Jumat, 26 Januari 2018

[Seri Maluku] 2. Kepingan Rahasia?



“Rul, jadi daftar PNS?” beberapa orang japri, bertanya demikian. Aku masih di depan komputer kala itu, memilah-milah citra satelit, berpuluh-puluh scene jumlahnya.

Bogor sehabis subuh. Hujan. Badan masih pegal-pegal akibat kelamaan duduk di bus tiga puluh jam lamanya, perjalanan dari Jogja-Bogor. Rekor. Lawamena Haulala kehabisan tiket kereta juga tiket pesawat. Pemberitahuan konsinyasi di Bogor baru datang beberapa hari sebelum hari-H. Sementara, hari H konsinyasi dilaksanakan tepat setelah libur panjang Idul Adha. Artinya, ya kamu enggak bakal dapat tiket kalau memaksakan diri pergi ke barat. Tiket kereta dan juga tiket pesawat sudah pasti habis dilahap para pemudik H-3 bulan sebelumnya. Bahkan tiket bus pun tak menjanjikan bisa ada di tangan kala itu.

Pada akhirnya, pihak manajemen memutuskan untuk mencarter bus untuk kami. Rekor. Tiga puluh jam di atas bus, 10 jam lebihnya terjebak macet di tol.

Aku masih belum menjawab pertanyaan beberapa teman, sampai ada japri dari Ibuk. Intinya, meminta agar aku tidak menyia-nyiakan mendaftar PNS (lagi). Kemudian semua japrian kujawab sama: Iya.

Sepulang dari Bogor, aku menepati janjiku. Membuka situs SSCN, lalu sesegera mungkin mendaftarkan diri di satu instansi. Instansi di tempat aku bekerja dulu, sebelum resign lalu kembali ke Jogja lagi.

Aku tidak tahu apa motivasiku sebenarnya. Melegakan orang tua? Mungkin iya. Akhirnya aku memang mendaftar. Daftar saja. Tidak jadi ikut tes (lagi). Sebab, beberapa hari sebelum tanggal tes, keajaiban terjadi.

“Udah, nggak usah ikut tes juga enggak apa-apa. Daripada enggak niat kan?” di dapur pagi-pagi sehabis subuh, kata-kata itu meluncur dari mulut Ibuk. Aku terkesima dan tercengang. Are you sure, Mom? Padahal, saat itu niat sudah terkumpul sedikit demi sedikit. 

“Kamu itu memang anak Ibuk yang paling aneh. Di saat kakak-kakakmu berusaha mencari dan memilih bekerja tetap, kamu memilih bekerja tidak tetap. Ya sudah, toh rezeki sudah diatur. Semoga aja rezekimu lancar. Jangan tergantung pada orang lain,“ Ibuk melanjutkan perkataannya. 

Beberapa waktu sebelumnya Ibuk memang sempat bertanya kepadaku tentang keinginan masa depanku. Aku bilang, aku ingin menulis dan menjadi tenaga lepas geografi. Itu sudah sangat cukup buatku meski dari segi penghasilan memang tidak tetap. Kadang dapat banyak, kadang dapat sedikit. Tapi kalau dipikir-pikir dan dirasa-rasa, ketika sedang butuh-butuhnya, uang pasti selalu ada. Cukup. Rezeki sudah diatur, kan? Pasti pas takarannya.

“Nggak pengen jadi dosen?” tanya beliau waktu itu. Jadi dosen? Bisa-bisa aku dikerjai mahasiswaku tiap hari. Lama kelamaan aku juga tahu kapasitas diri, bahwa aku lebih cocok menulis fiksi atau artikel ringan daripada menulis ilmiah. Otakku tidak kuat. Berat. Jangan aku. Biar kamu saja (e malah Dilan style).

Ibuk melanjutkan kalimatnya, “Tapi tesis jangan lupa diselesaikan ya. Tahun depan sudah harus selesai. Sayang kalau enggak selesai. Lagian kamu ngapain aja selama ini kok belum selesai-selesai juga?”. Protes dari Ibuk ini membuatku tertegun.

