Senin, 31 Oktober 2016

Menggenggam Cahaya. Tafsir Q.S An-Nuur 24 :58

An-Nuur, seperti namanya, cahaya. Menggenggam cahaya. Bagaimana cara menggenggam cahaya? Yaitu dengan keyakinan yang kuat. Tanpa keyakinan yang kuat, genggaman itu sering terlepas. Seperti menggenggam ikan, hanya bisa digenggam jika kuat genggamannya. Hanya tangan yaqin lah yang bisa benar-benar menggenggamnya. Lalu bagaimana wujud tangan yaqin yang kuat itu? Ada tiga hal. Pertama, yakin Allah melihat sekecil apapun amal kita. Kedua, yakin Allah mencatat seluruh amal baik kita. Ketiga, yakin Allah akan membalas semua amal baik kita.

Keyakinan, adalah ijazah kehidupan bagi mereka yang sudah lulus ujian. Ujian dalam hidup dibagi menjadi dua, yaitu ujian yang sifatnya bikin susah dan ujian yang bikin senang. Mana yang lebih sulit? Ujian berupa kesusahan atau ujian berupa kesenangan? Sebagian besar, menjawab bahwa ujian berupa kesusahan itu jauh lebih sulit. Apakah benar?

Mari kita renungkan sejenak tentang ujian berupa kesenangan. Seperti apa wujud ujian kesenangan itu? Salah satu bentuk ujian kesenangan itu adalah aurat. Yap! AURAT. Siapa sih yang nggak setuju kalau aurat lain jenis itu menarik dan menyenangkan? Itulah. Itulah ujian yang sangat berat. Ujian kesenangan terhadap lawan jenis.

aurat
source: www.markazahbabulmusthofa.org


Q.S An-Nuur 24: 58
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ۚ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ۚ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ ۚ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali (kesempatan, yaitu sebelum salat shubuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan setelah salat Isya’. (Itulah) tiga aurat (waktu) bagi kamu. Tidak ada dosa bagimu dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu; mereka keluar masuk melayani kamu, sebagian kamu atas sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.

Ayat di atas berisi mengenai perintah meminta izin pada tiga waktu, di mana pada umumnya di tiga waktu tersebut orang-orang kurang menjaga aurat dengan baik. Aurat, adalah ujian iman yang tak mudah diselesaikan. Jika kita di sekolah, bagaimana cara kita menyelesaikan ujian? Tentu saja dengan menuliskan jawabannya di selembar kertas. Lalu bagaimana dengan ujian kehidupan? Bagaimana kita menyelesaikannya? Karena sering, kita sebenarnya sudah tahu jawabannya tapi kita tidak bisa menyelesaikannya.

Cara menjawab ujian kehidupan adalah dengan KETAATAN (sampai di sini, saya tiba-tiba ingat wejangan salah seorang dosen penguji saya jaman dahulu kala: kamu cukup taat saja, itu caranya lulus dengan baik, dengan taat _red)

Aurat itu ibarat angin puting beliung. Daya rusaknya sungguh berbahaya. Benar-benar bisa menghancurkan. Kalau lulus dari ujian aurat ini, hasilnya memang luar biasa. Kalau gagal dan tidak bisa lulus dari ujian ini, HANCURNYA JUGA LUAR BIASA!

Kita lihat sejenak ayat di bawah ini:

Q.S Ali Imran 3: 14
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Memahami ayat di atas tidak boleh sepotong-sepotong. Aurat memiliki hubungan yang erat dengan syahwat. Syahwat, senang terhadap lain jenis, memang fitrah untuk dimiliki oleh kita sebagai manusia. Namun, jangan disalah artikan sebagai pembolehan untuk memandang lain jenis sesuka hati

Harus digaris bawahi bahwa apa yang disebutkan pada ayat di atas (terutama kesenangan terhadap perempuan atau lawan jenis), itu semata-mata hanya sebagai hiasan di dunia. Pada kalimat  terakhir: itulah kesenangan hidup di dunia, menegaskan bahwa kesenangan tersebut hanya berhenti di dunia. Setelah kalimat tersebut, disusul kemudian sebuah kalimat: dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. Kalimat terakhir ini seakan menegaskan bahwa Allah menawarkan tempat kembali yang jauh lebih baik daripada semata-mata memperoleh kesenangan dunia saja. Mau kesenangan yang sesaat atau kesenangan yang abadi di akhirat bertemu Allah?

Caranya untuk menjaga syahwat gimana dong?

Caranya sangat mudah: menundukkan pandangan! Iya, metodenya mudah, tapi prakteknya astaghfirullah, la hawla wa laa quwwata illa billah. (Yah namanya juga ujian kan? Untuk tahu mana yang berkualitas, masak iya segampang itu soal ujiannya dijawab _red).

Menundukkan pandangan, memiliki dua keutamaan:
Keutamaan pertama. Bisa merasakan manisnya iman
Pandangan mata adalah pandangan beracun di antara panah-panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya [HR. Hakim]

Keutamaan kedua. Terbebas dari tipu daya setan
Meski orang itu sealim apapun atau sesoleh apapun, tipu daya setan masih bisa masuk dari mana saja, kecuali kita sudah lulus dari ujian berupa syahwat yang berkaitan erat dengan aurat. Yaitu dengan menundukkan pandangan.

Anda sudah lulus ujian yang satu ini? Saya belum. *sad* *sad* *sad*
YUK BERUSAHA!



Disarikan dari kajian tafsir Ust. Syatori Abdurrauf
Masjid Nurul Ashri, 31 Oktober 2016

Minggu, 30 Oktober 2016

Siapa Annemarie Schimmel?

Sesungguhnya manusia itu tertidur, dan ketika mati dia baru terbangun (Ali bin Abi Thalib ra) -- sebuah tulisan yang tertera di atas nisan Annemarie Schimmel
source: islamwomen.org

Diawali dari sebuah postingan teman di sebuah grup whatsapp hari ini yang menceritakan pertemuan seorang Indonesia dengan seorang wanita Jerman bernama Annemari Schimmel, seorang orientalis yang sudah banyak menulis tentang Islam, hafal Al-Qur'an, hafal hadits dalam kitab Bulughul Maram, hafal kitab Ihya 'Ulumuddin, dan beberapa kitab lain yang berhubungan dengan Islam. Terlepas apakah kisah yang tersebar di whatsapp itu adalah kisah sebenarnya atau bukan, saya kemudian tertarik kepada sesosok wanita tua ini.

Seseorang yang memahami Islam, bahkan sampai hafal kitab-kitab yang berhubungan dengan agama ini. Apakah ia seorang pemeluk Islam?

Sampai sekarang, akhir hidupnya masih menjadi perdebatan. Tidak ada yang tahu apakah di akhir hidupnya dia menjadi seorang muslim atau tidak. Dia disemayamkan secara keagamaan di sebuah gereja protestan di Bonn, Jerman pada tahun 2003 [3]. Sebagian besar berpendapat, akhir hidupnya bukan sebagai seorang muslim. Wallahu'alam. Yang benar-benar tahu hanyalah dia dan Penciptanya.

Terlepas dari spekulasi apakah dia seorang muslim atau bukan, ada sesuatu yang bisa direnungkan dari perjalanan hidupnya.

Annemarie Schimmel lahir sebagai seorang protestan di negara Jerman pada tanggal 7 April 1922.  Dia diketahui memiliki memori fotografis dan menguasai lebih dari dua puluh bahasa asing [1]. Dia berhasil menjadi doktor pada usia 19 tahun dalam bidang bahasa Arab dan peradaban Islam. Di usianya yang ke-23, dia sudah menjadi profesor. Schimmel sangat tertarik pada dunia Islam, terutama tasawuf. Gelar doktornya diperoleh dari tulisannya berjudul The Position of the Caliph and the Qadi in Late Medieval Egypt [5].  Tidak hanya itu karya yang berhasil dihasilkannya. Puluhan tulisannya sudah dibukukan dan menjadi jembatan antara dunia barat dengan dunia Islam. Tulisannya mampu menjadi media yang memahamkan orang-orang yang tinggal di negara barat, terutama Jerman, menjadi lebih mengenal Islam setelah sebelumnya begitu banyak orang yang memandang agama ini sebelah mata. Karya tulisnya, adalah bentuk pembenaran terhadap Islam.

