Sabtu, 05 November 2016

MALALEA: Tentang Masa Lalu (1)


“Nenek! Kami ingin mendengar cerita selengkapnya...,” seorang anak lelaki berusia sekitar 15 tahun memohon kepada seorang wanita tua yang sedang berada di tepi ranjangnya.
            “Nenek sudah mengantuk sekarang. Sudah hampir tengah malam. Hah, anak-anak muda jaman sekarang memang kuat sekali begadang,” wanita tua itu bangkit berdiri dan berjalan ke kamar sebelah, “Sudah, sekarang kalian tidur dulu. Besok nenek lanjutkan ceritanya.”
            “Janji ya, Nek!” sekarang anak muda lainnya yang sedang diselimuti menuntut janji.
            “Tentu saja. Nenek akan menceritakan semuanya untuk dua cucu kesayangan nenek ini,” usai berkata demikian, dia mematikan lampu kemudian  menutup pintu kamar dari luar.
            Di dalam kamar, dua anak muda berambut coklat ikal masih belum bisa memejamkan mata. Satu orang di ranjang sisi utara berbaring menatap langit-langit kamar yang terlihat gelap. Seorang lagi berada di ranjang sisi selatan. Dia berbaring ke kiri, menatap saudaranya yang berada di sisi lainnya, “Apakah menurutmu nenek juga tahu tentang ruangan rahasia itu?”
            “Entahlah, mungkin saja tahu,” jawab saudaranya yang sudah mulai menguap lebar. “Hoahm, ah sudahlah, kita tidur dulu saja.”
            Hanya tinggal suara jangkrik berderik-derik di luar. Sesekali suara lolongan serigala hutan terdengar bersamaan dengan gemuruh ombak memecah bukit karang pada suatu malam di bulan Juni. Seluruh penghuni rumah sudah terlelap di alam mimpinya masing-masing. Di sebuah rumah panggung kayu di tepi Pantai Barat di sebuah pulau kecil bernama Pulau Malalea, empat jiwa penghuninya menghabiskan hari demi hari, waktu demi waktu.
            Dua anak laki-laki, Hans dan Ron, laksana dua tubuh dalam  satu jiwa. Dua saudara yang tak pernah berbantahan satu sama lain. Dua saudara yang tak bisa melakukan semuanya sendirian. Dua saudara yang selalu sama dalam segala hal. Pun dengan raut wajah dan kelakuan masing-masing individu. Ya, mereka sepasang manusia kembar lelaki identik. Sepasang anak kembar pemberani dan serba ingin tahu.
            Jiwa lain penghuni rumah panggung kayu sederhana dengan kebun sayur mayur di sekelilingnya sekaligus menjadi pemiliknya adalah Waodah, seorang wanita di usia lebih dari setengah abad. Tepatnya, seperempat abad  menuju usia seabad. Di jumlah bilangan usianya yang sudah sebanyak itu, wanita berperawakan tinggi kurus itu masih terlihat energik dan bersemangat.
            Arnora, adalah penghuni keempat  rumah mungil di tepian pantai landai berpasir putih yang dibentengi oleh jajaran pohon nyiur yang menjulang tinggi. Hans dan Ron memanggil Arnora dengan sebutan bibi. Bibi Arnora, anak pertama dari nenek, kakak tertua dari ayah Si Kembar. Bibi Arnora adalah koki handal yang selalu bisa membuat nafsu makan Hans dan Ron tak pernah hilang.
            Mereka berempat adalah sedikit dari keseluruhan manusia penghuni Pulau Malalea. Tepatnya, manusia mini penghuni Pulau Malalea. Ya, Suku Manusia Mini.    
***
 “Dulu sekali. Entah kapan waktu yang tepat untuk menjelaskannya. Yang pasti, ini adalah waktu jauh sebelum kita terlahir. Para manusia mini hidup terpisah-pisah. Kita bercampur baur dengan yang lain. Kita menyatu dengan suku-suku lainnya di muka bumi ini,” pagi ini nenek melanjutkan kisah yang terhenti semalam di tengah-tengah waktu sarapan.
