Selasa, 29 November 2016

Belajar dari Nilam Sari, Owner Kebab Turki Baba Rafi



Hari Sabtu tanggal 26 November 2016, saya diberi kesempatan menghadiri salah satu rangkaian acara Gelar Karya Wirausaha Muda 2016 yang diadakan di Hotel Sahid Yogyakarta. Acara yang diadakan oleh Kemenpora bekerjasama dengan salah satu Forum Wirausaha Muda ini menghadirkan beberapa narasumber yang pastinya inspiratif, diantaranya Nilam Sari (Owner Kebab Turki Baba Rafi), Dwikorita Karnawati (Rektor UGM), Jody Waroeng (Owner Waroeng Steak), Angki Yudistia (Sociopreneur Yogyakarta), Dwi Purnomo (The Local Enablers Founder), dan Vania Santoso (Inovation Lab UNICEF Indonesia).

Dibuka oleh Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Bapak Dr. Jonni Mardizal, M.M, dan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, acara ini berlangsung cukup khidmat. Dilanjutkan dengan sebuah pagelaran tari Sang Dewi Sri dari Starlight Production dengan koreografer Bayu Kuntani, membuat acara pagi itu menjadi lebih menarik. Pagelaran bercerita tentang petani di sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi yang aman, tenteram dan damai. Namun suatu ketika datang pengganggu-pengganggu raksasa yang mengusik ketenangan mereka. Sang Dewi Sri yang diceritakan sebagai Dewi Padi, datang membantu para petani mengusir para raksasa jahat itu. Sehingga bisa ditebak, negeri itu kembali aman, damai, sentausa seperti sedia kala.

Sesi pertama yang dimoderatori oleh Coach Angky, menghadirkan Ibu Dwikorita Karnawati (Rektor UGM) dan Nilam Sari (Owner Kebab Turki Baba Rafi) sebagai pembicara utama. Ibu Dwikorita sebagai akademisi memaparkan data-data berupa fakta dan angka yang menunjukkan masih kurangnya wirausaha di Indonesia. Jumlah wirausaha yang masih di bawah 2%, hanya nol koma sekian persen, menurutkan masih cukup memprihatinkan di negeri sebesar ini. Di sesi yang cukup singkat ini, Ibu Dwikorita mengajak para peserta yang hadir untuk menjadi manusia produktif, bukan manusia konsumtif yang kerjaannya kepengen beli ini, kepengen beli itu, mau punya barang itu, mau punya barang itu. Jika budaya konsumtif yang dipelihara, maka di masa pasar bebas yang semakin menggila ini, Indonesia hanya akan jadi bulan-bulanan negeri lain dan bisa dipastikan ekonomi negeri ini mungkin tidak akan membaik dengan cepat.

Nilam Sari, Owner Kebab Turki Baba Rafi. (source: femmeindonesia.co)

Nilam Sari sebagai pembicara kedua di sesi pagi itu menghadirkan kisah yang menarik dan sangat inspiratif. Diawali dari ceritanya yang sudah menikah ketika masih muda (kurang dari 20 tahun) dan sudah punya anak bernama Rafi, Nilam Sari dan suaminya memutar otak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dengan berjualan burger pinggir jalan di depan rumah. Kegiatan ini dimulai 14 tahun lalu dengan modal pertama sebesar 2 juta rupiah. Usaha itu akhirnya terhenti. Nilam yang waktu itu bingung mau ngapain, akhirnya pergi ke Qatar bersama keluarganya memanfaatkan jatah cuti dari mertuanya yang bekerja di sebuah perusahaan oil company di sana. Nilam bilang, “Bukan orang kaya, hanya memanfaatkan jatah cuti mertua yang daripada balik ke Indonesia, maka kami yang ke sana.”

Qatar menjadi tempat di mana Nilam menemukan makanan bernama kebab. Saking penasarannya dengan kebab, dia memperhatikan penjual kebab di sama dengan seksama. Dia belajar dari situ. Sepulang ke Indonesia, Nilam mencoba mengadopsi makanan bernama kebab ini dengan mengubah beberapa komposisi bumbu agar sesuai dengan lidah orang Indonesia. Waktu itu, ditambah dengan daging yang dicampur tepung agar harganya lebih murah. Tester pertamanya adalah tetangganya, yang begitu mencoba makanan itu pertama kalinya berkomentar, “Iki panganan opo to? Kok rasane koyo ngene?” (Ini makanan apa sih, kok rasanya begini? – Intinya dia tidak begitu suka dengan makanan ini).  Nilam kemudian mencoba mengubah komposisi bumbu makanan bernama kebab ini kemudian memberanikan diri membuka gerobak Kebab Turki Baba Rafi di sebuah tempat di dekat kampus. Banyak orang yang waktu itu mengira si Kebab ini adalah martabak, lumpia, dan sejenisnya. Dan tentu saja, itu adalah perjuangan sendiri untuk mengenalkan produknya ke khalayak ramai pada waktu itu.

Dengan usaha yang tentu saja tidak mudah, Nilam Sari akhirnya mampu membawa Kebab Turki Baba Rafi menjadi salah satu franchise sukses di Indonesia, bahkan sekarang sudah memiliki gerai di luar negeri seperti Malaysia, Belanda, India, dan sebagainya. Nilam mengingatkan kepada pebisnis muda agar jangan fokus berbicara tentang bagaimana memproduksi barang, namun lebih memikirkan skala produksi agar dapat memproduksi secara massal, tentang how to manage to skill up your bussiness.

Perjalanan Nilam Sari bukan tanpa halangan. Suatu ketika dia pernah ditawari beasiswa S2 di bidang bisnis saat bisnis Baba Rafi sudah menggeliat. Nilam memanfaatkan kesempatan itu dan melanjutkan pendidikannya. Dari belajar bisnis itu, Nilam tergoda untuk membangun bisnis lainnya, bisnis properti. Namun ternyata, ujiannya tepat berada di situ. Usaha propertinya bangkrut, rumah yang dia sewakan, disewa oleh para pemakai narkoba, dan sempat berurusan dengan polisi. Kebangkrutannya meninggalkan utang sebesar 14 milyar rupiah!

Singkat cerita, hutang itu berhasil ditutupi dengan usaha kerasnya mengembangkan Kebab Turki Baba Rafi sehingga omzetnya mampu menutupi hutang-hutangnya. Kekuatan itu menjadi sangat besar ketika kepepet sehingga Kebab Turki Baba Rafi mampu merajalela seperti sekarang. Mungkin kalau tidak terjerat hutang yang bikin pusing, Kebab Turki Baba Rafi tidak akan seperti sekarang.

Cerita terakhir dari Nilam Sari, mengingatkan saya pribadi untuk jangan terlalu serakah pada materi. Materi itu tidak dibawa mati. Manfaatnyalah yang dibawa mati.

Setelah sesi pertama sebenarnya masih ada sesi menarik lainnya, namun sayang, saya hanya bisa mengikuti sesi pertama dan tidak bisa mengikuti sesi selanjutnya. 

Senin, 28 November 2016

Ini Semua Tentang Ridho Tuhan



Tulisan ini saya persembahkan untuk kalian yang sedang menghadapi fase-fase menyebalkan dari pertanyaan dan pernyataan orang lain. Dan bisa jadi, suatu saat saya jadi salah satu orang yang menyebalkan itu. Maka tulisan ini juga saya persembahkan untuk diri saya sendiri. Setidaknya kalau nanti berada di posisi orang yang menyebalkan itu, nyebelinnya nggak kebangetan.

“Kamu sih, susah move on...”
“Kamu sih, kebanyakan belajar...”
“Kamu nyari yang kayak apa sih? Tinggal pilih doang apa susahnya?”
“Kamu sih, sok sibuk...”
“Mbak inget umur lho...”
...dan berbagai pertanyaan dan pernyataan lain yang sejenis.

Sedang berada di fase pertanyaan mana kalian? Saya sedang berada di dalam lingkaran pertanyaan di atas. Sebenarnya itu adalah bentuk pertanyaan dan bentuk judgement yang normal jika orang lain melihat manusia semacam saya.  Terutama, bagi orang-orang yang tidak mengalami fase seperti yang saya alami: semisal mereka yang dikaruniai banyak kemudahan bertemu dengan jodohnya untuk menuju proses pernikahan, atau mereka yang belum atau tidak pernah berada di fase seperti fase yang saya lalui.