Kebanyakan buku yang ditulis oleh Schimmel mampu meraih box office karena kajiannya yang detail dan mendalam. Die Wiederentdeckung Des Propheten Muhammad yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ke dalam buku "Dan Muhammad Utusan Allah: Cahaya Purnama Kekasih Tuhan", merupakan salah satu bentuk kekagumannya terhadap Rasulullah Muhammad SAW. Schimmel menginterpretasikan Muhammad SAW sebagai paragon kelembutan, kemurahan, kesopanan, kesantunan, dan keakraban. Belum pernah dijumpai sosok manusia yang berlaku sempurna seperti Muhammad SAW [4].

Karya lain dengan judul Deciphering The Signs of God: a Phenomenological Approach to Islam merupakan sebuah kajian Schimmel terhadap agama rahmatan lil alamin menggunakan pendekatan fenomenologis. Melalui kajian ini, Schimmel memberikan pemahaman pencerahan terhadap Islam sepanjang masa serta memungkinkan terjadinya apresiasi dari tradisi keagamaan yang lain. Usaha Schimmel dari karyanya ini mampu meredam pandangan negatif dunia barat terhadap Islam [2].

Karyanya adalah buah pikiran yang didasari pada kecintaannya pada Islam. Seseorang yang akhir hidupnya masih misteri sampai sekarang perkara keimanannya saja begitu getol belajar tentang Islam, tentang kitab sucinya, tentang hadits-hadits, tentang tokoh-tokoh muslim, dan tentang sejarah Islam.  Bagaimana dengan kita -- saya dan Anda? Sangat mungkin kita yang sedari lahir ngakunya Islam ini, malah tidak tahu apa-apa tentang Islam. Tidak malu? Jadi, kapan mau mulai belajar? *ngomong sama kaca

References:
[1] Anonim. 2012. Biografi Annemarie Schimmel. http://www.referensimakalah.com. Diakses tanggal 30 Oktober 2016.
[2] Fundonesia. 2014. Tinjauan Kritis Atas Pemikiran Annemarie Schimmel Tentang Pendekatan Fenomenologis Dalam Islam. http://www.fundonesia.wordpress.com. Diakses tanggal 30 Oktober 2016.
[3] Munir, Seand. 2012. Apakah Annemarie Schimmel Seorang Muslim?  http://www.kompasiana.com.D Diakses tanggal 30 Oktober 2016.
[4] Muslimin, M. Hanifan. 2013. Sosok Muhammad di Mata Annemarie Schimmel. http://www.esq-news.com. Diakses tanggal 30 Oktober 2016.
[5] Wikipedia. Annemarie Schimmel. http://www.en.wikipedia.org.

Harris J -- You Are My Life

You are my life. You know my destiny. I know You stand by me. You are the love I need. The One who is guiding me. You are The Light. Without You, where would I be?



Jumat, 28 Oktober 2016

4 Alasan Kenapa Kita Harus Punya Binatang Piaraan

Apa pentingnya sih miara hewan? Kan bikin capek? Dari pada miara hewan, duitnya habis buat ngasih makan mereka mending buat shopping kan? Atau ditabung gitu duitnya?

Buat kamu yang masih punya pikiran seperti itu, ternyata memelihara binatang piaraan itu banyak manfaatnya lho... 

1. Teman refreshing
Pulang-pulang dari sekolah/kuliah/kerja yang kadang bikin mikir dan bikin penat terus kamu disambut hewan piaraanmu yang lucu-lucu, rasanya bisa bikin pikiran fresh lagi. Coba lihat tingkah mereka yang lucu-lucu, kadang nyebelin, kadang ngegemesin. Apalagi buat kamu yang jomblo dan nggak punya temen di rumah atau di kosan, punya binatang piaraan adalah salah satu pilihan yang mampu menyelamatkanmu dari sepinya hari-hari yang kamu lalui *sad*

Satu lagi. Mereka juga bisa jadi tempat curhat loh. Ya walaupun mereka nggak paham apa yang dicurhatin, setidaknya mereka nggak bakal ngomelin kamu atas sesuatu yang kamu curhatin.
Kucing lucu
source kartun.muslimah

2. Mengurangi makanan yang terbuang sia-sia
Sering kan kita makan nggak habis? Atau nggak doyan sama makanan di hadapan kita karena tiba-tiba kehilangan selera makan? Atau kita udah terlanjur masak banyak tapi nggak ada yang ngehabisin makanan?

Binatang piaraan kita akan dengan senang hati menghabiskannya. Mereka kenyang, kita juga nggak terlalu merasa bersalah karena buang-buang makanan yang masih ada banyak berkah di dalamnya. Terutama ayam atau bebek, apa aja dah mereka makan.

Anak susah makan
source: katalogibu.com

3. Bisa jadi bentuk sedekah
Pernah denger hadits ini?

Pada setiap sedekah terhadap makhluk yang memiliki hati (jantung) yang basah (hidup) akan dapatkan pahala kebaikan. Seorang muslim yang menanam tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang kemudian dimakan oleh burung-burung, manusia, atau binatang,maka baginya sebagai sedekah. (HR Bukhari, Muslim)
Jadi, masih berpikir kalau memelihara hewan itu adalah kurang kerjaan dan kesia-siaan belaka?
Hmm, sebenarnya tergantung sudut pandang dan niat juga sih. Kalau miara hewan cuma buat bangga-banggaan sama pamer mending jangan. Kasihan mereka.

sedekah kambing
source: bandung.bisnis.com


4. Melatih kesabaran

"Aduuuh pus! Kenapa pub sembarangan?! Ini habis dipeel!"

Pernah nggak seperti itu?

"Akuariumnya sama kandangnya udah kotor. Oh Tuhan, aku sedang lelah kalau harus bersihin sekarang."

Nah lho.. pernah seperti itu juga?

Maka bersabarlah. Miara hewan itu bukan cuma senang-senangnya aja yang dipikirin. Kamu harus dengan senang hati merawat, memperhatikan, dan menyayangi binatang piaraan kamu dan jangan pernah menelantarkannya. Kamu harus sabar sama tingkah lakunya yang kadang bikin jengkel atau kadang raurus. Yakin aja, setiap apa yang kita kerjakan dengan niat ibadah pasti ada pahalanya.

source: nasyid-madani.wordpress


So, selamat melalui hari-hari dengan hewan-hewan lucu di rumahmu ya!


Kamis, 27 Oktober 2016

Tempat Wisata di Bali yang Bakal Membuatmu Menyesal Jika Tidak Mengunjunginya, Tersembunyi dan Eksotis!

Bali, siapa sih yang enggak kenal dengan daerah ini? Rasanya sih enggak ada. Bahkan terkadang karena popularitasnya yang begitu tinggi baik di kalangan wisatawan domestik ataupun mancanegara, Pulau Bali lebih dikenal dibandingkan dengan Indonesia. Atau mungkin Indonesia dikenal oleh wisatawan mancanegara karena Bali-nya.

Popularitasnya yang tinggi membuat harga tiket pesawat menuju Bali selalu dipantau oleh traveler. Jika Lion Air promo tiket ke Bali, biasanya ludes terjual dalam hitungan jam karena banyaknya wisatawan yang ingin berlibur ke Bali dengan harga tiket lion air promo. Bisa berlibur ke salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia dengan harga murah tentu menjadi idaman traveler.

Setelah mendapat tiket murah ke Bali, hal yang biasa dilakukan traveler adalah memilih tempat wisata mana saja yang ingin dikunjungi. Pantai Kuta, Seminyak, dan Nusa Dua sepertinya sudah terlalu sering dan umum dikunjungi oleh traveler. Jika kamu ingin berkunjung ke tempat wisata di Bali yang tersembunyi dan eksotis, berikut ini adalah jawaabannya! Dijamin menyesal jika kamu berkunjung ke Bali tetapi tidak mampir ke tempat ini, check this out!

