Senin, 03 Oktober 2016

#3 CHANGE! Hidayah

Hidayah, adalah petunjuk-petunjuk yang diberikan dari Zat Yang Jiwa Kita Ada Dalam Genggaman-Nya. Petunjuk untuk berada di atas jalan-Nya. Setiap orang memiliki jalan hidayah yang berbeda-beda. Setiap jiwa, yang memiliki kadar keimanan dan kadar kefasikannya masing-masing, benar-benar tidak bisa disamakan untuk urusan hidayah. Bagaimana cara saya mendapatkannya, tentu tidak sama dengan cara Anda mendapatkannya. Hidayah adalah mutlak hak Allah. Seberusaha apapun kita, jika Dia belum memberi, hidayah itu tak akan sampai kepada jiwa-jiwa yang berusaha itu. Karena Dia memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan menyesatkan orang yang Dia kehendaki. Tapi percayalah, apa yang Dia beri adalah sesuai dengan kadar usaha dan kadar kesanggupan hamba-hambaNya.

Gue udah kayak ceramah? Yah, anggap saja demikian. 

Hidayah yang saya rasakan muncul dalam kehidupan saya, tidak serta merta muncul begitu saja. Butuh proses panjang. Dia datang sedikit demi sedikit. Sentuhan awalnya adalah sentuhan-sentuhan kecil, yang pada akhirnya berkumpul menjadi satu dan berubah menjadi hentakan terakhir. I called it: point break, titik balik. Seperti yang telah saya ceritakan di postingan-postingan saya dahulu kala, bagi saya titik balik tidak hanya sekali datang, dia bisa berkali-kali dalam bentuk yang berbeda-beda. 

Lalu, hal-hal apa sajakah dalam hidup saya yang mendatangkan apa yang dinamakan hidayah untuk saya? Setelah saya renungkan dan saya pikirkan mendalam, lewat hal-hal inilah saya pada akhirnya merasakan apa yang dinamakan 'sentuhan hidayah':

1. Memperbaiki bacaan Al-Quran
Jangan anggap saya alim. Saya dulu masih suka makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut. Sekarangpun terkadang juga masih suka demikian. Saya punya Al-Quran juga jarang sekali dibaca. Hanya pas Ramadhan saja saya bisa membacanya sering-sering. Di luar itu, bisa dihitung dengan mudah berapa kali saya membacanya dalam setahun.

Hingga, saat Ramadhan di tahun 2013 Masehi, seorang teman mengajak saya ikut kelas semacam kelas MTQ di Masjid Syuhada' setiap sehabis subuh. Saya iyain, karena waktu itu saya sedang selo nunggu wisuda. Sebelum kelas berlangsung, ada penempatan kelas. Dan saya masih masuk ke dalam taraf tajwid. Saya masih sekedar belajar baca huruf-hurufnya saja. Selepas Ramadhan dan kelas juga sudah berakhir, masih jarang juga saya baca Al-Quran.

Akhir tahun 2013, sepulang dari Flores yang menjadi salah satu perjalanan paling diingat dalam hati, saya menemukan website ODOJ saat ngeblog. Iseng-iseng saya isi biodata di sana. Seminggu kemudian, saat saya juga sudah lupa kalau saya pernah daftar ODOJ, saya dimasukkan ke dalam salah satu grup ODOJ. Dari yang jarang sekali baca Al-Quran lalu tiba-tiba setiap hari 'dipaksa' baca Al-Quran satu juz, gimana rasanya? Tertatih. Iya saya merasa sangat tertatih. Sering saya merasa capek dan ingin keluar saja dari grup itu. Apalagi saat saya sudah mulai bekerja kantoran dan lumayan sering lembur nggak kira-kira, kadang ada pikiran ah udahlah, keluar aja, toh tiap hari baca seayat-dua ayat sendiri  juga gak apa-apa kan?

Tapi, kemudian seorang teman saya mengajak saya untuk mendaftarkan diri di YISC Al-Azhar. Saya ikut penempatan kelas baca Al-Qur'an. Dan masih sama seperti sebelumnya, masih berada di taraf tajwid, hanya meningkat sedikit jadi tajwid 2. Saya tidak jadi keluar dari barisan ODOJ. Namun, selepas satu semester belajar di Al-Azhar, saya kembali kendor. Saya lebih suka main. Main yang lebih menitikberatkan pada kegiatan bersenang-senang. Saya pacaran, mulai jarang lapor maupun berinteraksi di grup ODOJ. Sampai admin grup hampir setiap hari japri saya, memberi semangat sekaligus mengingatkan saya. Saya benar-benar sudah berada di titik terakhir saya hampir lepas dari interaksi saya sama Al-Quran. 

Oke men! Istiqomah menjalani sesuatu yang baik itu benar-benar nggak mudah!

