi alpha, dan generasi-generasi sesudahnya jelas akan menjadi semakin menantang. 

#WriterFighterJogja
#OneWeekOnePost

Jumat, 09 Februari 2018

Jangan Bersedih



Sama seperti kemarin sore, langit di sebelah utara kembali gelap. Berkali-kali kilat membelah langit yang tertutup mega-mega mendung. Senja bersembunyi. Tak ada merah, tak ada jingga, tak ada ungu. Langit kelabu. 

Lembaran kertas berhamburan di atas meja kayu panjang. Aku terburu-buru membereskannya. Memasukkannya tergesa ke dalam tas. Disusul laptop yang akhirnya kumatikan. Tas menutup rapat. Langit sebelah utara makin gelap. Dapat kulihat dari jendela-jendela kaca yang dipasang memanjang, menyajikan pemandangan rumput menghijau di bawah, sekaligus menghamparkan apa yang dikabarkan oleh langit di atas sana.

Aku masih tergesa. Berjalan menyusuri lorong-lorong lebar sebuah gedung lima lantai. Di depan lift, tombol turun kupencet tak sabar. Lama. Aku terburu-buru. Ah lewat tangga saja. Otakku memberikan usulan demikian. Kakiku sigap menanggapi. Dia melangkah menjauh dari lift. Menuju tangga.

Masih saja tergesa. Agak berlari kecil, aku menuruni lantai demi lantai dari lantai lima. Fiuh, ngos-ngosan juga napas ini. Efek tak pernah berlatih kardio selama beberapa bulan terakhir. Gara-gara tujuh kata yang hampir membikin putus asa: skripsi.

Aku teringat pembicaraan setahun lalu. Saat aku sedang benar-benar tak ingin mengerjakan apa-apa. Lala, teman sekelasku SMA bertemu denganku di saat yang tepat. “Kerjakanlah itu tugas akhirmu,” dia melempar bantal ke arahku.

Lala mengunjungiku tepat setahun lalu. Mengantarkan barang pesanan mama. Satu set taplak meja makan yang diproduksinya. Lala pengusaha muda yang memulai usahanya sejak lulus SMA. Dia terlalu ulet dan sabar menjadi pengusaha. Selain laris, Lala dicintai pelanggan. Dia sangat menjaga kepercayaan, juga teramat ramah pada siapa saja. Pantas, dia juga masih awet menjadi teman baikku sampai sekarang.

“Lama-lama lelah juga ternyata,La. Mana setahun lagi aku terancam drop out kalau tak bisa menyelesaikan urusan satu ini. Argh!” aku melemparkan bantal yang dilemparkan Lala. Entah kulempar ke mana. Aku menarik gulingku, menutupi muka rapat-rapat dan bergumam pelan, “Boleh enggak sih direlakan aja?”

Seketika ekspresi Lala terkejut, tidak terima. “Maksudnya? Nggak mau menyelesaikan tugas akhir?!” Lala melotot ke arahku.

Enggak dosa kan ya? Kalau aku mundur?” badanku meringsek turun, membuang guling yang menutupi mukaku. Sekarang aku duduk di samping dipan. Mendekat pada Lala yang sedang membuka-buka selebaran yang didapatkannya kala berhenti di perempatan lampu merah sana.

“Itu pilihanmu sih,” Lala tampaknya tak ambil pusing soal perkataanku, “Tapi ya, kamu berani memulai masak iya, enggak berani menyelesaikan?”

Aku mendesis pelan.

“Ya ini masalah tanggung jawab aja sih. Tanggung jawab ke banyak hal. Tanggung jawab ke orang tuamu yang kepengin banget anaknya jadi sarjana. Tanggung jawab  ke beasiswamu. Tanggung jawab ke dirimu sendiri. Yang terpenting sih ini...,” Lala menyodorkan selebaran yang sedari tadi dibolak-baliknya. Ia menunjuk-nunjuk satu kalimat mutiara yang menghiasi bagian belakang selebaran.

Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Jangan bersedih, Allah bersamamu.

***

Jangan bersedih, Allah bersamamu.