1. Air Terjun Sekumpul
Wisata pantai, pura, dan hiburan malam nampaknya sudah terlalu akrab dengan Bali. Jika ingin yang beda dan tersembunyi, Kamu patut berkunjung ke tempat wisata berupa air terjun yang ada di Bali. Air Terjun Sekumpul adalah salah satu obyek wisata yang bakal membuat kamu menyesal jika tidak mengunjunginya! Air terjun ini berada tersembunyi di balik Hutan Buleleng. Lokasinya berada di Desa Sekumpu, Kecamatan Sekawan, Buleleng, Bali.  Jika dari pusat kota Bali di Denpasar membutuhkan waktu 2,5 jam untuk sampai ke air terjun ini.

Lokasinya yang tersembunyi membuat pemandangan dan kondisi alam di Air Terjun Sekumpul masih sangat asri. Untuk menuju air terjun kamu juga harus trekking dan menaiki ratusan anak tangga. Lelahnya trekking dan menaiki ratusan anak tangga akan terbayar lunas dengan segarnya udara dan indahnya pemandangan di Air Terjun Sekumpul.

Air Terjun Sekumpul belum banyak dikunjungi oleh wisatawan sehingga suasana di tempat wisata ini teraasa begitu damai dan tentram. Melihat perjalanan yang harus ditempuh, tempat wisata ini cocok untuk kamu para traveler pecinta alam, nyesel deh kalau enggak ke tempat ini!

Air Terjun Sekumpul Bali
Sumber : miner8.com


2. Angel's Billabong
Tempat wisata di Bali yang juga bakal membuat kamu menyesal jika tidak mengunjunginya adalah Angel’s Billabong.  Tempat wisata ini merupakan wisata alam di Bali yang berupa muara sungai yang airnya cukup jernih sehingga terlihat dasarnya. Lokasi tempat wisata ini terdapat di Nusa Penida. Suasananya juga tenang dan damai, apalagi sambil melihat muara sungai yang jernih, adem banget!
Tempat wisata Angel's Billabong Bali
Sumber : indojunkie.com

3. Broken Beach
Tidak jauh dari Angel’s Billabong, kamu dapat menemui tempat wisata tersembunyi  lainnya, yaitu Broken Beach. Pantai ini tidak sefamiliar Pantai Kuta dan Pantai Nusa Dua, namun memiliki keunikan tersendiri yang bakal membuat kamu menyesal kalau enggak berkunjung!

Salah satu keunikan dari pantai ini adalah pemandangan berupa tebing-tebing di sekitarnya dan dari salah satu tebing tersebut terdapat tebing berlubang yang membentuk seperti terowongan laut. Selain itu terdapat juga sebuah jembatan yang terbuat dari bebatuan karang diatas pantai, wow banget deh! Jika kamu beruntung, kamu juga bisa melihat penyu dan ikan pari di pantai ini. 
Tempat wisata eksotis Bali Broken Beach
Sumber : balimediainfo.com

4. Hidden Canyon Beji Guwang
Dari namanya saja sudah terlihat tempat wisata ini tersembunyi. Hidden Canyon Beji Guwang merupakan wisata alam di Bali yang berupa tebing dengan ketinggian kurang lebih 30 meter dengan lekukan-lekukan tajam yang cukup indah.  Jika diperhatikan seksama, lekukan tersebut membentuk berbagai bentuk ekspresi wajah manusia.

Tebing-tebing yang ada di Hidden Canyon  mengapit sebuah sungai atau dalam bahasa Bali adalah Beji. Tempat wisata ini merupakan salah satu tempat yang disucikan dimana pengunjung yang datang harus menjaga kesucian tempat tersebut. Lokasi Hidden Canyon Beji Guwang berada di dekat Pura Dalem Guwang atau tidak jauh dari Pasar Seni Sukawati. 
Tempat wisata Bali Hidden Canyon Beji Guwang
Sumber : seebalitours.com
Itulah 4 tempat wisata di Bali yang tersembunyi dan eksotis. Menyesal deh kalau kamu enggak berkunjung ke tempat wisata tersebut!

Mengapa Saya Tambah Kurus?

Makanan Sehat
gambar diambil dari sini

Cukup banyak teman-teman saya yang heran dengan perubahan tubuh saya. Kamu kurusan. Ih, kok jadi tambah kecil. ***igur! Kuru kowe saiki! Lemakmu ilang ke mana? Kok wes gak ginuk-ginuk meneh e kowe? Saya selalu ketawa-ketawa mendengar komentar macam-macam begitu.

Apa yang saya lakukan selama ini sehingga dalam kurun waktu kurang dari setahun saya kehilangan sekitar 7-8 kg massa tubuh saya? Apakah saya diet? Minum jamu? Atau apa? Inti dari semua itu adalah: saya mengubah gaya hidup saya.

Dimulai dari sakit. Sekitarsetahun lalu, thypus saya kumat. Ditambah, waktu itu trombosit saya turun terus. Ya, saya thypus sekalian demam berdarah. Dokter meminta saya melakukan terapi air putih agar tubuh saya kembali putih. I did it! Terapi air putih. Intinya banyakin minum air putih aja. Dan seusai sakit, tubuh saya memang agak mengurus. Teman saya yang punya kasus seperti saya, sakit kemudian terapi air putih, juga mengalami hal yang sama. Tubuhnya yang dulu gede besar, sekarang jadi lebih kecil.

Belajar berenang. Awalnya karena saya nggak pengen panikan dan gampang tenggelam di laut lagi, makanya saya belajar berenang, karena dulu saya nggak bisa renang. Dan ternyata, renang itu menyenangkan. Walaupun yang saya bisa cuma gaya seenaknya asal saya bisa ngambang. Anyway, belajar renang di Jogja itu enak menurut saya. Budget kurang dari sepuluh ribu rupiah kita bisa renang kesana kemari dengan riang gembira. Jadi, karena saya sekarang suka renang, sepertinya itu cukup memiliki andil untuk membuat beberapa lemak-lemak di tubuh saya pergi entah ke mana.

Mengubah gaya hidup. Makanan berhubungan dengan perut. Dan perut, adalah tempat paling berbahaya bagi tubuh kita. Saya pertama mengetahuinya saat berkunjung ke Bumi Langit dan ngobrol-ngobrol dengan salah seorang pemilik Bumi Langit. Kemudian suatu hari saya mendapatkan selebaran yang membicarakan perut saat saya main ke masjid kampus. Isi dari selebaran ini adalah: kita harus berhati-hati terhadap perut dan apapun yang masuk ke dalamnya.

Makanan halal yang masuk perut bisa jadi berbahaya untuk kita. Makanan yang halal aja bahaya, bagaimana dengan makanan haram? Lalu kenapa makanan halal bahaya? Itu terjadi jika kita tidak bisa mengendalikan apa yang dimasukkan ke dalam perut, jika kita terlalu rakus terhadap makanan. Perut yang terlalu kenyang karena kebanyakan makan akan menimbulkan banyak efek negatif. Efek negatif apa saja? Timbul penyakit, syahwat yang tak bisa dikendalikan, dan gampang dikuasai hawa nafsu lainnya. Setelah mengetahui beberapa hal di atas, saya mengubah cara makan saya. Makan ketika lapar, berhenti sebelum kenyang, dan berusaha untuk sering-sering puasa. Saya masih makan apapun yang ada asal halal. Saya makan nasi, saya makan daging, saya makan sayur yang saya suka, saya masih makan-makanan yang sama seperti dulu. Saya hanya tidak makan kebanyakan lagi. Kalau sudah kenyang, sudah!

Gaya hidup lain yang saya ubah adalah: meminimalkan bergadang dan bangun sepagi mungkin. Dulu, saya termasuk orang yang betah begadang. Mungkin jam 12 atau jam 1 dini hari baru tidur. Kemudian, sedikit-sedikit kebiasaan itu saya ubah. Sebelum jam 10 saya pasti sudah tidur kecuali ada sesuatu hal yang mengharuskan saya tidur lebih dari jam itu. Dan itu pun jarang terjadi. Jam 3 saya haruskan diri saya untuk bangun. Mau tidur jam berapapun pokoknya jam 3 bangun! Susah banget awalnya. Susah banget. Tapi untuk menjadi lebih baik, memang kita harus memaksa diri kita sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi? Efek dari bangun pagi yang saya rasakan adalah: tubuh berasa lebih segar bugar dari pada dulu. Tubuh berasa lebih enteng dan lebih sehat. Walaupun memang iya sih, kadang mata kelihatan agak ngantuk-ngantuk kalau siang sudah datang. Tapi, lama kelamaan jadi terbiasa juga.

