Kamis, 24 November 2016

Dosa Yang Baik

Jika kamu telah melakukan dosa yang teramat buruk, apakah lantas kamu akan menjadi hina selama-lamanya?

Jika kamu selalu melakukan amalan yang baik setiap waktu apakah kamu akan mulia selama-lamanya?

Belum tentu.

Apapun yang kamu lakukan sekarang, kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi kemudian. Jika kamu sekarang adalah seorang penghafal Al-Qur’an misalnya, bisa jadi Allah akan menghapus semua hafalanmu sedetik sebelum kematianmu karena kau sedang memiliki suatu niat yang buruk pada detik itu. Jika kamu sekarang seorang pezina misalnya, pada suatu detik tertentu Allah mendatangkan rahmat dan hidayahNya kepadamu lalu dia mengampuni semua dosa-dosamu. Bisa jadi seperti itu.

Itu kuasa Allah. Dan kamu tak akan pernah mampu melawannya. Yang kamu bisa adalah terus berusaha. Terus berusaha mendekat kepada-Nya. Jika belum bisa mendekat, minimal tetaplah diam di tempat di atas jalan-Nya. Jangan bergerak ke mana-mana ketika sedikit saja bergerak itu akan menjerumuskanmu ke jalan yang tidak seharusnya. Pilihlah yang lebih mendekatkanmu kepada Tuhanmu. Jika diam tetap mendekatkanmu pada Tuhanmu, tetaplah diam. Jika bergerak adalah sesuatu yang lebih bisa mendekatkanmu kepada Tuhanmu, pilihlah untuk bergerak. Pilihlah sesuatu yang lebih mendekatkanmu kepada Tuhanmu. Itu saja.

Kamu pasti tahu kisah tentang iblis kan? Iblis dulunya adalah makhluk Allah yang paling taat. Tak ada yang bisa mengalahkan amalan-amalannya. Tak ada makhluk lain yang bisa mengalahkan kadar ketaatannya. Hingga suatu ketika, dia merasa tinggi hati ketika Allah menciptakan makhluk lain dari lumpur hitam, dari tanah kering seperti tembikar, kemudian Allah memerintahkan dia yang diciptakan dari api dan malaikat yang diciptakan dari cahaya, untuk menyembah makhluk yang berasal dari tanah itu. Iblis tidak mau. Hanya setitik rasa tinggi hati yang ia punya pada waktu itu. Baru sekali itu ia membangkang Tuhannya. Namun itu cukup untuk mendatangkan laknat Allah selama-lamanya untuknya.

Sayangnya, iblis tidak bertaubat. Laknat itu selama-lamanya. Selama-lamanya untuknya. Jaminan neraka untuknya. Sehingga dia tidak mau sendirian berada di sana. Dendamnya kepada nenek moyang manusia membuatnya memohon untuk ditangguhkan masanya, dia akan mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk mengikutinya, menemaninya menjadi penghuni neraka.

Maka berat sekali apa yang dihadapi manusia semasa hidupnya. Musuh yang paling nyata adalah iblis yang sering membisikkan sesuatu di alam bawah sadar manusia. Dia mampu mengalir bersama aliran darah manusia. Dia selalu bisa membuat semua yang berbau neraka menjadi menyenangkan dan menggairahkan untuk dilakukan. Ketika Allah sudah memberi petunjuk kepada manusia, maka di baliknya ada iblis yang selalu berusaha keras untuk membelokkan dan menyesatkan. Dia selalu siap sedia, siap sedia menyambut dan merangkul manusia untuk menemaninya nanti. Misinya adalah: mengajak manusia sebanyak-banyaknya untuk menemaninya. Sehingga ketika petunjuk datang, iblis berusaha menyesatkan kembali. Begitu lagi, begitu terus, selamanya begitu sampai sakaratul maut datang.

Kadang, tipu daya iblis itu halus. Halus sekali, sampai manusia tak bisa merasakan bahwa itu sebenarnya adalah tipu daya.

Maka Allah mengutus malaikat penjaga kepada setiap manusia yang berjaga-jaga di depan dan di belakang manusia setiap hari, setiap waktu. Malaikat yang selalu bergiliran datang dan pergi di setiap waktu subuh dan waktu ashar. Mereka tidak pernah meninggalkan manusia kecuali pada dua waktu, yaitu ketika manusia masuk ke kamar mandi melaksanakan hajatnya dan ketika manusia bersetubuh. Dia melindungi manusia ketika Allah memerintahkan untuk melindunginya. Termasuk melindungi manusia dari kejahatan-kejahatan dari yang nampak maupun tersembunyi, dari setan berupa jin dan manusia.