Aku memelankan langkah. Napasku semakin ngos-ngosan tak karuan. Kurang dua lantai lagi. Padahal aku terburu-buru. Waktu mungkin juga sedang memburu-buru. Waktu tidak menyediakan jeda bagi seorang pemalas, seperti aku.

Langit di luar kini gelap. Mendung di sisi utara sudah berpindah kemari, cepat sekali. Mungkin kilat juga ikut hadir di sini. Angin yang semula sepoi-sepoi berubah menjadi semakin kencang. Beberapa pohon merunduk-runduk didorong angin keras-keras. Banyak tangkai patah, daun-daun beterbangan. Air mulai menetes-netes dikeluarkan awan yang kelebihan muatan. Awalnya gerimis, lalu mendadak deras sekali.

Tapak kakiku sudah sampai di lantai dasar. Tepat di depan pintu keluar, hujan tertumpah ruah. Aku menghentikan langkahku, mendesah kecewa. Tapi hujan tak boleh dicaci maki. Mencaci maki hujan, sama saja artinya dengan mencaci maki Tuhan. Mencaci maki rezeki yang dengan baik hati dikeluarkan oleh Allah, Tuhan Semesta Alam.

Aku kemudian memilih duduk di kursi panjang yang terletak di dekat pintu keluar. Beberapa orang yang urung keluar juga memilih duduk di situ. Suara-suara hujan mengalahkan suara-suara obrolan orang. Mungkin ini saatnya mengobrol bersama hujan. Meresonansikan kenangan.
***
         

Setahun yang lalu, aku merasa hidupku berubah.

Orang bilang aku terlalu patah hati. Seorang lelaki yang telah menjanjikan banyak hal kepadaku nyatanya tidak berjodoh denganku. Orang-orang merasa kasihan kepadaku, lalu menghiburku.

Kalau aku bilang aku tidak sedih, maka aku berbohong. Aku sedih. Iya. Siapa yang tak sedih saat hal yang sama terjadi pada diri mereka. Jadi tampaknya aku memang patah hati. Dulu. Tapi kini aku berbahagia.

Rumi pernah menuliskan pada salah satu sajaknya. Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu. Dia benar.

Beberapa waktu lamanya, sejak setahun yang lalu, aku mengurung diri. Aku malas ketemu siapa pun, aku malas memercayai siapapun,  aku malas melakukan apapun, termasuk menyelesaikan tanggung jawab terakhirku di kampus. Skripsi.

Hanya Lala yang rutin mengunjungiku setiap pekan. Kadang bertemu mamaku, membicarakan bisnis yang sedang mereka bangun bersama. Sering, setelah urusan mereka selesai, Lala mengunjungiku di kamar. Kami mengobrol, tentang apapun. Tapi, Lala tak pernah sedikitpun menyinggung tentang apa yang membuatku sedih. Lala tak pernah berkomentar tentang masalah pribadiku. Aku menyukainya.

Lala kadang membagikan bacaan-bacaan menarik buatku. Bacaan yang dulunya kupandang sebelah mata. Tentang agama, tentang sejarah para nabi,  tentang cara menjadi wanita yang baik, tentang kehidupan dan kematian, sampai kehidupan sesudah mati. Kemudian, cahaya itu masuk, sedikit demi sedikit.
***


sumber gambar dari sini

Hujan lama-lama reda. Aku bersegera menuju parkiran motor. Setahun lalu, lewat seorang Lala, aku mulai jatuh cinta pada sesuatu. Sesuatu yang mampu menenangkan, kapan saja, di mana saja.

Lala memberikan sebuah buku lama yang kulupakan. Kitab akhir zaman, Alquran. Bersama buku yang diberikannya itu, Lala menyelipkan sebuah kertas dengan tulisan singkat di atasnya. 


Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan pedihnya pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia, maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya (Imam Syafi’i).

Hatiku bergetar mengingat itu. Aku menyalakan mesin motor. Sejak saat itu, aku mencoba jatuh cinta pada surat cinta yang dikirimkan oleh-Nya. Dia mengizinkannya. Dia mengumpulkanku bersama orang-orang yang merasakan hal serupa. Seperti sore ini, Dia mengumpulkanku di sebuah kelas tahsin Alquran bersama orang-orang baik.