Sepertinya hal-hal itu yang saya rasa punya peran banyak dalam proses transformasi tubuh saya yang dulunya massanya lebih dari 60 kg sekarang jadi berkurang banyak. Saya nggak minum jamu macam-macam, saya nggak diet dengan cara nggak boleh makan ini, nggak boleh makan itu. Cukup lakukan hidup sehat ala-ala Rasulullah. Dan efeknya benar-benar luar biasa.

Senin, 24 Oktober 2016

Saya Hanya Sedang Ketakutan

Lusa kemarin, civitas akademika UGM lumayan dicengangkan dengan munculnya poster berisi diskusi rutin himpunan mahasiswa gay di sebuah UKM ilmiah. Banyak yang salah sangka dan salah mengira, bahwa diskusi tersebut adalah diskusi yang mewadahi himpunan yang dimaksud. Dalam sehari itu, isu tersebut menjadi hot thread, setidaknya di dalam grup whatsapp yang berhubungan dengan dunia kampus yang saya ikuti. Banyak yang tak habis pikir, apa-apaan sih ini?

Saya sendiri baru tahu bahwa himpunan ini benar-benar eksis dan memang ada di kampus saya sejak tahun 2011. Dan ternyata tidak hanya di kampus saya. Saat saya mencoba googling mengenai himpunan mahasiswa gay (HIMAG), ada banyak penelusuran terkait yang ternyata juga mewabahi kampus-kampus besar lainnya di Indonesia. Saat itu saya speechless. Bagaimana zaman begitu berbeda selama dasawarsa terakhir ini.

Saya tiba-tiba ketakutan.

Gerakan-gerakan atau komunitas yang dulunya tidak ingin diketahui masyarakat luas, sekarang bisa dan berani show up di mana-mana. Bahkan itu semua terjadi tidak hanya di kota-kota besar seperti di ibukota Jakarta.

Sekarang, di Yogyakarta sendiri, saya merasakan atmosfer yang jauh berbeda dengan masa-masa sekolah sampai kuliah sarjana saya dulu. Hingga tiba-tiba kerinduan kepada Yogyakarta pada masa sebelum tahun 2012 melesak menuju ke segumpal organ di balik dada.  Saat belum banyak gedung-gedung tinggi bermunculan. Saat para mahasiswa hanya punya pilihan tempat lembur di selasar kampus dan bukan di kafe-kafe. Saat pusat perbelanjaan belum menjadi magnet nongkrong sekuat sekarang bagi mahasiswa dan pelajar yang ingin mengisi waktu luangnya. Saat belum ada aplikasi-aplikasi yang mempermudah terpuaskannya syahwat. Saat kehidupan belum menjadi sebebas sekarang.

But everything has changed. Perubahan itu memang sudah harus terjadi. Dan apa yang musti saya lakukan sekarang adalah memperkuat benteng pertahanan di dalam diri saya. Masih sebatas dalam diri saya. Ternyata, masih sebatas itu kemampuan saya.

Saya begitu ketakutan. Sampai saya benar-benar bertahan sampai sekarang untuk meninggalkan dunia sosmed. Entah sampai kapan. Mungkin sampai saya merasa benteng pertahanan saya sudah cukup kuat.

Saya benar-benar ketakutan. Apakah nantinya saya benar-benar bisa menjadi sesosok ibu yang mampu menggiring anak-anaknya untuk berjalan di atas jalan yang benar sementara sekarang saja saya masih selemah ini? Walaupun, saya tahu bahwa bukan kewenangan saya untuk itu. Bukan kewenangan saya untuk ‘memaksa’ anak-anak saya nantinya menjadi anak yang baik. Karena setiap jiwa ada dalam genggaman-Nya, dan hanya Dia yang berhak menentukan setiap jiwa itu akan tersesat atau mendapat petunjuk. Dan saya masih belum tahu, apakah amanat berupa anak nantinya memang akan sampai kepada saya.

Ah, tulisan saya tiba-tiba melantur. Saya terlalu ketakutan.

Quote of life
gambar dari sini

Jumat, 21 Oktober 2016

#2 Ngomongin Setan



Sihir sudah ada sejak zaman dahulu kala. Dahulu kalanya kapan? Entahlah, saya pun tidak tahu. Tapi yang pasti sejak zaman Nabi Musa, sihir ini sudah ada. Cerita lengkapnya terangkum dalam [Q.S. Taha]. Ketika itu, Fir’aun memanggil para tukang sihir untuk melawan Musa, yang pada akhirnya para tukang sihir itu taubat setelah melihat mukjizat Nabi Musa alaihissalam. Kemudian saat zaman Nabi Muhammad SAW, praktek sihir itu juga ada. Yakni pada saat itu, seorang Yahudi melakukan praktek sihir yang menyebabkan Rasulallah sakit. Dua malaikat datang kepada beliau lewat mimpi sehingga beliau tahu apa penyebab sakitnya. Kemudian Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas turun dan mampu menghilangkan sihir tersebut. Jadi, ilmu santet bukan hanya di Indonesia. Santet adalah bagian dari sihir yang memang nyata ada.

Rasan-rasan ngomongin setan kali ini, saya sedikit berbagi cerita tentang sihir dari cerita-cerita yang sampai kepada saya lewat teman atau keluarga saya. Sihir tidak terpengaruh oleh zaman. Mau zaman batu, zaman millenium, zaman teknologi masih ngesot sampai sekarang teknologi tak terbendung lagi, sesuatu yang dianggap “terbelakang” ini nyatanya masih ada. Walaupun banyak juga yang tidak percaya pada hal-hal semacam ini.

Sihir ini, termasuk salah satu dari 10 dosa besar. Dia termasuk syirik karena menyekutukan Zat Yang Maha Satu dengan makhluk lain. Banyak orang mengetahuinya. Pertanyaannya, walaupun orang-orang sebenarnya sudah tahu kalau itu sangat salah, tapi mengapa masih saja dilakukan? Kesimpulan saya mengerucut pada satu hal: karena setan selalu menjadikan indah perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan manusia. Dosa itu mampu menuruti hawa nafsu, sehingga bagi orang yang cahaya di hatinya sudah tertutupi kerak-kerak, dosa itu rasanya nikmat. Nikmat sekali.

Saya masuk ke cerita. Cerita pertama dialami oleh seorang teman yang terkena sihir berupa ilmu pelet dari seorang lelaki saat ada kegiatan di suatu pulau di luar Jawa. Semenjak dia pulang dari pulau tersebut dan bertemu seorang lelaki yang akan menikah dengan seorang wanita yang sudah dihamilinya, dia nampak tergila-gila sekali dengan si lelaki itu. Teman-teman lain banyak yang bertanya-tanya atas tingkah-tingkah aneh yang dia lakukan semenjak pulang dari sana. Usut punya usut, ternyata dia disihir alias kena pelet.

Cerita kedua, dialami oleh seorang teman yang bekerja di tepi Danau Sentani. Suatu hari ada pencuri yang memasuki kantornya saat dia sedang jaga sendirian di kantornya. Saat itu si pencuri ketahuan lalu lari lompat pagar yang menurutnya cukup mustahil untuk dilompati. Oleh dia, dikejarnya si pencuri itu, tapi pencuri itu sudah hilang tak berbekas. Ketika itu ada beberapa warga yang bermain bola di sekitar situ. Berdasar kesaksian mereka, mereka melihat seseorang yang baru saja terbang. Oke, bukan cuma superman yang bisa terbang. Dan berdasar keterangan dari warga sekitar juga, itu adalah satu bentuk ilmu sihir. Ya, bisa dikatakan semacam babi ngepet.

