Senin, 17 Oktober 2016

#1 Ngomongin Setan

Pelajaran tentang setan dan jin saya dapatkan sepotong-sepotong dari teman-teman saya, dari bacaan-bacaan yang insyaa Allah semoga bisa dipertanggungjawabkan, maupun dari beberapa kajian yang saya ikuti. Apa yang saya tuliskan di bawah ini adalah rangkuman dari rangkaian cerita dan peristiwa, maupun dari berbagai macam diskusi yang pada akhirnya membentuk simpul-simpul yang saling berkaitan di kepala saya. Bisa jadi ada yang salah dari apa yang akan tertulis di sini. Maka dengan segala kerendahan hati, benarkanlah apa yang salah dari saya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya mulai dari sebuah ayat:

Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah (Q.S An-Nisa: 76)

Jujur, saya dulu termasuk penakut jika berurusan dengan dunia jin/setan. Sedikit-sedikit takut. Mau ke kamar mandi malam-malam takut. Lewat makam tiba-tiba deg-degan. Lewat tempat gelap selalu terbayang-bayang pocong, gendruwo, kuntilanak, dan sebangsanya. Iya, saya takut sama jin/setan padahal saya bukan orang yang bisa melihat mereka. Setan, dalam bayangan saya dulu selalu berhubungan dengan yang tak kasat mata. Berhubungan dengan jin. Padahal, sebenarnya setan itu sering ada di dalam diri saya. Karena, setan menyusup ke dalam aliran darah manusia [HR Bukhari no. 3281 dan HR Muslim no. 2175]. Sehingga, saya berburuk sangka, saya berbohong, saya berzina, saya marah, saya membenci, saya mengeluh, saya melakukan hal-hal buruk. Itu adalah perbuatan setan yang ada pada diri saya, sehingga pada akhirnya saya menjadi setan manusia. Ya, ternyata saya sering dikalahkan oleh setan. Padahal tipu daya setan itu lemah, kan? Sehingga kadang saya berpikir: apakah diri saya benar-benar lebih lemah daripada lemahnya setan?

“Jangan merasa takut sama mereka. Bukannya manusia derajatnya lebih tinggi daripada mereka? Dibacain ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, sama An-Nas juga pergi...,” salah seorang teman saya yang memang punya kemampuan melihat para jin pernah berkata kepada saya dan kepada beberapa teman lainnya suatu sore di Perpustakaan Pusat UGM. Awalnya, kami mendiskusikan pekerjaan untuk salah satu proyek. Tapi entah kenapa, obrolan kami waktu itu berubah haluan menjadi obrolan rasan-rasan pada dunia jin/ setan. Memang, dunia jin/ setan selalu menarik untuk dibicarakan. Saat itu seorang teman bercerita tentang sesosok jin/ setan yang mengikuti salah seorang dosen saat sedang dalam perjalanan pulang dari makrab. Seorang teman yang lain yang bisa melihatnya kemudian membacakan ayat kursi. Kata teman saya itu, “Itu pertama kalinya aku mendengar jeritan kesakitan sampai sebegitunya dari jin. Habis itu dia hilang, dan yang tertinggal hanya bau gosong terbakar.”

Secara fitrah, manusia tidak bisa melihat jin pada wujud aslinya, sementara jin bisa melihat manusia (Q.S. Al-A’raf:27). Sehingga, mereka yang mengaku melihat dan berbicara dengan jin, sebenarnya yang dilihat adalah penjelmaan dari diri mereka [HR Bukhari no. 2311]. Hadits terakhir juga menjelaskan bagaimana cara melindungi diri dari gangguan jin/setan, terutama saat tidur, dengan bacaan ayat kursi.
Tentang bacaan ayat kursi ini, saya dari dulu selalu bertanya-tanya, kenapa jin/setan bisa takut? Dari setiap film-film horor, acara reality show tentang jin/setan, dan pelajaran di sekolah selalu memberi gambaran pengusiran jin/setan dengan ayat kursi. Tapi, saya sendiri tidak tahu sebab musabab jin/setan takut pada satu ayat ini. Sampai, saya menemukan salah satu video tafsir Ibnu Katsir yang membahas ayat kursi. Ayat kursi adalah satu ayat yang agung, di mana tidak ada ayat lain yang seperti itu, karena ayat kursi adalah satu-satunya ayat yang dalam redaksinya mengandung 16 nama Allah sekaligus. Setan/Iblis adalah ciptaan Allah, yang mempercayai keberadaan Allah. Hanya saya kesombongan telah mengalahkan ketaatannya, sehingga Allah melaknatnya. Sehingga, penyebutan nama-nama Allah yang begitu agung 16 kali sekaligus, jelaslah membuatnya ketakutan.

Kemudian tentang tiga surat terakhir dalam Al-Qur’an yang membuat setan lenyap, teman saya kurang lebih membahasakannya seperti ini, “Ada dari mereka yang jika dibacakan ayat kursi saja tidak hilang. Tiga surat terakhirlah, yang membuat mereka pada akhirnya hilang.” Dia mengibaratkan ayat kursi dan tiga surat terakhir sebagai saringan. Jika ayat kursi adalah saringan berlubang besar, maka tiga surat terakhir Al-Qur’an adalah saringan berlubang-lubang kecil yang akhirnya dapat menuntaskan penyaringan setan-setan yang ada di sekitar kita.

Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat) surat Al-Falaq dan An-Nas yang sering disebut sebagai surat Al Mu’awwidzatain (surat yang mengandung perlindungan), disebutkan berkaitan dengan peristiwa sakitnya Rasulallah akibat terkena sihir dari seorang Yahudi. Kalau bahasanya sekarang sih, terkena santet. Turunnya delapan ayat Mu’awwidzatain pada akhirnya mampu melepaskan buhul-buhul dari tukang sihir tersebut. Memang, kalau dibaca arti dari kedua surat ini, isinya adalah permohonan perlindungan. Perlindungan dari gangguan setan jin dan setan manusia, dari kejahatan-kejahatan dari dalam diri, maupun dari makhluk-Nya yang lain, dari kejahatan yang nampak maupun tersembunyi. Sementara Al-Ikhlas, berisi tentang tauhid , yang menegaskan bahwa Dialah Zat Yang Maha Satu, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan Dialah satu-satunya tempat meminta. Jadi tiga surat terakhir, benar-benar bentuk permintaan perlindungan kepada Zat Yang Maha Satu.

Ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas juga dipakai dalam rukyah syar’iyah. Untuk mengusir mereka yang mengganggu jiwa-jiwa manusia yang sungguh lemah. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah. Maka, apakah  kita tidak akan berusaha lebih kuat sedikit saja dari setan?



n.b: tentang penyebutan istilah jin/setan/iblis di atas
- setan adalah sifat, sehingga saat saya menyebutkan kata setan, bisa jadi itu setan jin atau setan manusia
- jin ada yang baik ada yang jahat, sehingga penyebutan jin berarti mewakili keseluruhan jin . Yaitu makhluk yang diciptakan dari api tanpa asap.
- istilah jin/setan saya gunakan untuk menyebut setan dari bangsa jin
- Iblis adalah nama jin yang sifatnya jahat
- Penyebutan kata mereka, berarti saya maksudkan untuk menyebut setan dari bangsa jin.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.