Saya bukan ingin membela diri. No. Saya hanya ingin menyatukan mozaik-mozaik kisah yang saya dapatkan dalam masa dua tahun terakhir saya lewat tulisan ini, baik dari diri saya sendiri maupun dari orang-orang di sekitar saya yang sudah ditakdirkan bertemu saya. Tetap yakin kan, kalau semua itu nggak ada yang kebetulan?

Kenapa sih muncul pertanyaan? Karena ada ketidaktahuan.
Kenapa sih muncul penilaian dan penghakiman dari orang lain atas hidup kita? Karena orang yang menilai biasanya memang lebih tahu dan lebih berpengalaman. Atau bisa jadi, standar kompetensi kehidupan yang mereka punyai berbeda dengan standar kompetensi hidup kita, namun mereka menerapkan standar kompetensi mereka harus diterapkan untuk kita sehingga apapun yang kita lakukan dipandang sebagai suatu kesalahan karena tidak sesuai dengan standar kompetensi yang mereka punyai.

Kalau orang jawa bilang, urip iku wang sinawang. Hidup itu saling melihat satu sama lain. Dan yang kelihatan mungkin adalah rumput tetangga yang lebih hijau, atau mungkin yang muncul malah rasa belas kasihan kepada orang lain yang tidak atau belum mampu menjadi seperti kita. Padahal, bisa jadi yang kelihatan hijau itu sebenarnya palsu, dan yang kita kasihani itu sebenarnya lebih pantas untuk mengasihani kita.

Jadi wajar saja kalau komentar itu terus menerus muncul tanpa pernah berhenti. Sangat wajar. Karena alam bawah sadar kita selalu melihat kehidupan orang lain sebagai pembanding. Orang lain pun begitu juga.
Sehingga, fase apapun yang kita lalui, fase apapun yang saya lalui, jangan pernah berharap ada yang namanya fase bebas dari pertanyaan dan penghakiman dari orang lain.

Orang belum lulus ditanyai, “Kapan lulus? Kamu ngapain aja sih lulusnya lama? Si A aja lulusnya cepet.”
Orang belum lulus, belum kerja,  tapi udah nikah ditanyai, “Nggak kasihan sama istrinya diajak hidup susah gitu?”
Kuliah tinggi-tinggi kemudian jadi ibu rumah tangga diprotes, “Ngapain kuliahnya ketinggian kalau cuma di rumah aja? Apa nggak sayang?”
Orang masih jomblo dikomentarin, “Kasian bener, cakep-cakep jomblo. Pasti standarnya ketinggian tuh.”
Orang nggak nikah-nikah ditanyai, “Nunggu apa sih? Nikah lama-lama ntar nggak jadi nikah lho.”
Giliran udah nikah belum dapet momongan disindir sama yang udah punya anak, “Eh anakku udah dua lho. Kapan anakku punya temen dari kamu?”
Dan sebagainya, dan sejenisnya.

Ya udah sih. Serah elu aja mah...

Kunci menghadapi itu semua hanya sabar. Sabar. Sholat. Sabar. Sholat. Udah gitu aja terus. Kadang kita jadi orang yang harus nyabarin orang lain. Kadang juga, kita berbalik jadi orang yang harus disabarin sama orang lain.

I’m not perfect. You’re not perfect. We will never be perfect. Kita sama sekali tak akan pernah mencapai tingkat kesempurnaan dan keidealan dalam hidup. Yang kita bisa, yang saya bisa adalah, meningkatkan level untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih baik, dan menjadi lebih baik lagi.


Dua tahun terakhir saya cukup banyak mendapatkan pelajaran hidup. Beberapa dari hidup saya sendiri. Beberapa dari orang lain di sekeliling saya. Dan kesimpulan dari pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan adalah: pertama, hidup itu benar-benar wahana permainan, namun kita diciptakan bukan untuk bermain-main; kedua, ridho Tuhan, ridho Allah itu berada di atas segala-galanya;   

Pelajaran pertama: dunia itu hanya permainan. Terlalu sering saya mendengarnya. Tapi, pemahaman mendalam atas kalimat ini baru datang kepada saya di masa dua tahun terakhir.

Manusia, hidup dua kali. Kehidupan pertama menentukan kehidupan kedua. Kehidupan kedua, baru ada setelah kehidupan pertama selesai. Kehidupan pertama adalah bentuk pengalihan perhatian kehidupan kedua. Kehidupan pertama selalu berpacu dengan waktu. Kehidupan kedua, adalah selamanya tanpa tenggat waktu. Kehidupan pertama adalah ketidakbaikan yang dibalut dengan kesenangan, dan kebaikan yang dibalut dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Yes, tipu daya. Terlalu banyak tipu daya di kehidupan pertama. Permainan, tipu daya, dan bangga-banggaan.

Di tempat yang isinya cuma permainan, sementara kita tidak diciptakan untuk bermain-main , sedangkan kita punya keinginan besar untuk bermain-main dan sangat amat sayang untuk melewati wahana permainan ini , sekuat apa kita bisa bertahan? Apa yang sebaiknya kita lakukan?


Pelajaran kedua: ridhonya Allah itu di atas segala-galanya. Okay saya bisa memilih, kamu bisa memilih. Tapi jika pilihan itu pada akhirnya membuat kita jauh dari kebaikan, terutama jauh dari Tuhan, apa yang akan terjadi? Ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin Allah bakal bilang oke dan memberikan pilihan itu, namun bakal banyak ujian-ujian lain di belakangnya sehingga Allah bakal bener-bener ngasih oke kalau ujiannya berhasil. Kalau enggak berhasil, siap-siapin hati aja sih. Kedua, Allah bakal langsung kasih big NO! Namun di balik kata tidak itu, Allah mengganti ketidakbaikan dengan banyak kebaikan-kebaikan di belakangnya tanpa kita melalui ujian-ujian seperti pada kemungkinan pertama.

At least, Allah yang menentukan, bukan kita. Mau jadi apa kita, mau melakukan apa kita hari ini, ingin jadi seperti apa kita nanti, kita boleh milih. Kita boleh berusaha untuk bisa sampai ke sana. Tapi seberusaha apapun, kalau Allah udah bilang enggak ya enggak. Maka apa sih yang kita cari sebenarnya kalau bukan ridhonya Allah? Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil’alamin kan? Kita bangun tidur lalu tidur lagi, kita bertemu seseorang dan orang lainnya, kita sekolah, kita menikah, kita bekerja, kita punya suami, kita punya istri, kita punya uang, kita mendapatkan makanan, kita punya anak, kita punya umur panjang, siapa sih yang ngasih?

Apa yang terjadi nanti, siapa yang mampu mengontrolnya? Lalu, berbagai peristiwa dan alasan-alasan yang dihadapkan pada kita memang sudah seharusnya ada di situ. Seberapa keraspun kita protes, seberapa keraspun kita menolak, yang terjadi tetap harus terjadi. Yang kita bisa hanya menghadapi kemudian menjalaninya.


Sekali lagi, ini semua tentang ridho Tuhan. Ridhonya Allah. Apa yang kita punya, apa yang kita dapat, apa yang terjadi dalam hidup kita, bukan manusia lain yang menyebabkan dan bukan manusia lain yang menentukan. Walaupun, apapun yang kita lakukan memang selalu mendatangkan komentar dari orang lain. Saya pun sering juga menjadi orang yang punya lambe turah dan ngeselin itu. Berkomentar terhadap hidup orang lain yang saya sendiri tidak pernah menjalaninya. Dan doa saya terhadap diri saya sendiri, semoga saya tidak keseringan jadi si lambe turah yang kerjaannya komentar melulu tapi isi di dalamnya kosong melompong.

Kamis, 24 November 2016

Dosa Yang Baik

Jika kamu telah melakukan dosa yang teramat buruk, apakah lantas kamu akan menjadi hina selama-lamanya?

