Sabtu, 12 November 2016

Elegi Hari Ini

Terkadang sisi hatimu yang jahat memaksamu mendoakan kehancuran yang serupa, bahkan lebih parah, untuk orang yang telah berhasil menghancurkanmu. Namun sisi hatimu yang baik tak akan pernah melakukan itu. Ia percaya Si Pemilik Kekuatan Besar lah yang akan berbuat adil tanpa kamu harus melihat orang lain sama sakitnya sepertimu, atau lebih sakit dari dirimu. 

Lalu semua itu hanya soal waktu. Kesabaran yang harus dijalani, mungkin sebentar lagi, atau mungkin baru akan berakhir satu detik sebelum kematianmu terjadi. Dan kematianmu sendiri, kapan dia datang? Empat puluh kali sehari, seorang malaikat maut selalu memandangimu. Saat kau tertawa terbahak-bahak, dia mengasihanimu. Saat kau menangis tersedu-sedu tanpa alasan yang jelas, dia mungkin menertawakanmu. Hidup itu senda gurau bukan? Mengapa harus menangisi senda gurau?

Tertatih. Tertatih sekali caramu menuju tempatmu yang seharusnya. Sering, aku merasa kasihan kepadamu. Aku selalu mendoakanmu agar jalanmu selalu mudah. Tapi baru saja aku diberitahu, bahwa jalan mudah itu bukan jalanmu. Jalan mudah adalah jalan milik orang-orang cengeng dan pengecut yang suka memaksa dan menyakiti orang lain. Jalanmu adalah jalan yang lurus. Jalan yang tidak selalu ada kemudahan saat kau memutuskan untuk menempuhnya. Jalan yang kau sendiri sebenarnya tidak tahu di mana harus menemukannya. Dan hanya sedikit orang-orang yang diberi petunjuk untuk berjalan di atas jalan lurus itu. Kau kah salah satunya? Atau mungkin, justru kau tengah berada di jalan yang tampak lurus padahal buntu?

Ah iya, lalu hatimu. Hatimu lagi. Kerja keras sekali ya, untuk membuatnya tetap berada di tempatnya? Sedetik lalu dia adalah hati suci yang merapal kitab suci dan doa-doa yang indah. Sedetik kemudian, dia menjadi hati yang mendewakan nafsu dan kesenangan tanpa ada setitikpun kesucian yang terpancar darinya. Siapa yang sebenarnya mampu menjaganya agar dia tak pergi dari tempat yang seharusnya? Ternyata bukan kau. Kau sama sekali tak mampu menjaga hatimu sendiri.
Kau sama sekali tak mampu.

Ingatlah, tugasmu hanya terus berjalan di atas jalan lurus, jalan yang benar.
Jalan yang akan mempertemukanmu dengan yang kau rindukan setengah mati. 
Kerinduan yang sebegini rasanya.
Ternyata rindu itu penuh tangis.

Mencintai sebegitu dalam. Ah belum. Kau belum mencintai sebegitu dalam. Kau masih jelalatan sana sini. Kau masih gampang teralihkan. Mencintai tidak sebercanda itu. Ternyata, kau sama sekali belum mampu mencintai dengan baik, apalagi mencintai sampai begitu dalam.

Jika kau ingin mencintai begitu dalam, kuatkan dulu hatimu. Karena ketika kau memutuskan untuk mencintai sebegitu dalam, serentetan peluru-peluru tajam siap untuk menembus hatimu. Hatimu harus siap remuk lalu pulih lagi, hancur lalu kembali utuh lagi. Begitu seterusnya tanpa pernah berhenti. Sampai memang benar-benar waktunya dia untuk berhenti.

Kapan waktunya berhenti?

Tentu saja, saat kau akhirnya berhasil menemui Kekasihmu yang selama ini kau rindukan sebegitu hebatnya.

Selamat melanjutkan perjalanan. Aku tidak akan berdoa agar perjalananmu menyenangkan. Karena kau tidak butuh perjalanan yang menyenangkan. Kau lebih butuh perjalanan yang benar-benar bisa mempertemukanmu dengan Kekasihmu. Dan aku sangat yakin, itu tidak akan selalu menyenangkan.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.