Kamis, 08 Desember 2016

Gempa dan Trauma



Rabu, 07 Desember 2016
Gempa Magnitude 6,5 SR kedalaman 15 km
Lokasi: Provinsi Aceh (NAD)
18 km Timur Laut Kabupaten Pidie Jaya – NAD
34 km Barat Laut Kabupaten Bireuen – NAD
48 km Timur Laut Kabupaten Pidie – NAD
121 km Tenggara Banda Aceh – NAD
1716 km Barat Laut Jakarta – Indonesia

Ba’da shubuh, goncangan kuat itu kembali datang di Aceh. Penyebab goncangan: aktivitas sesar mendatar dari sesar aktif Samalanga – Sipopok (bagi yang belum paham apa itu sesar, kekar, patahan, dan apapun yang berhubungan dengan gempa, blog Pak Rovicky mungkin bisa jadi bacaan ringan yang mampu memahamkan). Alhamdulillah, gempa kali ini tidak disusul tsunami. Alhamdulillah juga, negara kita semakin sadar bencana. Respon terhadap bencana semakin baik daripada dulu-dulu. Gerakan masyarakat tanggap bencana, kampanye siaga bencana, dan sejenisnya sekarang semakin marak bahkan sampai ke kampung-kampung. Semoga proses recovery berlangsung cepat, aman, dan terkendali seperti recovery gempa Bantul 10 tahun silam.

Gempa, mungkin terasa biasa bagi yang tidak pernah bersentuhan langsung dengannya. Mungkin sekedar lewat bagi yang merasakannya sebagai sebuah bentuk goncangan yang hanya sekedar lewat. Sangat berbeda dengan mereka yang pernah berhubungan intim dengannya, pernah kehilangan sesuatu karenanya, atau pernah merasa hampir mati karenanya. Ada rasa trauma yang mungkin tidak akan pernah hilang seumur hidup, atau bisa saja hilang namun dalam jangka waktu yang cukup lama.

Gempa, adalah salah satu peristiwa traumatik yang pernah mampir dalam hidup saya. Sampai detik ini, setidaknya ada tiga hal yang ternyata masih menyisakan trauma di alam bawah sadar saya, yaitu gempa, lift, dan satu hal lainnya yang tak pernah ingin saya bahas dan saya bicarakan. Meskipun, saya sering menyugesti diri saya: ah, aku wis ra trauma kok, wis biasa wae, ternyata alam bawah sadar saya berbicara lain. Masih ada atau tidaknya trauma itu sangat bisa dirasakan ketika sesuatu peristiwa pemantik trauma, atau hal-hal yang bisa mengingatkan pada trauma itu kembali dihadirkan.  Seperti ketika gempa-gempa kecil yang bisa dirasakan datang lagi menyapa, hati rasanya mak jenggirat, mak jegagig, dheg-dhegan ra karu-karuan, mlayu mak bladhat, lemes dhengkule, entek atine. Pun dengan hal-hal yang berhubungan dengannya seperti .....suara pesawat terbang.

Suara pesawat terbang? Apa hubungannya pesawat terbang dengan gempa? Dulu, pertama kalinya saya merasakan gempa besar yang menghancur leburkan rumah dan puing-puingnya nyaris menghantam tubuh saya, dalam pikiran saya waktu itu adalah: ada pesawat terbang jatuh! Ini pernah saya tuliskan pada tulisan di bawah ini:

Baca juga: Cahaya

Kadang geli juga sih pernah terbersit pikiran semacam itu. Efek dari semua itu adalah, saya selalu deg-degan nggak karu-karuan setiap naik pesawat, saat pesawat mau lepas landas atau saat pesawat mau landing. Karena, suara yang saya dengarkan ketika gempa berlangsung adalah seperti gemuruh suara pesawat terbang saat mau landing atau take-off. Sehingga saat berada di bandara, kepala saya berasa pusing sesaat, sedetik, dua detik, tiga detik. Meskipun pesawat yang saya tumpangi itu pesawat gratisan atau pesawat promo dari NusaTrip misalnya. Itu semua tidak akan berpengaruh pada alam bawah sadar saya. Berbeda dengan ibu saya yang deg-degannya adalah ketika mendengar truk atau ambulans lewat. Karena bagi beliau suara gempa adalah seperti suara truk lewat. Dan sehabis gempa, ambulans lalu lalang ke sana kemari dengan suara sirine nyaringnya yang bikin tidur nggak nyenyak.

Beberapa SKS yang pernah saya ambil ketika kuliah tentang geologi, geomorfologi, dan mitigasi bencana akan menguap begitu saja saat saya berhadapan langsung dengan si gempa. Anjuran untuk tidak panik saat gempa misalnya, kadang mendadak beralih kepada tingkah laku yang tak bisa dilogika saat si gempa datang. Langsung lari mak bladhat tanpa lihat kanan-kiri aman atau tidak, sembunyi di kolong yang sebenarnya tidak aman, dan sebagainya yang kadang bikin saya menertawakan kebodohan-kebodohan saya sendiri setelah tragedi gempa usai.

Dan gempa sudah sangat cukup untuk mengingatkan apa yang akan terjadi pada diri kita saat hari terakhir kehidupan dunia datang. Saat bumi digoncangkan lalu hancur, saat gunung-gunung dihancurkan menjadi debu dan beterbangan seperti bulu-bulu yang beterbangan, saat langit berubah menjadi merah merekah, saat kita kehilangan kesadaran dan tak ingin apa-apa lagi kecuali selamat. Ya, when it comes, ketika itu semua datang, dalam ketakutan yang amat sangat, kita akan melupakan semuanya, yang ada dalam pikiran kita adalah menyelamatkan diri sendiri! Gempa sebenarnya sudah sangat cukup mengingatkan diri saya sendiri kepada semua itu. Ketika saya baru ingat kepada bapak saya, ibu saya, simbah saya, kakak-kakak saya, kucing-kucing kesayangan saya, ketika gempanya sudah berhenti, ketika saya sudah yakin bahwa diri saya sudah selamat.


Sayangnya, pengingat itu terkadang disembunyikan oleh kesenangan-kesenangan dan kenikmatan-kenikmatan lain yang datang setelahnya.
Sayangnya, saya masih terlalu gampang tergoda oleh kesenangan-kesenangan dan kenikmatan itu.
Sayangnya, saya selalu lupa lagi dan lupa terus.
Dan ternyata, saya selalu butuh untuk diingatkan lagi dan diingatkan terus.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.