Jika kamu selalu melakukan amalan yang baik setiap waktu apakah kamu akan mulia selama-lamanya?

Belum tentu.

Apapun yang kamu lakukan sekarang, kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi kemudian. Jika kamu sekarang adalah seorang penghafal Al-Qur’an misalnya, bisa jadi Allah akan menghapus semua hafalanmu sedetik sebelum kematianmu karena kau sedang memiliki suatu niat yang buruk pada detik itu. Jika kamu sekarang seorang pezina misalnya, pada suatu detik tertentu Allah mendatangkan rahmat dan hidayahNya kepadamu lalu dia mengampuni semua dosa-dosamu. Bisa jadi seperti itu.

Itu kuasa Allah. Dan kamu tak akan pernah mampu melawannya. Yang kamu bisa adalah terus berusaha. Terus berusaha mendekat kepada-Nya. Jika belum bisa mendekat, minimal tetaplah diam di tempat di atas jalan-Nya. Jangan bergerak ke mana-mana ketika sedikit saja bergerak itu akan menjerumuskanmu ke jalan yang tidak seharusnya. Pilihlah yang lebih mendekatkanmu kepada Tuhanmu. Jika diam tetap mendekatkanmu pada Tuhanmu, tetaplah diam. Jika bergerak adalah sesuatu yang lebih bisa mendekatkanmu kepada Tuhanmu, pilihlah untuk bergerak. Pilihlah sesuatu yang lebih mendekatkanmu kepada Tuhanmu. Itu saja.

Kamu pasti tahu kisah tentang iblis kan? Iblis dulunya adalah makhluk Allah yang paling taat. Tak ada yang bisa mengalahkan amalan-amalannya. Tak ada makhluk lain yang bisa mengalahkan kadar ketaatannya. Hingga suatu ketika, dia merasa tinggi hati ketika Allah menciptakan makhluk lain dari lumpur hitam, dari tanah kering seperti tembikar, kemudian Allah memerintahkan dia yang diciptakan dari api dan malaikat yang diciptakan dari cahaya, untuk sujud menghormati makhluk yang berasal dari tanah itu. Iblis tidak mau. Hanya setitik rasa tinggi hati yang ia punya pada waktu itu. Baru sekali itu ia membangkang Tuhannya. Namun itu cukup untuk mendatangkan laknat Allah selama-lamanya untuknya.

Sayangnya, iblis tidak bertaubat. Laknat itu selama-lamanya. Selama-lamanya untuknya. Jaminan neraka untuknya. Sehingga dia tidak mau sendirian berada di sana. Dendamnya kepada nenek moyang manusia membuatnya memohon untuk ditangguhkan masanya, dia akan mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk mengikutinya, menemaninya menjadi penghuni neraka.

Maka berat sekali apa yang dihadapi manusia semasa hidupnya. Musuh yang paling nyata adalah iblis yang sering membisikkan sesuatu di alam bawah sadar manusia. Dia mampu mengalir bersama aliran darah manusia. Dia selalu bisa membuat semua yang berbau neraka menjadi menyenangkan dan menggairahkan untuk dilakukan. Ketika Allah sudah memberi petunjuk kepada manusia, maka di baliknya ada iblis yang selalu berusaha keras untuk membelokkan dan menyesatkan. Dia selalu siap sedia, siap sedia menyambut dan merangkul manusia untuk menemaninya nanti. Misinya adalah: mengajak manusia sebanyak-banyaknya untuk menemaninya. Sehingga ketika petunjuk datang, iblis berusaha menyesatkan kembali. Begitu lagi, begitu terus, selamanya begitu sampai sakaratul maut datang.

Kadang, tipu daya iblis itu halus. Halus sekali, sampai manusia tak bisa merasakan bahwa itu sebenarnya adalah tipu daya.

Maka Allah mengutus malaikat penjaga kepada setiap manusia yang berjaga-jaga di depan dan di belakang manusia setiap hari, setiap waktu. Malaikat yang selalu bergiliran datang dan pergi di setiap waktu subuh dan waktu ashar. Mereka tidak pernah meninggalkan manusia kecuali pada dua waktu, yaitu ketika manusia masuk ke kamar mandi melaksanakan hajatnya dan ketika manusia bersetubuh. Dia melindungi manusia ketika Allah memerintahkan untuk melindunginya. Termasuk melindungi manusia dari kejahatan-kejahatan dari yang nampak maupun tersembunyi, dari setan berupa jin dan manusia.

Namun, itu semua tergantung dari manusianya. Tergantung dari segumpal daging di balik dada manusia. Kuatkah dia? Atau lemahkah dia? Dua kekuatan baik dan jahat dalam diri manusia selalu berperang setiap waktu. Manusia memiliki kadar dosa dan kadar keimanannya masing-masing, yang akan menggerakkan hati manusia untuk berbuat baik ataupun buruk. Lalu kadar manakah yang lebih tinggi yang ada pada dirimu saat ini? Hati tidak selamanya baik. Kadang dia baik, kadang dia buruk. Detik ini, apakah bisikan kejahatan atau kebaikan yang sedang menguasaimu?

Jika bisikan kebaikan yang mengusaimu, bersyukurlah dan berusahalah agar kamu tetap berada di situ. Berusahalah untuk tidak berbalik ke belakang. Biar susah, yang penting berusahalah untuk jadi baik.

Namun jika bisikan kejahatan yang menguasaimu, aku mendoakan agar engkau segera kembali kepada jalanmu yang seharusnya. Jika kadar kejahatan yang lebih menguasaimu, bisa jadi kau sekarang adalah seorang penipu, pembohong, tukang suap, tukang maksiat, pencuri, pezina, pembunuh, pemarah, orang congkak, orang kikir, pesakitan, pemaksa, pembangkang, dan sejenisnya. Kamu lebih dekat kepada dosa, dan mungkin kamu sudah berbuat dosa tanpa kamu sendiri menyadarinya.

Dosa. Hah, dosa itu pasti sesuatu yang jelek kan? Iya, tentu saja itu adalah sesuatu yang buruk. Tapi, bisakah mengubah yang buruk itu menjadi baik?

Bisa, tentu saja bisa.

Dosa kadang bermanfaat, kalau dosa itu pada akhirnya menjadikanmu sebagai orang taat. Apabila engkau pernah melakukan dosa besar, jika suatu ketika petunjuk datang kepadamu, sehingga sampai menyentuh kepada kedalaman hatimu yang paling dalam, sampai membuatmu tampak terluka sampai menangis tak berhenti-berhenti akibat dosamu itu, bersyukurlah. Bersyukurlah karena pernah merasakan akibat keburukan dari dosa yang pernah engkau perbuat. Karena begitu kau merasakan akibatnya, engkau pasti akan berpikir ulang seribu kali setiap ada keinginan untuk berbuat dosa yang sama atau mungkin dosa yang lebih buruk dari itu.

Engkau mungkin pernah mendengar cerita ini. Cerita yang terjadi di zaman Rasullullah SAW. Cerita tentang seorang wanita yang telah berbuat zina sampai kemudian hamil. Dia menyesal dan meminta Rasulullah pada waktu itu untuk merajamnya. Namun Rasulullah menangguhkannya, sampai dia melahirkan anaknya, sampai anaknya cukup umur untuk bisa ditinggalkannya. Apakah kamu bisa membayangkan bagaimana tersiksanya wanita itu? Ditinggalkan oleh lelaki yang berbuat zina bersamanya, malu karena hamil di luar nikah, melahirkan dan merawat anaknya sendirian, belum lagi bisikan-bisikan para tetangga yang pasti selalu menghujam-hujam jantungnya.

Suatu ketika, Rasulullah mengabulkan keinginan wanita itu. Beliau merajam wanita itu sampai meninggal. Si perempuan pezina itu bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, yang jika dibagikan taubatnya untuk para penduduk Madinah, taubatnya itu cukup untuk membuat 70 orang lainnya masuk surga. Efek dosa, panas dosanya selalu teringat dalam hati. Maksiatnya membakar dirinya. Membuatnya takut dan semakin dekat kepada Allah.

