Kamis, 15 Desember 2016

KLITHIH. What Happen in Jogja?

Turut berduka atas meninggalnya Adnan (16), seorang pelajar sekolah menengah atas di kota Yogyakarta. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Semoga diampuni segala dosa dan kesalahannya, diringankan azab kuburnya, dan ditabahkan keluarga dan sahabat-sahabat yang ditinggalkannya.

Klithih? Istilah apa sih ini?

Beberapa teman dari luar Jogja dan luar Jawa semakin ingin tahu istilah yang beberapa waktu terakhir semakin ngehits di kota pelajar ini. Kota pelajar yang katanya sekarang semakin tidak aman saja.

Hmm, Klithih itu apa ya? 
Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, saya sendiri belum menemukan kosa kata yang tepat untuk menggantikan istilah ini. Klithih itu bisa diartikan sebagai suatu bentuk anarkisme, tindakan yang dilakukan untuk melukai lawan atau musuh dengan bantuan senjata tajam atau senjata lain yang bisa digunakan untuk melukai.

Kasus klithih sebenarnya sudah lama turun temurun ada di kota ini. Hanya saja, akhir-akhir ini tindakan klithih ini sudah terlalu melampaui batas, ngawur, dan sudah menerjang norma-norma perklithihan. Ya, konon katanya, klithih sendiri punya aturan-aturan yang harus ditegakkan.

Pelaku utama klithih adalah para remaja usia sekolah yang emosinya tentu saja masih meledak-ledak dan sulit dikendalikan (walaupun tidak semua pelaku klithih adalah remaja juga sih). Jogja sendiri sudah masyhur dengan tawuran geng antar sekolah atau antar komunitas yang melibatkan para pemuda dan para remaja. Bagi yang sudah lama tinggal di Jogja, mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama-nama perkumpulan remaja ini: Joxin, Ranger, GNB, Qzruh, CBZ, GBZ, Ganza, NBZ, Nocazta, Oestad, dan lain sebagainya yang saya sendiri tidak hafal satu per satu namanya. Yang jelas, pada umumnya setiap sekolah punya setidaknya satu geng sebagai identitas kebanggaan menurut para siswa-siswinya. 

Tawuran antar sekolah, selalu berulang-ulang terjadi. Kadang berawal dari masalah sepele. Sangat sepele. Lirik-lirikan yang berujung nantang, rebutan cewek/cowok lain sekolah, ditolak cewek/cowok lain sekolah, kalah dalam suatu turnamen, dan sebagainya. Lalu yang sebenarnya unik namun memprihatinkan, ada istilah musuh bebuyutan antar geng ini. Jadi walaupun sebenarnya antar personelnya tidak ada masalah apa-apa, tapi peperangan antar dinasti dalam suatu geng ini seakan tak bisa lepas, turun temurun sampai anak cucu, sampai buyutnya. Maka bukan rahasia lagi kalau sebenarnya masyarakat juga sudah paham dari jaman dahulu kala kalau geng SMA A itu musuhan sama geng SMA B. SMA A itu gengnya sekutu sama geng SMA C, geng SMA B punya backingan geng SMA D. Gitu-gitu terus aja. Dari jaman bapak saya masih sekolah sampai sekarang, kasus geng-gengan itu masih kekal abadi di kota pelajar ini.

Jaman saya masih SMP kasus tawuran SMA depan sekolah dengan SMA lainnya pun sudah tak asing lagi. Bahkan pada waktu itu, ada satu kasus tawuran yang menonjol karena menyebabkan salah seorang anak SMA meninggal akibat terpanah. Kadang, saat tidak punya masalah apa-apa, ketika ada dua pelajar dengan badge sekolah berbeda bertemu di jalan dan kedua sekolah itu adalah musuh bebuyutan, sangat bisa terjadi, pertemuan yang tidak disengaja dan tidak bermaksud apa-apa itu berakhir dengan gelut, dengan tawuran. Dan sepertinya tidak hanya dulu, sekarang juga masih begitu. Yah, mirip sinetron Anak Jalanan gitu kali ya. Bedanya, dulu media sosial belum ngeboom seperti sekarang. Jangankan friendster, mig33 aja belum ada, apalagi facebook, path, instagram, line, dan whatsapp. Jadi, kasus-kasus semacam itu tidak gampang viral di medsos seperti sekarang.

Pada akhirnya, dinas pendidikan kemudian mengeluarkan kebijakan mengganti badge nama sekolah dengan badge bertuliskan "Pelajar Kota Yogyakarta" untuk semua sekolah di Kota Yogyakarta. Mungkin salah satu alasannya untuk meminimalisir kasus tawuran yang kerap terjadi hanya karena urusan badge sekolah yang menjadi pemicu utama tawuran.

Berdasar obrolan dengan beberapa teman yang juga mantan pelaku klithih yang sekarang sudah jauh-jauh dari dunia perklithihan, ada beberapa aturan yang sekarang sudah diterjang. Mereka bilang, orang klithih jaman sekarang udah nggak lakik. Aturan klithih itu gimana sih? Pertama, yang jadi sasaran klithih harus memakai seragam sekolah, kalau sudah tidak memakai seragam maka orang tersebut tidak boleh dijadikan sasaran. Kedua, kalau ada cewek diamankan dulu, kalau bonceng ceweknya disuruh turun dulu. Tapi, klithih jaman sekarang itu asal babit, membabi buta. Jadi, mungkin itu yang menjadi ketakutan tersendiri di masyarakat. Sekarang semua dijadikan sasaran. Ngeri juga sih.

Sebenarnya klithih tidak hanya terjadi di Jogja. Jalanan Jogja sebenarnya terkenal lebih aman dibandingkan jalanan di luar Jawa yang lebih banyak perampok dan bajing loncat. Namun siapa yang tidak keder kalau nanti di jalanan tiba-tiba ada yang nyegat kemudian menghunuskan pedang atau tombak, atau mengancam dengan gir sepeda dan sejenisnya?

Ketika usia saya semakin bertambah, saya baru benar-benar sadar. Dunia itu memang begini ya. Ngeri. Senda guraunya lucu banget. Jogja yang dalam pemahaman saya selama ini adalah tempat yang ideal buat ditinggali pun di dalamnya juga tersimpan banyak kengerian dan ketidakwarasan. Itu pun, belum lama saya sadar. Mungkin karena seumur hidup saya, saya terlanjur jadi manusia cuek, tidak peduli, dan seakan-akan polos.

 Kalau sudah begini sih,
hasbunallah wa ni'mal wakil. Ni'mal maula wa ni'man nashir.
Cukuplah Allah sebagai penolong dan pelindung kita dari ancaman-ancaman kengerian bercandaannya dunia.

Source pict: www.satujam.com

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.