Hingga pada suatu titik saya menyadari, saya butuh teman-teman yang bisa membuat saya kembali. Akhirnya, Ramadhan tahun ini saya memulai LQA kelas tahsin di Nurul Ashri Deresan. And it works! Sedikit-sedikit saya mulai kembali.

2. Kuliah lagi
"Nak Putri besok kuliah lagi ya. Niatkan saja untuk meningkatkan kualitas ibadah. Bapak juga rasakan betul, dulu dari ibadah yang rasanya hampa jadi nggak hampa lagi." Masih kata-kata itu yang saya ingat. Seperti apa yang telah saya ceritakan dalam tulisan saya berjudul Rahasia-Nya Yang Penuh Teka-Teki

Tempat kuliah saya adalah tempat yang penuh berkah bagi saya. Bagi saya, bukan berarti bagi orang lain juga. Jika yang ditanya adalah teman-teman lelaki di angkatan saya, jawabannya lain lagi. Tempat penuh 'berkah' adalah fakultas ekonomi atau fisipol yang cewek-ceweknya cantik-cantik dan pandai dandan atau fakultas kedokteran dan farmasi yang cewek-ceweknya kalau dipandang bikin hati 'adem'. Haha. Oke, just intermezo.

Apa yang membuat saya bilang tempat kuliah saya penuh berkah? Karena seusai kuliah, saya semacam mendapat pencerahan. Isi kuliah 30 persen materi, sisanya pengalaman hidup dosen-dosen saya yang kadang juga disisipi dengan beberapa nukilan ayat-ayat Al-Quran jika yang mengajar adalah dosen-dosen saya yang muslim. Cukup berbeda dengan masa kuliah S1 saya yang kebanyakan isinya 85 persen (dalam ukuran saya) adalah benar-benar materi kuliah. Namun, walaupun ketika kuliah yang dibicarakan adalah materi, tetap saja pada akhirnya akan membawa kita pada kekaguman untuk Sang Pencipta. Karena hampir sebagian besar yang dibicarakan adalah tentang bumi, langit, udara, air, tanah, dan semua yang berada di antara keduanya. Kami diajak berinteraksi dengan alam dan itu hanya semakin menumbuhkan kedekatan pada Yang Maha Hebat bagi yang menyadarinya. 

Akhirnya, saya membuktikan apa yang dikatakan si Bapak. Ada sesuatu yang berbeda setelah setahun saya menjalani kuliah di tempat ini. Apapun yang saya lakukan seusai kuliah nanti, mau jadi ibu rumah tangga atau bekerja di luar bidang keilmuan saya misalnya, I will never regret it. I do love this way so much. Insyaa Allah.

3. Teman-teman
Berkumpullah dengan penjual minyak wangi, maka kamu akan ketularan wanginya. 
Ibu-ibu Srikandi KPJ 08 sebagian besar adalah para penjual minyak wangi itu, dan saya adalah orang yang dekat-dekat dengan mereka sehingga saya ketularan wangi minyak mereka. Beberapa ibu-ibu Srikandhi, adalah guru buat saya untuk memahami sebentuk hidayah yang berujung hijrah. I feel thankful for them.

4. Kecewa a.k.a Sakit hati
Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia (Ali Bin Abi Thalib r.a).

Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Karena saya pernah kecewa teramat sangat setelah saya pernah  sangat berharap pada manusia. Sebenarnya salah saya juga sih, terlalu berharap pada manusia, bukan pada yang menciptakan si manusia. Sehingga, ujung-ujungnya saya rasakan juga kekecewaan yang teramat sangat itu.

Pernah merasakan keadaan seeperti ikan yang keluar dari air lalu menggelepar-gelepar, susah bernafas, lalu ujung-ujungnya hampir mati? Itulah definisi kekecewaan menurut versi saya. Sekali saya kecewa sejauh itu, sulit sekali saya mengembalikan hati saya ke tempat semula. Itu adalah perjuangan yang tak mudah bagi saya. Semacam ikan yang sudah menggelepar namun  berusaha melompat lagi ke dalam air yang entah ada di mana.

Tapi justru, hal itulah yang menjadi titik balik buat saya. Hidayah tidak hanya datang dari pengajian-pengajian, dari baca Al-Quran, atau dari amalan yang baik-baik yang dilakukan ahli ibadah. Kadang ia datang bersamaan dengan musibah, bersama rasa sedih tak berkesudahan, bersama rasa kehinaan dan dosa yang pernah dirasakan dan dilakukan, pada apa-apa yang membuat kita merasa kecil di hadapan Gusti Allah.


Selamat menjemput dan menanti hidayah untukmu. Jangan takut jatuh berkali-kali, karena berlipat kali juga Dia akan membantumu berdiri lagi :))



Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.