Yang menggerakkan kita pada Allah adalah rasa khauf, roja’, atau hubb. Rasa cinta, harapan, maupun takut pada Allah. Dosa besar, bagi orang-orang yang pada akhirnya diberi petunjuk, akan menyebabkan timbulnya rasa takut yang luar biasa pada Sang Pencipta yang pada akhirnya akan menimbulkan penyesalan tiada habisnya.

Pintu taubat, tak akan ditutup sampai matahari terbit dari barat. Tak akan ditutup sampai sakaratul maut menjelang. Sama seperti masa penangguhan iblis, yang tak akan pernah berhenti berusaha mengajak manusia menjadi teman penghuni neraka bersamanya sampai sakaratul maut itu datang. Mereka berpacu setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, setiap satuan waktu terkecil. 

Jika iblis saja berusaha sekeras itu, tidakkah kamu ingin berusaha lebih keras lagi untuk melawannya?

source: normantis.com

Sabtu, 19 November 2016

MALALEA: CERITA TENTANG AYAH DAN KAKEK (2)


Kakek dulunya adalah seorang perwira perang. Begitulah setidaknya kata orang-orang. Meskipun begitu, kakek tidak pernah mengangkat senjata. Bukan perang seperti itu yang dijalani oleh kakek. Dia adalah perwira perang angkatan pertama di suku manusia mini. Perang melawan kesewenang-wenangan para pejabat kala itu. Perang melawan kekuasaan yang tak bisa lagi dilawan, namun harus ditinggalkan.
            Perebutan kekuasaan yang harus ditinggalkan. Tak ada senjata yang bisa melawannya. Sungguh tak bisa. Satu-satunya cara agar tak terpengaruh dan terkoyak-koyak atas ketidakberdayaan kekuasaan kala itu hanyalah meninggalkannya. Meninggalkan kemudian mengasingkan diri dari peradaban yang semakin menggila di luar sana.
            “Tak mudah melakukan perang seperti itu. Kita butuh waktu hampir sepuluh tahun sehingga akhirnya kita, suku manusia mini, bisa berada di sini,” nenek kembali berkisah di pagi yang belum juga beranjak pergi dari kabut yang dingin dan embun yang basah. Nenek berdiri terpaku memegang sendok sayur di depan sepanci bubur yang hampir meluap keluar dari bibir panci. Bibi Arnora dengan sigap mengambil alih sendok sayur dari tangan nenek kemudian mengaduk-aduk bubur yang meletup-letup di dalam panci.
            Nafas yang terhela dari hidung Bibi Arnora menandakan bahwa dia sedang kesal dengan apa yang telah dilakukan nenek terhadap sepanci bubur di hadapannya. Namun dia tak ingin marah-marah saat ini. Bibi Arnora yang sangat galak sekalipun tahu waktu kapan dia boleh meluapkan amarah dan kekesalannya. Namun tidak untuk saat ini. Ia tak mungkin mengekspresikan rasa kesalnya terhadap nenek yang sangat terlihat merindukan kakek, ayah kandungnya sendiri. Dia pun sangat merindukannya. Merindukan apapun, segala yang ada pada ayahnya.
            Nenek yang tersadar dari lamunannya, meminta maaf, “Eh, aku tidak tahu buburnya...” Kata-kata nenek terhenti. Tubuh dua anak kecil yang bersiap tumbuh remaja tiba-tiba menyerbu dan memeluknya, sampai-sampai wanita tua itu kehilangan kata-kata.
            “Sudahlah, Nek. Jangan sedih seperti itu. Ada kami di sini siap berdiri untuk nenek,” ucapan kedua cucu yang selama ini besar dalam naungannya itu mau tak mau memaksa air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya jatuh tertumpah. Nenek menangis.
            Nenek balas mendekap kedua cucunya lebih erat. Sangat erat. “Berjanjilah kalian akan melakukan itu apapun yang terjadi. Berdiri untuk nenek..,” sebuah janji tak tertulis namun disaksikan oleh mereka yang tak terlihat telah terucap di sebuah dapur kecil di sebuah rumah panggung sederhana di tepian pantai berhiaskan buih ombak yang tak habis-habis. Bibi Arnora diam-diam juga menitikkan air mata di tengah mengaduk bubur yang hampir matang.
            Bagi Arnora, ayahnya bukan sekedar orang tua yang membesarkan dan membiayai seluruh keperluan hidupnya. Lebih dari itu, ayahnya adalah seorang bijak yang memberinya ilmu kehidupan. Ayah dan ibunya, adalah madrasah sesungguhnya untuk dia dan adiknya.
            “Jangan pernah berhenti belajar. Belajar bukan hanya di sekolah. Belajarlah apa saja, kapan saja, di mana saja. Karena di setiap satuan terkecil waktu dalam hidup akan selalu ada ujian. Hadapilah ujian itu dengan belajar setiap waktu,” ah, kata-kata itu selalu meluncur dari mulut ayahnya setiap kali Arnora terlihat malas.
Pun setiap kali dia menyerah. Ayahnya selalu membuatnya tak bisa menyerah. “Kenapa kau ini? Karena sulit, kau bilang tak sanggup? Arnora, tak ada suatu masalah yang diberikan kepada kita tanpa kita tak bisa mengatasinya. Kau hanya boleh bilang tak sanggup lagi menghadapi masalah kalau ruhmu sudah berpisah dengan ragamu!”  

Kamis, 17 November 2016

Anatomy of Guidance | Nouman Ali Khan




Masa kini, engkau sebagai muslim dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan. Terlalu banyak hal membingungkan yang ada di hadapanmu. Banyak golongan di tubuh Islam muncul. Sangat banyak. Sedangkan, kau sendiri tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Terlalu banyak versi fatwa-fatwa yang saling bergesekan muncul. Terlalu banyak video dakwah yang beredar, dan sering kau tidak tahu isinya sebenarnya benar atau salah. Terlalu banyak perdebatan tentang hadits ini, tentang hadits itu. Ada yang bilang ini halal, ada yang bilang ini haram. Terkadang, itu semua berada di luar jangkauanmu,  menjadi sesuatu yang susah kau capai.

Bagaimana kau tahu yang kau ikuti itu benar? Bagaimana caramu tahu hal yang sungguhan benar di tengah-tengah keadaan yang abu-abu di sekelilingmu? Terlalu banyak informasi beredar, terlalu banyak informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Engkau hidup di era di mana keberadaan informasi terlalu overload.

Di manakah kau dapat memperoleh petunjuk yang benar itu? Para pendakwah di dunia maya (juga di dunia nyata) tidak menjaminkan bahwa petunjuk ke jalan yang benar itu ada di mereka. Youtube, juga tidak bisa menjamin video-video dakwah islami yang diunggahnya akan mengantarkanmu ke jalan yang benar. Google sebagai mesin pencari juga tak mungkin menjamin jalan yang benar. Orang-orang di sekitarmu, juga tidak menjaminkan hal tersebut. Dan satu-satunya penjamin hanyalah Allah. Penjamin atas petunjuk yang datang entah kamu dijejali informasi-informasi yang tak terhitung lagi, atau pun kamu sama sekali tak punya informasi atas hal itu. Satu-satunya penjamin atas petunjuk itu hanyalah Allah.

Cara mendapatkan petunjuk dari Allah tidak sulit. Sama sekali tidak sulit. Pintu petunjuk Allah selalu terbuka untuk orang-orang yang berusaha mencariNya, berusaha mendekat kepadaNya. Allah akan memberimu petunjuk sesuai dengan usahamu untuk mendekat kepadaNya. Sekali kamu menggantungkan hidupmu kepada Allah, tidak ada kekhawatiran lagi dalam dirimu, karena engkau mempunyai petunjuk yang sebenar-benarnya.

Ingatkah engkau tentang kisah para Ashabul Kahfi yang kisahnya diabadikan dalam Surat Al-Kahfi? Surat yang diperintahkan untuk dibaca setiap hari Jumat? Kisah para pemuda yang hidup di tengah negeri para orang kafir. Tak ada orang-orang alim di sekitar mereka, tak ada syekh atau ulama yang bisa memberikan fatwa untuk mereka, tak ada para sahabi di tengah-tengah mereka, tak ada para utusan Allah di tengah-tengah mereka yang akan memberikan petunjuk kepada mereka. Mereka hidup di tengah-tengah masyarakat penyembah berhala yang menganggap sesembahan itu ada banyak.

