Rabu, 09 November 2016

MALALEA: Cerita Tentang Ayah dan Kakek (1)


Pagi sedingin es masih menyisakan kabut berjarak pandang hanya lima meter saja. Begitu dingin sampai-sampai tak ada satupun makhluk hidup berdarah panas yang terlihat berada di luar rumah masing-masing. Semua bersembunyi, tak menampakkan diri pada pagi yang sepertinya juga enggan muncul.  Orang-orang menyebutnya musim bediding. Musim di mana pagi terlalu dingin, dan siang terlalu panas di negeri tropis ini.

Hans terbangun, mengerjapkan matanya sekali dua kali. Dia memaksa punggungnya agar tidak menyentuh kasur lagi. Dia paksa punggungnya tegak berdiri walaupun pantat dan kakinya tak mau diajak beranjak dari hangatnya pelukan kasur. Dia hanya menengokkan kepalanya pada Ron yang masih tertidur pulas seperti seorang bayi besar yang kelelahan menangis karena semalam tak mendapatkan susu dari ibunya.

“Ron, banguun!!!”

Usai berkata seperti itu, punggung Hans menyerah, tak mau dipaksa-paksa menjauh dari kenyamanan yang ditawarkan benda empuk yang sekarang memanjakan tulang belakangnya. Hans kembali berbaring dan menarik selimut. Malas kemana-mana. 

Di luar, terdengar pintu berderak di kamar samping. Itu pasti nenek. Hans sudah sangat hafal rutinitas pagi di rumahnya. Nenek selalu jadi orang pertama yang bangun di rumah. Tentu saja, bangun dalam arti sebenarnya. Membuka mata pertama, juga menjadi orang pertama yang memulai aktivitas. Setelah ini, pasti akan ada suara ketukan.

Tok tok tok!

“Arnora, bangunlah. Matahari sudah hampir muncul,” Itu nenek yang membangunkan Bibi Arnora. Setelah nenek berhasil membangunkan dan membuat Bibi Arnora keluar kamar, itu artinya giliran kamar ini yang diketuk.

Tok tok tok!

Hans masih tak sanggup melempar selimutnya. Ron masih belum bisa membuka matanya.

Tok tok tok!

Ron sudah berhasil membuat kelopak mata atas dan bawah miliknya berpisah. Dia menguap lebar. Tubuhnya yang tadi miring ke kanan diubah posisinya menjadi miring ke kiri.

Tok tok tok!

Ketukan ke tiga. Status sudah meningkat menjadi siaga. Hans dan Ron  tak peduli. Aih, ini kan hari Minggu, harinya orang liburan dan bangun siang, pikir Hans dan Ron.

Tok tok tok!

Status siaga satu. Kali ini nenek mulai bersuara, “Ayolah Nak, bangun. Bangun pagi kalau tidak mau kehilangan banyak hal. Kalah kalian nanti dengan matahari.”

Duo kembar itu tetap bebal. Tak bergerak sedikitpun dari kasur. Tentu saja, ini sudah bahaya. Nenek pasti masuk kamar lalu akan melakukan cara apapun demi membangunkan cucu-cucu lelakinya. Kadang nenek menarik selimut mereka, memercikkan air es ke muka mereka, sengaja membuat bising di kamar mereka, atau pernah juga menyiram dua cucu kesayangannya dengan seember air! Akibatnya seluruh kasur, bantal, dan guling ikut-ikutan basah kuyup dan membuat Hans dan Ron tak tidur di atas kasur selama seminggu. Nenek memang sangat sewot kalau masalah bangun pagi. Bangun pagi sangat bermanfaat bagi jasmani sekaligus rohani, kata nenek setiap Ron dan Hans bertanya tentang alasan mengapa harus bangun pagi.  

Namun, tidak untuk kali ini. Nenek memang masuk ke kamar. Tapi tidak biasanya dia mengusap-usap kepala Ron dan Hans dengan lembut. Kata-kata yang tak biasa pun meluncur tertahan dari mulutnya, “Kalau saja kakek kalian masih hidup, betapa sedihnya ketika melihat dua cucu gantengnya susah sekali bangun pagi.”

Dari nada bicaranya, jelas sudah, nenek merindukan kakek.
***

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.