Selasa, 11 Oktober 2016

Ngomongin Harta



“Lagi seru nonton tangkap tangan pungli di Instansi X ni. Sampai 1 M sehari. Gile...”

Whatsapp seorang teman petang ini. Selamat datang di hutan belantara. Di mana yang kuat bertahan hidup dia yang menang. Di mana dia yang cerdik, lamis, dan banyak akalnya kebanyakan berjaya di garda terdepan. Tidak semua memang, tapi “kebanyakan”. Dunia kerja sekarang, memang hutan belantara yang banyak jurangnya. Kalau nggak tahu jalan mana yang benar, bisa kecemplung jurang. Bahkan jalan yang sebenarnya salah pun bisa nampak sebagai jalan yang benar lagi lurus. Padahal aslinya, itu adalah jalan menuju jurang.

“Boleh nggak sih, habis kuliah S2 yang ini kelar, gue kuliah lagi?” ucapan seorang teman beberapa hari yang lalu. Dia memang sedang tugas belajar dari kantornya. Bagi beberapa orang, kuliah lagi adalah sarana penyelamatan diri atau sarana menjauhi kejamnya dunia kantor. Dia kemudian bercerita tentang semakin kejamnya acara sikut sana sikut sini di kantornya gara-gara adanya tunjangan kinerja. Yang banyak kerjaannya, semakin banyak tunjangan yang dia dapat.

Menjadi mahasiswa lagi setelah merasakan dunia kerja di luar sana yang seperti itu, rasanya memang lebih menyenangkan. Kembali menjadi idealis walaupun tidak seidealis dulu. Kadang kuliah lagi dianggap sebagai cara aman untuk menghindari segala keburukan yang ada di tempat kerja. Itu kalau kuliahnya bener. Kalau tidak, sama saja, pergi dari satu keburukan ke keburukan lainnya.

Ketika kita masih sekolah atau kuliah dan belum pernah merasakan dunia kerja yang “sesungguhnya”, kita tahu kalau segala bentuk pungli, suap, pembuatan nota palsu, dan semacamnya itu tidak boleh, itu termasuk dosa. Ya, ketika kita masih di bangku sekolah, kita sangat tahu dan sangat mampu berkata kalau itu sesuatu yang bahkan tidak dibenarkan oleh agama dan merugikan orang banyak. Namun, begitu dihadapkan pada realita di lapangan, hanya yang imannya kuat lah yang benar-benar mampu menjadi orang berhati bersih. Saya sendiri, termasuk orang yang imannya lemah dan sangat mungkin terjerat hal-hal semacam itu. Kadang, saya belum bisa mengalahkan bisikan jin qarin yang bersemayam di hati saya yang mengajak saya berbuat hal yang sebenarnya kurang berkah. Maka, itulah salah satu hal yang membuat saya membulatkan tekad untuk kuliah lagi dan keluar dari pekerjaan saya waktu itu.

Rizki yang didapat dari sesuatu yang tidak berkah, akan cepat pula habisnya dan pasti akan terasa kurang seberapa banyak pun uang yang didapat. I feel it. Seperti cerita seorang teman yang pernah mengerjakan suatu proyek. Dia seorang penganut Hindu yang taat, tapi dia paham tentang harta haram dan harta halal. Mana harta berkah dan mana yang tidak. Alkisah dari proyek yang dikerjakannya, ada sejumlah rizki yang dia sendiri tahu kalau rizki itu kurang berkah. Kemudian, dia menggunakan bagian tersebut sebagai modal buka usaha warung makan. Beberapa kali bangkrut. Katanya kemudian, “Aku ngerti kok sebabnya kenapa bangkrut. Duitku nggak berkah.”

Ada lagi teman yang lain. Dia pernah mengerjakan suatu proyek pembuatan video di sebuah kantor. Sebut saja kantor Y. Dia dan rekan-rekan setimnya mendapatkan bayaran beberapa puluh juta dari proyek pembuatan video tersebut. Beberapa lama kemudian setelah proyek itu usai, dia baru tahu kalau jumlah yang seharusnya diterima oleh timnya, sebenarnya lebih besar beberapa puluh juta lagi. Saat itu dia misuh-misuh, “**jigur! Duitnya buat bancakan!”. Ya, memang begitulah realita yang terjadi di lapangan. Sudah rahasia umum sebenarnya. Banyak hal dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa punya kepentingan, untuk mendapatkan untung. Untuk mendapatkan  apa yang dia inginkan.

Saya sendiri pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri kegigihan seorang cukong yang mengejar-ngejar mantan bos saya agar perusahaannya mendapatkan izin di sebuah pulau yang memang tidak mengizinkan adanya kegiatan pemanfaatan seperti apa yang dilakukan perusahaan tersebut selama ini. Saat itu, kami memang sedang ada kegiatan di Pulau X. Bayangkan saja, saat kami sedang bekerja di salah satu ruangan hotel, si cukong itu mengutus anak buahnya datang membawakan beragam macam makanan. Saat acara FGD pun dia dibantu anak buahnya dengan gigih berusaha memberi iming-iming. Bahkan sampai di bandara saat mantan bos saya mau kembali ke ibukota, dia kejar! Untungnya mantan bos saya yang terkenal galak itu sama sekali tidak tergiur iming-iming yang ditawarkan si cukong. Coba saja kalau gampang tergiur. Apa jadinya?

Yes, now money can speak everything. Sekarang, di zaman ketika seseorang yang memegang teguh agamanya sudah seperti sedang menggenggam bara api di tangannya, kita mudah sekali diperbudak dengan uang, Beruntung jika kita mampu dengan gigih mempertahankan iman kita. Beruntung, jika kita punya rekan yang bisa mengingatkan kita.

Beberapa bulan lalu, saat saya sedang mengerjakan sebuah pekerjaan dari sebuah instansi dan sudah mendekati deadline, teman saya yang juga bos saya mengingatkan, “Ayo mbak buruan diselesaikan. Inget lho, nanti dihisab.” Iya. Bukankah harta yang kita punyai ini akan dihisab? Bukankah nanti kita akan ditanyai: Harta kita, bagaimana cara kita memperolehnya dan untuk apa dihabiskan? Harta kita, bisa jadi penyelamat kita. Atau, bisa jadi dia yang nantinya akan menjerumuskan kita ke dalam api neraka.

Rizki itu, bukan seberapa besar jumlah yang didapat. Tapi seberapa berkah kah dia untuk kita.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.