Kamis, 09 Februari 2017

#1 Belajar Shalat Lagi: Permulaan


Apa yang akan saya tulis, bisa jadi salah, bisa jadi benar. Maka, sebelum Anda yang budiman memutuskan membaca tulisan berseri saya ini, koreksilah jika salah. Dan jika benar, itu datangnya hanya dari Allah Yang Maha Tahu.

“Jika baik shalatnya, baik pula akhlaknya. Jika sudah rajin shalat, tapi akhlaknya masih nggak baik, bisa dipastikan shalatnya belum baik, shalatnya masih rusak”. Saya sering mendengar kata-kata ini. Awalnya saya pernah mikir, apa hubungannya akhlak sama shalat? Awalnya, saya beneran nggak paham. Lalu jawaban itu satu per satu datang kepada saya, yang Insyaa Allah akan saya jabarkan sedikit pada tulisan berseri saya tentang Belajar Shalat Lagi Part #1, #2, #3, dan #4.

Amalan yang pertama kali dihisab ketika hari hisab menghisab adalah shalat. Rukun islam setelah syahadat adalah shalat. Yang saya pahami ketika saya masih kecil sampai usia seperempat abad adalah: shalat itu wajib, shalat itu harus dilakukan karena ini adalah rukun islam dan merupakan amalan yang pertama kali dihisab. Kalau nggak mengerjakan shalat maka dosa dan konsekuensinya masuk neraka. Oh iya, ditambah lagi, gerakan shalat bagus buat kesehatan.

Di usia saya yang kala itu sudah 25 dan pemahaman saya hanya sebatas itu. Helloooo saya ngapain aja selama ini??? Maka saya memutuskan untuk belajar lebih baik lagi dalam memahami shalat.

Sebelum bisa memahami shalat dengan baik dan benar, ada banyak hal yang harus dipahami, beberapa di antaranya adalah tentang iman, termasuk di dalamnya adalah Al-Qur’an. Sedikit menyitir perkataan Nouman Ali Khan: bahwa Qur’an mampu melindungi kita dari shaytan dan mampu memperbaiki shalat kita.

“We have to recite Qur’an & reflect it regularly, to get protection againts syaithon. It doesn’t matter who you are. The size or colour of your hijab doesn’t matter. The size of your beard doesn’t matter. Your age doesn’t matter. Shaytan will come to you.”


“The actual relationship I have with The Qur’an isn’t when I’m listening lecturer, isn’t when I’m memorizing it. You know when the actual relationship with Qur’an happen? When I’m standing in shalat & reciting it. If somebody shalat is good, The Qur’an is good. If somebody not enganging with The Qur’an in their shalat, their relationship with Qur’an is entirely artificial.”


“Real Qur’an happen in shalat. Everything I learn, Everything you learn about this book, whether it is tajweed, languange, tafseer, or memorizing all of those, do it for your shalat: ‘I will have better shalat!’ Because shalat is officially when we’re stop talking to everybody and we start talking to Allah with the words that Allah told us.” (Nouman Ali Khan)

Meskipun menurut saya, saya sudah cukup terlambat karena telah menyia-nyiakan usia saya dari akil baligh sampai semperempat abad dengan berbagai kebodohan, kesesatan, dan ketidaktahuan yang melekat, saya tetap bersyukur pada akhirnya diberikan pemahaman di atas jalan ini. Maka saya menuliskannya di blog ini. Kali aja, ada yang pernah merasa sebodoh dan setersesat saya, dan lewat tulisan ini, atas izin Allah bisa memahamkan walaupun sedikit. Aamiin.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.