Senin, 24 Oktober 2016

Saya Hanya Sedang Ketakutan

Lusa kemarin, civitas akademika UGM lumayan dicengangkan dengan munculnya poster berisi diskusi rutin himpunan mahasiswa gay di sebuah UKM ilmiah. Banyak yang salah sangka dan salah mengira, bahwa diskusi tersebut adalah diskusi yang mewadahi himpunan yang dimaksud. Dalam sehari itu, isu tersebut menjadi hot thread, setidaknya di dalam grup whatsapp yang berhubungan dengan dunia kampus yang saya ikuti. Banyak yang tak habis pikir, apa-apaan sih ini?

Saya sendiri baru tahu bahwa himpunan ini benar-benar eksis dan memang ada di kampus saya sejak tahun 2011. Dan ternyata tidak hanya di kampus saya. Saat saya mencoba googling mengenai himpunan mahasiswa gay (HIMAG), ada banyak penelusuran terkait yang ternyata juga mewabahi kampus-kampus besar lainnya di Indonesia. Saat itu saya speechless. Bagaimana zaman begitu berbeda selama dasawarsa terakhir ini.

Saya tiba-tiba ketakutan.

Gerakan-gerakan atau komunitas yang dulunya tidak ingin diketahui masyarakat luas, sekarang bisa dan berani show up di mana-mana. Bahkan itu semua terjadi tidak hanya di kota-kota besar seperti di ibukota Jakarta.

Sekarang, di Yogyakarta sendiri, saya merasakan atmosfer yang jauh berbeda dengan masa-masa sekolah sampai kuliah sarjana saya dulu. Hingga tiba-tiba kerinduan kepada Yogyakarta pada masa sebelum tahun 2012 melesak menuju ke segumpal organ di balik dada.  Saat belum banyak gedung-gedung tinggi bermunculan. Saat para mahasiswa hanya punya pilihan tempat lembur di selasar kampus dan bukan di kafe-kafe. Saat pusat perbelanjaan belum menjadi magnet nongkrong sekuat sekarang bagi mahasiswa dan pelajar yang ingin mengisi waktu luangnya. Saat belum ada aplikasi-aplikasi yang mempermudah terpuaskannya syahwat. Saat kehidupan belum menjadi sebebas sekarang.

But everything has changed. Perubahan itu memang sudah harus terjadi. Dan apa yang musti saya lakukan sekarang adalah memperkuat benteng pertahanan di dalam diri saya. Masih sebatas dalam diri saya. Ternyata, masih sebatas itu kemampuan saya.

Saya begitu ketakutan. Sampai saya benar-benar bertahan sampai sekarang untuk meninggalkan dunia sosmed. Entah sampai kapan. Mungkin sampai saya merasa benteng pertahanan saya sudah cukup kuat.

Saya benar-benar ketakutan. Apakah nantinya saya benar-benar bisa menjadi sesosok ibu yang mampu menggiring anak-anaknya untuk berjalan di atas jalan yang benar sementara sekarang saja saya masih selemah ini? Walaupun, saya tahu bahwa bukan kewenangan saya untuk itu. Bukan kewenangan saya untuk ‘memaksa’ anak-anak saya nantinya menjadi anak yang baik. Karena setiap jiwa ada dalam genggaman-Nya, dan hanya Dia yang berhak menentukan setiap jiwa itu akan tersesat atau mendapat petunjuk. Dan saya masih belum tahu, apakah amanat berupa anak nantinya memang akan sampai kepada saya.

Ah, tulisan saya tiba-tiba melantur. Saya terlalu ketakutan.

Quote of life
gambar dari sini

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.