Kamis, 17 November 2016

Anatomy of Guidance | Nouman Ali Khan




Masa kini, engkau sebagai muslim dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan. Terlalu banyak hal membingungkan yang ada di hadapanmu. Banyak golongan di tubuh Islam muncul. Sangat banyak. Sedangkan, kau sendiri tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Terlalu banyak versi fatwa-fatwa yang saling bergesekan muncul. Terlalu banyak video dakwah yang beredar, dan sering kau tidak tahu isinya sebenarnya benar atau salah. Terlalu banyak perdebatan tentang hadits ini, tentang hadits itu. Ada yang bilang ini halal, ada yang bilang ini haram. Terkadang, itu semua berada di luar jangkauanmu,  menjadi sesuatu yang susah kau capai.

Bagaimana kau tahu yang kau ikuti itu benar? Bagaimana caramu tahu hal yang sungguhan benar di tengah-tengah keadaan yang abu-abu di sekelilingmu? Terlalu banyak informasi beredar, terlalu banyak informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Engkau hidup di era di mana keberadaan informasi terlalu overload.

Di manakah kau dapat memperoleh petunjuk yang benar itu? Para pendakwah di dunia maya (juga di dunia nyata) tidak menjaminkan bahwa petunjuk ke jalan yang benar itu ada di mereka. Youtube, juga tidak bisa menjamin video-video dakwah islami yang diunggahnya akan mengantarkanmu ke jalan yang benar. Google sebagai mesin pencari juga tak mungkin menjamin jalan yang benar. Orang-orang di sekitarmu, juga tidak menjaminkan hal tersebut. Dan satu-satunya penjamin hanyalah Allah. Penjamin atas petunjuk yang datang entah kamu dijejali informasi-informasi yang tak terhitung lagi, atau pun kamu sama sekali tak punya informasi atas hal itu. Satu-satunya penjamin atas petunjuk itu hanyalah Allah.

Cara mendapatkan petunjuk dari Allah tidak sulit. Sama sekali tidak sulit. Pintu petunjuk Allah selalu terbuka untuk orang-orang yang berusaha mencariNya, berusaha mendekat kepadaNya. Allah akan memberimu petunjuk sesuai dengan usahamu untuk mendekat kepadaNya. Sekali kamu menggantungkan hidupmu kepada Allah, tidak ada kekhawatiran lagi dalam dirimu, karena engkau mempunyai petunjuk yang sebenar-benarnya.

Ingatkah engkau tentang kisah para Ashabul Kahfi yang kisahnya diabadikan dalam Surat Al-Kahfi? Surat yang diperintahkan untuk dibaca setiap hari Jumat? Kisah para pemuda yang hidup di tengah negeri para orang kafir. Tak ada orang-orang alim di sekitar mereka, tak ada syekh atau ulama yang bisa memberikan fatwa untuk mereka, tak ada para sahabi di tengah-tengah mereka, tak ada para utusan Allah di tengah-tengah mereka yang akan memberikan petunjuk kepada mereka. Mereka hidup di tengah-tengah masyarakat penyembah berhala yang menganggap sesembahan itu ada banyak.

Para pemuda ini, Ashabul Kahfi, memiliki keyakinan, bahwa yang seharusnya disembah hanya satu. Hanya satu kekuatan yang seharusnya mereka ikuti tapi mereka sendiri tak tahu apa itu. Mereka tak tahu bagaimana seharusnya mereka menyebut Tuhan sesembahannya. Mereka tak punya sedikitpun pengetahuan tentang hal itu. Namun, ada keyakinan di hati mereka.  Ada keteguhan di dalam hati mereka.

Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran (Al-Kahfi:14)

Ada orang, yang menghabiskan waktunya untuk belajar. Untuk belajar agama. Namun mereka tak mendapatkan apa-apa. Allah tidak memberikan petunjuk kepada mereka. Berbeda dengan para Ashabul Kahfi, yang tak punya pengetahuan tentang agama, namun mereka punya keyakinan di hati mereka. Allah memberi petunjuk kepada mereka. Kunci atas petunjuk itu adalah Allah. Bukankah Allah memberi petunjuk kepada yang Ia kehendaki dan membiarkan sesat siapa yang Ia kehendaki?