Berita baiknya lagi. Pekan depan aku ujian sidang skripsi.

Jangan bersedih, Allah bersamamu.
[selesai]

Tulisan ini diikutsertakan pada kompetisi blog menulis cerita pendek yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena
kunjungi linknya di sini
#WiFiJogja
#OneWeekOnePost

Sabtu, 03 Februari 2018

Dia Yang Memilih Pembacanya


"Pernahkah kalian merasa, bahwa sebenarnya Alquran  memilih pembacanya?"

Ya, pernahkah kalian merasakannya?
Seorang kawan menyampaikan kalimat itu suatu waktu. Aku belum merasakannya ketika itu. Aku masih menganggapnya sebagai buku biasa. Semua bisa membacanya. Terjemahannya sudah ada, lengkap dengan bahasa aslinya ketika dia diturunkan berabad-abad tahun lalu, Bahasa Arab. Anak-anak di luar tanah Arab yang sejak kecil mulai mengeja huruf-huruf hijaiyah, melafalkan huruf demi huruf, membacanya dalam Bahasa Arab, mempelajari tajwid dengan baik dengan benar, kemudian menjadi lancar membacanya, lalu mengetahi artinya. Kukira itu sudah sangat cukup.

Ternyata, tidak sesederhana itu. 
Semua orang mungkin pandai membacanya. Membaca aksara-aksara hijaiyahnya, membaca artinya, melafalkan huruf-hurufnya dengan baik dan benar, bahkan banyak yang pandai menghafalnya. Tapi, tak semua merasa betah ketika membacanya berlama-lama, tak semua paham apa yang dibaca, tak semua mampu membawa ayat-ayatnya ke dalam dirinya sendiri secara menyeluruh. Menyeluruh, tak sekadar ucapan dan pemikiran semata. Menyeluruh, sampai pada tindak-tanduknya yang sederhana terpengaruh sekali oleh apa yang dituliskan Sang Penulis buku ini.

Ini bukan buku biasa. Dia punya efek candu. Dia jatuh cinta pada pembaca yang jatuh cinta kepadanya. Dia mampu membedakan mana orang berhati bersih, mana yang bukan. Apa yang tertulis dalam dirinya, hanya mampu dipahami secara tepat oleh orang-orang berhati bersih. Orang-orang yang bisa merasakan efeknya, hanya mereka yang benar-benar memercayai-Nya, memercayai apa yang dituliskan-Nya dalam surat cinta yang diturunkan terakhir ke bumi. Surat cinta, sekaligus buku manual "Bagaimana Cara Selamat Dari Dunia Menuju Rumah Terakhirnya".

Belum lama aku memahami apa maksud kalimat yang dilontarkan kawan tadi. Alquran memilih pembacanya. Dia tidak bisa 'dibaca sampai ke hati' oleh orang berhati kurang baik, oleh orang yang terlalu banyak melakukan hal-hal tak baik.

Percayakah? Ketika aku melakukan banyak kemaksiatan, rasanya sulit sekali membacanya. Menyentuhnya saja sulit. Jangan tanya soal menghafal. Hafalan baru tak masuk-masuk, hafalan lama lenyap begitu saja. Dia memilih pembacanya. Hanya orang-orang berhati baik yang mampu memahami ayat-ayatnya sampai ke hati, lalu menyalurkannya dalam tindakan. 

Alquran memilih pembacanya. Hanya orang-orang berhati bersih, hanya orang-orang yang percaya kepada Allah yang mampu memahaminya secara utuh dan benar. Sedikit saja rasa percaya itu terbersit dalam hati seseorang, Alquran akan memberi petunjuk lebih banyak dari apa yang ia yakini. Semakin bertambah rasa percaya dalam hati seseorang, semakin banyak petunjuk yang diberikan oleh Alquran yang dapat ia temukan.

Alquran memilih pembacanya. Orang yang akhirnya jatuh cinta kepadanya, akan dibalas cintanya olehnya. Ia akan menemani di saat sulit, ia akan menemani bahkan sampai ke liang lahat, ia akan menemani perjalanan selanjutnya di negeri akhirat.

Alquran memilih pembacanya. Yang bersungguh-sungguh kepadanya, ia juga akan bersungguh-sungguh pada orang tersebut.

