Senin, 19 September 2016

Cerita Tentang Buku dan Saya

Untuk kalian, baik yang sedang berlari maupun merangkak menuju Allah, di atas jalan-Nya yang pasti tidak akan mudah. Di atas jalan-Nya di mana hati sangat mudah berubah, ketika hati sesaat melayang tinggi lalu tiba-tiba jatuh berdebam ke bumi. "Jalan Orang Bijak" akan mengguncang hati kalian. Memberikan nutrisi kepada hati-hati yang sedang pongah dan tak pernah puas terhadap dunia. Memberikan ruang untuk berpikir, untuk mendekat terhadap kekasih terbaik: Allah Azza Wa Jalla


Buku, adalah sebuah benda yang selalu hadir ketika saya sedang dalam kebingungan kala sedang membutuhkan petunjuk-petunjuk. Petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada saja, sejauh ini, selain lewat kitab suci, maupun lewat orang-orang yang saya temui, juga datang dalam bentuk maupun kalimat-kalimat dalam sebuah buku. Maka sering, ketika saya sedang dalam kebingungan yang sangat, pada suatu titik tertentu,  langkah kaki saya menghantarkan saya ke tempat-tempat surga buku berada: perpustakaan, toko buku, maupun rumah teman yang suka baca buku. Saya akan menemukan jawaban-jawaban itu di sana.

Saat bingung terhadap keputusan resign, saya tiba-tiba sudah berada di Gramedia Matraman kala itu, menemukan buku yang ditulis oleh Gol A Gong: "Pasukan Matahari". Atau ketika saya sedang berusaha memahami tentang sebuah perjalanan, "Titik Nol" karya Agustinus Wibowo tanpa direncanakan sudah berada di dalam kantung plastik yang saya tenteng sebelum saya berangkat ke Flores. Dari sana saya memahami bahwa setiap perjalanan selalu bermuara pada pulang, kembali ke rumah, kembali lagi ke titik nol. Setiap jiwa akan kembali pulang ke peraduannya.

Ada lagi, sebuah novel karya Tere Liye: Sunset Bersama Rossie. Buku yang sudah saya baca dan saya punyai beberapa tahun lalu, ternyata menyimpan satu kisah dalam suatu episode kehidupan saya. Tidak ada yang kebetulan. Sama sekali tak ada yang kebetulan. Atau, saat saya sedang dalam perjalanan mengikhlaskan sesuatu yang saya inginkan, "Lapis-Lapis Keberkahan" karya Salim A. Fillah mampu menenangkan hati yang kala itu sedang meronta. Atau tiba-tiba seorang teman mengirimi saya dua buku yang cukup menakjubkan. Satu buku berjudul "Kite Runner", tulisan Khaled Hosseini dan "Looking for Alaska" karya John Green yang pernah saya ulas dalam blog saya ini. Ada yang menarik pada buku John Green. Di dalam buku novel pop yang isinya adalah tentang kehidupan remaja dunia barat, ada satu paragraf yang menyentak saya. Satu paragraf yang menceritakan tentang Rabiah Al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang mencintai Allah dengan sebenar-benar cinta. Hanya satu paragraf dari keseluruhan buku yang sebagian besar berisi tentang kehidupan bebas ala-ala barat, dan bagi saya itu 'wow'. Satu paragraf yang menyentak, berisi jawaban atas sesuatu yang saya cari-cari pada waktu itu.

Jalan Orang Bijak, sebuah buku klasik karya Imam Al-Ghazali, adalah buku yang baru saja selesai saya baca. Saat memilih membaca buku ini, saya heran pada diri saya sendiri. Sejak kapan saya suka kitab-kitab klasik yang isinya "berat" semacam ini? Dan setelah saya resapi baik-baik, seperti yang saya bilang di awal tulisan, buku ini sangat disarankan untuk kalian yang sedang mulai merangkak maupun berlari menuju Allah. Berisi tentang adab-adab ibadah, awal-awal menjemput hidayah, serta berisi nasehat-nasehat yang bermaksud meluruskan hati-hati yang sedang bengkok.

Selamat berlari menuju-Nya! Semoga hati kita tidak dikembalikan kepada hati yang bengkok.
Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa diinik, wa 'alaa taa'atik.

Perpustakaan Pusat UGM, hari ini.


Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.