Selasa, 21 Februari 2017

#3 Belajar Shalat Lagi: Tentang Iman

pict source: cdn.quotesgram.com

Memahami ajaran ini, harus diawali dengan iman. iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada nabi dan rasul Allah, iman kepada hari kiamat, serta iman kepada qada’ dan qadar. Urutan rukun iman ini adalah urutan yang benar-benar sistematis jika diperhatikan. Dimulai dari percaya sebenar-benarnya bahwa ada satu  Zat yang paling awal yang menciptakan seluruh semesta alam ini. Maka saya baru paham, ketika seorang teman saya kala itu menyarankan saya agar belajar tauhid terlebih dahulu untuk menguatkan iman di dalam diri saya yang masih lemah. Tauhid adalah dasar keimanan. Maka tidak heran lagi jika dosa yang mengiringinya, yaitu syirik, disebut-sebut sebagai dosa besar yang pertama.

Kepada segala macam ciptaannya, Allah menciptakan pasukan malaikat yang ditugaskan untuk mengurus dan menjaga masing-masing ciptaan-Nya. Ada malaikat penjaga gunung, ada malaikat penjaga lautan, ada yang bertugas mengurus langit dan menurunkan hujan, ada yang membagi-bagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya, ada yang bertugas menjadi pengintai perbuatan baik buruk hamba-hamba-Nya, ada yang bertugas menjaga setiap jiwa yang terlahir di muka bumi, ada yang bertugas menghalangi bisikan-bisikan syaitan, ada yang bertugas membagikan rahmat-Nya, ada yang bertugas memanggil pulang setiap jiwa. Banyak sekali. Bahkan pada satu makhluk, tidak hanya satu malaikat yang mengurusinya. Manusia misalnya. Ada berapa malaikat yang mengurusinya setiap hari? Banyak! Malaikat pencatat amal baik, malaikat pencatat amal buruk, malaikat penjaga di depan, dan malaikat penjaga di belakang yang dalam sehari selalu berganti shift pagi dan malam. Belum lagi malaikat yang mengurusi rezekinya, malaikat rahmat, malaikat yang membisikkan hal-hal baik untuknya, malaikat maut yang selalu datang kepadanya 40 kali dalam sehari, dan lainnya. Laa illa ha illallahuwallahu akbar!

Setiap malaikat memiliki tugas spesifik masing-masing. Betapa Allah itu Manajer Yang Maha Hebat. Dia membagi-bagi semua tugas, mengawasi pekerjaan para malaikat-Nya, menerima laporan dan aduan dari para malaikat, selalu siap ditanya apa saja oleh para malaikat, dan mengurus semua makhluk-Nya tanpa ada luput sedikitpun. Maha Sempurna.

Lanjut pada iman kepada kitab Allah. Kitab Allah yang diturunkan ke bumi, yang diperantarakan oleh malaikat untuk utusan-utusannya di kalangan jin dan manusia, adalah sebagian dari ilmu Allah yang dengan baik hati dibagikan untuk para hamba-Nya. Di luar itu, masih banyak lagi ilmu Allah yang tak akan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia. Semua kitab yang dibawa oleh para Nabi, semuanya, tak terkecuali, berasal dari Allah SWT. Maka ajaran ini juga mempercayai isi asli dari Taurat, Injil, Zabur, dan kitab lainnya yang pernah turun ke muka bumi.

Kitab Besar yang tercipta pertama kali adalah Lauhul Mahfuz, sebuah kitab yang kalau saya boleh bilang, adalah kitab rancangan atas segala kehidupan yang diciptakan-Nya. Takdir seluruh alam semesta ada di situ. Segala konektivitas rumit antar makhluknya telah secara detail tertulis di situ. Sementara, kitab-kitab yang turun ke bumi hanya berisi sebagian kecil dari Kitab Besar yang telah Allah cipta.

 Ketika Dia sudah membagi ilmunya lewat kitab-kitab-Nya, maka yang harus kita lakukan adalah mempelajari, memahami isinya, kemudian berusaha mengamalkannya. Maka itulah salah satu alasan mengapa nabi diutus. Untuk menyampaikan risalah. Ketika malaikat menjadi perantara antara Allah dengan nabinya, maka para nabi diminta meneruskannya firman-firman dari Allah kepada manusia lainnya. Nabi memperjelas isi kitab dengan perkataannya agar umat manusia mampu memahami apa maksud di balik ayat demi ayat dalam kitab yang telah turun.

Setiap ciptaan Allah, pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Maka, pada setiap kumpulan manusia, Allah pasti mengirimkan manusia yang diutus sebagai Nabi atau Rasul. Dia tak ingin manusia kehilangan arah untuk pulang kembali kepada-Nya. Maka Dia menjadikan di antara manusia-manusia itu satu atau beberapa Nabi untuk mengingatkan para manusia menuju arah pulang yang benar.  Ingat, sejak awal penciptaan manusia, musuh utamanya, yaitu iblis atau shaytan tak pernah berhenti membuat manusia menjadi temannya kelak di neraka. Mereka tak pernah berhenti berusaha. Tak pernah. Sehingga, tak heran jika pada akhirnya banyak manusia teralihkan menuju jalan pulang yang salah, yang pada akhirnya tidak akan mempertemukannya pada Penciptanya. Sehingga, para manusia butuh diingatkan. Maka Allah pasti mengangkat satu manusia pada suatu kaum untuk menjadi pengingat jalan pulang mereka. Allah tidak akan memusnahkan suatu kaum, sampai ada nabi yang pernah diutus kepada mereka.