Para pemuda ini, Ashabul Kahfi, memiliki keyakinan, bahwa yang seharusnya disembah hanya satu. Hanya satu kekuatan yang seharusnya mereka ikuti tapi mereka sendiri tak tahu apa itu. Mereka tak tahu bagaimana seharusnya mereka menyebut Tuhan sesembahannya. Mereka tak punya sedikitpun pengetahuan tentang hal itu. Namun, ada keyakinan di hati mereka.  Ada keteguhan di dalam hati mereka.

Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran (Al-Kahfi:14)

Ada orang, yang menghabiskan waktunya untuk belajar. Untuk belajar agama. Namun mereka tak mendapatkan apa-apa. Allah tidak memberikan petunjuk kepada mereka. Berbeda dengan para Ashabul Kahfi, yang tak punya pengetahuan tentang agama, namun mereka punya keyakinan di hati mereka. Allah memberi petunjuk kepada mereka. Kunci atas petunjuk itu adalah Allah. Bukankah Allah memberi petunjuk kepada yang Ia kehendaki dan membiarkan sesat siapa yang Ia kehendaki?

Tidak masalah seberapa gelap kehidupanmu saat ini, seberapa hopeless nya dirimu sekarang, ketika kamu punya keyakinan dan harapan hanya kepada Allah, itu sudah sangat cukup.

“... I hope My Rabb will guide me, even closer than this, to the right path”
“...mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat (kebenarannya) daripada ini” (Al-Kahfi 24)

Lebih dekat DARIPADA INI. Apa yang dimaksud dengan kata-kata “Ini”? “Ini” adalah di mana kamu sekarang berada. Setiap orang, alhamdulillah, punya levelnya sendiri-sendiri. Beberapa orang diberi petunjuk sedikit, beberapa orang diberi petunjuk lebih banyak, beberapa orang lainnya lagi diberi petunjuk yang tak habis-habis. Kondisi orang tidaklah sama, termasuk kondisimu dalam menerima petunjuk itu.

Seseorang memiliki pengetahuan yang sangat sedikit, orang lainnya punya pengetahuan yang lebih banyak. Pemahaman masing-masing manusia berbeda satu sama lain. Ada orang yang bisa khusyuk dalam ibadahnya, ada orang yang susah khusyuk dalam ibadahnya. Itu faktanya.

Dan tahukah kamu apa yang ingin dijelaskan ayat ini kepadamu? Yaitu agar kamu semakin berusaha lebih dekat lagi kepada Rabbmu. Lebih dekat lagi daripada “ini”, daripada tempatmu sekarang berdiri. Agar kamu menaikkan levelmu untuk menujuNya.

Kamu berada di sini bukan untuk membandingkan keadaan dirimu dengan orang lain. Yang seharusnya kamu lakukan adalah membandingkan dirimu sendiri dengan dirimu sendiri. Dirimu yang sekarang, dibandingkan dengan dirimu di masa lalu. Sudah lebih baikkah?

Ukuran suksesmu adalah seberapa jauh kamu bisa lebih baik lagi esok hari dibandingkan kamu di hari ini. Kamu tak akan pernah bisa menjadi sempurna. Aku tak akan pernah bisa menjadi sempurna. Yang bisa kita lakukan adalah menjadi lebih baik lagi, menjadi lebih baik lagi, dan menjadi lebih baik lagi. Jangan lelah jadi orang baik. Jangan lelah untuk terus dan terus berusaha mendekat kepada Allah. Sehingga saat kita mati nanti, kita akan menjadi orang sukses. Sukses menjadi lebih dekat dengan Allah.

Kau tahu betapa banyak orang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain? Mereka melihat orang lain punya hafalan lebih banyak dari mereka, mereka melihat orang lain ibadahnya tak pernah berhenti, mereka melihat orang lain pengetahuannya lebih banyak, mereka melihat orang lain tahu ini tahu itu, dan mereka menginginkannya. Mereka melihat orang lain kaya, mereka melihat orang lain menikah dan punya anak,mereka melihat orang lain bahagia, dan mereka menginginkannya.

Kamu, jangan lakukan hal itu pada dirimu sendiri.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (An-Nisa: 24)

Orang lain mungkin akan merendahkan dirimu, Allah tak akan merendahkan dirimu. Orang lain mungkin akan bilang, memperoleh petunjuk dari Allah itu sulit dan mahal. Tidak, kau hanya perlu yakin kepada Allah dan berdoalah agar kau menjadi lebih dekat denganNya dibandingkan tempat berdirimu sekarang. Setelah itu, percayalah bahwa Allah akan memberimu lebih dan lebih lagi.

Setelah petunjuk itu datang, maka akan muncul tuma’ninah. Hatimu, akan menjadi tenang. Ketika hatimu menjadi tenang dan damai, orang di sekelilingmu akan terpengaruh.

Mintalah petunjuk. Yang kau butuhkan adalah petunjuk.

Diuraikan dari video yang diilustrasikan oleh Darul Arqam
Berdasar tausiyah dari Nouman Ali Khan

Selasa, 15 November 2016

Maa Fii Qalbi Ghairullah (Tafsir Q.S An-Nuur 58-60)

Al-Qur’an Surah An-Nuur ayat 58 – 60 menjelaskan tentang hamparan kesempatan untuk beramal. Ayat ini berhubungan dengan aurat, seperti yang dijelaskan pada tulisan sebelumnya berjudul  Menggenggam Cahaya. Tafsir Q.S An-Nuur 24 :58 tentang menguji baiknya pikiran, benarnya perasaan, dan mulianya tindakan lewat ujian bernama aurat. Aurat adalah ujian yang benar-benar efektif untuk menguji keyakinan kita. Aurat adalah sebentuk ujian yang menunjukkan kasih sayang Allah untuk kita.

Hamparan kesempatan untuk beramal? Syarat apa yang diperlukan agar apapun yang kita lakukan akan menjadi hamparan amal? Ada tiga syarat: 1) Berpikir baik tentang apapun; 2) Berperasaan benar dalam situasi apapun; 3) Bertindak mulia dalam keadaan apapun. Kita harus berperasaan secara tepat. Tidak benar jika kita mendahulukan perasaan tanpa mampir ke pikiran kita dulu. Saat ada orang berbuat buruk kepada kita misalnya. Jika perasaan kita buruk terhadapnya, tanpa kita menyaringnya lewat pikiran, amal buruk lah yang akan keluar dari diri kita. Jika ada orang berbuat buruk kepada kita, justru seharusnya kita kasihan kepadanya. Kenapa? Karena dia merelakan dirinya untuk berbuat dosa, sementara dia memberikan kita kesempatan untuk meraih pahala. Lewat apa? Lewat memaafkan.

Lalu bagaimana cara kita memperoleh ketiga syarat di atas? Caranya lewat ikrar: Maa fii qalbi ghairullah. Di kalbuku tidak ada yang lain selain Allah. Orang yang di hatinya hanya ada Allah, tiga syarat tersebut pasti akan bisa dicapai. Ikrar tersebut akan melahirkan ketenangan.

Selanjutnya, bagaimana agar di hati kita tidak ada yang lain selain Allah? Jawaban satu-satunya adalah: KEIKHLASAN. Ikhlas menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang segala-galanya dalam hidup kita, bukan selain Allah. Contoh, meskipun anda seorang istri yang memang harus patuh pada suami, jangan pernah menjadikan suami sebagai segala-galanya. Jangan melakukan apapun demi suami. Begitu pula sebaliknya suami terhadap istri. Jadikanlah Allah sebagai segala-galanya melebihi pasangan. Sehingga, ketika pasangan nanti meninggalkan Anda karena wafat atau punya cabang di tempat lain misalnya, itu tidak akan menjadi masalah buat Anda. Sama sekali bukan masalah.