Cerita ketiga adalah cerita dari seorang teman yang pernah tinggal di sebuah kota kecil yang tak jauh dari Yogyakarta. Di sebuah kota kecil itu, keluarganya tinggal cukup lama, sampai akhirnya keluarganya memutuskan pindah dari rumah tersebut. Kenapa? Berdasarkan ceritanya, keluarganya dijadikan tumbal oleh seorang tetangganya sebagai tumbal penglarisan. Tetangganya ini, menurutnya adalah orang yang sangat baik. Kecurigaan itu berawal dari meninggalnya beberapa anggota keluarganya dalam skala waktu tertentu dengan gejala yang bisa dikatakan mirip. Cerita serupa juga dikisahkan oleh teman lainnya. Ayahnya meninggal karena terkena praktek sihir berupa santet dari teman ayahnya. Di keluarga besar saya pun, pernah ada yang terkena sihir semacam itu, beruntung pada akhirnya selamat. Kita kadang tak pernah bisa membedakan mana sebenarnya orang yang benar-benar baik, mana yang sebenarnya jahat. Walaupun, memang kita diwajibkan berbaik sangka pada setiap orang yang kita temui, namun orang-orang munafik begitu banyak di sekitar kita. Dan bisa jadi, kita juga termasuk orang munafik itu. Itu kenapa kita harus rajin-rajin berdoa agar dilindungi baik dari kejahatan yang nampak maupun tersembunyi, baik dari jin maupun manusia [Q.S An-Nas].

Cerita keempat adalah cerita dari seorang teman yang pernah berniat mau membuka usaha di salah satu kawasan di kota Yogyakarta. Dia cukup tercengang mendapati fakta di lapangan, bahwa banyak sekali pelaku usaha di tempat tersebut yang menggunakan sihir penglarisan. Saat itu dia urung membuka usahanya di situ, lalu pindah keluar kota.  Terlalu keras dan beresiko jika mau membuka usaha di tempat tadi.

Beberapa cerita lain yang kadang tak masuk akal, sering saya temui. Tak masuk akal, tapi memang ada. Cerita mengenai mereka-mereka yang bersekutu dengan jin demi mendapatkan kepuasan dan kesenangan hidup di dunia. Kita sebagai manusia, sering tak mampu membendung hal-hal buruk di sekitar kita yang semisal seperti cerita-cerita di atas. Sehingga, Rasulallah SAW mengajarkan kita membaca surat Al-Muawwidzatain beserta ayat kursi dan Al-Ikhlas setidaknya pada saat: 1) Mau tidur; 2) bangun tidur; 3) saat dalam perjalanan. Karena tidak ada orang yang meminta perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT dengan surat yang mampu menyamai keduanya (al-Muawwidzatain).

Selasa, 18 Oktober 2016

Seruni


Seruni menyibak gerimis di hadapannya
Seruni berkata, “Allah, gerimis ini meluruhkan kesedihanku”
Seruni menapaki tanah-tanah basah yang berwarna kemerahan
Seruni berbicara, “Ah inilah aku. Bukan tanah basah, tapi tanah kering seperti tembikar”
Seruni mendongak ke atas, memandang awan yang kelabu di bawahnya, namun putih di atasnya
Seruni bertanya, “Allah, seperti itukah hatiku? Gelap di permukaannya, namun ada cahaya putih di dalamnya?”
Seruni terus berjalan, melewati sebuah sabana membentang, namun suram.
Seruni meminta, “Allah, bolehkah aku meminta kelapangan  yang terang untuk hatiku?”
Seruni tiba-tiba terdiam.
Seruni  menemukan sebuah danau berair bening, merefleksikan awan-awan yang berarak, langit, dan menampung gerimis yang menetes-netes
Seruni kembali meminta, “Allah, aku ingin hati yang baru. Yang bening. Yang lapang. Yang berdamai dengan masa lalu.”
Seruni tiba-tiba kehilangan gerimis.
Seruni merasakan hujan.
Seruni menangis.
Seruni berseru lantang, “Janji-Mu adalah benar! Engkau lah yang benar! Aku salah! Aku yang salah! Aku... Maafkan aku...”
Seruni sesenggukan.
Seruni tersungkur.
Seruni tak ingin apa-apa lagi.
Seruni hanya ingin Tuhan.
Seruni tak akan berharap pada siapapun lagi.
Seruni hanya mau Tuhan.
Iya. Dia. Hanya Dia.

Senin, 17 Oktober 2016

#1 Ngomongin Setan

Pelajaran tentang setan dan jin saya dapatkan sepotong-sepotong dari teman-teman saya, dari bacaan-bacaan yang insyaa Allah semoga bisa dipertanggungjawabkan, maupun dari beberapa kajian yang saya ikuti. Apa yang saya tuliskan di bawah ini adalah rangkuman dari rangkaian cerita dan peristiwa, maupun dari berbagai macam diskusi yang pada akhirnya membentuk simpul-simpul yang saling berkaitan di kepala saya. Bisa jadi ada yang salah dari apa yang akan tertulis di sini. Maka dengan segala kerendahan hati, benarkanlah apa yang salah dari saya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya mulai dari sebuah ayat:

Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah (Q.S An-Nisa: 76)

Jujur, saya dulu termasuk penakut jika berurusan dengan dunia jin/setan. Sedikit-sedikit takut. Mau ke kamar mandi malam-malam takut. Lewat makam tiba-tiba deg-degan. Lewat tempat gelap selalu terbayang-bayang pocong, gendruwo, kuntilanak, dan sebangsanya. Iya, saya takut sama jin/setan padahal saya bukan orang yang bisa melihat mereka. Setan, dalam bayangan saya dulu selalu berhubungan dengan yang tak kasat mata. Berhubungan dengan jin. Padahal, sebenarnya setan itu sering ada di dalam diri saya. Karena, setan menyusup ke dalam aliran darah manusia [HR Bukhari no. 3281 dan HR Muslim no. 2175]. Sehingga, saya berburuk sangka, saya berbohong, saya berzina, saya marah, saya membenci, saya mengeluh, saya melakukan hal-hal buruk. Itu adalah perbuatan setan yang ada pada diri saya, sehingga pada akhirnya saya menjadi setan manusia. Ya, ternyata saya sering dikalahkan oleh setan. Padahal tipu daya setan itu lemah, kan? Sehingga kadang saya berpikir: apakah diri saya benar-benar lebih lemah daripada lemahnya setan?

“Jangan merasa takut sama mereka. Bukannya manusia derajatnya lebih tinggi daripada mereka? Dibacain ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, sama An-Nas juga pergi...,” salah seorang teman saya yang memang punya kemampuan melihat para jin pernah berkata kepada saya dan kepada beberapa teman lainnya suatu sore di Perpustakaan Pusat UGM. Awalnya, kami mendiskusikan pekerjaan untuk salah satu proyek. Tapi entah kenapa, obrolan kami waktu itu berubah haluan menjadi obrolan rasan-rasan pada dunia jin/ setan. Memang, dunia jin/ setan selalu menarik untuk dibicarakan. Saat itu seorang teman bercerita tentang sesosok jin/ setan yang mengikuti salah seorang dosen saat sedang dalam perjalanan pulang dari makrab. Seorang teman yang lain yang bisa melihatnya kemudian membacakan ayat kursi. Kata teman saya itu, “Itu pertama kalinya aku mendengar jeritan kesakitan sampai sebegitunya dari jin. Habis itu dia hilang, dan yang tertinggal hanya bau gosong terbakar.”

Secara fitrah, manusia tidak bisa melihat jin pada wujud aslinya, sementara jin bisa melihat manusia (Q.S. Al-A’raf:27). Sehingga, mereka yang mengaku melihat dan berbicara dengan jin, sebenarnya yang dilihat adalah penjelmaan dari diri mereka [HR Bukhari no. 2311]. Hadits terakhir juga menjelaskan bagaimana cara melindungi diri dari gangguan jin/setan, terutama saat tidur, dengan bacaan ayat kursi.
Tentang bacaan ayat kursi ini, saya dari dulu selalu bertanya-tanya, kenapa jin/setan bisa takut? Dari setiap film-film horor, acara reality show tentang jin/setan, dan pelajaran di sekolah selalu memberi gambaran pengusiran jin/setan dengan ayat kursi. Tapi, saya sendiri tidak tahu sebab musabab jin/setan takut pada satu ayat ini. Sampai, saya menemukan salah satu video tafsir Ibnu Katsir yang membahas ayat kursi. Ayat kursi adalah satu ayat yang agung, di mana tidak ada ayat lain yang seperti itu, karena ayat kursi adalah satu-satunya ayat yang dalam redaksinya mengandung 16 nama Allah sekaligus. Setan/Iblis adalah ciptaan Allah, yang mempercayai keberadaan Allah. Hanya saya kesombongan telah mengalahkan ketaatannya, sehingga Allah melaknatnya. Sehingga, penyebutan nama-nama Allah yang begitu agung 16 kali sekaligus, jelaslah membuatnya ketakutan.