Alquran memilih pembacanya. Hanya orang berhati baik yang mampu memahaminya.

Sumber gambar dari sini

Jumat, 02 Februari 2018

Masihkah Radio di Hati?



Apa yang beda dari cara menikmati musik masa kini dengan masa lalu? Generasi milenial pasti sangat tahu perbedaannya. Mereka yang lahir di antara tahun 1977 - 1994 mengalami masa transisi dari teknologi jadul sampai teknologi canggih masa kini. Mereka pernah merasakan bagaimana serunya menggunakan telepon genggam berantena sebesar ulekan yang bisa digunakan untuk melempar anjing nakal. Generasi milenial juga merasakan transformasi telepon genggam menjadi berukuran lebih mini dengan gambar hitam putih dan bunyi yang masih poliponik, sampai sekarang berakhir menjadi telepon genggam multifungsi yang tak hanya digunakan sebagai media telepon atau bertukar pesan saja. Lebih dari itu, telepon genggam yang kini disebut sebagai telepon pintar atau smartphone kini menjadi barang yang sulit dipisahkan dari keseharian. Salah satunya menjadi alat untuk menikmati musik dengan cara yang lebih modern.

Awal abad ke-20, menikmati musik memerlukan 'alat berat' semacam piringan hitam yang harus diputar dengan alat berupa gramafon. Setelah tahun 1970, piringan hitam berubah menjadi kaset pita, sementara gramafon berevolusi menjadi tape recorder. Bentuk yang lebih modern dari tape recorder kala itu ada walkman. Generasi 80an dan 90an adalah generasi yang merasakan betapa kerennya seorang remaja yang memiliki walkman yang bisa dibawa ke mana-mana. Koleksi kaset pita pada masa itu pun menjadi kegiatan yang teramat menyenangkan. Setelah tahun 1990, teknologi berkembang semakin cepat. Kaset pita kemudian digantikan oleh piringan compact disk, kemudian dengan cepat berubah menjadi media digital MP3. Hingga kini, semua musik dapat diputar melalui smartphone.

Tapi, di luar benda-benda pemutar musik tadi, ada satu cara menikmati musik yang masih sama dari dulu hingga sekarang yaitu, lewat radio! Walaupun secara fisik radio juga mengalami transisi tak jauh beda dengan piringan hitam dengan gramafonnya, tapi cara mendengarkan musik melalui dari radio tak mengalami banyak perubahan. Radio masih menyenangkan untuk digunakan sebagai media mendengarkan musik sembari berinteraksi dengan manusia lain. Ya, radio tak hanya digunakan untuk mendengarkan musik sendirian. Ada komunikasi antar manusia di dalamnya.

Ada keseruan ketika menanti penyiar favorit siaran dan mendengarkan suaranya misalnya. Atau menanti acara-acara radio tertentu untuk berkirim salam pada orang yang disukai. Atau menantikan acara curhat di stasiun radio tertentu dan berharap cerita curhatnya dibacakan oleh si penyiar. Atau tak sabar menanti kelanjutan drama radio yang ceritanya sulit ditebak setiap episodenya. 

Sampai sekarang pun, radio masih seperti itu, meskipun cara mendengarkannya sangat berbeda dengan masa lalu. Radio kini tak hanya diperdengarkan melalui radio tape saja. Pendengar radio masa kini memiliki fleksibilitas untuk mendengarkan radio. Nielsen Radio Audience Measurement (Nielsen RAM) memperlihatkan data yang cukup mencengangkan. Jika banyak orang mengira radio akan kehabisan pendengar seiring semakin banyak platform pemutar musik masa kini, data yang ditunjukkan oleh Nielsen RAM mengatakan sebaliknya. Dari tahun 2014 sampai 2016, waktu mendengarkan radio semakin bertumbuh. Generasi milenial menjadi pendengar utama radio sampai saat ini.