Kemudian cara apa yang harus kita tempuh agar kita bisa ikhlas menjadikan Allah segala-galanya? Kuncinya adalah MAU MELANGKAH. Ikhlas itu ada dua macam: ikhlas dalam amal dan ikhlas dalam peristiwa. Kehidupan kita tidak pernah terlepas dari peristiwa dan amal. Dalam peristiwa sakit misalnya, ada amalan berupa sabar. Dan kita beramal karena ada peristiwa yang mendahuluinya.

Wujud ikhlas dalam peristiwa adalah menyadari bahwa setiap peristiwa terjadi atas izin Allah, meyakini bahwa apapun yang Allah izinkan untuk terjadi pasti ada kebaikan di belakangnya, serta mau menerimanya dengan hati yang lapang, dan terakhir, menjadikan apapun yang terjadi sebagai peristiwa menjadi amal. Selalu yakini: Allah pasti punya rencana yang baik untuk saya. Gagal, musibah, nikmat, pasti ada amalan di belakangnya yang bisa kita lakukan. Sehingga orang yang ikhlas akan lebih fokus kepada amal yang harus dilakukan atas peristiwa yang sudah terjadi.

Apapun takdir peristiwa kita, adalah jawaban atas keinginan kita untuk menjadi orang baik. Dan Allah pasti tahu, kita memang menginginkan untuk menjadi orang baik dengan cara mengirimkan untuk kita suatu peristiwa. Peristiwa yang mungkin kita anggap sebagai musibah, terasa berat, dan menyakitkan. Kita jadi bisa untuk lebih bersabar. Sabar itu menjadi lebih bernilai kalau ada sesuatu yang mendahului yang disebut musibah. Sabar tidak akan terbentuk tanpa ada musibah.


Wujud ikhlas dalam amal adalah menyadari bahwa kita bisa beramal karena rahmat dari Allah, tiada yang diharapkan dari amal baik selain hanya mengharap rahmat dari Allah belaka, serta berusaha melakukan amalan yang paling Allah suka dengan cara yang paling Dia suka. Apapun yang kita lakukan,  berawal dari rahmat Allah, dan berakhir dengan rahmat Allah juga. Sehingga, setelah menyadari itu, kita tidak akan pernah putus melakukan amal.

Untuk melangkah, kita harus PUNYA TENAGA. Apa tenaganya? Keyakinan. Keyakinan akan menjadi kekuatan bagi ruh.

Hidup ini adalah kumpulan peristiwa-peristiwa, dan ada satu peristiwa yang akan mengakhiri hidup kita: SAKARATUL MAUT. Dan apa amalan terbaik di sisi Allah saat menghadapi peristiwa Sakaratul Maut yang merupakan peristiwa berat yang harus kita hadapi dan pasti kita lalui? Yaitu bisa mengucapkan LAA ILLA HA ILALLAH. Tidak ada Tuhan Selain Allah. Hanya Allah yang ada di hatiku.

source: kampusiana.net

Disarikan dari: Kajian Tafsir Masjid Nurul Ashri
Oleh Ust. Syatori Aburrauf
Senin, 14 November 2016

Sabtu, 12 November 2016

Elegi Hari Ini

Terkadang sisi hatimu yang jahat memaksamu mendoakan kehancuran yang serupa, bahkan lebih parah, untuk orang yang telah berhasil menghancurkanmu. Namun sisi hatimu yang baik tak akan pernah melakukan itu. Ia percaya Si Pemilik Kekuatan Besar lah yang akan berbuat adil tanpa kamu harus melihat orang lain sama sakitnya sepertimu, atau lebih sakit dari dirimu. 

Lalu semua itu hanya soal waktu. Kesabaran yang harus dijalani, mungkin sebentar lagi, atau mungkin baru akan berakhir satu detik sebelum kematianmu terjadi. Dan kematianmu sendiri, kapan dia datang? Empat puluh kali sehari, seorang malaikat maut selalu memandangimu. Saat kau tertawa terbahak-bahak, dia mengasihanimu. Saat kau menangis tersedu-sedu tanpa alasan yang jelas, dia mungkin menertawakanmu. Hidup itu senda gurau bukan? Mengapa harus menangisi senda gurau?

Tertatih. Tertatih sekali caramu menuju tempatmu yang seharusnya. Sering, aku merasa kasihan kepadamu. Aku selalu mendoakanmu agar jalanmu selalu mudah. Tapi baru saja aku diberitahu, bahwa jalan mudah itu bukan jalanmu. Jalan mudah adalah jalan milik orang-orang cengeng dan pengecut yang suka memaksa dan menyakiti orang lain. Jalanmu adalah jalan yang lurus. Jalan yang tidak selalu ada kemudahan saat kau memutuskan untuk menempuhnya. Jalan yang kau sendiri sebenarnya tidak tahu di mana harus menemukannya. Dan hanya sedikit orang-orang yang diberi petunjuk untuk berjalan di atas jalan lurus itu. Kau kah salah satunya? Atau mungkin, justru kau tengah berada di jalan yang tampak lurus padahal buntu?

Ah iya, lalu hatimu. Hatimu lagi. Kerja keras sekali ya, untuk membuatnya tetap berada di tempatnya? Sedetik lalu dia adalah hati suci yang merapal kitab suci dan doa-doa yang indah. Sedetik kemudian, dia menjadi hati yang mendewakan nafsu dan kesenangan tanpa ada setitikpun kesucian yang terpancar darinya. Siapa yang sebenarnya mampu menjaganya agar dia tak pergi dari tempat yang seharusnya? Ternyata bukan kau. Kau sama sekali tak mampu menjaga hatimu sendiri.
Kau sama sekali tak mampu.

Ingatlah, tugasmu hanya terus berjalan di atas jalan lurus, jalan yang benar.
Jalan yang akan mempertemukanmu dengan yang kau rindukan setengah mati. 
Kerinduan yang sebegini rasanya.
Ternyata rindu itu penuh tangis.

Mencintai sebegitu dalam. Ah belum. Kau belum mencintai sebegitu dalam. Kau masih jelalatan sana sini. Kau masih gampang teralihkan. Mencintai tidak sebercanda itu. Ternyata, kau sama sekali belum mampu mencintai dengan baik, apalagi mencintai sampai begitu dalam.

Jika kau ingin mencintai begitu dalam, kuatkan dulu hatimu. Karena ketika kau memutuskan untuk mencintai sebegitu dalam, serentetan peluru-peluru tajam siap untuk menembus hatimu. Hatimu harus siap remuk lalu pulih lagi, hancur lalu kembali utuh lagi. Begitu seterusnya tanpa pernah berhenti. Sampai memang benar-benar waktunya dia untuk berhenti.

Kapan waktunya berhenti?

Tentu saja, saat kau akhirnya berhasil menemui Kekasihmu yang selama ini kau rindukan sebegitu hebatnya.

Selamat melanjutkan perjalanan. Aku tidak akan berdoa agar perjalananmu menyenangkan. Karena kau tidak butuh perjalanan yang menyenangkan. Kau lebih butuh perjalanan yang benar-benar bisa mempertemukanmu dengan Kekasihmu. Dan aku sangat yakin, itu tidak akan selalu menyenangkan.

Rabu, 09 November 2016

MALALEA: Cerita Tentang Ayah dan Kakek (1)


Pagi sedingin es masih menyisakan kabut berjarak pandang hanya lima meter saja. Begitu dingin sampai-sampai tak ada satupun makhluk hidup berdarah panas yang terlihat berada di luar rumah masing-masing. Semua bersembunyi, tak menampakkan diri pada pagi yang sepertinya juga enggan muncul.  Orang-orang menyebutnya musim bediding. Musim di mana pagi terlalu dingin, dan siang terlalu panas di negeri tropis ini.

Hans terbangun, mengerjapkan matanya sekali dua kali. Dia memaksa punggungnya agar tidak menyentuh kasur lagi. Dia paksa punggungnya tegak berdiri walaupun pantat dan kakinya tak mau diajak beranjak dari hangatnya pelukan kasur. Dia hanya menengokkan kepalanya pada Ron yang masih tertidur pulas seperti seorang bayi besar yang kelelahan menangis karena semalam tak mendapatkan susu dari ibunya.

“Ron, banguun!!!”

