Sabtu, 19 November 2016

MALALEA: CERITA TENTANG AYAH DAN KAKEK (2)


Kakek dulunya adalah seorang perwira perang. Begitulah setidaknya kata orang-orang. Meskipun begitu, kakek tidak pernah mengangkat senjata. Bukan perang seperti itu yang dijalani oleh kakek. Dia adalah perwira perang angkatan pertama di suku manusia mini. Perang melawan kesewenang-wenangan para pejabat kala itu. Perang melawan kekuasaan yang tak bisa lagi dilawan, namun harus ditinggalkan.
            Perebutan kekuasaan yang harus ditinggalkan. Tak ada senjata yang bisa melawannya. Sungguh tak bisa. Satu-satunya cara agar tak terpengaruh dan terkoyak-koyak atas ketidakberdayaan kekuasaan kala itu hanyalah meninggalkannya. Meninggalkan kemudian mengasingkan diri dari peradaban yang semakin menggila di luar sana.
            “Tak mudah melakukan perang seperti itu. Kita butuh waktu hampir sepuluh tahun sehingga akhirnya kita, suku manusia mini, bisa berada di sini,” nenek kembali berkisah di pagi yang belum juga beranjak pergi dari kabut yang dingin dan embun yang basah. Nenek berdiri terpaku memegang sendok sayur di depan sepanci bubur yang hampir meluap keluar dari bibir panci. Bibi Arnora dengan sigap mengambil alih sendok sayur dari tangan nenek kemudian mengaduk-aduk bubur yang meletup-letup di dalam panci.
            Nafas yang terhela dari hidung Bibi Arnora menandakan bahwa dia sedang kesal dengan apa yang telah dilakukan nenek terhadap sepanci bubur di hadapannya. Namun dia tak ingin marah-marah saat ini. Bibi Arnora yang sangat galak sekalipun tahu waktu kapan dia boleh meluapkan amarah dan kekesalannya. Namun tidak untuk saat ini. Ia tak mungkin mengekspresikan rasa kesalnya terhadap nenek yang sangat terlihat merindukan kakek, ayah kandungnya sendiri. Dia pun sangat merindukannya. Merindukan apapun, segala yang ada pada ayahnya.
            Nenek yang tersadar dari lamunannya, meminta maaf, “Eh, aku tidak tahu buburnya...” Kata-kata nenek terhenti. Tubuh dua anak kecil yang bersiap tumbuh remaja tiba-tiba menyerbu dan memeluknya, sampai-sampai wanita tua itu kehilangan kata-kata.
            “Sudahlah, Nek. Jangan sedih seperti itu. Ada kami di sini siap berdiri untuk nenek,” ucapan kedua cucu yang selama ini besar dalam naungannya itu mau tak mau memaksa air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya jatuh tertumpah. Nenek menangis.
            Nenek balas mendekap kedua cucunya lebih erat. Sangat erat. “Berjanjilah kalian akan melakukan itu apapun yang terjadi. Berdiri untuk nenek..,” sebuah janji tak tertulis namun disaksikan oleh mereka yang tak terlihat telah terucap di sebuah dapur kecil di sebuah rumah panggung sederhana di tepian pantai berhiaskan buih ombak yang tak habis-habis. Bibi Arnora diam-diam juga menitikkan air mata di tengah mengaduk bubur yang hampir matang.
            Bagi Arnora, ayahnya bukan sekedar orang tua yang membesarkan dan membiayai seluruh keperluan hidupnya. Lebih dari itu, ayahnya adalah seorang bijak yang memberinya ilmu kehidupan. Ayah dan ibunya, adalah madrasah sesungguhnya untuk dia dan adiknya.
            “Jangan pernah berhenti belajar. Belajar bukan hanya di sekolah. Belajarlah apa saja, kapan saja, di mana saja. Karena di setiap satuan terkecil waktu dalam hidup akan selalu ada ujian. Hadapilah ujian itu dengan belajar setiap waktu,” ah, kata-kata itu selalu meluncur dari mulut ayahnya setiap kali Arnora terlihat malas.
Pun setiap kali dia menyerah. Ayahnya selalu membuatnya tak bisa menyerah. “Kenapa kau ini? Karena sulit, kau bilang tak sanggup? Arnora, tak ada suatu masalah yang diberikan kepada kita tanpa kita tak bisa mengatasinya. Kau hanya boleh bilang tak sanggup lagi menghadapi masalah kalau ruhmu sudah berpisah dengan ragamu!”  

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.