Jadi, masihkah radio ada di hati pendengarnya sampai saat ini? Tentu saja.

sumber gambar dari sini


#Artikel
#OneWeekOnePost
#WriterFighterJogja

Kamis, 01 Februari 2018

Mengakhiri Januari





Buat saya, Januari sering membawa berita-berita muram. Termasuk, Januari tahun ini. Pekan terakhir bulan Januari saya tahun ini berakhir dengan cerita-cerita yang bikin patah hati dari beberapa teman. Cerita-cerita yang muncul berurutan setiap hari. Cerita yang cukup membuat saya mengerutkan kening, terkejut, keheranan, takjub, tak habis pikir, rasa yang tak bisa digambarkan dengan apapun juga.

Kebanyakan berita muram itu adalah berita menyoal cinta-cintaan. Ada yang akhirnya tidak dipilih setelah dia sudah siap terhadap jenjang yang lebih serius. Ada yang sedang bercerai. Ada yang diselingkuhi pasangan sahnya. Ada cerita tentang permainan ilmu hitam demi mendapatkan seseorang. Hem, detail cerita-cerita tadi tidak akan saya ceritakan di sini. Bisa jadi nanti justru menjelma menjadi cerita fiksi. 

Saya tidak tahu apa maksud kemunculan cerita-cerita itu kepada saya di saat yang berurutan. Cerita-cerita yang meluncur langsung dari pelaku utama kepada saya. Bisa jadi, sebagai pengingat atas ketidakpastian di masa depan. Bukankah yang pasti itu hanya ada sejengkal di depan mata? Lebih dari sejengkal, itu adalah teritorial milik ketidakpastian. Bisa jadi juga, cerita-cerita tadi didatangkan kepada saya untuk dituliskan ke dalam bentuk lain, entah apa faedahnya nanti. Seperti yang saya sebutkan tadi. Bisa jadi cerita-cerita yang saya dengarkan adalah inspirasi terciptanya cerita fiksi yang teramat dramatis nantinya.

Saya tidak akan menuliskan detail cerita-cerita tadi. Namun, saya akan menuliskan beberapa poin penting yang muncul sebagai pengingat untuk saya pribadi (syukur-syukur untuk para pembaca juga).

Poin pertama. Orang yang dizalimi doanya mudah terkabul. Meski doa yang terlantun adalah doa buruk. Meski yang terlantun sebenarnya hanya kata-kata yang tiba-tiba terbersit di kepala orang yang dizalimi, tanpa meniatkannya menjadi doa. Hati-hati terhadap orang yang dizalimi dan belum memaafkan sampai ke hati. Memaafkan lewat mulut memang mudah, memaafkan sampai ke hati adalah urusan yang teramat panjang prosesnya. Ia butuh ilmu ikhlas. Dan ilmu ikhlas bukan ilmu yang mudah dicari, juga bukan ilmu yang mudah untuk dipraktekkan oleh hati.

Poin kedua. Mana yang lebih menyedihkan? Dizalimi atau menzalimi? Jawabannya adalah menzalimi. Orang yang dizalimi hanya sakit sesaat saja. Orang yang dizalimi doanya sudah dijamin diijabah oleh Sang Pengabul Doa. Tak ada penghalang antara ia dengan Tuhannya. Orang yang menzalimi orang lain, akan berakhir menyedihkan. Balasan sesuai dengan amal perbuatan. Yang zalim, akan berakhir menyedihkan. Termasuk, zalim pada diri sendiri.

Poin ketiga. Jangan keterlaluan mencintai sesuatu, jangan keterlaluan menyayangi sesuatu. Jangan menomor satukan yang seharusnya bukan nomor satu. Siapa yang seharusnya menjadi nomor satu? Allah.

Poin keempat. Ketika sudah merasa tak ada jalan keluar lagi. Setelah usaha lahir batin benar-benar telah dilakukan. Buntu di mana-mana. Apa yang dilakukan? Pasrah. Lepaskan. Yang tersisa untukmu, itulah sebenarnya bagianmu.

Januari tahun ini masih membawa berita muram. Namun bersama kesulitan ada kemudahan. Kemuraman kali ini hendak menyuguhkan kebahagian yang membersamai. Bersama Februari mungkin. Atau Maret. Atau April. Atau Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Masih ada waktu panjang. Semoga ya.