Usai berkata seperti itu, punggung Hans menyerah, tak mau dipaksa-paksa menjauh dari kenyamanan yang ditawarkan benda empuk yang sekarang memanjakan tulang belakangnya. Hans kembali berbaring dan menarik selimut. Malas kemana-mana. 

Di luar, terdengar pintu berderak di kamar samping. Itu pasti nenek. Hans sudah sangat hafal rutinitas pagi di rumahnya. Nenek selalu jadi orang pertama yang bangun di rumah. Tentu saja, bangun dalam arti sebenarnya. Membuka mata pertama, juga menjadi orang pertama yang memulai aktivitas. Setelah ini, pasti akan ada suara ketukan.

Tok tok tok!

“Arnora, bangunlah. Matahari sudah hampir muncul,” Itu nenek yang membangunkan Bibi Arnora. Setelah nenek berhasil membangunkan dan membuat Bibi Arnora keluar kamar, itu artinya giliran kamar ini yang diketuk.

Tok tok tok!

Hans masih tak sanggup melempar selimutnya. Ron masih belum bisa membuka matanya.

Tok tok tok!

Ron sudah berhasil membuat kelopak mata atas dan bawah miliknya berpisah. Dia menguap lebar. Tubuhnya yang tadi miring ke kanan diubah posisinya menjadi miring ke kiri.

Tok tok tok!

Ketukan ke tiga. Status sudah meningkat menjadi siaga. Hans dan Ron  tak peduli. Aih, ini kan hari Minggu, harinya orang liburan dan bangun siang, pikir Hans dan Ron.

Tok tok tok!

Status siaga satu. Kali ini nenek mulai bersuara, “Ayolah Nak, bangun. Bangun pagi kalau tidak mau kehilangan banyak hal. Kalah kalian nanti dengan matahari.”

Duo kembar itu tetap bebal. Tak bergerak sedikitpun dari kasur. Tentu saja, ini sudah bahaya. Nenek pasti masuk kamar lalu akan melakukan cara apapun demi membangunkan cucu-cucu lelakinya. Kadang nenek menarik selimut mereka, memercikkan air es ke muka mereka, sengaja membuat bising di kamar mereka, atau pernah juga menyiram dua cucu kesayangannya dengan seember air! Akibatnya seluruh kasur, bantal, dan guling ikut-ikutan basah kuyup dan membuat Hans dan Ron tak tidur di atas kasur selama seminggu. Nenek memang sangat sewot kalau masalah bangun pagi. Bangun pagi sangat bermanfaat bagi jasmani sekaligus rohani, kata nenek setiap Ron dan Hans bertanya tentang alasan mengapa harus bangun pagi.  

Namun, tidak untuk kali ini. Nenek memang masuk ke kamar. Tapi tidak biasanya dia mengusap-usap kepala Ron dan Hans dengan lembut. Kata-kata yang tak biasa pun meluncur tertahan dari mulutnya, “Kalau saja kakek kalian masih hidup, betapa sedihnya ketika melihat dua cucu gantengnya susah sekali bangun pagi.”

Dari nada bicaranya, jelas sudah, nenek merindukan kakek.
***

Minggu, 06 November 2016

PENGINAPAN RECOMMENDED DI KARIMUNJAWA?

Siapa sih yang nggak tahu Karimunjawa? Yes, ini adalah sebuah nama gugusan kepulauan di utara Pulau Jawa.  KepulauanKarimunjawa terdiri atas 40 pulau besar dan pulau kecil yang terletak di utara Pulau Jawa dengan jarak sekitar 100 km dari ibukota Provinsi Jawa Tengah, yaitu Semarang dan 90 km sebelah barat laut ibukota kabupaten Jepara. Dari 40 pulau itu, terdapat 2 pulau utama yang sering dijadikan tujuan bermalam para turis, yaitu Pulau Kemujan dan Pulau Karimunjawa. Jadi, dua pulau ini adalah dua pulau yang memiliki luasan paling besar dibandingkan pulau-pulau lain dan bisa dibilang adalah pusat permukiman di Kepulauan Karimunjawa.

Pulau Kemujan terletak di sisi utara dan Pulau Karimunjawa terletak di sisi selatan. Meskipun terletak berdekatan dan hanya dipisahkan oleh jembatan tak lebih dari 100 meter, kedua pulau ini memiliki banyak hal berbeda. Pulau Kemujan didominasi oleh penduduk dari Suku Bugis dan Madura, sedangkan Pulau Karimunjawa didominasi oleh penduduk dari Suku Jawa. Pulau Kemujan dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi mangrove yang tak boleh ada aktivitas lain di dalam hutan mangrove, sedangkan Pulau Karimunjawa lebih dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya. Pulau Kemujan merupakan jalan masuk akses utama transportasi udara (pesawat lewat bandara), sedangkan Pulau Karimunjawa merupakan jalur masuk utama transportasi laut (kapal lewat pelabuhan) Tapi, kedua-keduanya memiliki kesamaan. Yaitu, memiliki pilihan penginapan yang tak kalah menarik satu sama lain.

Bedanya, penginapan di Pulau Kemujan terkesan lebih eksklusif dan tenang dengan arsitektur bangunan yang juga artistik dan nyaman. Kalau yang berduit banyak dan butuh ketenangan yang menenteramkan sih, lebih suka menginap di Pulau Kemujan. Sementara penginapan di Pulau Karimunjawa, lebih ramai. Mungkin karena merupakan pusat pemerintahan kecamatan juga. Bagi turis yang ingin menghemat sedikit biaya penginapan, lebih baik booking tempat di Pulau Karimunjawa.

Lalu penginapan mana sih di Pulau Karimunjawa yang menurut saya recommended?

Okay. Please welcome to: FIRZAH HOMESTAY!
Salah Satu Sudut Homestay Firzah


Apa aja sih yang bikin betah tinggal di Firzah Homestay? Mari simak uraian di bawah ini:

1. Kamarnya ada banyak.
Jumlah kamar semuanya ada lebih dari 10 kamar. Ada kamar yang berisi 2 orang, 3 orang, sampai 4 orang. Tidak hanya itu saja, kamarnya menghadap ke luar sehingga bisa menghirup udara segar pagi hari sampai malam hari. Kalau mau jemur baju juga ada lahan buat jemur baju (cat: ini penting buat saya yangsekarang kalau ke mana-mana lebih suka bawa baju sedikit dan prefer nyuci-jemur-kering-pakai kalau memungkinkan). Kamar mandinya? Kamar mandinya kamar mandi dalam.

2. Ada tempat buat ngobrol enak.
Firzah cocok dipakai untuk kuliah lapangan atau field trip lapangan. Mengapa? Karena homestay ini memiliki tempat yang luas untuk diskusi, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Di dalam rumah, disediakan ruangan cukup luas yang kira-kira bisa menampung 20 – 30 orang di dalamnya. Sementara, di luar, tersedia bangku-bangku yang dipasangi payung di atasnya. Tempat yang nyaman untuk makan, berbagi pikiran, dan berbagi kebahagiaan. Oh iya, kadang jadi tempat nonton bersama. Nonton bola atau nonton badminton di layar kaca yang disediakan di luar.

3. Ssst, Ada WiFinya!
Tampaknya sekarang ini, kemudahan akses terhadap informasi via internet adalah kebutuhan yang sulit dielakkan, meskipun kita sedang ada di pulau kecil. Untungnya, Karimunjawa memiliki fasilitas lengkap berupa listrik 24 jam dan jaringan telekomunikasi yang cukup memadai untuk sebuah ukuran pulau kecil. Dan ketersediaan WiFi seakan surga bagi orang-orang ysng terbiasa hidup eksis.

4. Dekat Dengan Alun-Alun, Pelabuhan, dan Tempat Penting Lainnya
Tidak hanya wisata panorama yang menarik, Pulau Karimunjawa juga menyediakan kebahagiaan bagi mereka yang ingin menikmati wisata kuliner malam di alun-alun kecamatan. Jarak Firzah dengan alun-alun hanyalah terpisah oleh dua buah perempatan. Selain itu lebih dekat juga dengan pelabuhan. Jarak pelabuhan - penginapan tidak lebih dari satu kilometer. Jadi para pengunjung yang masih punya keinginan kuat untuk jalan serta ingin menghemat biaya carter mobil yang harganya cukup tinggi di sana, mending jalan! Badan sehat, penginapan pun ku dapat!

