Selasa, 20 Desember 2016

Negeri Syam, Negeri Yang Diberkahi

Negeri Syam, Perang Suriah


Inilah tanah luas yang membentang dari Gaza di selatan yang berbatasan dengan Mesir dan Antakya di utara yang kini menjadi wilayah Turki; meliputi negara-negara yang sekarang bernama Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina, dan Israel. Syam, tanah yang konon katanya adalah tanah yang diberkahi. Tanah yang diperebutkan dari dahulu kala. Negeri Syam, merupakan bagian penting bagi sejarah Islam. Bukan hanya Islam di Arab, namun juga Islam di seluruh dunia. Bukan hanya penting bagi sejarah Islam masa lalu, namun di masa depan, Syam sudah dimafhumkan menjadi bagian penting dari perang akhir zaman.

Bumi Syam, tidak pernah sepi dari peperangan dan perebutan kekuasaan. Yordania, dulunya merupakan jantung peradaban kuno di tengah-tengah peradaban Babilonia dan Kanaan. Letaknya yang strategis menjadikan Yordania sempat diperebutkan, mulai dari Yunani, Persia, sampai Kekaisaran Romawi. Yordania juga pernah menjadi salah satu wilayah kekuasaan kekhalifahan Utsmaniyah bersama negara-negara lain di sekitarnya, antara lain Lebanon, Turki, dan Suriah. Lebanon, yang terletak di utara Yordania, juga tidak jauh-jauh dari peperangan. Pada abad ke-20, perang saudara sempat berkecamuk di negeri ini. Dua negara lain, Israel dan Palestina, tidak perlu dipertanyakan lagi. Perebutan Baitul Maqdis di wilayah tersebut, yang merupakan tempat suci bagi tiga agama besar: Islam, Yahudi, dan Nasrani, belum usai sampai sekarang. 

Terakhir, Suriah. Suriah atau sering disebut sebagai Syria, saat ini sedang menjadi trending topic di kancah dunia internasional. Perang saudara yang dulunya merupakan urusan dalam negerinya, berkembang menjadi perang regional, kemudian sekarang menjelma menjadi perang internasional antara timur dan barat. Bahkan, perang di Suriah disebut-sebut bisa memicu terjadinya Perang Dunia ke-3. Apa yang terjadi sebenarnya di Suriah? Video singkat di bawah mungkin bisa sedikit memahamkan garis besar Perang Suriah.



Diawali dari bulan Maret 2011, gelombang reformasi terjadi. Rakyat melakukan demo di jalan atas ketidakpuasan kepada pemerintahan Assaad. Pemerintah mengatasi demo tersebut dengan kekerasan. Bashar Al-Assad, presiden Suriah waktu itu yang menggantikan pemerintahan ayahnya, Hafez Al-Assad, mengirimkan senjata berat dan tank untuk menindak para pendemo. Rezim Assad, telah 40 tahun memerintah di tanah Suriah. Jika dilihat, ada kemiripan antara Suriah dengan Indonesia, di mana pada tahun 1998 terjadi reformasi yang akhirnya berhasil menumbangkan rezim Suharto yang telah memerintah Indonesia 35 tahun lamanya. Namun, apa yang terjadi di Indonesia, lebih bisa dikendalikan dibandingkan di Suriah, karena pemerintah pada waktu itu pada akhirnya bersikap lunak atas aksi para mahasiswa.

Diawali dari Maret 2011, mulailah terjadi perang saudara di Suriah. Banyak sumber menyebutkan, ada empat kekuatan besar yang saling berseteru di Suriah, yaitu Pemerintah Suriah di bawah komando Assad, Koalisi Nasional Suriah yang sering disebut-sebut sebagai Pasukan Pemberontak atau Pasukan Oposisi, Rojava (Pasukan Demokratik Suriah), dan ISIS. Perang di Suriah, sebenarnya bukan hanya perang saudara. Lebih dari itu, perang Suriah berkembang lebih jauh menjadi perang ideologi antara kepercayaan Syiah dan Sunni.

MerahPemerintah SuriahKuningPasukan Demokratik Suriah (Rojava), Abu-abuNegara Islam Irak dan Syam,PutihJabhat Al-Nusra, Hijau: Oposisi Suriah (source: wikipedia.org)


Perang Suriah kemudian lebih jauh mengundang keterlibatan negara-negara lain. Di kemudian hari, terbentuk dua kubu besar, yaitu antara kubu pemerintah Assaad yang memiliki ideologi Syiah dengan kubu pasukan oposisi yang berideologi Sunni. Arab Saudi, Amerika Serikat, Turki, dan negara Uni Eropa menjadi pendukung para Pasukan Oposisi. Mereka mempersenjatai bahkan melatih Pasukan Oposisi melawan Rezim Assaad. Sementara Rusia, Iran, China, mendukung penuh Rezim Assaad. Maka, kemudian perang Suriah menjelma menjadi perang internasional antara kekuatan barat (Amerika Serikat) dengan kekuatan timur (Rusia).