Kemudian tentang tiga surat terakhir dalam Al-Qur’an yang membuat setan lenyap, teman saya kurang lebih membahasakannya seperti ini, “Ada dari mereka yang jika dibacakan ayat kursi saja tidak hilang. Tiga surat terakhirlah, yang membuat mereka pada akhirnya hilang.” Dia mengibaratkan ayat kursi dan tiga surat terakhir sebagai saringan. Jika ayat kursi adalah saringan berlubang besar, maka tiga surat terakhir Al-Qur’an adalah saringan berlubang-lubang kecil yang akhirnya dapat menuntaskan penyaringan setan-setan yang ada di sekitar kita.

Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat) surat Al-Falaq dan An-Nas yang sering disebut sebagai surat Al Mu’awwidzatain (surat yang mengandung perlindungan), disebutkan berkaitan dengan peristiwa sakitnya Rasulallah akibat terkena sihir dari seorang Yahudi. Kalau bahasanya sekarang sih, terkena santet. Turunnya delapan ayat Mu’awwidzatain pada akhirnya mampu melepaskan buhul-buhul dari tukang sihir tersebut. Memang, kalau dibaca arti dari kedua surat ini, isinya adalah permohonan perlindungan. Perlindungan dari gangguan setan jin dan setan manusia, dari kejahatan-kejahatan dari dalam diri, maupun dari makhluk-Nya yang lain, dari kejahatan yang nampak maupun tersembunyi. Sementara Al-Ikhlas, berisi tentang tauhid , yang menegaskan bahwa Dialah Zat Yang Maha Satu, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan Dialah satu-satunya tempat meminta. Jadi tiga surat terakhir, benar-benar bentuk permintaan perlindungan kepada Zat Yang Maha Satu.

Ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas juga dipakai dalam rukyah syar’iyah. Untuk mengusir mereka yang mengganggu jiwa-jiwa manusia yang sungguh lemah. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah. Maka, apakah  kita tidak akan berusaha lebih kuat sedikit saja dari setan?



n.b: tentang penyebutan istilah jin/setan/iblis di atas
- setan adalah sifat, sehingga saat saya menyebutkan kata setan, bisa jadi itu setan jin atau setan manusia
- jin ada yang baik ada yang jahat, sehingga penyebutan jin berarti mewakili keseluruhan jin . Yaitu makhluk yang diciptakan dari api tanpa asap.
- istilah jin/setan saya gunakan untuk menyebut setan dari bangsa jin
- Iblis adalah nama jin yang sifatnya jahat
- Penyebutan kata mereka, berarti saya maksudkan untuk menyebut setan dari bangsa jin.

Minggu, 16 Oktober 2016

Madarijus Salikin. Untuk Anda Yang Sedang Berusaha Menapaki Jalan Lurus.


Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan 


Ibnu Qayyim al Jauziyyah, adalah salah seorang murid Ibnu Taimiyyah dan merupakan salah satu guru dari Ibnu Katsir, mufassir yang karyanya menjadi rujukan para ulama tafsir sampai sekarang. Ibnu Qayyim mengabadikan buah pikirannya ke dalam berpuluh-puluh karya tulis yang sampai abad ini masih banyak dicari orang. Let's see, dia benar-benar bekerja untuk keabadian. Pun, walau beliau mati, karya tulisnya masih memiliki manfaat besar bagi manusia-manusia yang membutuhkan petunjuk di atas jalan yang benar. 

Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah). Awal mula saya menemukan buku ini, dari kepincutnya saya sama kata-kata mutiara dari beliau. Rasa kepincut yang saya tindak lanjuti dengan kepo. Kepo tentang siapa Ibnu Qayyim itu sebenarnya? Dan kekepoan saya itu pada akhirnya mempertemukan saya dengan Madarijus Salikin.

Kitab ini aslinya terdiri dari tiga jilid. Tiga jilid yang menjadi penjabaran dari ayat kelima Surat Al-Fatihah: Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Ayat yang menjadi inti dari Al-Fatihah. Hanya kepada Allah kita menyembah, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Satu ayat yang menghasilkan tiga jilid buku. Wow, itu luar biasa menurut saya.

Saya memang belum merampungkan tiga jilid itu. Saya menemukan sebuah file kitab ini yang sudah diringkas di sini. Baru jilid pertama yang saya lahap. Tapi saya sudah gatal ingin segera mengulasnya karena isinya yang.... bagi saya luar biasa.

Buku pertama berisi kandungan menyeluruh dari ayat kelima dari Ummul Kitab yang sudah disebutkan di atas. Tentang obat hati, hidayah, taubat, dan memahami Uluhiyah serta Rububiyahnya Allah SWT. Kitab ini berbicara tentang hal-hal apa saja yang bisa mendekatkan kita ke jalan hidayah, bagaimana memperoleh taufik dan rahmatnya, juga penjabaran atas hal-hal lain yang mampu mendekatkan diri kita pada Zat Yang Jiwa Kita Ada Dalam Genggaman-Nya. 

Manusia, ada yang diberi petunjuk. Ada pula yang dikunci mati hatinya, disesatkan oleh Yang Maha Kuasa tanpa dia sadar bahwa sebenarnya dia sedang berada dalam kesesatan. Pernah mengalaminya? Ya, saya pernah merasa sedang berjalan di atas jalan yang benar padahal yang saya lalui adalah jalan yang salah karena saya belum tahu ilmunya. Maka benar jika menuntut ilmu itu diwajibkan atas setiap muslim, agar amal yang dia lakukan tidak sia-sia, agar dia tidak tersesat karena sudah tahu ilmunya. Maka, sangat benar jika Nabi mengajarkan kita doa pagi: Allahumma inni as aluka 'ilman naafi'an, wa rizqan tayyiban, wa 'amalan mutaqabballan (Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima).

Jilid pertama buku ini banyak berbicara mengenai pentingnya taubat. Apa definisi taubat, mengapa kita harus taubat, seperti apa tingkatan-tingkatan taubat, bagaimana seharusnya cara taubat, seperti apa taubat yang diterima, seperti apa taubat yang tertolak, kendala-kendala taubat orang yang bertaubat, dan sebagainya. Yang ditekankan dari perkara taubat ini adalah: dia harus dilakukan terus-menerus sampai ajal sudah sampai di hadapan kita. Karena, begitu ruh sudah berpisah dari jasad, tak ada gunanya taubat dilakukan. Karena, setiap kita tak pernah tahu setiap harinya berapa banyak dosa yang sudah kita perbuat. Karena -- seperti apa yang pernah saya dengar dari Khalid Basalamah -- sedikit saja dosa yang kita lakukan, dia memiliki efek jera yang berlipat-lipat jika kita tak pernah bertaubat. Satu jam saja kita pernah berbuat maksiat misalnya, bisa jadi ia harus dibayar selama satu tahun bahkan lebih selama waktu kita di dunia dengan berbagai kesulitan dan permasalahan. Jika pun tidak dibayar di dunia, masih ada penebusan di akherat, Itu pun, bisa jadi rasanya berlipat kali lebih menyakitkan dibandingkan di dunia. Ini jika kita tak pernah bertaubat. Maka, seperti seharusnya kita berusaha untuk istiqomah memegang sesuatu yang kita yakini benar setelah mendapatkan petunjuk, istiqomah untuk bertaubat akan membantu kita di hadapan Allah, nanti.



Madarijus Salikin juga berusaha meluruskan kandungan buku Manazilus Sa'irin yang ditulis oleh Abu Isma'il. Buku yang cukup banyak dirujuk oleh para sufi. Ibnu Qayyim banyak mengkritik ajaran sufisme karena hanya mementingkan ruh tanpa melihat dhahirnya. Sementara menurutnya, urusan ruh dan urusan dhahir sudah semestinya sejalan dan seimbang.

