Rabu, 14 Desember 2016

Lelaki Yang Tertidur Selama 100 Tahun

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’ Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapa lama kamu tinggal di sini?’ Ia menjawab: ‘Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu telah menjadi tulang belulang; Kami akan menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, bagaimana kami menyusunnya kembali, kemudian Kami menutupnya kembali dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: ‘Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Al-Baqarah: 259)



Ini adalah kisah tentang seorang lelaki yang melalui sebuah negeri. Baitul Maqdis. Baitul Maqdis yang hancur, yang kehidupan pun sudah menghilang di atasnya. "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah kehancurannya?" tanyanya. Lelaki itu adalah Uzair. Uzair, seorang lelaki penghafal taurat pada zamannya. Uzair, seorang lelaki yang diutus kepada Bani Israil jauh setelah masa Nabi Musa a.s.
Bani Israil, kaum para nabi. Dimulai dari Nabi Ya'qub, anak Nabi Ishaq, cucu Nabi Ibrahim. Dari situlah, garis keturunan Bani Israil dimulai. Yusuf, Yunus, Ayyub, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa', Zakaria, Yahya, Isa, semua adalah keturunan Bani Israil. Sementara Muhammad SAW berasal dari Bani Ismail. Bani Israil, adalah kaum yang paling banyak dimention dalam Al-Qur'an. Kaum yang dikaruniai kecerdasan dan banyak kelebihan, namun juga kaum yang paling sering membangkang. Mengapa Bani Israil selalu disebut-sebut dalam Al-Qur'an? Sesuatu yang sering disinggung dan disebut, pada dasarnya adalah sesuatu yang harus diperhatikan. Kaum ini adalah kaum yang kisahnya masih akan hidup sampai akhir zaman, dan memiliki peran penting sebagai tanda-tanda akhir zaman. Yang jelas, kaum ini adalah kaum yang dijaga dari kemusnahannya sampai waktunya nanti Allah sendiri yang akan memusnahkannya (Bahkan kekejaman Hitler pun tak mampu memusnahkan sebagian kecilnya). Wallahu'alam. 

Bani Israil, melakukan ekspansi sampai ke Mesir pada masa Nabi Yusuf a.s yang dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur dan dijadikan budak sampai ke Negeri Mesir. Sejak itu, kaum Bani Israil menempati Mesir dan komunitasnya semakin banyak di negeri  tersebut. Mereka tinggal di sana, menjalani kehidupan di sana, sampai masa pemerintahan Fir'aun datang. Masa di mana kisah tentang Nabi Musa berlangsung. Masa di mana Bani Israil menjadi kaum yang diperbudak dan terinjak-injak oleh kekuasaan Fir'aun.

Diakhiri dengan pengejaran Fir'aun yang ditenggelamkan di Laut Merah, Bani Israil yang mengikuti Musa a.s dan Harun a.s berhasil menyeberangi Laut Merah. Mereka hijrah menuju Jerusalem, Baitul Maqdis, yang sekarang merupakan wilayah Palestine - Israel dan sekitarnya. Mulai dari situ, kisah pembangkangan Bani Israil mulai sering disebut-sebut dalam Al-Qur'an. Mulai dari penyembahan kepada patung sapi, sampai pada akhirnya datang masa Uzair a.s dan Isa a.s. Dari masa setelah kepergian kedua nabi inilah, muncul ajaran Yahudi dan Nasrani yang sudah tidak murni lagi. Beberapa gelintir pengikutnya pada akhirnya membelokkan ajaran Alkitab (Taurat dan Injil) mengikuti nafsu manusianya dan menganggap Uzair a.s dan Isa a.s sebagai anak Tuhan (Q.S At-Taubah: 30).

Uzair. Nama ini disebut dalam Al-Qur'an secara eksplisit satu kali. Namun, secara implisit, kisah tentang Uzair diceritakan pada salah satu ayat di Surat Al-Baqarah yang menjadi pembuka tulisan ini. Ketika melihat Baitul Maqdis yang porak poranda  pada waktu itu akibat dihancurkan oleh seorang raja dan terlihat mustahil untuk ditinggali lagi, dia bertanya-tanya, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah kehancurannya?"

Allah menjawab pertanyaannya 100 tahun kemudian. Dia dibuat tidur selama 100 tahun. Seusai 100 tahun dalam tidur panjangnya, Allah menanyainya: "Berapa lama kamu tertidur?". Uzair menjawab, "Mungkin sehari atau setengah hari." Allah berkata, "Sesungguhnya kamu telah berada di sini selama 100 tahun." 

Makanan Uzair masih utuh, sementara keledainya sudah berubah menjadi tulang, menjadi debu. Saat itu pula, keledainya dihidupkan lagi. Saat itulah, Uzair melihat negeri yang dulunya hancur sudah ditinggali dan kembali makmur. Peradaban yang hancur itu telah kembali. Kemudian, Uzair mendatangi penduduk negeri itu. 

Apa yang terjadi kemudian adalah, penduduk negeri itu yakin bahwa lelaki yang datang kepada mereka adalah benar-benar Uzair, seorang lelaki pilihan yang diberi karunia berupa hafalan Taurat. Taurat, waktu itu sudah banyak ditinggalkan oleh penduduk negeri itu. Kedatangan Uzair, membawa kembali ajaran kitab Taurat yang sudah hampir hilang dari peradaban. Sayangnya, penduduk negeri itu pada akhirnya terbawa hawa nafsunya yang menganggap Uzair pantas dianggap sebagai anak Tuhan, Son of God. 

Uzair, adalah salah satu bagian dari kisah kaum Yahudi. Kisah yang juga diceritakan dalam Al-Qur'an. Dan kisah yang telah digoreskan dalam lembaran-lembaran kitab akhir zaman ini, bukankah harus kita ambil hikmah di balik kisah tersebut?

Baca juga: Ngomongin Setan

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia yang menghidupkan, Dia yang memelihara, Dia yang mematikan. Dia yang Maha Menciptakan, Maha Pembentuk Rupa. Dia yang Maha Membangkitkan, Dia yang Maha Berkehendak. Dan sungguh, hanya kepada-Nya nanti kita akan kembali. Dan Dia, adalah sebaik-baik penulis kisah-kisah yang menakjubkan yang berlangsung dari permulaan sampai akhir zaman.

Source: Tafsir Ibn Katsir dan Islamic Guidance Page


Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.