Selasa, 04 Oktober 2016

Sebuah Bacaan

Dari sekian banyak waktu yang selama ini saya habiskan di kamar, ada satu sudut yang terlewat. Satu sudut yang terlewat selama beberapa tahun, dan baru saya perhatikan kembali hari ini. Sudut manakah? Sudut pintu meja belajar.

Ada sesuatu yang menarik di pintu meja belajar saya. Sesuatu yang baru saya sadari masih ada di sana sejak delapan tahun lalu. Sesuatu yang tidak pernah berpindah dan bersarang di situ, yang saya acuhkan selama itu, dan baru sekarang saya sadari benda itu masih ada di situ. Artinya, benda itu sudah ada di situ semenjak pertama kali saya masuk kuliah, semenjak kamar yang saya tempati adalah kamar lama sebelum kamar saya yang ini selesai dibangun lagi pasca gempa. Dan dari delapan tahun itu ada beberapa tahun kamar ini sudah pernah saya tinggalkan. Tapi, tidak ada yang berubah dari posisi benda itu. Setia sekali dia masih ada situ. Padahal, ada banyak hal yang berubah dari kamar saya.

Dua benda. Pertama, atribut OSPEK saya, yang waktu itu penyelesaiannya memaksa saya lembur bersama sepupu saya yang kebetulan juga satu jurusan dengan saya. Sebuah nama dada bergambar globe dengan nama kelompok limestone, nama lain dari batu gamping. Kedua, adalah selembar tulisan yang tercetak di atas kertas HVS warna biru. Selembar kertas yang dibagi-bagi ketika pengenalan UKM oleh Jamaah Mushola Geografi. Waktu itu saya baca sekali, kemudian karena sayang dibuang, saya tempelkan di pintu meja belajar saya. Cuma ditempel setelah dibaca sekali itu. Selanjutnya, selembar kertas itu hanya jadi pajangan tanpa saya pernah memperhatikan lagi.

Hari ini, saya membacanya lagi. Dengan kondisi hati yang jauh berbeda dari delapan tahun lalu, dengan banyak hal yang sudah saya lalui selama itu, ternyata apa yang saya tangkap dari tulisan itu jadi berbeda ya? Makna yang tertangkap jauh lebih dalam daripada ketika saya membacanya delapan tahun lalu. Jadi benar apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Maka terus menulislah. Tulislah hal yang bermanfaat. Kelak jika ada kebaikan yang didapat dari tulisan tersebut, semoga dapat menjadi amal jariyah untuk menolong kita di hadapan Allah (@gisthigandari)

Oh ya, berikut saya salin ulang tulisan yang tertempel di pintu meja belajar saya. Semoga bermanfaat!

