Minggu, 09 Oktober 2016

Dari Aa’ Gatot sampai Dimas Kanjeng

Hari ini, siapa orang Indonesia yang tidak tahu siapa Aa’ Gatot dan Dimas Kanjeng? Fenomena yang saya sendiri bingung mau mendefinisikannya sebagai fenomena lucu, unik, miris, atau apa. Kedua orang ini sama. Sama-sama menawarkan sesuatu yang dipandang sebagai solusi dengan agama sebagai tunggangannya. Tunggangan inilah, yang mampu menjadi magnet penarik ratusan atau bisa jadi ribuan jamaah sehingga mau menjadi pengikut dengan sukarela. Mereka menawarkan magnet spiritual, semacam karomah atau sejenisnya, yang membuat manusia pada umumnya tertakjub-takjub, ternganga-nganga. Dan ketakjuban itulah yang ujung-ujungnya menimbulkan rasa ingin tahu lebih dalam, lebih dekat, dan lebih intens. Prosesnya mirip seperti orang jatuh cinta. Dan logikanya, ketika seseorang itu sudah jatuh cinta terlalu dalam, susah lepasnya. Bisa jadi, itulah yang terjadi pada para pengikut Aa’ Gatot dan Dimas Kanjeng. Karena dilogika seperti apapun, bagi saya apa yang mereka ajarkan sangat sulit saya pahami dan saya ikuti. Mungkin, karena saya tidak jatuh cinta pada ajaran mereka.

Keduanya – Aa’ Gatot dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi – menawarkan konsep spiritual yang didapat dari kesenangan. Mereka memblurkan hakikat ajaran agama. Mencoba memahami kedua ajaran tersebut, sama sulitnya untuk saya ketika mencoba memahami teori flat earth karena saya sangat yakin bahwa bumi itu bulat (karena semua yang saya pelajari selama 8 tahun ini cukup membuktikan fakta kalau bumi itu berbentuk seperti bola).

Mengapa banyak orang percaya kepada apa yang mereka lakukan kemudian ajarkan? Ada beberapa faktor sebenarnya. Dan ini menurut pendapat saya:
Pertama. Keajaiban. Sudah sifatnya manusia, gampang gumunan dan terkagum-kagum pada hal yang tidak lazim dan tidak umum. Sesuatu yang membuat manusia bilang 'wow', bahkan jika itu tak masuk akal sekalipun, akan mendatangkan rasa kagum yang berlebihan. Kita lihat sejarah para nabi dan rasul. Nabi Isa mampu menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati. Nabi Musa tongkatnya bisa berubah menjadi ular dan mengalahkan ular jadi-jadian milik penyihir Fir'aun serta mampu membelah lautan. Nabi Sulaiman mampu berbicara dengan hewan dan mampu memerintah jin serta angin. Nabi Ibrahim tidak mati dibakar api. Semuanya ajaib. Dan itu semua adalah mukjizat. Mengapa Allah memberi mukjizat semacam itu? Karena memang sifat dasarnya manusia mudah percaya dengan hal-hal ajaib dan mengagumkan, sehingga Allah SWT mendatangkan keajaiban-keajaiban itu agar umat para nabi yang telah disebutkan tadi percaya dengan keberadaan Sang Maha Hebat lewat nabi mereka.

Zaman sekarang, orang-orang yang memiliki keajaiban di luar nalar, sering disebut memiliki karomah. Karomah secara etimologi memiliki arti sebagai penghormatan atau kemuliaan. Seseorang yang memiliki "yang ajaib-ajaib" ini, tentu saja memiliki pengikut. Jadi tidak heran sebenarnya, jika banyak sekali orang yang mempercayai "yang ajaib-ajaib" ini. Dimas Kanjeng misalnya, punya banyak santri karena kehebatannya itu. Bisa menggandakan uang dan mengeluarkan harta dari tangannya? Apa tidak hebat? Sayangnya, sekarang ini orang-orang yang dianggap memiliki "karomah" tidak bisa dipastikan memiliki hati ikhlas dan bersih.

Kedua. Jalan keluar. Apa yang ditawarkan dan diajarkan oleh Aa' Gatot dan Dimas Kanjeng adalah sesuatu yang dianggap mampu menyelesaikan masalah. Sedang penat, stress, depresi, dan mumet, padepokan milik Aa' Gatot menawarkan obatnya. Dengan dibalut apik dengan pemulihan ruhaniyah yang memakai ayat-ayat dari kitabullah sehingga membuat orang percaya kalau dia adalah orang alim, dia kemudian memasukkan unsur lain di dalamnya. Unsur kesenangan. Unsur kesenangan, bukan ketenangan. Kesenangan yang didapat dari ngefly tanpa disadari oleh para pengikutnya kalau mereka sebenarnya sedang ngefly. Kesenangan yang didapatkan dari pesta seks yang membuat mereka melayang-layang dan ketagihan sebagai syarat demi mendapatkan apa yang dislamurkan sebagai ketenangan. Padahal aslinya, itu semua adalah candu. 