Dalam buku ini, Ibnu Qayyim juga mengungkapkan nasihatnya agar bisa berpikir jernih untuk memetik buah pikiran:

Buah pikiran bisa dipetik dengan tiga cara: tidak mengumbar harapan, menyimak Al-Qur'an, dan meninggalkan lima perkara yang merusak hati: tidak banyak bergaul, tidak mengumbar angan-angan, tidak bergantung kepada selain Allah, mengurangi makan, dan menyedikitkan tidur.

Masih banyak nasihat penting Ibnu Qayyim yang memang seharusnya diketahui dan semoga bisa diamalkan. Karena ilmu tanpa amal adalah bagai pohon tanpa buah. Untuk saya dan Anda yang merasa masih tersesat, semoga dimudahkan menemukan dan berjalan di atas jalan-Nya yang lurus.

Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Ihdinash shiratal mustaqiim.
Hanya kepada-Mu, Allah, kami memohon. Dan hanya kepada-Mu, Allah, kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan menuju-Mu.




Selasa, 11 Oktober 2016

Ngomongin Harta



“Lagi seru nonton tangkap tangan pungli di Instansi X ni. Sampai 1 M sehari. Gile...”

Whatsapp seorang teman petang ini. Selamat datang di hutan belantara. Di mana yang kuat bertahan hidup dia yang menang. Di mana dia yang cerdik, lamis, dan banyak akalnya kebanyakan berjaya di garda terdepan. Tidak semua memang, tapi “kebanyakan”. Dunia kerja sekarang, memang hutan belantara yang banyak jurangnya. Kalau nggak tahu jalan mana yang benar, bisa kecemplung jurang. Bahkan jalan yang sebenarnya salah pun bisa nampak sebagai jalan yang benar lagi lurus. Padahal aslinya, itu adalah jalan menuju jurang.

“Boleh nggak sih, habis kuliah S2 yang ini kelar, gue kuliah lagi?” ucapan seorang teman beberapa hari yang lalu. Dia memang sedang tugas belajar dari kantornya. Bagi beberapa orang, kuliah lagi adalah sarana penyelamatan diri atau sarana menjauhi kejamnya dunia kantor. Dia kemudian bercerita tentang semakin kejamnya acara sikut sana sikut sini di kantornya gara-gara adanya tunjangan kinerja. Yang banyak kerjaannya, semakin banyak tunjangan yang dia dapat.

Menjadi mahasiswa lagi setelah merasakan dunia kerja di luar sana yang seperti itu, rasanya memang lebih menyenangkan. Kembali menjadi idealis walaupun tidak seidealis dulu. Kadang kuliah lagi dianggap sebagai cara aman untuk menghindari segala keburukan yang ada di tempat kerja. Itu kalau kuliahnya bener. Kalau tidak, sama saja, pergi dari satu keburukan ke keburukan lainnya.

Ketika kita masih sekolah atau kuliah dan belum pernah merasakan dunia kerja yang “sesungguhnya”, kita tahu kalau segala bentuk pungli, suap, pembuatan nota palsu, dan semacamnya itu tidak boleh, itu termasuk dosa. Ya, ketika kita masih di bangku sekolah, kita sangat tahu dan sangat mampu berkata kalau itu sesuatu yang bahkan tidak dibenarkan oleh agama dan merugikan orang banyak. Namun, begitu dihadapkan pada realita di lapangan, hanya yang imannya kuat lah yang benar-benar mampu menjadi orang berhati bersih. Saya sendiri, termasuk orang yang imannya lemah dan sangat mungkin terjerat hal-hal semacam itu. Kadang, saya belum bisa mengalahkan bisikan jin qarin yang bersemayam di hati saya yang mengajak saya berbuat hal yang sebenarnya kurang berkah. Maka, itulah salah satu hal yang membuat saya membulatkan tekad untuk kuliah lagi dan keluar dari pekerjaan saya waktu itu.

Rizki yang didapat dari sesuatu yang tidak berkah, akan cepat pula habisnya dan pasti akan terasa kurang seberapa banyak pun uang yang didapat. I feel it. Seperti cerita seorang teman yang pernah mengerjakan suatu proyek. Dia seorang penganut Hindu yang taat, tapi dia paham tentang harta haram dan harta halal. Mana harta berkah dan mana yang tidak. Alkisah dari proyek yang dikerjakannya, ada sejumlah rizki yang dia sendiri tahu kalau rizki itu kurang berkah. Kemudian, dia menggunakan bagian tersebut sebagai modal buka usaha warung makan. Beberapa kali bangkrut. Katanya kemudian, “Aku ngerti kok sebabnya kenapa bangkrut. Duitku nggak berkah.”

Ada lagi teman yang lain. Dia pernah mengerjakan suatu proyek pembuatan video di sebuah kantor. Sebut saja kantor Y. Dia dan rekan-rekan setimnya mendapatkan bayaran beberapa puluh juta dari proyek pembuatan video tersebut. Beberapa lama kemudian setelah proyek itu usai, dia baru tahu kalau jumlah yang seharusnya diterima oleh timnya, sebenarnya lebih besar beberapa puluh juta lagi. Saat itu dia misuh-misuh, “**jigur! Duitnya buat bancakan!”. Ya, memang begitulah realita yang terjadi di lapangan. Sudah rahasia umum sebenarnya. Banyak hal dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa punya kepentingan, untuk mendapatkan untung. Untuk mendapatkan  apa yang dia inginkan.

Saya sendiri pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri kegigihan seorang cukong yang mengejar-ngejar mantan bos saya agar perusahaannya mendapatkan izin di sebuah pulau yang memang tidak mengizinkan adanya kegiatan pemanfaatan seperti apa yang dilakukan perusahaan tersebut selama ini. Saat itu, kami memang sedang ada kegiatan di Pulau X. Bayangkan saja, saat kami sedang bekerja di salah satu ruangan hotel, si cukong itu mengutus anak buahnya datang membawakan beragam macam makanan. Saat acara FGD pun dia dibantu anak buahnya dengan gigih berusaha memberi iming-iming. Bahkan sampai di bandara saat mantan bos saya mau kembali ke ibukota, dia kejar! Untungnya mantan bos saya yang terkenal galak itu sama sekali tidak tergiur iming-iming yang ditawarkan si cukong. Coba saja kalau gampang tergiur. Apa jadinya?

Yes, now money can speak everything. Sekarang, di zaman ketika seseorang yang memegang teguh agamanya sudah seperti sedang menggenggam bara api di tangannya, kita mudah sekali diperbudak dengan uang, Beruntung jika kita mampu dengan gigih mempertahankan iman kita. Beruntung, jika kita punya rekan yang bisa mengingatkan kita.

Beberapa bulan lalu, saat saya sedang mengerjakan sebuah pekerjaan dari sebuah instansi dan sudah mendekati deadline, teman saya yang juga bos saya mengingatkan, “Ayo mbak buruan diselesaikan. Inget lho, nanti dihisab.” Iya. Bukankah harta yang kita punyai ini akan dihisab? Bukankah nanti kita akan ditanyai: Harta kita, bagaimana cara kita memperolehnya dan untuk apa dihabiskan? Harta kita, bisa jadi penyelamat kita. Atau, bisa jadi dia yang nantinya akan menjerumuskan kita ke dalam api neraka.

Rizki itu, bukan seberapa besar jumlah yang didapat. Tapi seberapa berkah kah dia untuk kita.

Minggu, 09 Oktober 2016

Dari Aa’ Gatot sampai Dimas Kanjeng

Hari ini, siapa orang Indonesia yang tidak tahu siapa Aa’ Gatot dan Dimas Kanjeng? Fenomena yang saya sendiri bingung mau mendefinisikannya sebagai fenomena lucu, unik, miris, atau apa. Kedua orang ini sama. Sama-sama menawarkan sesuatu yang dipandang sebagai solusi dengan agama sebagai tunggangannya. Tunggangan inilah, yang mampu menjadi magnet penarik ratusan atau bisa jadi ribuan jamaah sehingga mau menjadi pengikut dengan sukarela. Mereka menawarkan magnet spiritual, semacam karomah atau sejenisnya, yang membuat manusia pada umumnya tertakjub-takjub, ternganga-nganga. Dan ketakjuban itulah yang ujung-ujungnya menimbulkan rasa ingin tahu lebih dalam, lebih dekat, dan lebih intens. Prosesnya mirip seperti orang jatuh cinta. Dan logikanya, ketika seseorang itu sudah jatuh cinta terlalu dalam, susah lepasnya. Bisa jadi, itulah yang terjadi pada para pengikut Aa’ Gatot dan Dimas Kanjeng. Karena dilogika seperti apapun, bagi saya apa yang mereka ajarkan sangat sulit saya pahami dan saya ikuti. Mungkin, karena saya tidak jatuh cinta pada ajaran mereka.

