Kamis, 08 September 2016

Have A Nice Die!


Saya masih di atas travel menuju Jogja tadi malam, ketika Ibuk mengabarkan tentang meninggalnya seorang tetangga karena gantung diri. Umurnya 34 tahun, meninggalkan seorang istri dan seorang anak kelas 6 SD.

Sepanjang hidup saya selama menghadiri pemakaman, baru kali ini saya merasakan suasana sedih yang teramat sedih. Sedih yang berasa suram. Sebelumnya, saya pernah merasakan suasana pemakaman yang sedih saat meninggalnya Jejen, kawan seangkatan, akibat sakit thypus. Tapi kali ini, suasananya berkali-kali lebih sedih.

“...apapun yang terjadi, kita jangan bersu’udzon terhadap almarhum. Karena yang tahu sebenar-benarnya hanyalah Allah. Dan urusan takdir itu hanyalah milik Allah,” samar-samar saya mendengar sang pembaca doa berbicara.

Saat jenazah diangkat, saya melihat banyak mata berkaca-kaca. Keluarganya, tentu saja, sangat terpukul atas kepergian salah seorang di antara mereka dengan cara yang tidak pernah diinginkan oleh siapapun.

Bagaimana cara kita mati nanti. Bagaimana cara kita memasuki gerbang kehidupan kedua kita, adakah yang sudah tahu akan seperti apa? Tidak ada.

Maka benar apa yang diucapkan oleh si pembaca doa: Dan urusan takdir itu hanyalah milik Allah.
Sebagus apapun ibadah kita, amalan kita, kebaikan yang selalu kita usahakan, apakah akan mengantarkan kita kepada akhir yang baik?

Belum tentu.

Kapan kita mati dan dengan cara apa kita mati. Itu akan terus menjadi pertanyaan terbesar bagi seluruh umat manusia. Pertanyaan yang baru bisa dijawab pada saatnya tiba.

Seorang teman pernah membercandai saya saat saya sedang galau soal jodoh. Katanya, “Coba tebak, yang berhasil ngelamar kamu duluan sesosok lelaki atau sesosok malaikat?” Lalu saya bungkam seribu bahasa. Iya, bisa jadi yang duluan di-ACC untuk menjemput saya adalah sesosok malaikat maut. Kemudian  dia bilang, “Nikah itu nggak pasti. Yang pasti itu mati.” Saya kembali dihadapkan pada kebungkaman karena kalimat itu.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Yang membedakan dari kematian itu adalah bagaimana dan dalam keadaan bagaimana kehidupan kita di dunia akan berakhir. Semoga akhir kita adalah akhir yang baik. Akhir di atas jalan-Nya, bukan di atas jalan maksiat, bukan di atas jalan kesesatan, bukan di atas jalan yang dibenci oleh-Nya.

Yaa Muqallibal Quluub. Tsabbit Qalbi ‘ala diinik.

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan:Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari.

Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.

Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka.

Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.

(Riwayat Bukhari dan Muslim)


Pelemsewu Garden, 08 September 2016




Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.