Orang-orang normal tentu tahu, apa yang mereka lakukan adalah salah. Lalu bodohkah mereka? Bodohkah apa yang dilakukan oleh para pengikutnya ini? Saya mencoba melihatnya dari sudut pandang orang yang sedang stress, depresi, dan semacamnya dan mereka sedang ingin sembuh. Mereka merasa mendapatnya kesembuhan dari ajaran si Aa' ini. Jadi, salahkah mereka? Apa yang mereka lakukan sebenarnya sama halnya dengan seseorang yang sebenarnya sedang berbuat dosa, tapi tidak sadar sedang berbuat dosa, karena perbuatan mereka itu seakan-akan benar. (Dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk -- An-Naml 24)

Begitu pun dengan Dimas Kanjeng. Banyak orang bermasalah dengan apa yang dinamakan sebagai harta. Entah utang, entah penglarisan, entah selalu merasa kurang dengan harta yang mereka punya. Itu semua masalah. Dan dari pada kerja keras tak tentu hasilnya, adanya penawaran begitu mudahnya keluar dari masalah tadi, siapa yang tidak tergiur? Fenomena Dimas Kanjeng, mengingatkan saya pada sebuah cerita yang dinukil dari hadits tentang kiamat. Cerita tentang Dajjal.

Alkisah Dajjal nantinya bisa "menyelamatkan" orang-orang. Pada waktu itu, nanti, manusia-manusia sedang mengalami kesulitan hidup, masalah berkepanjangan. Kelaparan, kekeringan, dan sebagainya. Dajjal datang, mengeluarkan mereka dari masalah. Menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, menurunkan hujan, memberi harta yang tak habis-habis pada orang-orang. Karena hal inilah, banyak sekali orang yang menjadi pengikutnya. Karena dia dianggap sebagai penyelamat. Padahal, semua tahu siapa sebenarnya Dajjal itu.

Fenomena Dimas Kanjeng, memiliki kisah yang mirip seperti itu. Banyak orang menjadi pengikutnya karena dia mampu menawarkan kelimpahan dunia. Apa yang terjadi sekarang ini menjadi sebuah peringatan untuk diri saya sendiri. Tipu daya dunia itu benar-benar mengerikan. Semoga saya dan Anda diselamatkan darinya. Dari fitnah hidup, fitnah kematian, fitnah kubur, dan fitnah Dajjal.

Sebagai manusia awam, kita -- saya dan Anda -- bukan tidak mungkin bisa tertipu oleh hal yang abu-abu seperti cerita yang dibahas di atas. Kadang kita tidak tahu mana itu benar, mana itu salah. Beruntung jika kita termasuk orang yang diberi petunjuk. Jika tidak?

Siti, seorang sahabat SMA saya yang selalu saya tebengi sepeda jengkinya zaman dahulu kala, sering mengingatkan saya tentang masalah tauhid. Dia adalah sahabat saya yang memulai menjalani proses hijrah dari semasa kuliah. Seseorang yang sering mengingatkan saya ketika saya sedang salah atau bingung.

"Kamu kuatin dulu masalah tauhid. Itu pondasinya. Kalau itu sudah kuat, insyaa Allah yang lain bakal ringan," katanya beberapa bulan silam saat saya berkunjung ke rumahnya.

Tauhid. Meng-Esakan Allah. Kenal UluhiyahNya. Kenal RububiyahNya. Jika sudah kenal dengan Zat Yang Menciptakan kita dengan baik sampai ke hati, tidak semudah itu kita tertipu dengan dunia. Proses mengenal-Nya dengan baik, tentu saja tidak bisa instan. Saya pun, baru menyadari kalau selama ini saya belum mengenal-Nya dengan baik sehingga banyak hal abu-abu muncul dalam hidup saya, banyak tipuan dunia yang menghampiri saya, dan tentu saja saya sering tertipu olehnya. Tertipu oleh sesuatu yang sepertinya benar, tetapi sebenarnya adalah kesalahan.

Tauhid.  Hanya Dia sebaik-baik penolong. Dia sebaik-baik penyelamat. Dia yang memberi ketenangan hati. Hanya kepada-Nya nanti kita akan kembali. Hanya untuk-Nya kita hidup. Hanya untuk-Nya kita mati.


Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.