Kamis, 16 Maret 2017

#4 Belajar Shalat Lagi: Belajar Membaca

Pict Source: Ermina.com
Dalam postingan sebelumnya, saya sering menyinggung-nyinggung masalah membaca satu kitab yang telah disempurnakan di muka bumi oleh Penciptanya sendiri. The most wonderful book ever: Al-Qur’an Al Karim.


Kenapa sih obsesi bener sama buku yang satu itu? Biasa aja keles.

Dulu, saya pernah punya opini semacam ini sebelum saya merasakan sendiri betapa satu buku itu mampu membawa banyak sekali perubahan pada diri saya. Jadi ketika sekarang saya menemukan ada orang yang punya argumentasi sama seperti saya dahulu, I’ll never judge too far. Biarkan dia membuktikannya sendiri. Setiap orang punya jalur perjalanannya masing-masing. Perjalanan bersama Al-Qur’an adalah salah satunya. Maka biarkan masing-masing orang menikmati perjalanannya

Trus apa hubungannya Al-Qur’an sama shalat?

Okay. Dulunya saya pernah menganggap bahwa ibadah shalat dan ibadah membaca atau mempelajari Al-Qur’an adalah dua hal yang terpisah walaupun ada sedikit kaitan antara keduanya. Kaitan itu berupa bacaan  Al-Qur’an yang dibaca ketika shalat berupa bacaan Al-Fatihah dan surat-surat lain yang ada dalam Al-Qur’an. Bukan kaitan yang terlalu kuat, hanya sebatas sebagai pelengkap shalat. Ya, suatu waktu di masa lalu, itulah yang ada dalam pikiran saya. Fakir ilmu yang sering sok tahu atas banyak hal dalam hidup.

Lagi-lagi saya salah. Emang ya, saya kebanyakan salah. Maafkeun.

Shalat itu adalah aktivitas dzikir tertinggi yang dilakukan oleh umat manusia untuk menghadap langsung kepada Tuhannya. Berbicara langsung kepada Tuhannya tanpa perantara. Dan bacaan dzikir tertinggi itu adalah ayat-ayat Al-Quran. Jika keduanya dikolaborasikan, bisa bayangkan seberapa besar pengaruhnya terhadap hidup kita? Energi positif yang dihasilkan akan menjadi lebih besar. Apalagi, jika kita benar-benar paham apa yang kita baca. Kita paham arti ayat yang kita baca. Kita paham apa yang sedang kita minta lewat ayat-ayat itu. Kita paham apa yang sedang kita bicarakan kepada Tuhan. Kita paham apa yang sebenarnya kita curhatkan pada pimpinan tertinggi kita. Bisa bayangkan seberapa besar efeknya?

Maka jika shalat kita memang benar-benar benar, dia benar-benar punya efek magis buat hidup kita. Dia bisa jadi tameng terkuat untuk menghadapi para musuh. Dia bisa jadi amunisi kita untuk lebih bersabar menghadapi aneka permainan yang melelahkan di depan kita. Kita bisa lebih mudah menanggapi sendagurauan yang lebih sering menyakitkan hati kita ketimbang menyenangkan hati kita.

Jadi apa yang seharuskan sama-sama kita usahakan ketika benar-benar ingin memperbaiki shalat? Pelajari Al-Qur’an. Baca setiap hari, pahami artinya. Baca dengan tartil, resapkan sampai ke hati. Hafalkan ayat-ayatnya meski hanya sedikit demi sedikit. Jangan terlalu terobsesi menghafalkan dengan cepat. Rasakan. Resapi. Pahami. Menangislah.
Rasulullah menerima Al-Qur’an berangsur-angsur selama 23 tahun. Maka pakailah seumur hidup kita untuk mempelajarinya. Karena seumur hidup pun kita berusaha mempelajari dan mengamalkannya, kita tidak akan pernah selesai.

Kita tidak akan pernah sempurna. Shalat kita, akhlak kita, ibadah-ibadah kita yang lain. Tak akan sempurna. Bukankah sudah dijamin bahwa manusia paling sempurna yang memiliki akhlak paling sempurna adalah Rasulullah Muhammad SAW? Tapi itu bukan alasan buat kita untuk berhenti memperbaiki diri. Dan salah satu cara kita memperbaiki diri adalah lewat shalat. Dan rangkaian memperbaiki shalat itu nggak sedikit. Kita perlu memperbaiki iman, memperbaiki bacaan Qur’an, memperbaiki wudhu, memperbaiki ilmu fikih, dan lainnya.


Kita yang memutuskan untuk berhenti belajar adalah orang sombong. Dan kesombongan tak akan pernah mengantarkan kita kepada kebaikan. Kita yang merasa sudah menjadi orang baik, pada dasarnya adalah tidak baik. Suatu ketika kita pasti salah. Setiap hari kita salah. Dan sangat salah jika kita memutuskan untuk tidak pernah meminta maaf pada Allah atas kesalahan kita setiap hari. Sangat salah jika akhirnya kita memutuskan untuk tidak pernah memperbaiki kesalahan kita. Bagaimana cara awal kita meminta maaf dan memperbaiki kesalahan kita? Lewat shalat. Ya, sehari kita diberi waktu untuk memperbaiki diri kita, minimal 5 kali. Benarkah tidak mau memanfaatkan momen emas itu?

Shalatlah. Curhatlah pada Pencipta kita lewat shalat. Dan bersabarlah. Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.

-s-e-l-e-s-a-i-

Tulisan ini adalah pengingat untuk diri saya sendiri. Semoga juga bermanfaat untuk para pembaca

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.