Minggu, 16 Oktober 2016

Madarijus Salikin. Untuk Anda Yang Sedang Berusaha Menapaki Jalan Lurus.


Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan 


Ibnu Qayyim al Jauziyyah, adalah salah seorang murid Ibnu Taimiyyah dan merupakan salah satu guru dari Ibnu Katsir, mufassir yang karyanya menjadi rujukan para ulama tafsir sampai sekarang. Ibnu Qayyim mengabadikan buah pikirannya ke dalam berpuluh-puluh karya tulis yang sampai abad ini masih banyak dicari orang. Let's see, dia benar-benar bekerja untuk keabadian. Pun, walau beliau mati, karya tulisnya masih memiliki manfaat besar bagi manusia-manusia yang membutuhkan petunjuk di atas jalan yang benar. 

Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah). Awal mula saya menemukan buku ini, dari kepincutnya saya sama kata-kata mutiara dari beliau. Rasa kepincut yang saya tindak lanjuti dengan kepo. Kepo tentang siapa Ibnu Qayyim itu sebenarnya? Dan kekepoan saya itu pada akhirnya mempertemukan saya dengan Madarijus Salikin.

Kitab ini aslinya terdiri dari tiga jilid. Tiga jilid yang menjadi penjabaran dari ayat kelima Surat Al-Fatihah: Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Ayat yang menjadi inti dari Al-Fatihah. Hanya kepada Allah kita menyembah, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Satu ayat yang menghasilkan tiga jilid buku. Wow, itu luar biasa menurut saya.

Saya memang belum merampungkan tiga jilid itu. Saya menemukan sebuah file kitab ini yang sudah diringkas di sini. Baru jilid pertama yang saya lahap. Tapi saya sudah gatal ingin segera mengulasnya karena isinya yang.... bagi saya luar biasa.

Buku pertama berisi kandungan menyeluruh dari ayat kelima dari Ummul Kitab yang sudah disebutkan di atas. Tentang obat hati, hidayah, taubat, dan memahami Uluhiyah serta Rububiyahnya Allah SWT. Kitab ini berbicara tentang hal-hal apa saja yang bisa mendekatkan kita ke jalan hidayah, bagaimana memperoleh taufik dan rahmatnya, juga penjabaran atas hal-hal lain yang mampu mendekatkan diri kita pada Zat Yang Jiwa Kita Ada Dalam Genggaman-Nya. 

Manusia, ada yang diberi petunjuk. Ada pula yang dikunci mati hatinya, disesatkan oleh Yang Maha Kuasa tanpa dia sadar bahwa sebenarnya dia sedang berada dalam kesesatan. Pernah mengalaminya? Ya, saya pernah merasa sedang berjalan di atas jalan yang benar padahal yang saya lalui adalah jalan yang salah karena saya belum tahu ilmunya. Maka benar jika menuntut ilmu itu diwajibkan atas setiap muslim, agar amal yang dia lakukan tidak sia-sia, agar dia tidak tersesat karena sudah tahu ilmunya. Maka, sangat benar jika Nabi mengajarkan kita doa pagi: Allahumma inni as aluka 'ilman naafi'an, wa rizqan tayyiban, wa 'amalan mutaqabballan (Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima).

Jilid pertama buku ini banyak berbicara mengenai pentingnya taubat. Apa definisi taubat, mengapa kita harus taubat, seperti apa tingkatan-tingkatan taubat, bagaimana seharusnya cara taubat, seperti apa taubat yang diterima, seperti apa taubat yang tertolak, kendala-kendala taubat orang yang bertaubat, dan sebagainya. Yang ditekankan dari perkara taubat ini adalah: dia harus dilakukan terus-menerus sampai ajal sudah sampai di hadapan kita. Karena, begitu ruh sudah berpisah dari jasad, tak ada gunanya taubat dilakukan. Karena, setiap kita tak pernah tahu setiap harinya berapa banyak dosa yang sudah kita perbuat. Karena -- seperti apa yang pernah saya dengar dari Khalid Basalamah -- sedikit saja dosa yang kita lakukan, dia memiliki efek jera yang berlipat-lipat jika kita tak pernah bertaubat. Satu jam saja kita pernah berbuat maksiat misalnya, bisa jadi ia harus dibayar selama satu tahun bahkan lebih selama waktu kita di dunia dengan berbagai kesulitan dan permasalahan. Jika pun tidak dibayar di dunia, masih ada penebusan di akherat, Itu pun, bisa jadi rasanya berlipat kali lebih menyakitkan dibandingkan di dunia. Ini jika kita tak pernah bertaubat. Maka, seperti seharusnya kita berusaha untuk istiqomah memegang sesuatu yang kita yakini benar setelah mendapatkan petunjuk, istiqomah untuk bertaubat akan membantu kita di hadapan Allah, nanti.



Madarijus Salikin juga berusaha meluruskan kandungan buku Manazilus Sa'irin yang ditulis oleh Abu Isma'il. Buku yang cukup banyak dirujuk oleh para sufi. Ibnu Qayyim banyak mengkritik ajaran sufisme karena hanya mementingkan ruh tanpa melihat dhahirnya. Sementara menurutnya, urusan ruh dan urusan dhahir sudah semestinya sejalan dan seimbang.

Dalam buku ini, Ibnu Qayyim juga mengungkapkan nasihatnya agar bisa berpikir jernih untuk memetik buah pikiran:

Buah pikiran bisa dipetik dengan tiga cara: tidak mengumbar harapan, menyimak Al-Qur'an, dan meninggalkan lima perkara yang merusak hati: tidak banyak bergaul, tidak mengumbar angan-angan, tidak bergantung kepada selain Allah, mengurangi makan, dan menyedikitkan tidur.

Masih banyak nasihat penting Ibnu Qayyim yang memang seharusnya diketahui dan semoga bisa diamalkan. Karena ilmu tanpa amal adalah bagai pohon tanpa buah. Untuk saya dan Anda yang merasa masih tersesat, semoga dimudahkan menemukan dan berjalan di atas jalan-Nya yang lurus.

Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Ihdinash shiratal mustaqiim.
Hanya kepada-Mu, Allah, kami memohon. Dan hanya kepada-Mu, Allah, kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan menuju-Mu.




Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.