Bibi Arnora menciduk sup kepiting untuk semua orang di meja makan. Hans dan Ron bersungguh-sungguh mendengarkan cerita nenek. Sangat tidak biasanya mereka agak mengabaikan sup kepiting buatan Bibi Arnora. Kali ini hanya sesekali saja mereka menyuapkan sup kepiting itu ke mulut. Selebihnya, yang mereka perhatikan adalah cerita nenek. Padahal biasanya, sup itu ludes dalam hitungan tak sampai lima puluh detik!
“Lalu bagaimana ceritanya kita sekarang bisa bersatu di pulau ini?” Hans tak sabar mendengar kelanjutan cerita dari nenek.
“Aih, kau ini tak sabaran sekali, Hans. Habiskan dulu supmu. Mumpung masih hangat,” Bibi Arnora mendelik.
Meskipun sangat baik, Bibi Arnora akan berubah menjadi sangat galak ketika ada orang melakukan tindakan pengacuhan terhadap makanan yang sudah susah-susah dibuatnya. Tatapan Bibi Arnora seakan-akan hendak menguliti dan memasukkan mereka ke dalam panci panas yang diletakkan di atas api kompor jika mereka tak segera menghabiskan makanan di piring mereka masing-masing.
“Baiklah, Bibi,” Hans menurut. Begitupun Ron. Dihabiskan sup kepiting di hadapan mereka dalam sekejap mata. Begitu isi piring mereka habis, Hans dan Ron bergegas mencuci piring kemudian duduk manis di ruang tengah demi mendengar cerita dari nenek.
Nenek duduk di atas kursi rotan goyang buatan mendiang kakek. Di depannya, dua cucu kembarnya duduk beralaskan karpet wol dari bulu domba, benar-benar tidak sabar mendengar rangkaian kisah keluar dari mulut nenek.
“Ada suatu masa ketika kita, kaum manusia mini, hidup berbaur dengan klan manusia biasa. Manusia yang memiliki bentuk fisik sama dengan kita, hanya saja ukuran tubuhnya lima kali lipat lebih besar dari tubuh kita. Jumlah  klan manusia mini pada waktu itu hanya sekitar seperseratus ribu dari manusia biasa. Sedikit memang. Tapi itu tidak masalah. Bukan masalah,” wajah nenek berubah suram.
Suara tak tuk tak tuk panette dari alat tenun yang sedari tadi dimainkan oleh Bibi Arnora di ujung ruangan tiba-tiba juga berhenti. Dia menghela nafas panjang saat mendengar nenek meluncurkan kata-kata terakhir. Bukan masalah. Ada sesuatu hal yang meninggalkan luka mendalam di sana. Luka yang tak tersembuhkan.
“Kenapa, Nek?” Hans benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, “Kenapa pada akhirnya kita hidup berpisah dengan mereka?”
“Bukankah jika tidak masalah, kita seharusnya bisa hidup berdampingan dengan mereka sampai sekarang?” Ron melanjutkan pertanyaan Hans.
“Seharusnya, Nak. Namun di dunia yang tak punya kepastian kecuali ketidakpastian itu sendiri, kata-kata seharusnya tentu saja akan menjadi tidak berguna, tidak ada harganya,” kata-kata nenek seperti omongan yang keluar dari mulut para filsuf.  Hans dan Ron harus mempekerjakan saraf-saraf di otak mereka lebih keras lagi untuk mencerna apa yang sedang dibicarakan oleh nenek.
“Baiklah. Apakah pertanyaaan yang seharusnya kami ajukan adalah: kalau begitu kita bisa hidup bersama mereka, kan? Kenapa tidak?” Ron menggaruk-garuk kepalanya, nyengir, ”Ah sudahlah, aku sendiri juga bingung apa yang sebenarnya aku tanyakan.”
“Tentu saja sebenarnya kita bisa hidup berdampingan dengan mereka. Toh berabad-abad  lamanya sebenarnya kita juga sudah hidup berdampingan dengan mereka. Dan semuanya baik-baik saja,” nenek melanjutkan,   “Masalah itu muncul saat keegoisan segelintir manusia – baik manusia mini maupun manusia biasa – tak bisa diredam lagi. Salah satu sifat dasar manusia memang memiliki hawa nafsu. Lima puluh tahun lalu hawa nafsu itu mengarah ke sesuatu yang lebih buruk. Kekuasaan.”

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.