Sabtu, 05 November 2016

MALALEA: Tentang Masa Lalu (2)

           

           Hans tidak bisa memejamkan matanya malam ini. Pikirannya masih tertambat pada obrolan tadi pagi bersama nenek. Cerita yang masih belum usai gara-gara terpotong oleh waktu sekolah Si Kembar dan waktu bekerja Nenek. Kekuasaan. Hawa nafsu. Kata-kata itu berkelebat di kepalanya. Apakah hanya dengan dua hal tesebut, apa yang sudah diusahakan selama berabad-abad  tiba-tiba menjadi hancur? Tak adakah ingatan tentang hal baik yang terjadi sebelum itu untuk mempersatukan yang telah tercerai berai?
            “Hans, kau bisa membayangkan bagaimana masa lalu itu?” Ron ternyata juga belum tidur. Dia tidak bisa tidur. Dia tahu Hans sedang gelisah di tempat tidurnya dan merasakan hal yang sama dengannya. Dipindahkan posisi tubuhnya dari berbaring menjadi duduk di tepian ranjang. “Maksudku, masa lalu sebelum kita  hidup terpisah dengan manusia biasa,” Ron memperjelas pertanyaannya.
            “Aku juga tidak tahu, Ron. Mungkin saja nenek tahu. Besok kita tanyakan pada nenek”.
            “Aku membayangkan tentang negeri yang indah bersama para manusia biasa. Bukankah akan sangat menyenangkan jika kita saling mengenal satu sama lain? Kita bisa melakukan lebih banyak hal daripada sekarang ini tentunya,” imajinasi Ron menari-nari. Imajinasi tentang indahnya negeri yang penduduknya saling berbagi dan menghargai. Tentang pulau-pulau – yang  kata guru-guru di kelas – tersebar begitu banyak di permukaan bumi, tak terhitung lagi.
            Ron bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju jendela kamar dari kayu mahoni berpelitur keemasan yang ditutupi oleh tirai bermotif segitiga-lingkaran-kotak tak beraturan. Sreeek! Dia menyibak tirai penutup jendela. Cklik! Sekarang giliran kancing jendela dibuka. Ron membuka daun jendela kamar lebar-lebar.
            “Whoa, indah sekali Hans! Hans, kemarilah!” Ron berseru kepada Hans tanpa mengalihkan pandangannya dari luar sana. Hans penasaran. Dia melompat dari tempat tidurnya dan menghampiri Ron.
            “Whoaaa!” kali ini giliran mulut Hans yang menganga lebar. Bintang jatuh! Bintang jatuh nampak berseliweran menghujani atmosfer bumi. Tak hanya satu dua seperti malam-malam biasanya. Ada puluhan bintang jatuh yang disiramkan ke bumi!
            “Ini menakjubkan! Ini sungguh-sungguh menakjubkan! Baru sekali ini aku melihat yang seperti ini! Ini menakjubkan! Whoaaa!!!” Ron berteriak-teriak kegirangan.
            “Ssst, diamlah Ron! Kau bisa membangunkan penduduk sekampung dengan suara kegiranganmu itu!” Hans memarahi Ron. Lebih tepatnya, mengingatkan Ron agar mengontrol suaranya.
            “Ups. Maafkan aku, Hans. Aku hanya terlalu bersemangat,” Ron nyengir. Sadar bahwa dia sudah terlalu ribut.
            “Kata orang-orang, saat melihat bintang jatuh, sebaiknya kita memohon suatu permintaan. Ayo, kita meminta banyak hal! Bintang jatuhnya kan sangat banyak,” Ron mengajak. Hans protes mendengar usul Ron, “Hei, itu kan hanya mitos!”
            “Tapi tak ada salahnya kan, kalau kita berdoa meminta sesuatu?”
            “Baiklah, baiklah..., mari kita berdoa memohon sesuatu pada Tuhan. Berdoa, mulai!” Dua manusia mini kembar itu sejenak menundukkan kepala. Suasana mendadak hening. Khusyuk sekali keduanya merapalkan doa.
            “Hei, Ron.”
            “Iya, Hans. Ada apa?”
            “Kau berdoa apa?”
            “Aku? Aku hanya berdoa agar bisa kembali ke masa lalu. Melihat apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Masa di mana manusia mini  dan manusia biasa terpecah belah. Mungkin saja kita bisa mencegahnya, kan?”
            “Bisakah? Bagaimana kalau tidak bisa?” Hans ragu.
            “Di dunia ini, berbagai kemungkinan bisa terjadi. Bahkan, walaupun kemungkinan itu tak terbayangkan sebelumnya. Tak ada salahnya mencoba, kan?”
            “Ya, baiklah. Semoga saja begitu. Sudah, ayo kita tidur!” Hans lebih dulu melompat ke atas kasur. Ron masih terpaku di tepian jendela. Sisa-sisa hujan meteor masih nampak di langit malam Pulau Malalea. Kerlip bintang-bintang semakin jelas terlihat ketika tak ada lagi meteor yang bergesekan dengan atmosfer bumi. Satu planet terlihat bercahaya amat terang, tanpa kerlipan, mungkin itu Planet Jupiter, mungkin juga bukan. Bermacam-macam rasi bintang semakin nampak menakjubkan di atas sana. Membentuk kesatuan galaksi yang sempurna yang kelihatan berkabut dari sini, Galaksi Bimasakti.
            Ron termenung. Betapa luasnya alam raya ini. Betapa banyak hal yang tak bisa terjangkau. Baik terjangkau secara fisik, maupun gaib. Ia tak tahu menahu tentang kehidupan terestrial seperti apa yang ada di luar bumi. Kehidupan yang terjadi di bumi sendiri pun dia tak tahu menahu. Ron hanya tahu sedikit kehidupan di pulau kelahirannya ini, Pulau Malalea. Pulau yang menjadi saksi tumbuh kembangnya sejak berada di dalam kandungan sampai sekarang ini.
        Ron termenung semakin dalam. Apakah di kehidupan yang maha luas dan maha mencengangkan ini, dia akan menemukan jawaban atas pertanyaan yang berkelebat sedari tadi di kepalanya? Hawa nafsu? Kekuasaan? Sebegitu kuatkah pengaruh mereka terhadap kelangsungan hidup makhluk hidup yang pada akhirnya harus mengorbankan hubungan persaudaraan yang sudah terbina dengan baik berabad-abad lamanya? 
              Hans sudah mendengkur di atas dipan. Ron masih saja gelisah. Dia mulai terusik dengan pertanyaan yang tadi meluncur dari mulut Hans. Bisakah? Ya, bisakah menyingkap tabir masa lalu yang menyebabkan para Suku Manusia Mini harus mengisolasi diri di dalam pulau yang jauh dari peradaban ini? Apakah alam semesta dengan usianya yang sudah jutaan, milliaran, bahkan trilyunan tahun ini punya petunjuk tentang masa lalu? Tentang masa kelam yang menyebabkan mereka terasing dan terbuang. Lalu jika ada, bisakah kembali ke masa lalu? Bisakah mengubah apa yang sudah terjadi dan menggantinya dengan hal lain yang lebih baik untuk suku ini? 

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.