Jadi, di mana sih letak Firzah Homestay ini? Tenang saja, lokasinya sudah tercantum di google map kok. Lalu budgetnya berapa menginap di sini? Kalau lebih memilih kamar dengan fasilitas AC, tentu saja lumayan mahal bagi kantong mahasiswa. Kisaran 250ribu sampai 400ribu rupiah per kamar per malam (tergantung jumlah bed). Tapi, kalau sudah sangat merasa cukup dengan fasilitas kipas angin, tentu saja harganya lebih miring, sekitar 100ribuan sampai 200ribuan per kamar per malam.

Overall, saya sih merasa nyaman selama menginap di Firzah Homestay. Kalau kamu?
Oh iya bisa juga lho cari penginapan lain lewat SINI

Sabtu, 05 November 2016

MALALEA: Tentang Masa Lalu (2)

           

           Hans tidak bisa memejamkan matanya malam ini. Pikirannya masih tertambat pada obrolan tadi pagi bersama nenek. Cerita yang masih belum usai gara-gara terpotong oleh waktu sekolah Si Kembar dan waktu bekerja Nenek. Kekuasaan. Hawa nafsu. Kata-kata itu berkelebat di kepalanya. Apakah hanya dengan dua hal tesebut, apa yang sudah diusahakan selama berabad-abad  tiba-tiba menjadi hancur? Tak adakah ingatan tentang hal baik yang terjadi sebelum itu untuk mempersatukan yang telah tercerai berai?
            “Hans, kau bisa membayangkan bagaimana masa lalu itu?” Ron ternyata juga belum tidur. Dia tidak bisa tidur. Dia tahu Hans sedang gelisah di tempat tidurnya dan merasakan hal yang sama dengannya. Dipindahkan posisi tubuhnya dari berbaring menjadi duduk di tepian ranjang. “Maksudku, masa lalu sebelum kita  hidup terpisah dengan manusia biasa,” Ron memperjelas pertanyaannya.
            “Aku juga tidak tahu, Ron. Mungkin saja nenek tahu. Besok kita tanyakan pada nenek”.
            “Aku membayangkan tentang negeri yang indah bersama para manusia biasa. Bukankah akan sangat menyenangkan jika kita saling mengenal satu sama lain? Kita bisa melakukan lebih banyak hal daripada sekarang ini tentunya,” imajinasi Ron menari-nari. Imajinasi tentang indahnya negeri yang penduduknya saling berbagi dan menghargai. Tentang pulau-pulau – yang  kata guru-guru di kelas – tersebar begitu banyak di permukaan bumi, tak terhitung lagi.
            Ron bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju jendela kamar dari kayu mahoni berpelitur keemasan yang ditutupi oleh tirai bermotif segitiga-lingkaran-kotak tak beraturan. Sreeek! Dia menyibak tirai penutup jendela. Cklik! Sekarang giliran kancing jendela dibuka. Ron membuka daun jendela kamar lebar-lebar.
            “Whoa, indah sekali Hans! Hans, kemarilah!” Ron berseru kepada Hans tanpa mengalihkan pandangannya dari luar sana. Hans penasaran. Dia melompat dari tempat tidurnya dan menghampiri Ron.
            “Whoaaa!” kali ini giliran mulut Hans yang menganga lebar. Bintang jatuh! Bintang jatuh nampak berseliweran menghujani atmosfer bumi. Tak hanya satu dua seperti malam-malam biasanya. Ada puluhan bintang jatuh yang disiramkan ke bumi!
            “Ini menakjubkan! Ini sungguh-sungguh menakjubkan! Baru sekali ini aku melihat yang seperti ini! Ini menakjubkan! Whoaaa!!!” Ron berteriak-teriak kegirangan.
            “Ssst, diamlah Ron! Kau bisa membangunkan penduduk sekampung dengan suara kegiranganmu itu!” Hans memarahi Ron. Lebih tepatnya, mengingatkan Ron agar mengontrol suaranya.
            “Ups. Maafkan aku, Hans. Aku hanya terlalu bersemangat,” Ron nyengir. Sadar bahwa dia sudah terlalu ribut.
            “Kata orang-orang, saat melihat bintang jatuh, sebaiknya kita memohon suatu permintaan. Ayo, kita meminta banyak hal! Bintang jatuhnya kan sangat banyak,” Ron mengajak. Hans protes mendengar usul Ron, “Hei, itu kan hanya mitos!”
            “Tapi tak ada salahnya kan, kalau kita berdoa meminta sesuatu?”
            “Baiklah, baiklah..., mari kita berdoa memohon sesuatu pada Tuhan. Berdoa, mulai!” Dua manusia mini kembar itu sejenak menundukkan kepala. Suasana mendadak hening. Khusyuk sekali keduanya merapalkan doa.
            “Hei, Ron.”
            “Iya, Hans. Ada apa?”
            “Kau berdoa apa?”
            “Aku? Aku hanya berdoa agar bisa kembali ke masa lalu. Melihat apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Masa di mana manusia mini  dan manusia biasa terpecah belah. Mungkin saja kita bisa mencegahnya, kan?”
            “Bisakah? Bagaimana kalau tidak bisa?” Hans ragu.
            “Di dunia ini, berbagai kemungkinan bisa terjadi. Bahkan, walaupun kemungkinan itu tak terbayangkan sebelumnya. Tak ada salahnya mencoba, kan?”
            “Ya, baiklah. Semoga saja begitu. Sudah, ayo kita tidur!” Hans lebih dulu melompat ke atas kasur. Ron masih terpaku di tepian jendela. Sisa-sisa hujan meteor masih nampak di langit malam Pulau Malalea. Kerlip bintang-bintang semakin jelas terlihat ketika tak ada lagi meteor yang bergesekan dengan atmosfer bumi. Satu planet terlihat bercahaya amat terang, tanpa kerlipan, mungkin itu Planet Jupiter, mungkin juga bukan. Bermacam-macam rasi bintang semakin nampak menakjubkan di atas sana. Membentuk kesatuan galaksi yang sempurna yang kelihatan berkabut dari sini, Galaksi Bimasakti.
            Ron termenung. Betapa luasnya alam raya ini. Betapa banyak hal yang tak bisa terjangkau. Baik terjangkau secara fisik, maupun gaib. Ia tak tahu menahu tentang kehidupan terestrial seperti apa yang ada di luar bumi. Kehidupan yang terjadi di bumi sendiri pun dia tak tahu menahu. Ron hanya tahu sedikit kehidupan di pulau kelahirannya ini, Pulau Malalea. Pulau yang menjadi saksi tumbuh kembangnya sejak berada di dalam kandungan sampai sekarang ini.
        Ron termenung semakin dalam. Apakah di kehidupan yang maha luas dan maha mencengangkan ini, dia akan menemukan jawaban atas pertanyaan yang berkelebat sedari tadi di kepalanya? Hawa nafsu? Kekuasaan? Sebegitu kuatkah pengaruh mereka terhadap kelangsungan hidup makhluk hidup yang pada akhirnya harus mengorbankan hubungan persaudaraan yang sudah terbina dengan baik berabad-abad lamanya? 
              Hans sudah mendengkur di atas dipan. Ron masih saja gelisah. Dia mulai terusik dengan pertanyaan yang tadi meluncur dari mulut Hans. Bisakah? Ya, bisakah menyingkap tabir masa lalu yang menyebabkan para Suku Manusia Mini harus mengisolasi diri di dalam pulau yang jauh dari peradaban ini? Apakah alam semesta dengan usianya yang sudah jutaan, milliaran, bahkan trilyunan tahun ini punya petunjuk tentang masa lalu? Tentang masa kelam yang menyebabkan mereka terasing dan terbuang. Lalu jika ada, bisakah kembali ke masa lalu? Bisakah mengubah apa yang sudah terjadi dan menggantinya dengan hal lain yang lebih baik untuk suku ini? 
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.