Senin, 28 November 2016

Ini Semua Tentang Ridho Tuhan



Tulisan ini saya persembahkan untuk kalian yang sedang menghadapi fase-fase menyebalkan dari pertanyaan dan pernyataan orang lain. Dan bisa jadi, suatu saat saya jadi salah satu orang yang menyebalkan itu. Maka tulisan ini juga saya persembahkan untuk diri saya sendiri. Setidaknya kalau nanti berada di posisi orang yang menyebalkan itu, nyebelinnya nggak kebangetan.

“Kamu sih, susah move on...”
“Kamu sih, kebanyakan belajar...”
“Kamu nyari yang kayak apa sih? Tinggal pilih doang apa susahnya?”
“Kamu sih, sok sibuk...”
“Mbak inget umur lho...”
...dan berbagai pertanyaan dan pernyataan lain yang sejenis.

Sedang berada di fase pertanyaan mana kalian? Saya sedang berada di dalam lingkaran pertanyaan di atas. Sebenarnya itu adalah bentuk pertanyaan dan bentuk judgement yang normal jika orang lain melihat manusia semacam saya.  Terutama, bagi orang-orang yang tidak mengalami fase seperti yang saya alami: semisal mereka yang dikaruniai banyak kemudahan bertemu dengan jodohnya untuk menuju proses pernikahan, atau mereka yang belum atau tidak pernah berada di fase seperti fase yang saya lalui.

Saya bukan ingin membela diri. No. Saya hanya ingin menyatukan mozaik-mozaik kisah yang saya dapatkan dalam masa dua tahun terakhir saya lewat tulisan ini, baik dari diri saya sendiri maupun dari orang-orang di sekitar saya yang sudah ditakdirkan bertemu saya. Tetap yakin kan, kalau semua itu nggak ada yang kebetulan?

Kenapa sih muncul pertanyaan? Karena ada ketidaktahuan.
Kenapa sih muncul penilaian dan penghakiman dari orang lain atas hidup kita? Karena orang yang menilai biasanya memang lebih tahu dan lebih berpengalaman. Atau bisa jadi, standar kompetensi kehidupan yang mereka punyai berbeda dengan standar kompetensi hidup kita, namun mereka menerapkan standar kompetensi mereka harus diterapkan untuk kita sehingga apapun yang kita lakukan dipandang sebagai suatu kesalahan karena tidak sesuai dengan standar kompetensi yang mereka punyai.

Kalau orang jawa bilang, urip iku wang sinawang. Hidup itu saling melihat satu sama lain. Dan yang kelihatan mungkin adalah rumput tetangga yang lebih hijau, atau mungkin yang muncul malah rasa belas kasihan kepada orang lain yang tidak atau belum mampu menjadi seperti kita. Padahal, bisa jadi yang kelihatan hijau itu sebenarnya palsu, dan yang kita kasihani itu sebenarnya lebih pantas untuk mengasihani kita.

Jadi wajar saja kalau komentar itu terus menerus muncul tanpa pernah berhenti. Sangat wajar. Karena alam bawah sadar kita selalu melihat kehidupan orang lain sebagai pembanding. Orang lain pun begitu juga.
Sehingga, fase apapun yang kita lalui, fase apapun yang saya lalui, jangan pernah berharap ada yang namanya fase bebas dari pertanyaan dan penghakiman dari orang lain.

Orang belum lulus ditanyai, “Kapan lulus? Kamu ngapain aja sih lulusnya lama? Si A aja lulusnya cepet.”
Orang belum lulus, belum kerja,  tapi udah nikah ditanyai, “Nggak kasihan sama istrinya diajak hidup susah gitu?”
Kuliah tinggi-tinggi kemudian jadi ibu rumah tangga diprotes, “Ngapain kuliahnya ketinggian kalau cuma di rumah aja? Apa nggak sayang?”
Orang masih jomblo dikomentarin, “Kasian bener, cakep-cakep jomblo. Pasti standarnya ketinggian tuh.”
Orang nggak nikah-nikah ditanyai, “Nunggu apa sih? Nikah lama-lama ntar nggak jadi nikah lho.”
Giliran udah nikah belum dapet momongan disindir sama yang udah punya anak, “Eh anakku udah dua lho. Kapan anakku punya temen dari kamu?”
Dan sebagainya, dan sejenisnya.

Ya udah sih. Serah elu aja mah...

Kunci menghadapi itu semua hanya sabar. Sabar. Sholat. Sabar. Sholat. Udah gitu aja terus. Kadang kita jadi orang yang harus nyabarin orang lain. Kadang juga, kita berbalik jadi orang yang harus disabarin sama orang lain.