Keterlibatan negara-negara tersebut pada Perang Suriah diyakini akibat adanya kepentingan politik masing-masing. Faktor Geopolitik menjadi faktor dominan mengapa negara-negara itu akhirnya harus urun rembug dalam Perang Suriah. Proxy War atau perang terselubung menjadi salah satu isu hangat, di mana motif utama keterlibatan negara-negara tadi terjadi karena masalah jalur pipa gas. Pada 25 Juni 2011, terjadi penandatanganan kesepahaman proyek pipa gas antara Suriah, Iran, dan Turki. Amerika Serikat dan Turki menginginkan aliran gas terjamin melintasi Suriah dan mencegah Assad untuk menghalangi tujuan tersebut, karena dengan berhasilnya proyek pipa gas tersebut harga gas di Amerika dan Eropa akan semakin murah. Eropa sebelumnya menggantungkan pasokan gasnya pada Rusia. Maka kemudian Rusia merasa berkewajiban menghalangi Eropa mendapatkan gas yang lebih murah dari proyek terbaru ini, agar tidak berdampak mengurangi dominasi Rusia dalam permainan gas internasional. Sementara, Arab Saudi disebut-sebut ingin melindungi negaranya dari ancaman Syiah sehingga pada akhirnya ambil bagian dalam Perang Suriah.

Media barat selama ini cenderung menyebarkan isu yang menyudutkan Assad, yang dianggap telah melakukan kekejaman terhadap rakyatnya sendiri. Tapi hal tersebut baru-baru ini dibantah oleh seorang wartawan freelancer asal Kanada, Eva Bartlett. Dalam video yang direkam saat konferensi pers PBB belum lama ini, Eva Bartlett menyebutkan kebohongan media barat terhadap apa yang sedang terjadi di Suriah. Menurutnya, selama masa kerjanya di Suriah, yang dia temui adalah dukungan rakyat terhadap Assad, bukan sebaliknya. Entah pernyataan yang dikeluarkan itu benar atau tidak, Wallahu'alam.

Secara kasat mata, apa yang terjadi di Suriah adalah seputar perang saudara, perang ideologi, kepentingan geopolitik, dan kepentingan lain terhadap kelangsungan hidup negara yang terlibat. Namun secara hakikat, ada sesuatu yang besar menanti di Tanah Syam.



Apa yang sebenarnya dihadapi oleh Suriah, Palestina, dan negara-negara yang sering mengalami perang di kawasan Syam? Umat Islam meyakini, bahwa apa yang akan dihadapi oleh negeri Syam nantinya adalah salah satu fitnah terbesar di muka bumi: munculnya Dajjal (Anti-Christ), seperti apa yang disebutkan oleh salah satu hadits:

Dajjal itu keluar di antara Syam dan IrakDia lantas merusak kanan dan kiriWahai para hamba Allahtetap teguhlah”. [HR. Muslim no. 2937].
Hadits lainnya, hadits Abu Dawud 2483 menyebutkan bahwa pasukan perang terbaik akhir zaman ada di Negeri Syam. Dan cara membentuk pasukan perang terbaik itu tentu saja adalah dengan perang. Pelaut yang handal tidak terbentuk dari laut yang tenang. Pasukan perang terbaik tak akan muncul di negeri yang damai, aman, dan sentausa tanpa konflik.

Maka yang harus dipahami di balik perang berkepanjangan di kawasan Syam adalah: ini merupakan bagian dari skenario hebat yang telah direncanakan Tuhan Semesta Alam. Maka terberkahilah Negeri Syam, negeri yang selalu disebut-sebut dalam doa Rasulullah SAW bersama tiga tempat lainnya: Makkah, Madinah, dan Yaman.

Maka sempatkanlah melesatkan panah-panah doa untuk saudara-saudara kita di Syam di setiap sepertiga malam terakhir. Untuk Negeri Syam, negeri yang diberkahi.

Pustaka:
1. 10 Jawaban Assad Soal Perang Suriah, ISIS, hingga Propaganda Barat
2. Fake News About Syria.
3. Geopolitik dan Perang Terselubung Syria
4. Google Earth
5. Inilah Aktor Utama Perang Suriah
6. Lapis-Lapis Keberkahan, Salim A. Fillah
7. Mencari Motif Utama Serangan Militer Barat ke Syria (bag-2)
8. Mengapa Amerika Tidak Menyerang Suriah?
9. Mengapa Rusia Berpihak Pada Suriah?
10. Perang Saudara Suriah
11. Syria Will Defeat The Greatest Fitna On Earth
12. Understanding Syrian Crisis in 5 Minutes









Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.