Aku sendiri selalu menyalahkan diriku sendiri soal tesis yang tidak juga selesai-selesai. Tiap mengerjakan sesuatu yang disebut tesis, rasanya selalu nyesek di dada, panas di pelupuk mata, kadang sampai sembab pada akhirnya. Ah, lebay ya? Iya. Aku pun menganggap demikian. Hingga akhirnya waktu untuk mengerjakan tesis aku pakai untuk olahraga sampai capek, kerja part time di toko benang rajut tanpa sepengetahuan siapapun kecuali satu dua orang saja, merajut benda-benda yang dianggap tidak penting oleh orang lain, atau menulis sesuatu yang lain di luar tesis. Ujung dari semua itu, aku menerima tawaran pekerjaan di sebuah konsultan, bertemu kawan-kawan Lawamena Haulala, sibuk di sana, lalu sementara waktu benar-benar lupa dengan tesis.

“Karena masalah X?” beliau menebak-nebak. Tebakan jitu. Aku tidak bisa lagi menjawab ‘bukan’. Intuisi Ibuk memang selalu benar.

“Iya, Buk,” kataku. Lalu nasihat-nasihat meluncur keluar dari mulut ibuku. Aku mendengarkan semua sampai habis. Pura-pura mendengarkan lebih tepatnya. Pikiranku sedang berkelana di tempat lain waktu itu.

“Buk, aku mau lapangan ke Maluku dulu ya. Sebulan. Tesis kukerjain habis pekerjaan Maluku selesai. Janji. Insyaa Allah,” aku menarik napas sekuat-kuatnya demi mengatakan itu. Aku tidak tahu keajaiban apa lagi yang membuat Ibuk dengan mudahnya menjawab ‘iya’. Sama tidak tahunya aku dengan skenario Allah macam apa lagi yang hendak kuperankan. Aku hanya ingin menyembuhkan diri dan menetralkan hati. Cleansing.
Usai itu, sebaris kalimat doa kemudian terbersit di hati sebelum aku berangkat ke Maluku: Ya Allah, semoga sepulang dari Maluku jiwa lebay dan mental menye-menyeku lenyap. Aamiin!

Senin, 08 Januari 2018

[Seri Maluku] 1. Lawamena Haulala




Ke mana kau ingin pergi? Aku tak ingin kemana-mana, kataku waktu itu.

Pernah tidak, kamu yang biasanya suka kalau diajak pergi ke tempat yang jauh dan asing, tiba-tiba kehilangan hasrat untuk itu? Kamu berubah haluan. Kau hanya ingin menghabiskan seluruh waktumu di rumah saja. Tak ingin pergi jauh-jauh lagi dari rumah. Lagipula rumah juga bisa menjadi sangat menyenangkan. Kamu bisa puas membercandai kucing-kucing, menanam bebijian dan bermain tanah di kebun, memilin benang dan merajutnya menjadi benda-benda indah, menghabiskan pagi di dapur bersama ibumu, bebas meminjam buku-buku bagus di perpustakaan daerah, pergi ke lantai 4 perpustakaan kampus sembari memandang langit yang kadang cerah - kadang mendung - kadang hujan, menghabiskan sore di sebuah mesjid kampung sambil duduk mendengarkan ceramah yang dulunya tak pernah kau lirik sama sekali, kadang menghabiskan waktu di tempat bernama rumah sakit, atau kadang kau menghabiskan waktumu untuk menulis saja.

Percayalah. Mulai dua tahun lalu itu semua menjadi sangat menyenangkan buatku, anak Ibuk yang dulunya cukup jarang dijumpai batang hidungnya di sebuah tempat bernama rumah. Aku mulai berpindah dari semestaku yang lampau menuju semesta baru yang tercipta perlahan-lahan. Mungkin aku sedang bermetamorfosis.

Ah berlebihan.

