Senin, 08 Januari 2018

[Seri Maluku] 1. Lawamena Haulala




Ke mana kau ingin pergi? Aku tak ingin kemana-mana, kataku waktu itu.

Pernah tidak, kamu yang biasanya suka kalau diajak pergi ke tempat yang jauh dan asing, tiba-tiba kehilangan hasrat untuk itu? Kamu berubah haluan. Kau hanya ingin menghabiskan seluruh waktumu di rumah saja. Tak ingin pergi jauh-jauh lagi dari rumah. Lagipula rumah juga bisa menjadi sangat menyenangkan. Kamu bisa puas membercandai kucing-kucing, menanam bebijian dan bermain tanah di kebun, memilin benang dan merajutnya menjadi benda-benda indah, menghabiskan pagi di dapur bersama ibumu, bebas meminjam buku-buku bagus di perpustakaan daerah, pergi ke lantai 4 perpustakaan kampus sembari memandang langit yang kadang cerah - kadang mendung - kadang hujan, menghabiskan sore di sebuah mesjid kampung sambil duduk mendengarkan ceramah yang dulunya tak pernah kau lirik sama sekali, kadang menghabiskan waktu di tempat bernama rumah sakit, atau kadang kau menghabiskan waktumu untuk menulis saja.

Percayalah. Mulai dua tahun lalu itu semua menjadi sangat menyenangkan buatku, anak Ibuk yang dulunya cukup jarang dijumpai batang hidungnya di sebuah tempat bernama rumah. Aku mulai berpindah dari semestaku yang lampau menuju semesta baru yang tercipta perlahan-lahan. Mungkin aku sedang bermetamorfosis.

Ah berlebihan.

Setidaknya aku tahu kalau itu namanya perubahan. Perubahan yang menyentuh sesuatu yang terasa penuh di rongga dada. Kamu tahu rasanya berada dalam putaran perubahan yang terjadi di dalam dirimu sendiri sementara apa yang ada di luar dirimu masih terus berjalan seperti dulu? Kadang rasanya sunyi dan sepi. Kadang rasanya tenang. Kadang terasa menakutkan. Kadang berasa kosong. Kadang ada rasa sedih berlebihan. Kalau kau tanya padaku, aku akan bilang rasanya campur aduk tak karuan. Yang pasti, kau akan merasa lebih familier dengan air mata dari pada buncah tawa ketika momen awal perubahan semesta itu sedang terjadi pada dirimu.

Ah, katakan saja kau sebenarnya sedang patah hati. Patah hati yang terlalu berlebihan. Serah dah. Bodo amat! Kataku saat kau bilang hal itu padaku.

Lama-kelamaan, aku mulai menyukai diriku yang baru. Aku yang lebih tenang, aku yang lebih pendiam, aku yang lebih suka sendiri, aku yang semakin penakut, aku yang semakin tak peduli pada apapun dan pada siapapun kecuali pada kucing-kucingku. Aku semakin suka pada semestaku yang baru.

Lalu ketika aku telah semakin jauh masuk ke dalam semestaku yang baru, ada semesta lain yang datang mendekat kepadaku. Semesta yang menamakan dirinya Lawamena Haulala. Lawamena Haulala berisi sekumpulan orang-orang lama yang telah kukenal, ada beberapa orang baru, yang pasti kebanyakan mereka bukanlah orang-orang formal yang cukup normal. Aku kemudian tertarik masuk ke dalamnya. Lebih tepatnya, semesta baruku yang telah tercipta turut masuk ke dalamnya.

Aku kembali menyukai tempat baru yang jauh dari rumah, meski aku juga suka rumah. Aku tak lagi menjadi orang yang suka meringkuk sendirian lalu menangis tanpa suara, sebab tiba-tiba ada banyak orang di sekelilingku yang tak mengizinkan aku berbuat demikian.

Lawamena Haulala menyeretku pergi ke tempat baru, menemui orang-orang baru, dan memberi hal-hal baik yang kemudian menutup habis hal-hal buruk di masa lalu. Lawamena Haulala mengajakku menghabiskan waktu di tempat bernama Maluku.

Baca juga: Selamat Datang Di Sano Nggoang, Danau Yang Bercahaya

*catatan: Saat sampai di Ambon, aku baru tahu, Lawamena Haulala adalah pataka Kodam XVI Pattimura yang berarti “Maju terus pantang mundur, meski berdarah-darah”. Wow. 




Related Articles

0 komentar,saran,kritik:

Posting Komentar

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.