Tidak masalah seberapa gelap kehidupanmu saat ini, seberapa hopeless nya dirimu sekarang, ketika kamu punya keyakinan dan harapan hanya kepada Allah, itu sudah sangat cukup.

“... I hope My Rabb will guide me, even closer than this, to the right path”
“...mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat (kebenarannya) daripada ini” (Al-Kahfi 24)

Lebih dekat DARIPADA INI. Apa yang dimaksud dengan kata-kata “Ini”? “Ini” adalah di mana kamu sekarang berada. Setiap orang, alhamdulillah, punya levelnya sendiri-sendiri. Beberapa orang diberi petunjuk sedikit, beberapa orang diberi petunjuk lebih banyak, beberapa orang lainnya lagi diberi petunjuk yang tak habis-habis. Kondisi orang tidaklah sama, termasuk kondisimu dalam menerima petunjuk itu.

Seseorang memiliki pengetahuan yang sangat sedikit, orang lainnya punya pengetahuan yang lebih banyak. Pemahaman masing-masing manusia berbeda satu sama lain. Ada orang yang bisa khusyuk dalam ibadahnya, ada orang yang susah khusyuk dalam ibadahnya. Itu faktanya.

Dan tahukah kamu apa yang ingin dijelaskan ayat ini kepadamu? Yaitu agar kamu semakin berusaha lebih dekat lagi kepada Rabbmu. Lebih dekat lagi daripada “ini”, daripada tempatmu sekarang berdiri. Agar kamu menaikkan levelmu untuk menujuNya.

Kamu berada di sini bukan untuk membandingkan keadaan dirimu dengan orang lain. Yang seharusnya kamu lakukan adalah membandingkan dirimu sendiri dengan dirimu sendiri. Dirimu yang sekarang, dibandingkan dengan dirimu di masa lalu. Sudah lebih baikkah?

Ukuran suksesmu adalah seberapa jauh kamu bisa lebih baik lagi esok hari dibandingkan kamu di hari ini. Kamu tak akan pernah bisa menjadi sempurna. Aku tak akan pernah bisa menjadi sempurna. Yang bisa kita lakukan adalah menjadi lebih baik lagi, menjadi lebih baik lagi, dan menjadi lebih baik lagi. Jangan lelah jadi orang baik. Jangan lelah untuk terus dan terus berusaha mendekat kepada Allah. Sehingga saat kita mati nanti, kita akan menjadi orang sukses. Sukses menjadi lebih dekat dengan Allah.

Kau tahu betapa banyak orang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain? Mereka melihat orang lain punya hafalan lebih banyak dari mereka, mereka melihat orang lain ibadahnya tak pernah berhenti, mereka melihat orang lain pengetahuannya lebih banyak, mereka melihat orang lain tahu ini tahu itu, dan mereka menginginkannya. Mereka melihat orang lain kaya, mereka melihat orang lain menikah dan punya anak,mereka melihat orang lain bahagia, dan mereka menginginkannya.

Kamu, jangan lakukan hal itu pada dirimu sendiri.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (An-Nisa: 24)

Orang lain mungkin akan merendahkan dirimu, Allah tak akan merendahkan dirimu. Orang lain mungkin akan bilang, memperoleh petunjuk dari Allah itu sulit dan mahal. Tidak, kau hanya perlu yakin kepada Allah dan berdoalah agar kau menjadi lebih dekat denganNya dibandingkan tempat berdirimu sekarang. Setelah itu, percayalah bahwa Allah akan memberimu lebih dan lebih lagi.

Setelah petunjuk itu datang, maka akan muncul tuma’ninah. Hatimu, akan menjadi tenang. Ketika hatimu menjadi tenang dan damai, orang di sekelilingmu akan terpengaruh.

Mintalah petunjuk. Yang kau butuhkan adalah petunjuk.

Diuraikan dari video yang diilustrasikan oleh Darul Arqam
Berdasar tausiyah dari Nouman Ali Khan

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.