I’m not perfect. You’re not perfect. We will never be perfect. Kita sama sekali tak akan pernah mencapai tingkat kesempurnaan dan keidealan dalam hidup. Yang kita bisa, yang saya bisa adalah, meningkatkan level untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih baik, dan menjadi lebih baik lagi.


Dua tahun terakhir saya cukup banyak mendapatkan pelajaran hidup. Beberapa dari hidup saya sendiri. Beberapa dari orang lain di sekeliling saya. Dan kesimpulan dari pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan adalah: pertama, hidup itu benar-benar wahana permainan, namun kita diciptakan bukan untuk bermain-main; kedua, ridho Tuhan, ridho Allah itu berada di atas segala-galanya;   

Pelajaran pertama: dunia itu hanya permainan. Terlalu sering saya mendengarnya. Tapi, pemahaman mendalam atas kalimat ini baru datang kepada saya di masa dua tahun terakhir.

Manusia, hidup dua kali. Kehidupan pertama menentukan kehidupan kedua. Kehidupan kedua, baru ada setelah kehidupan pertama selesai. Kehidupan pertama adalah bentuk pengalihan perhatian kehidupan kedua. Kehidupan pertama selalu berpacu dengan waktu. Kehidupan kedua, adalah selamanya tanpa tenggat waktu. Kehidupan pertama adalah ketidakbaikan yang dibalut dengan kesenangan, dan kebaikan yang dibalut dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Yes, tipu daya. Terlalu banyak tipu daya di kehidupan pertama. Permainan, tipu daya, dan bangga-banggaan.

Di tempat yang isinya cuma permainan, sementara kita tidak diciptakan untuk bermain-main , sedangkan kita punya keinginan besar untuk bermain-main dan sangat amat sayang untuk melewati wahana permainan ini , sekuat apa kita bisa bertahan? Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Pelajaran kedua: ridhonya Allah itu di atas segala-galanya. Okay saya bisa memilih, kamu bisa memilih. Tapi jika pilihan itu pada akhirnya membuat kita jauh dari kebaikan, terutama jauh dari Tuhan, apa yang akan terjadi? Ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin Allah bakal bilang oke dan memberikan pilihan itu, namun bakal banyak ujian-ujian lain di belakangnya sehingga Allah bakal bener-bener ngasih oke kalau ujiannya berhasil. Kalau enggak berhasil, siap-siapin hati aja sih. Kedua, Allah bakal langsung kasih big NO! Namun di balik kata tidak itu, Allah mengganti ketidakbaikan dengan banyak kebaikan-kebaikan di belakangnya tanpa kita melalui ujian-ujian seperti pada kemungkinan pertama.

At least, Allah yang menentukan, bukan kita. Mau jadi apa kita, mau melakukan apa kita hari ini, ingin jadi seperti apa kita nanti, kita boleh milih. Kita boleh berusaha untuk bisa sampai ke sana. Tapi seberusaha apapun, kalau Allah udah bilang enggak ya enggak. Maka apa sih yang kita cari sebenarnya kalau bukan ridhonya Allah? Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil’alamin kan? Kita bangun tidur lalu tidur lagi, kita bertemu seseorang dan orang lainnya, kita sekolah, kita menikah, kita bekerja, kita punya suami, kita punya istri, kita punya uang, kita mendapatkan makanan, kita punya anak, kita punya umur panjang, siapa sih yang ngasih?

Apa yang terjadi nanti, siapa yang mampu mengontrolnya? Lalu, berbagai peristiwa dan alasan-alasan yang dihadapkan pada kita memang sudah seharusnya ada di situ. Seberapa keraspun kita protes, seberapa keraspun kita menolak, yang terjadi tetap harus terjadi. Yang kita bisa hanya menghadapi kemudian menjalaninya.


Sekali lagi, ini semua tentang ridho Tuhan. Ridhonya Allah. Apa yang kita punya, apa yang kita dapat, apa yang terjadi dalam hidup kita, bukan manusia lain yang menyebabkan dan bukan manusia lain yang menentukan. Walaupun, apapun yang kita lakukan memang selalu mendatangkan komentar dari orang lain. Saya pun sering juga menjadi orang yang punya lambe turah dan ngeselin itu. Berkomentar terhadap hidup orang lain yang saya sendiri tidak pernah menjalaninya. Dan doa saya terhadap diri saya sendiri, semoga saya tidak keseringan jadi si lambe turah yang kerjaannya komentar melulu tapi isi di dalamnya kosong melompong.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.