Selasa, 06 September 2016

Pembicaraan di Bukit Cinta

”If everything has been written down, so why worry we say?” (Grew A Day Older, Dewi Lestari)

Adalah hari itu, ketika saya dipertemukan lagi dengan pembuktian kalimat: Seseorang adalah guru bagi orang lainnya.

Saya dipertemukan dengan seorang teman dalam satu tim kegiatan lapangan di Pulau Kemujan dan Pulau Karimunjawa seminggu ini. Beliau memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih berwarna daripada saya dan memiliki sudut pandang berbeda dari saya.

Adalah hari itu, ketika saya harus mengamini lagi sebuah kalimat yang lain, don’t judge a book by its cover. Jangan pernah lihat seseorang dari bungkus luarnya saja.

Ketika itu seorang kawan mengatakan, “Saya mikirnya dulu Mbak Marul itu alim lho. Ternyata...bla..bla..bla.” Dan itu membuat saya berpikir, apa yang dilihat orang lain dari saya adalah bukan saya. Saya menjadi takut atas anggapan orang lain terhadap saya. Karena saya tidak pernah sebaik apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Penampilan saya yang mungkin nampak alim di mata orang lain, tapi memiliki sisi minus yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh orang lain adalah bukti dari kalimat kedua yang selalu terngiang-ngiang di kepala saya. Berbeda dengan teman saya yang saya ceritakan tadi. Meski dia nampak terlihat sebagai seorang yang jutek dan seenaknya sendiri, sisi baiknya sungguh jauh lebih banyak daripada saya.

“Memang benar, bahwa Tuhan selalu memberi sesuai kemampuan kita,” katanya pada sebuah obrolan panjang lebar yang dibuka saat menunggu matahari terbenam di salah satu sudut Pulau Karimunjawa, Bukit Love atau Bukit Cinta.

Lalu dia bercerita tentang kehidupannya. Tentang keinginan masa lalunya yang hanya sederhana: kuliah di jurusan Teknologi Informasi kemudian lulus S1. Kenyataannya, Tuhan memberikan hal lain untuk dirinya. Bukan hal yang dia inginkan, namun hal yang sesuai dengan kemampuannya.

Dari semua usahanya menembus jurusan TI mulai dari universitas negeri sampai universitas swasta, bahkan sampai sekolah tinggi pun, tak ada jurusan TI yang mau menerimanya. Takdir pulalah yang membawanya meneruskan pendidikan di salah satu sekolah ikatan dinas, menjadi salah satu abdi negara, menjalankan tugas-tugas yang tidak ada dalam keinginan hidupnya sebelumnya di berbagai tempat di Indonesia sekitar lima tahun terakhir ini, sampai akhirnya kuliah S2 bersama saya. Takdir pulalah yang membuat dia memilih untuk tidak jadi menikah beberapa tahun lalu.

Kalau coba saya renungkan, iya ya memang benar. Apa yang kita lakukan memang adalah sesuai kemampuan kita. Sesederhana apapun kita meminta, jika kita memiliki kemampuan lebih, yang diberikan kepada kita adalah sesuatu yang tidak sederhana. Pun sebaliknya.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi saat kita menjalani apa yang digariskan untuk kita.
Kita baru bisa tahu kenapa harus menjalaninya, pada satu titik saat semua itu sudah berhasil kita lewati.



Karimunjawa, 6 September 2016

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.