Selasa, 15 November 2016

Maa Fii Qalbi Ghairullah (Tafsir Q.S An-Nuur 58-60)

Al-Qur’an Surah An-Nuur ayat 58 – 60 menjelaskan tentang hamparan kesempatan untuk beramal. Ayat ini berhubungan dengan aurat, seperti yang dijelaskan pada tulisan sebelumnya berjudul  Menggenggam Cahaya. Tafsir Q.S An-Nuur 24 :58 tentang menguji baiknya pikiran, benarnya perasaan, dan mulianya tindakan lewat ujian bernama aurat. Aurat adalah ujian yang benar-benar efektif untuk menguji keyakinan kita. Aurat adalah sebentuk ujian yang menunjukkan kasih sayang Allah untuk kita.

Hamparan kesempatan untuk beramal? Syarat apa yang diperlukan agar apapun yang kita lakukan akan menjadi hamparan amal? Ada tiga syarat: 1) Berpikir baik tentang apapun; 2) Berperasaan benar dalam situasi apapun; 3) Bertindak mulia dalam keadaan apapun. Kita harus berperasaan secara tepat. Tidak benar jika kita mendahulukan perasaan tanpa mampir ke pikiran kita dulu. Saat ada orang berbuat buruk kepada kita misalnya. Jika perasaan kita buruk terhadapnya, tanpa kita menyaringnya lewat pikiran, amal buruk lah yang akan keluar dari diri kita. Jika ada orang berbuat buruk kepada kita, justru seharusnya kita kasihan kepadanya. Kenapa? Karena dia merelakan dirinya untuk berbuat dosa, sementara dia memberikan kita kesempatan untuk meraih pahala. Lewat apa? Lewat memaafkan.

Lalu bagaimana cara kita memperoleh ketiga syarat di atas? Caranya lewat ikrar: Maa fii qalbi ghairullah. Di kalbuku tidak ada yang lain selain Allah. Orang yang di hatinya hanya ada Allah, tiga syarat tersebut pasti akan bisa dicapai. Ikrar tersebut akan melahirkan ketenangan.

Selanjutnya, bagaimana agar di hati kita tidak ada yang lain selain Allah? Jawaban satu-satunya adalah: KEIKHLASAN. Ikhlas menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang segala-galanya dalam hidup kita, bukan selain Allah. Contoh, meskipun anda seorang istri yang memang harus patuh pada suami, jangan pernah menjadikan suami sebagai segala-galanya. Jangan melakukan apapun demi suami. Begitu pula sebaliknya suami terhadap istri. Jadikanlah Allah sebagai segala-galanya melebihi pasangan. Sehingga, ketika pasangan nanti meninggalkan Anda karena wafat atau punya cabang di tempat lain misalnya, itu tidak akan menjadi masalah buat Anda. Sama sekali bukan masalah.

Kemudian cara apa yang harus kita tempuh agar kita bisa ikhlas menjadikan Allah segala-galanya? Kuncinya adalah MAU MELANGKAH. Ikhlas itu ada dua macam: ikhlas dalam amal dan ikhlas dalam peristiwa. Kehidupan kita tidak pernah terlepas dari peristiwa dan amal. Dalam peristiwa sakit misalnya, ada amalan berupa sabar. Dan kita beramal karena ada peristiwa yang mendahuluinya.

Wujud ikhlas dalam peristiwa adalah menyadari bahwa setiap peristiwa terjadi atas izin Allah, meyakini bahwa apapun yang Allah izinkan untuk terjadi pasti ada kebaikan di belakangnya, serta mau menerimanya dengan hati yang lapang, dan terakhir, menjadikan apapun yang terjadi sebagai peristiwa menjadi amal. Selalu yakini: Allah pasti punya rencana yang baik untuk saya. Gagal, musibah, nikmat, pasti ada amalan di belakangnya yang bisa kita lakukan. Sehingga orang yang ikhlas akan lebih fokus kepada amal yang harus dilakukan atas peristiwa yang sudah terjadi.

Apapun takdir peristiwa kita, adalah jawaban atas keinginan kita untuk menjadi orang baik. Dan Allah pasti tahu, kita memang menginginkan untuk menjadi orang baik dengan cara mengirimkan untuk kita suatu peristiwa. Peristiwa yang mungkin kita anggap sebagai musibah, terasa berat, dan menyakitkan. Kita jadi bisa untuk lebih bersabar. Sabar itu menjadi lebih bernilai kalau ada sesuatu yang mendahului yang disebut musibah. Sabar tidak akan terbentuk tanpa ada musibah.


Wujud ikhlas dalam amal adalah menyadari bahwa kita bisa beramal karena rahmat dari Allah, tiada yang diharapkan dari amal baik selain hanya mengharap rahmat dari Allah belaka, serta berusaha melakukan amalan yang paling Allah suka dengan cara yang paling Dia suka. Apapun yang kita lakukan,  berawal dari rahmat Allah, dan berakhir dengan rahmat Allah juga. Sehingga, setelah menyadari itu, kita tidak akan pernah putus melakukan amal.

Untuk melangkah, kita harus PUNYA TENAGA. Apa tenaganya? Keyakinan. Keyakinan akan menjadi kekuatan bagi ruh.

Hidup ini adalah kumpulan peristiwa-peristiwa, dan ada satu peristiwa yang akan mengakhiri hidup kita: SAKARATUL MAUT. Dan apa amalan terbaik di sisi Allah saat menghadapi peristiwa Sakaratul Maut yang merupakan peristiwa berat yang harus kita hadapi dan pasti kita lalui? Yaitu bisa mengucapkan LAA ILLA HA ILALLAH. Tidak ada Tuhan Selain Allah. Hanya Allah yang ada di hatiku.

source: kampusiana.net

Disarikan dari: Kajian Tafsir Masjid Nurul Ashri
Oleh Ust. Syatori Aburrauf
Senin, 14 November 2016

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.