Setiap nabi, pada umumnya menjelaskan kitab-kitab yang telah disampaikan kepadanya. Biasanya, kitab ini dikhususkan untuk kaum yang didakwahinya kala itu. Hingga akhirnya, ketika sudah dekat dengan akhir zaman, Allah mengutus nabi yang ajarannya tidak hanya ditujukan untuk kaumnya dimana dia tinggal selama hidupnya. Lebih dari itu, ajarannya juga ditujukan untuk seluruh manusia di seluruh dunia, yang akan datang setelah kematiannya. Dan istimewanya, dia Rasulullah Muhammad SAW dibekali dengan satu kitab yang akan dijaga sampai akhir zaman oleh Allah sendiri. Kitab ini berasal dari Allah, diturunkan kepada Muhammad SAW, lewat perantara Malaikatnya, Malaikat Jibril. Dan isi kitab ini, merupakan ringkasan kitab terdahulu. Berisi kisah-kisah di masa lalu sebagai pengingat atas segala yang telah terjadi. Juga berisi ilmu pengetahuan yang tak akan habis untuk dipelajari bahkan sampai seumur hidup kita. Kitab ini menyempurnakan kitab-kitab terdahulu, dan merupakan kitab paling sempurna yang pernah ada di muka bumi. Dan karena terbit terakhir, maka kitab ini sangat banyak menjelaskan tentang hari akhir, yang akan dihadapi oleh manusia akhir zaman, dan menjadi pentunjuk untuk para manusia akhir zaman ini bagaimana cara terbaik menghadapi akhir hidupnya masing-masing (kematian) maupun akhir zaman yang sebenar-benarnya akhir zaman (kiamat besar).

Urutan iman terakhir adalah iman kepada Qada’ dan Qadar. Bagi saya pribadi, ini adalah sebentuk iman yang paling sulit untuk diimani. Mengapa? Dibutuhkan keikhlasan tingkat tinggi untuk benar-benar bisa mengimaninya. Mempercayai bahwa segala yang terjadi adalah sudah ketetapan Allah. Mengapa Allah menciptakan ini dan itu? Mengapa Allah menimpakan ini dan itu? Mengapa Allah begini? Mengapa Allah begitu? Siapa dari kita yang tak pernah menanyakan itu dan tidak pernah terbersit prasangka tak baik pada Tuhannya? Dia yang bisa menekan dirinya untuk tidak pernah berprasangka buruk pada Tuhannya, adalah hamba yang benar-benar mukhlas. Ikhlas tingkat tinggi dalam hidup. Mempercayai sepenuh hati, ikhlas seikhlas-ikhlasnya, bahwa apapun yang telah menimpanya adalah ketetapan dari Tuhannya. Entah itu ringan ataupun berat. Entah itu menyenangkan maupun menyedihkan.

Memperbaiki shalat, benar-benar tak bisa lepas dari memperbaiki iman. Shalat adalah bukti iman yang dilakukan setelah syahadat. Dan jika kita saja tak pernah paham apa itu iman, bagaimana kita bisa membuktikannya?

Lalu bagaimana langkah awal memperbaiki iman?

Kata pertama yang turun kepada Rasulallah Muhammad SAW dari Allah Azza Wa Jalla lewat Malaikat Jibril: Bacalah!
Baca dan pelajari kitab yang telah diturunkan-Nya. Pelajari tentang tauhid, pelajari tentang makhluk-makhluk ciptaan-Nya, baca kisah-kisah para nabi terdahulu, pelajari tentang kiamat, dan belajar untuk terus melatih ikhlas. Setelah membaca dan kita menemukan satu titik tertentu, maka kita tak akan pernah mau berhenti membaca dan selalu ingin belajar dan terus belajar tanpa berhenti. Sampai nanti. Sampai mati. Dan lakukan itu semua sekarang. Tanpa tunggu nanti-nanti.

Rasakanlah sesuatu yang terjadi pada shalatmu setelah itu.

Bacalah. Belajarlah.

--------------------------------------------------
Maaf untuk postingan yang cukup panjang.

Kamis, 09 Februari 2017

#2 Belajar Shalat Lagi: Sebuah Senjata


Ini adalah tulisan Part #2 setelah Belajar Shalat Lagi Part #1

Tahu apa benda yang pertama kali diciptakan oleh Allah? Pena. Ya, pena. Allah telah menuliskan segala sesuatu yang terjadi di bawah kekuasaannya, menetapkan takdir, menetapkan kejadian-kejadian, menentukan segala-galanya sampai selesai. Begitu pena diangkat, maka saat itulah segalanya dimulai. Keren ya. Kita bisa lihat di sini Allah itu Maha Perencana, Penulis, dan Sutradara paling sempurna, paling detail, paling rapi, paling tepat waktu. Terciptalah sebuah kitab blue print kehidupan, namanya Lauhul Mahfuz. Di situ sudah tertulis segala sesuatu dari awal penciptaan sampai nanti entah kapan segalanya berakhir. Dan yang pasti, pada akhir cerita, semuanya akan kembali pada penciptanya. Kembali pulang kepada Allah.