[Seri Maluku] 3. Bukan Catatan Perjalanan




Lawamena Haulala sebenarnya adalah nama yang disematkan untuk tim pengerjaan peta ekosistem pesisir di daerah timur Indonesia. Inspirasi namanya entah dari mana. Sepertinya, dari semboyan TNI wilayah Maluku.

Saat pembagian awal tim survey, seharusnya aku ditempatkan di Maluku bagian utara, daerah Halmahera dan sekitarnya. Seharusnya begitu. Beberapa kali formasi tim diganti-ganti. Atas pertimbangan terakhir, aku akhirnya terlempar ke Maluku bagian tengah. Alasan mengapa aku akhirnya dilempar ke Maluku bagian tengah adalah, aku mendaftar PNS yang jadwal ujiannya tak hanya sekali dengan jadwal ujian yang masih belum jelas. Akses Maluku bagian tengah katanya lebih mudah. Maka, aku ditempatkan di situ bersama personel lain yang memiliki masalah serupa. Meski pada akhirnya, kawan-kawan satu timku termasuk aku, tidak ada yang jadi mengikuti ujian.

Seharusnya juga, aku masuk ke dalam tim mangrove. Sebab, sejak awal pengerjaan proyek, aku adalah anak mangrove. Namun suatu hari, aku ditanyai, "Kamu bisa berenang atau enggak?"
Aku jawab, "Bisa dikit. Dikit banget. Renang ngawur."
"Pernah snorkelling kan?" aku ditanya lagi.
"Ya pernah. Gimana emang?"
Jawaban itu membuatku berakhir di kumpulan tim terumbu karang.
Jadi, apakah selanjutnya aku akan menceritakan perjalananku selama bekerja -- yang lebih tepatnya disebut liburan-- di Maluku bagian tengah?

Sebenarnya, tidak tepat jika aku menyebutnya sebagai catatan perjalanan. Tulisan-tulisanku selanjutnya tidak akan bercerita tentang aku pergi ke mana saja, itinerarynya seperti apa, review tempat wisatanya bakal seperti apa, atau foto-foto indah di sana seperti apa. Sudah banyak orang lain yang lebih ahli membahas tuntas tentang itu semua.

Sebenarnya pula, sebelum berangkat ke Maluku, aku pernah berkeinginan untuk tidak menuliskan apapun tentang perjalananku di sana. Tujuan utamaku waktu itu adalah: aku ingin merenung. Aku ingin bersembunyi dari sosial media dan hal-hal lain yang waktu itu menjadi sesuatu yang kadang terasa memuakkan bagiku. Aku ingin bisa memaafkan diriku sendiri. Aku ingin meyakinkan hati atas keputusan yang kuambil pada tahun itu. Untuk itu, sepertinya aku butuh pergi jauh dari rumah untuk sementara waktu. Lawamena Haulala memberikan fasilitas itu pada waktu yang teramat tepat.

Jadwal yang dibikin Tuhan memang selalu tepat. Lauhul Mahfuz pun telah tertulis demikian.

Satu rangkaian kalimat yang masih dan akan terus aku yakini sampai sekarang adalah: tidak ada yang kebetulan di dunia ini! Bahkan soal siapa orang-orang yang kutemui, tempat-tempat yang kusinggahi, kapan aku kentut, kapan aku tertawa, hal seremeh itu telah dituliskan rapi-rapi sebelumnya. Termasuk, mengapa pada akhirnya aku berubah pikiran atas banyak hal. Salah satunya untuk mengunggah tulisan-tulisan tentang perjalanan kemarin di blog ini, itu sudah ditulis rapi-rapi juga oleh Sang Sutradara Alam Semesta.

Maafkan jika pada akhirnya rangkaian tulisan tentang Seri Maluku terkesan menjadi tulisan curhatan semata. Aku juga belum tahu apa manfaat tulisan-tulisanku nanti untuk orang lain. Aku hanya ingin menulis saja.

Apakah akhirnya aku berhasil memaafkan diriku sendiri di sana?
Ah sudah, baca saja. Baca pakai cinta.

Baca juga: [Seri Maluku] 1. Lawamena Haulala

Baca juga: [Seri Maluku] 2. Kepingan Rahasia?
Baca juga: [Seri Maluku] 4. Pantas Saja Bahagia

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.