Selasa, 29 November 2016

Belajar dari Nilam Sari, Owner Kebab Turki Baba Rafi



Hari Sabtu tanggal 26 November 2016, saya diberi kesempatan menghadiri salah satu rangkaian acara Gelar Karya Wirausaha Muda 2016 yang diadakan di Hotel Sahid Yogyakarta. Acara yang diadakan oleh Kemenpora bekerjasama dengan salah satu Forum Wirausaha Muda ini menghadirkan beberapa narasumber yang pastinya inspiratif, diantaranya Nilam Sari (Owner Kebab Turki Baba Rafi), Dwikorita Karnawati (Rektor UGM), Jody Waroeng (Owner Waroeng Steak), Angki Yudistia (Sociopreneur Yogyakarta), Dwi Purnomo (The Local Enablers Founder), dan Vania Santoso (Inovation Lab UNICEF Indonesia).

Dibuka oleh Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Bapak Dr. Jonni Mardizal, M.M, dan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, acara ini berlangsung cukup khidmat. Dilanjutkan dengan sebuah pagelaran tari Sang Dewi Sri dari Starlight Production dengan koreografer Bayu Kuntani, membuat acara pagi itu menjadi lebih menarik. Pagelaran bercerita tentang petani di sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi yang aman, tenteram dan damai. Namun suatu ketika datang pengganggu-pengganggu raksasa yang mengusik ketenangan mereka. Sang Dewi Sri yang diceritakan sebagai Dewi Padi, datang membantu para petani mengusir para raksasa jahat itu. Sehingga bisa ditebak, negeri itu kembali aman, damai, sentausa seperti sedia kala.

Sesi pertama yang dimoderatori oleh Coach Angky, menghadirkan Ibu Dwikorita Karnawati (Rektor UGM) dan Nilam Sari (Owner Kebab Turki Baba Rafi) sebagai pembicara utama. Ibu Dwikorita sebagai akademisi memaparkan data-data berupa fakta dan angka yang menunjukkan masih kurangnya wirausaha di Indonesia. Jumlah wirausaha yang masih di bawah 2%, hanya nol koma sekian persen, menurutkan masih cukup memprihatinkan di negeri sebesar ini. Di sesi yang cukup singkat ini, Ibu Dwikorita mengajak para peserta yang hadir untuk menjadi manusia produktif, bukan manusia konsumtif yang kerjaannya kepengen beli ini, kepengen beli itu, mau punya barang itu, mau punya barang itu. Jika budaya konsumtif yang dipelihara, maka di masa pasar bebas yang semakin menggila ini, Indonesia hanya akan jadi bulan-bulanan negeri lain dan bisa dipastikan ekonomi negeri ini mungkin tidak akan membaik dengan cepat.

Nilam Sari, Owner Kebab Turki Baba Rafi. (source: femmeindonesia.co)

Nilam Sari sebagai pembicara kedua di sesi pagi itu menghadirkan kisah yang menarik dan sangat inspiratif. Diawali dari ceritanya yang sudah menikah ketika masih muda (kurang dari 20 tahun) dan sudah punya anak bernama Rafi, Nilam Sari dan suaminya memutar otak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dengan berjualan burger pinggir jalan di depan rumah. Kegiatan ini dimulai 14 tahun lalu dengan modal pertama sebesar 2 juta rupiah. Usaha itu akhirnya terhenti. Nilam yang waktu itu bingung mau ngapain, akhirnya pergi ke Qatar bersama keluarganya memanfaatkan jatah cuti dari mertuanya yang bekerja di sebuah perusahaan oil company di sana. Nilam bilang, “Bukan orang kaya, hanya memanfaatkan jatah cuti mertua yang daripada balik ke Indonesia, maka kami yang ke sana.”

Qatar menjadi tempat di mana Nilam menemukan makanan bernama kebab. Saking penasarannya dengan kebab, dia memperhatikan penjual kebab di sama dengan seksama. Dia belajar dari situ. Sepulang ke Indonesia, Nilam mencoba mengadopsi makanan bernama kebab ini dengan mengubah beberapa komposisi bumbu agar sesuai dengan lidah orang Indonesia. Waktu itu, ditambah dengan daging yang dicampur tepung agar harganya lebih murah. Tester pertamanya adalah tetangganya, yang begitu mencoba makanan itu pertama kalinya berkomentar, “Iki panganan opo to? Kok rasane koyo ngene?” (Ini makanan apa sih, kok rasanya begini? – Intinya dia tidak begitu suka dengan makanan ini).  Nilam kemudian mencoba mengubah komposisi bumbu makanan bernama kebab ini kemudian memberanikan diri membuka gerobak Kebab Turki Baba Rafi di sebuah tempat di dekat kampus. Banyak orang yang waktu itu mengira si Kebab ini adalah martabak, lumpia, dan sejenisnya. Dan tentu saja, itu adalah perjuangan sendiri untuk mengenalkan produknya ke khalayak ramai pada waktu itu.

Dengan usaha yang tentu saja tidak mudah, Nilam Sari akhirnya mampu membawa Kebab Turki Baba Rafi menjadi salah satu franchise sukses di Indonesia, bahkan sekarang sudah memiliki gerai di luar negeri seperti Malaysia, Belanda, India, dan sebagainya. Nilam mengingatkan kepada pebisnis muda agar jangan fokus berbicara tentang bagaimana memproduksi barang, namun lebih memikirkan skala produksi agar dapat memproduksi secara massal, tentang how to manage to skill up your bussiness.

Perjalanan Nilam Sari bukan tanpa halangan. Suatu ketika dia pernah ditawari beasiswa S2 di bidang bisnis saat bisnis Baba Rafi sudah menggeliat. Nilam memanfaatkan kesempatan itu dan melanjutkan pendidikannya. Dari belajar bisnis itu, Nilam tergoda untuk membangun bisnis lainnya, bisnis properti. Namun ternyata, ujiannya tepat berada di situ. Usaha propertinya bangkrut, rumah yang dia sewakan, disewa oleh para pemakai narkoba, dan sempat berurusan dengan polisi. Kebangkrutannya meninggalkan utang sebesar 14 milyar rupiah!

Singkat cerita, hutang itu berhasil ditutupi dengan usaha kerasnya mengembangkan Kebab Turki Baba Rafi sehingga omzetnya mampu menutupi hutang-hutangnya. Kekuatan itu menjadi sangat besar ketika kepepet sehingga Kebab Turki Baba Rafi mampu merajalela seperti sekarang. Mungkin kalau tidak terjerat hutang yang bikin pusing, Kebab Turki Baba Rafi tidak akan seperti sekarang.

Cerita terakhir dari Nilam Sari, mengingatkan saya pribadi untuk jangan terlalu serakah pada materi. Materi itu tidak dibawa mati. Manfaatnyalah yang dibawa mati.

Setelah sesi pertama sebenarnya masih ada sesi menarik lainnya, namun sayang, saya hanya bisa mengikuti sesi pertama dan tidak bisa mengikuti sesi selanjutnya. 

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.