Pada suatu ketika, Allah menciptakan manusia dan menjadikannya khalifah di muka bumi. Saat penciptaannya, ada satu makhluk yang memandang sebelah mata pada manusia, dia adalah Iblis. Iblis adalah ahli ibadah yang ibadahnya sangat sempurna dan tak ada makhluk lain bisa mengalahkan ibadahnya. Namun, saat Allah meminta Iblis untuk menghormat pada manusia, dia tidak mau. Ada rasa tinggi hati, riya’, dan ujub yang membuatnya merasa dia lebih baik dari manusia dan lebih pantas diangkat sebagai pemimpin. Maka, Tuhannya tidak ridha kepadanya dan melaknatnya menjadi penghuni neraka. Satu pinta iblis ketika itu pada Allah, dia minta waktu penempatannya di neraka ditangguhkan dan berjanji untuk mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk menjadi temannya di neraka.

Maka, salah satu tugas kita dan tantangan kita agar bisa pulang dengan selamat adalah berperang melawan shaytan. Dan salah satu senjata perang itu adalah shalat.

#1 Belajar Shalat Lagi: Permulaan


Apa yang akan saya tulis, bisa jadi salah, bisa jadi benar. Maka, sebelum Anda yang budiman memutuskan membaca tulisan berseri saya ini, koreksilah jika salah. Dan jika benar, itu datangnya hanya dari Allah Yang Maha Tahu.

“Jika baik shalatnya, baik pula akhlaknya. Jika sudah rajin shalat, tapi akhlaknya masih nggak baik, bisa dipastikan shalatnya belum baik, shalatnya masih rusak”. Saya sering mendengar kata-kata ini. Awalnya saya pernah mikir, apa hubungannya akhlak sama shalat? Awalnya, saya beneran nggak paham. Lalu jawaban itu satu per satu datang kepada saya, yang Insyaa Allah akan saya jabarkan sedikit pada tulisan berseri saya tentang Belajar Shalat Lagi Part #1, #2, #3, dan #4.

Amalan yang pertama kali dihisab ketika hari hisab menghisab adalah shalat. Rukun islam setelah syahadat adalah shalat. Yang saya pahami ketika saya masih kecil sampai usia seperempat abad adalah: shalat itu wajib, shalat itu harus dilakukan karena ini adalah rukun islam dan merupakan amalan yang pertama kali dihisab. Kalau nggak mengerjakan shalat maka dosa dan konsekuensinya masuk neraka. Oh iya, ditambah lagi, gerakan shalat bagus buat kesehatan.

Di usia saya yang kala itu sudah 25 dan pemahaman saya hanya sebatas itu. Helloooo saya ngapain aja selama ini??? Maka saya memutuskan untuk belajar lebih baik lagi dalam memahami shalat.

Sebelum bisa memahami shalat dengan baik dan benar, ada banyak hal yang harus dipahami, beberapa di antaranya adalah tentang iman, termasuk di dalamnya adalah Al-Qur’an. Sedikit menyitir perkataan Nouman Ali Khan: bahwa Qur’an mampu melindungi kita dari shaytan dan mampu memperbaiki shalat kita.

“We have to recite Qur’an & reflect it regularly, to get protection againts syaithon. It doesn’t matter who you are. The size or colour of your hijab doesn’t matter. The size of your beard doesn’t matter. Your age doesn’t matter. Shaytan will come to you.”


“The actual relationship I have with The Qur’an isn’t when I’m listening lecturer, isn’t when I’m memorizing it. You know when the actual relationship with Qur’an happen? When I’m standing in shalat & reciting it. If somebody shalat is good, The Qur’an is good. If somebody not enganging with The Qur’an in their shalat, their relationship with Qur’an is entirely artificial.”


“Real Qur’an happen in shalat. Everything I learn, Everything you learn about this book, whether it is tajweed, languange, tafseer, or memorizing all of those, do it for your shalat: ‘I will have better shalat!’ Because shalat is officially when we’re stop talking to everybody and we start talking to Allah with the words that Allah told us.” (Nouman Ali Khan)

Meskipun menurut saya, saya sudah cukup terlambat karena telah menyia-nyiakan usia saya dari akil baligh sampai semperempat abad dengan berbagai kebodohan, kesesatan, dan ketidaktahuan yang melekat, saya tetap bersyukur pada akhirnya diberikan pemahaman di atas jalan ini. Maka saya menuliskannya di blog ini. Kali aja, ada yang pernah merasa sebodoh dan setersesat saya, dan lewat tulisan ini, atas izin Allah bisa memahamkan walaupun sedikit. Aamiin.
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.