Selasa, 18 Oktober 2016

Seruni


Seruni menyibak gerimis di hadapannya
Seruni berkata, “Allah, gerimis ini meluruhkan kesedihanku”
Seruni menapaki tanah-tanah basah yang berwarna kemerahan
Seruni berbicara, “Ah inilah aku. Bukan tanah basah, tapi tanah kering seperti tembikar”
Seruni mendongak ke atas, memandang awan yang kelabu di bawahnya, namun putih di atasnya
Seruni bertanya, “Allah, seperti itukah hatiku? Gelap di permukaannya, namun ada cahaya putih di dalamnya?”
Seruni terus berjalan, melewati sebuah sabana membentang, namun suram.
Seruni meminta, “Allah, bolehkah aku meminta kelapangan  yang terang untuk hatiku?”
Seruni tiba-tiba terdiam.
Seruni  menemukan sebuah danau berair bening, merefleksikan awan-awan yang berarak, langit, dan menampung gerimis yang menetes-netes
Seruni kembali meminta, “Allah, aku ingin hati yang baru. Yang bening. Yang lapang. Yang berdamai dengan masa lalu.”
Seruni tiba-tiba kehilangan gerimis.
Seruni merasakan hujan.
Seruni menangis.
Seruni berseru lantang, “Janji-Mu adalah benar! Engkau lah yang benar! Aku salah! Aku yang salah! Aku... Maafkan aku...”
Seruni sesenggukan.
Seruni tersungkur.
Seruni tak ingin apa-apa lagi.
Seruni hanya ingin Tuhan.
Seruni tak akan berharap pada siapapun lagi.
Seruni hanya mau Tuhan.
Iya. Dia. Hanya Dia.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.