Setidaknya aku tahu kalau itu namanya perubahan. Perubahan yang menyentuh sesuatu yang terasa penuh di rongga dada. Kamu tahu rasanya berada dalam putaran perubahan yang terjadi di dalam dirimu sendiri sementara apa yang ada di luar dirimu masih terus berjalan seperti dulu? Kadang rasanya sunyi dan sepi. Kadang rasanya tenang. Kadang terasa menakutkan. Kadang berasa kosong. Kadang ada rasa sedih berlebihan. Kalau kau tanya padaku, aku akan bilang rasanya campur aduk tak karuan. Yang pasti, kau akan merasa lebih familier dengan air mata dari pada buncah tawa ketika momen awal perubahan semesta itu sedang terjadi pada dirimu.

Ah, katakan saja kau sebenarnya sedang patah hati. Patah hati yang terlalu berlebihan. Serah dah. Bodo amat! Kataku saat kau bilang hal itu padaku.

Lama-kelamaan, aku mulai menyukai diriku yang baru. Aku yang lebih tenang, aku yang lebih pendiam, aku yang lebih suka sendiri, aku yang semakin penakut, aku yang semakin tak peduli pada apapun dan pada siapapun kecuali pada kucing-kucingku. Aku semakin suka pada semestaku yang baru.

Lalu ketika aku telah semakin jauh masuk ke dalam semestaku yang baru, ada semesta lain yang datang mendekat kepadaku. Semesta yang menamakan dirinya Lawamena Haulala. Lawamena Haulala berisi sekumpulan orang-orang lama yang telah kukenal, ada beberapa orang baru, yang pasti kebanyakan mereka bukanlah orang-orang formal yang cukup normal. Aku kemudian tertarik masuk ke dalamnya. Lebih tepatnya, semesta baruku yang telah tercipta turut masuk ke dalamnya.

Aku kembali menyukai tempat baru yang jauh dari rumah, meski aku juga suka rumah. Aku tak lagi menjadi orang yang suka meringkuk sendirian lalu menangis tanpa suara, sebab tiba-tiba ada banyak orang di sekelilingku yang tak mengizinkan aku berbuat demikian.

Lawamena Haulala menyeretku pergi ke tempat baru, menemui orang-orang baru, dan memberi hal-hal baik yang kemudian menutup habis hal-hal buruk di masa lalu. Lawamena Haulala mengajakku menghabiskan waktu di tempat bernama Maluku.

Baca juga: Selamat Datang Di Sano Nggoang, Danau Yang Bercahaya

*catatan: Saat sampai di Ambon, aku baru tahu, Lawamena Haulala adalah pataka Kodam XVI Pattimura yang berarti “Maju terus pantang mundur, meski berdarah-darah”. Wow. 




Kamis, 04 Januari 2018

Curhat Dikit, Boleh?


 pablo


Lha emang biasanya nggak curhat?

Suatu saat beberapa teman pernah tanya soal blog ini. Menanyakan tentang adsense dan sejenisnya. Bertanya tentang penghasilan tambahan lewat blog dan bagaimana mengelolanya. Saya nyengoh. Sebab jika dilihat-lihat lebih cermat lagi, sungguh blog ini isinya cukup banyak adalah tulisan hasil kegalauan yang tak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata. Catatan perjalanan pun bentuknya adalah semacam cerita curhat, ungkapan kesyukuran saya bertemu teman-teman baru yang baik, yang seru, juga kebahagiaan saya pernah menyinggahi tempat-tempat baru yang bakal jadi suatu pengingat kala saya makin tua nanti. Bagi saya menulis juga merupakan suatu ajang terapi emosi yang cukup ampuh. Sangat bisa disimpulkan ketika pada suatu waktu saya sering sekali menulis, itu adalah bagian dari meredakan emosi yang sedang labil-labilnya. Bisa jadi sedang sedih-sedihnya, sedang marah-marahnya, sedang bingung, sedang tak tentu arah, sedang merasa gagal, sedang goyah, atau sedang mutung parah. 

Mungkin terdapat beberapa tulisan afiliasi dalam blog ini. Itu adalah bonus. Jika terdapat beberapa iklan yang terpampang di laman blog ini lalu ada yang khilaf mengekliknya kemudian berlanjut khilaf belanja di e-commerce terkait, itu juga semacam bonus. Saya sangat berterimakasih atas kekhilafannya :)) Tapi lumayan lho, kalo sedang ada campaign bisa dapat diskon banyak.