Keduanya – Aa’ Gatot dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi – menawarkan konsep spiritual yang didapat dari kesenangan. Mereka memblurkan hakikat ajaran agama. Mencoba memahami kedua ajaran tersebut, sama sulitnya untuk saya ketika mencoba memahami teori flat earth karena saya sangat yakin bahwa bumi itu bulat (karena semua yang saya pelajari selama 8 tahun ini cukup membuktikan fakta kalau bumi itu berbentuk seperti bola).

Mengapa banyak orang percaya kepada apa yang mereka lakukan kemudian ajarkan? Ada beberapa faktor sebenarnya. Dan ini menurut pendapat saya:
Pertama. Keajaiban. Sudah sifatnya manusia, gampang gumunan dan terkagum-kagum pada hal yang tidak lazim dan tidak umum. Sesuatu yang membuat manusia bilang 'wow', bahkan jika itu tak masuk akal sekalipun, akan mendatangkan rasa kagum yang berlebihan. Kita lihat sejarah para nabi dan rasul. Nabi Isa mampu menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati. Nabi Musa tongkatnya bisa berubah menjadi ular dan mengalahkan ular jadi-jadian milik penyihir Fir'aun serta mampu membelah lautan. Nabi Sulaiman mampu berbicara dengan hewan dan mampu memerintah jin serta angin. Nabi Ibrahim tidak mati dibakar api. Semuanya ajaib. Dan itu semua adalah mukjizat. Mengapa Allah memberi mukjizat semacam itu? Karena memang sifat dasarnya manusia mudah percaya dengan hal-hal ajaib dan mengagumkan, sehingga Allah SWT mendatangkan keajaiban-keajaiban itu agar umat para nabi yang telah disebutkan tadi percaya dengan keberadaan Sang Maha Hebat lewat nabi mereka.

Zaman sekarang, orang-orang yang memiliki keajaiban di luar nalar, sering disebut memiliki karomah. Karomah secara etimologi memiliki arti sebagai penghormatan atau kemuliaan. Seseorang yang memiliki "yang ajaib-ajaib" ini, tentu saja memiliki pengikut. Jadi tidak heran sebenarnya, jika banyak sekali orang yang mempercayai "yang ajaib-ajaib" ini. Dimas Kanjeng misalnya, punya banyak santri karena kehebatannya itu. Bisa menggandakan uang dan mengeluarkan harta dari tangannya? Apa tidak hebat? Sayangnya, sekarang ini orang-orang yang dianggap memiliki "karomah" tidak bisa dipastikan memiliki hati ikhlas dan bersih.

Kedua. Jalan keluar. Apa yang ditawarkan dan diajarkan oleh Aa' Gatot dan Dimas Kanjeng adalah sesuatu yang dianggap mampu menyelesaikan masalah. Sedang penat, stress, depresi, dan mumet, padepokan milik Aa' Gatot menawarkan obatnya. Dengan dibalut apik dengan pemulihan ruhaniyah yang memakai ayat-ayat dari kitabullah sehingga membuat orang percaya kalau dia adalah orang alim, dia kemudian memasukkan unsur lain di dalamnya. Unsur kesenangan. Unsur kesenangan, bukan ketenangan. Kesenangan yang didapat dari ngefly tanpa disadari oleh para pengikutnya kalau mereka sebenarnya sedang ngefly. Kesenangan yang didapatkan dari pesta seks yang membuat mereka melayang-layang dan ketagihan sebagai syarat demi mendapatkan apa yang dislamurkan sebagai ketenangan. Padahal aslinya, itu semua adalah candu. 

Orang-orang normal tentu tahu, apa yang mereka lakukan adalah salah. Lalu bodohkah mereka? Bodohkah apa yang dilakukan oleh para pengikutnya ini? Saya mencoba melihatnya dari sudut pandang orang yang sedang stress, depresi, dan semacamnya dan mereka sedang ingin sembuh. Mereka merasa mendapatnya kesembuhan dari ajaran si Aa' ini. Jadi, salahkah mereka? Apa yang mereka lakukan sebenarnya sama halnya dengan seseorang yang sebenarnya sedang berbuat dosa, tapi tidak sadar sedang berbuat dosa, karena perbuatan mereka itu seakan-akan benar. (Dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk -- An-Naml 24)

Begitu pun dengan Dimas Kanjeng. Banyak orang bermasalah dengan apa yang dinamakan sebagai harta. Entah utang, entah penglarisan, entah selalu merasa kurang dengan harta yang mereka punya. Itu semua masalah. Dan dari pada kerja keras tak tentu hasilnya, adanya penawaran begitu mudahnya keluar dari masalah tadi, siapa yang tidak tergiur? Fenomena Dimas Kanjeng, mengingatkan saya pada sebuah cerita yang dinukil dari hadits tentang kiamat. Cerita tentang Dajjal.

Alkisah Dajjal nantinya bisa "menyelamatkan" orang-orang. Pada waktu itu, nanti, manusia-manusia sedang mengalami kesulitan hidup, masalah berkepanjangan. Kelaparan, kekeringan, dan sebagainya. Dajjal datang, mengeluarkan mereka dari masalah. Menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, menurunkan hujan, memberi harta yang tak habis-habis pada orang-orang. Karena hal inilah, banyak sekali orang yang menjadi pengikutnya. Karena dia dianggap sebagai penyelamat. Padahal, semua tahu siapa sebenarnya Dajjal itu.

Fenomena Dimas Kanjeng, memiliki kisah yang mirip seperti itu. Banyak orang menjadi pengikutnya karena dia mampu menawarkan kelimpahan dunia. Apa yang terjadi sekarang ini menjadi sebuah peringatan untuk diri saya sendiri. Tipu daya dunia itu benar-benar mengerikan. Semoga saya dan Anda diselamatkan darinya. Dari fitnah hidup, fitnah kematian, fitnah kubur, dan fitnah Dajjal.

Sebagai manusia awam, kita -- saya dan Anda -- bukan tidak mungkin bisa tertipu oleh hal yang abu-abu seperti cerita yang dibahas di atas. Kadang kita tidak tahu mana itu benar, mana itu salah. Beruntung jika kita termasuk orang yang diberi petunjuk. Jika tidak?

Siti, seorang sahabat SMA saya yang selalu saya tebengi sepeda jengkinya zaman dahulu kala, sering mengingatkan saya tentang masalah tauhid. Dia adalah sahabat saya yang memulai menjalani proses hijrah dari semasa kuliah. Seseorang yang sering mengingatkan saya ketika saya sedang salah atau bingung.

"Kamu kuatin dulu masalah tauhid. Itu pondasinya. Kalau itu sudah kuat, insyaa Allah yang lain bakal ringan," katanya beberapa bulan silam saat saya berkunjung ke rumahnya.

Tauhid. Meng-Esakan Allah. Kenal UluhiyahNya. Kenal RububiyahNya. Jika sudah kenal dengan Zat Yang Menciptakan kita dengan baik sampai ke hati, tidak semudah itu kita tertipu dengan dunia. Proses mengenal-Nya dengan baik, tentu saja tidak bisa instan. Saya pun, baru menyadari kalau selama ini saya belum mengenal-Nya dengan baik sehingga banyak hal abu-abu muncul dalam hidup saya, banyak tipuan dunia yang menghampiri saya, dan tentu saja saya sering tertipu olehnya. Tertipu oleh sesuatu yang sepertinya benar, tetapi sebenarnya adalah kesalahan.

Tauhid.  Hanya Dia sebaik-baik penolong. Dia sebaik-baik penyelamat. Dia yang memberi ketenangan hati. Hanya kepada-Nya nanti kita akan kembali. Hanya untuk-Nya kita hidup. Hanya untuk-Nya kita mati.


@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.