Namun, itu semua tergantung dari manusianya. Tergantung dari segumpal daging di balik dada manusia. Kuatkah dia? Atau lemahkah dia? Dua kekuatan baik dan jahat dalam diri manusia selalu berperang setiap waktu. Manusia memiliki kadar dosa dan kadar keimanannya masing-masing, yang akan menggerakkan hati manusia untuk berbuat baik ataupun buruk. Lalu kadar manakah yang lebih tinggi yang ada pada dirimu saat ini? Hati tidak selamanya baik. Kadang dia baik, kadang dia buruk. Detik ini, apakah bisikan kejahatan atau kebaikan yang sedang menguasaimu?

Jika bisikan kebaikan yang mengusaimu, bersyukurlah dan berusahalah agar kamu tetap berada di situ. Berusahalah untuk tidak berbalik ke belakang. Biar susah, yang penting berusahalah untuk jadi baik.

Namun jika bisikan kejahatan yang menguasaimu, aku mendoakan agar engkau segera kembali kepada jalanmu yang seharusnya. Jika kadar kejahatan yang lebih menguasaimu, bisa jadi kau sekarang adalah seorang penipu, pembohong, tukang suap, tukang maksiat, pencuri, pezina, pembunuh, pemarah, orang congkak, orang kikir, pesakitan, pemaksa, pembangkang, dan sejenisnya. Kamu lebih dekat kepada dosa, dan mungkin kamu sudah berbuat dosa tanpa kamu sendiri menyadarinya.

Dosa. Hah, dosa itu pasti sesuatu yang jelek kan? Iya, tentu saja itu adalah sesuatu yang buruk. Tapi, bisakah mengubah yang buruk itu menjadi baik?

Bisa, tentu saja bisa.

Dosa kadang bermanfaat, kalau dosa itu pada akhirnya menjadikanmu sebagai orang taat. Apabila engkau pernah melakukan dosa besar, jika suatu ketika petunjuk datang kepadamu, sehingga sampai menyentuh kepada kedalaman hatimu yang paling dalam, sampai membuatmu tampak terluka sampai menangis tak berhenti-berhenti akibat dosamu itu, bersyukurlah. Bersyukurlah karena pernah merasakan akibat keburukan dari dosa yang pernah engkau perbuat. Karena begitu kau merasakan akibatnya, engkau pasti akan berpikir ulang seribu kali setiap ada keinginan untuk berbuat dosa yang sama atau mungkin dosa yang lebih buruk dari itu.

Engkau mungkin pernah mendengar cerita ini. Cerita yang terjadi di zaman Rasullullah SAW. Cerita tentang seorang wanita yang telah berbuat zina sampai kemudian hamil. Dia menyesal dan meminta Rasulullah pada waktu itu untuk merajamnya. Namun Rasulullah menangguhkannya, sampai dia melahirkan anaknya, sampai anaknya cukup umur untuk bisa ditinggalkannya. Apakah kamu bisa membayangkan bagaimana tersiksanya wanita itu? Ditinggalkan oleh lelaki yang berbuat zina bersamanya, malu karena hamil di luar nikah, melahirkan dan merawat anaknya sendirian, belum lagi bisikan-bisikan para tetangga yang pasti selalu menghujam-hujam jantungnya.

Suatu ketika, Rasulullah mengabulkan keinginan wanita itu. Beliau merajam wanita itu sampai meninggal. Si perempuan pezina itu bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, yang jika dibagikan taubatnya untuk para penduduk Madinah, taubatnya itu cukup untuk membuat 70 orang lainnya masuk surga. Efek dosa, panas dosanya selalu teringat dalam hati. Maksiatnya membakar dirinya. Membuatnya takut dan semakin dekat kepada Allah.

Yang menggerakkan kita pada Allah adalah rasa khauf, roja’, atau hubb. Rasa cinta, harapan, maupun takut pada Allah. Dosa besar, bagi orang-orang yang pada akhirnya diberi petunjuk, akan menyebabkan timbulnya rasa takut yang luar biasa pada Sang Pencipta yang pada akhirnya akan menimbulkan penyesalan tiada habisnya.

Pintu taubat, tak akan ditutup sampai matahari terbit dari barat. Tak akan ditutup sampai sakaratul maut menjelang. Sama seperti masa penangguhan iblis, yang tak akan pernah berhenti berusaha mengajak manusia menjadi teman penghuni neraka bersamanya sampai sakaratul maut itu datang. Mereka berpacu setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, setiap satuan waktu terkecil. 

Jika iblis saja berusaha sekeras itu, tidakkah kamu ingin berusaha lebih keras lagi untuk melawannya?

source: normantis.com

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.