Sudah cukup lama saya tidak nulis di laman blog ini. Terakhir posting Oktober tahun lalu. Itupun adalah tulisan afiliasi. Beberapa teman yang suka khilaf baca tulisan saya sempat ada yang tanya, "Kok blognya nggak pernah update lagi?" Kadang saya terharu sekaligus malu kalau ada teman yang baca-baca tulisan saya yang sering tak berkonklusi. Apalagi kalau bacanya pake suara keras di hadapan orang-orang. Itu sih saya kesel. Namun saya tetap berterimakasih untuk yang suka khilaf baca tulisan saya. Semoga ada manfaatnya. 

Kemarin pagi, saat sedang konsentrasi menangkis percikan-percikan minyak goreng di atas wajan penggorengan ikan bandeng calon santapan pagi, tiba-tiba Ibuk yang sedang berada di samping saya bertanya, "Kamu masih suka nulis di blog nggak, to?"

Heh? Saya kembali nyengoh. Tumben amat Ibuk tanya begituan. Lalu ketika yang nanya adalah Ibuk, saya tiba-tiba kepikiran. Memang Ibuk kadang-kadang baca blog saya. Ada cerita-cerita yang susah saya ceritakan langsung pada Ibuk, sehingga ketika Ibuk baca tulisan di blog saya, beliau jadi tahu beberapa hal yang tak saya ceritakan langsung lewat kata-kata. Mungkin saja Ibuk sedang khawatir pada saya yang akhir-akhir ini sering bertingkah tak wajar macam orang lagi kebanyakan pikiran tapi jarang cerita macam-macam. 

Siangnya saya buka-buka lagi blog ini. Saya baca-baca lagi tulisan saya dari awal sampai akhir, tulisan dari tahun 2008 ketika masih SMA sampai sekarang sudah menuju kepala 3 dan masih begini-begini aja. Semuanya! tanpa terkecuali. Oh, tampaknya Marul kurang kerjaan banget ya? Bukannya ngerjain tesis yang sudah hampir habis masa limitnya, eh malah ngeblog :')

Usai semua tulisan terbaca dengan baik, saya hapus beberapa tulisan yang saya rasa tak perlu diabadikan. Saya cukup takjub saat menyadari bahwa ternyata masing-masing emosi menghasilkan rasa tulisan berbeda-beda selama kurun waktu sepuluh terakhir ini. Beda jenis emosi, beda luaran tulisan yang dihasilkan. Tulisan saya yang paling ngena di hati, adalah tulisan ketika saya sedang sedih kebangetan. Sementara tulisan yang terasa ngeselin, adalah tulisan ketika saya sedang marah. 

Hal lain yang membuat saya cukup takjub dan membuat saya menasbihkan diri untuk terus menulis sampai nanti, insya Allah sampai mati, adalah betapa kumpulan tulisan saya yang terangkum dalam blog ini mampu menggambarkan perubahan diri saya dari waktu ke waktu. Betapa kumpulan tulisan saya dalam blog ini di masa lalu, mampu menjadi bahan pertimbangan saya untuk mengambil beberapa keputusan di masa berikutnya. Minimal, tulisan-tulisan yang terpampang nyata di laman blog ini bermanfaat untuk diri saya sendiri. Jadi jika tak ada orang lain yang membaca, menyukai, membagikan, atau berkomentar, itu bukanlah suatu bentuk kerugian. Namun, jika ada orang lain yang membacanya lalu merasakan manfaatnya, sungguh itu namanya bonus. Semoga bonusnya adalah sebentuk amal jariyah yang tetap bisa diambil ketika kehidupan kedua kelak telah dicipta.

Aamiin!

Oh iya, sebelum mengakhiri tulisan. Izinkan saya beriklan. Lagi ada banyak diskon menarik di Bilna. Kali aja ada yang lagi cari kado nikah atau cari kado buat adek-adek bayi. Di sana barangnya bagus-bagus :))




@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.