Untuk Saudara/i ku di bumi Allah, 
Semoga kita tidak tertipu oleh kemuliaan duniawi. Karena, kemuliaan itu sesungguhnya hanya datang dari Allah SWT. Kemuliaan, tidak datang dari makhluk. Kemuliaan, tidak pernah datang dair harta benda. Kemuliaan, tidak muncul dari banyaknya ilmu. Kemuliaan, juga tidak hadir dari profesi, jabatan dan kedudukan, bagaimanapun tingginya. Kemuliaan, penghormatan, penerimaan terhadap seseorang, hanya akan ada jika sesorang mendapatkan izzah (kemuliaan) dari Allah SWT. Izzah itu seluruhnya milik Allah (QS Yunus:65). 
Hanya itu. Dengarkanlah cerita yang diungkapkan Ibnul Jauzi rahimahullah. “Aku telah melihat ada orang yang menghabisi usianya untuk ilmu hingga ia tua renta. Tapi ia tak mempunyai kedudukan mulia di hati manusia. Ia tidak dikelilingi orang, padahal ilmunya melimpah. Aku juga melihat orang yang mendekatkan diri kepada Allah dan melewati masa mudanya dalam kebaikan, sedangkan ia tidak memiliki ilmu sebanyak orang tadi, namun Allah telah meninggikan kedudukan dirinya dalam hati orang banyak. Ia dikenang oleh banyak orang. Orang-orang bahkan menyebut kebaikannya lebih dari kebaikan yang telah ia lakukan”. Apa artinya? Kemuliaan Al Khaliq selalu identik dengan kemuliaan makhluknya. Kecintaan Al Khaliq, selalu memunculkan kecintaan makhluknya. Kemuliaan dunia, sering membuat kita lalai. Kita, bisa menjadi sangat senang dan bangga dengan atribut kemuliaan dan kehormatan di sini. Kita, bisa melupakan apa saja demi mengejar kemuliaan dan kehormatan itu.
Saudara/i ku,
Semoga kita mendapat kemuliaan dari Allah SWT. Dahulu, Umar bin Khattab rahimahullah mengatakan, “Dahulu kami adalah orang-orang yang terhina. Lalu Allah meninggikan kemuliaan bagi kami dengan Islam. Demi Allah, andai saja kami mencintai kemuliaan selain dari Islam, pasti Allah akan membuat kami menjadi terhina lagi.” Umar ingin menanamkan keyakinan pada kita, bahwa menjadi mulia di hadapan Allah SWT adalah kunci kekuatan, semangat, sikap optimis dan menjadi syarat kemenangan. Wajarlah jika seorang Rabiah bin Ka’ab Al Islami, pemuda sahabat dan termasuk di antara kalangan orang Islam fakir miskin, selalu menggantungkan cita-citanya yang amat tinggi. Dikatakan oleh Rasulullah SAW, “Mintalah padaku apa yang engkau perlukan.” Ia segera mengatakan, “Aku ingin agar aku bisa menemanimu di surga.” Rabiah tidak sekedar meminta masuk surga, tapi meminta meneman Rasulullah di dalamnya. Cita-cita hidupnya itulah yang menjadikan generasi salafusshalih mempunyai kekuatan dan semangat yang besar. 
Saudara/iku,
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk tetap tegar menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan yang akan kita hadapi di sini. Semoga Allah selalu memancarkan kemuliaan-Nya dalam jiwa dan hati kita. Dari kemuliaan yang berasal dari Allah SWT sajalah, yang akan membuat kita merasakan semua kondisi dengan kenikmatan. Dan itu sajalah modal kita untuk bisa mengarungi perjalanan ini. Sebagaimana nasihat Hasan Al-Bashri kepada seseorang yang bertanya kepadanya, “Aku ingin menempuh perjalanan panjang, berilah aku bekal.” Hasan Al Bashri serta merta menjawabnya dengan sangat singkat dan tegas,”Wahai saudaraku, tinggikan dan muliakan saja perintah Allah, di mana saja. Maka Allah pasti akan memuliakanmu di manapun” (AZ Zuhd/163). 
Allahu Akbar. Sungguh Maha Besar Allah SWT. Mari lebih mendekat lagi pada Allah SWT. Ingat, selangkah kita mendekat pada Allah, maka Allah akan mendekati kita sepuluh langkah bahkan lebih. Sepuluh langkah kita mendekati Allah, maka Allah akan mendekati kita seratus langkah bahkan lebih dari itu. Allah akan berlari mendekati kita, jika kita mendekatinya dengan berjalan. Mari lebih mendekat lagi kepada Allah SWT. 
Saudara/i ku,
Mari tundukkan hati. Menyadari lebih dalam lagi, apa yang menjadi cita-cita hidup kita dan kepada siapa kita akan bergantung. Semoga kita bisa menjadi lebih mengerti bahwa mencari kemuliaan dari selain Allah, adalah sangat menipu. Kemuliaan yang datang bukan dari Allah SWT, bahkan menjadi jerat setan yang menyesatkan. “Barangsiapa yang memuliakan Allah,maka Allah akan memuliakannya. Barangsiapa yang menghinakan Allah, maka Allah akan menghinakannya,” begitu nasehat Hasan Al Bashri. 
Saudara/i ku,
Tenanglah di sini. Sebenarnya tak ada yang bisa menyempitkan dan membuat kita sedih di jalan ini. Berjalanlah terus, hadapi keadaan apapun di atasnya. Para salifushalih yang mendahului kita telah berpesan, “Jika engkau dirundung ketakutan, ditimpa kesedihan, diterpa gelisah, berdirilah saat itu juga untuk sholat. Ruhmu akan meninggi dan jiwamu akan tenang. Sesungguhnya sholat mampu menghilangkan kesedihan dengan izin Allah. Sholat mampu menghapus kegelisahan.” (La Tahzan, Syaikh Al-Qarni). Di situlah letak rahasia dan inti kemuliaan. Kemuliaan yang mula-mula terpancar dari dalam diri. Kemuliaan jiwa yang lalu menjadikannya tak pernah larut dalam ombak kehidupan. Kemuliaan yang menjadikan seseorang tangguh, pantang menyerah dalam berjuang. Kemuliaan yang menjadi sumber kemuliaan dalam hati semua makhluk. Dan, kemuliaan itu hanya datang dari Allah SWT saja. Dengarlah nasehat Ibnu Qayyim rahimahullah, tentang siapa orang yang paling merasakan kelezatan hidup? Katanya, mereka adalah orang-orang yang mendapatkan lezatnya berma’rifah kepada Allah, lalu mencintai, merindukan pertemuan dengan-Nya, sambil tetap cenderung untuk tetap dicintai dan diridhai-Nya.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.