Kamis, 29 September 2016

#1 CHANGE! Aku Sebenarnya Ngapain, Sih?

Buat apa sebenarnya aku ngelakuin ini? Aku ngapain sih?
Itu pertanyaan yang sering muncul di dalam hati saya setiap melakukan sesuatu. Dulu, apapun yang saya lakukan, pertanyaan itu selalu datang mengiringi. Muncul begitu saja.

Dulu, saya selalu merasa saya punya cita-cita dan mimpi untuk diraih. Sering, saya menuliskannya di sebuah buku. Kebanyakan, apa yang saya inginkan itu ada dalam genggaman. Beberapa tidak. Dulu, saya selalu berdoa untuk mimpi-mimpi saya itu. Tapi, begitu mimpi-mimpi itu menjadi nyata, pertanyaan yang berulang di benak itu kerap kali muncul. Aku sebenarnya ngapain sih ini?

Dulu, setiap bangun tidur, saya selalu punya rencana-rencana di setiap harinya. Saya harus ngapain hari itu, saya musti ke mana hari itu. Sampai, saya terlihat sangat sibuk dan merasa sibuk menjalani rencana-rencana itu. Ikut komunitas ini itu. Mengerjakan ini  itu. Merasa sudah mengamalkan hadits ini: Dan sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Namun di setiap harinya, sering, saya merasa lelah dengan apa yang saya lakukan. Aku sebenarnya ngapain sih ini?

Dulu, saya merasa bangga mengupload foto-foto keren saya di media sosial. Saya bisa mengunjungi tempat-tempat eksotis di Indonesia. Saya kerap pergi ke mana-mana. Saya merasa hidup saya keren. Sampai kadang-kadang muncul komentar: Enaak yaa, jalan-jalan terus. Pengen. Dsb. Tapi dalam hati kecil saya, selalu muncul satu kalimat itu: Aku sebenarnya ngapain sih ini?

Seluruh hidup saya, mulai dari akil baligh sampai usia saya yang ke seperempat abad, saya sebenarnya tidak tahu saya sedang ngapain. Iya, saya punya cita-cita. Iya, saya punya mimpi. Iya, saya berusaha menuju ke itu semua. Tapi, apa yang saya rasakan di dalam hati sebenarnya ada sesuatu yang hambar. Selalu ada yang kurang di balik itu semua. Rasa gelisah yang tidak pernah berhenti saat memulai pagi, setiap harinya. Selalu ada yang kurang di dalam hati saya. Sesuatu yang kosong mlompong. Bukan, bukan kosong karena masalah tidak adanya pasangan hidup seperti yang dibilang orang-orang. Sesuatu yang waktu itu, sebenarnya saya juga tidak tahu itu apa. Aku sebenarnya ngapain sih? Aku sebenarnya harus ke mana sih?

Jin dan manusia diciptakan untuk beribadah. Dalam kurun waktu yang telah saya sebutkan di atas, iya saya beribadah. Saya sudah merasa beribadah. Sholat lima waktu, puasa, ngaji, dan ibadah lain di sela-sela waktu yang ada. Tapi tetap saja pada akhirnya, pada suatu titik, pertanyaan itu kembali muncul: aku sebenarnya ngapain sih ini? Aku harus gimana? Aku harus ke mana?

Sampai, cahaya di atas cahaya itu datang di usia saya yang ke duapuluh enam. Setelah saya merasa kecewa berat terhadap sesuatu pada tahun ini, cahaya itu berhasil masuk lewat lubang-lubang luka, dan sedikit-sedikit mengisi sesuatu yang saya bilang kosong mlompong tadi.

Sejak saat itu, saya tahu sebenarnya saya harus ngapain dan harus ke mana. Sejak saat itu, saya semakin mengerti apa makna istilah hidayah dan juga hijrah.


Kamar inspirasi, berpagi hari.
n.b: tulisan ini masih bersambung. Semoga ada manfaatnya buat yang baca.

Kamis, 22 September 2016

It's Gonna Be OK [The Piano Guys]


Semangat memulai Thesis!

Senin, 19 September 2016

Cerita Tentang Buku dan Saya

Untuk kalian, baik yang sedang berlari maupun merangkak menuju Allah, di atas jalan-Nya yang pasti tidak akan mudah. Di atas jalan-Nya di mana hati sangat mudah berubah, ketika hati sesaat melayang tinggi lalu tiba-tiba jatuh berdebam ke bumi. "Jalan Orang Bijak" akan mengguncang hati kalian. Memberikan nutrisi kepada hati-hati yang sedang pongah dan tak pernah puas terhadap dunia. Memberikan ruang untuk berpikir, untuk mendekat terhadap kekasih terbaik: Allah Azza Wa Jalla


Buku, adalah sebuah benda yang selalu hadir ketika saya sedang dalam kebingungan kala sedang membutuhkan petunjuk-petunjuk. Petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada saja, sejauh ini, selain lewat kitab suci, maupun lewat orang-orang yang saya temui, juga datang dalam bentuk maupun kalimat-kalimat dalam sebuah buku. Maka sering, ketika saya sedang dalam kebingungan yang sangat, pada suatu titik tertentu,  langkah kaki saya menghantarkan saya ke tempat-tempat surga buku berada: perpustakaan, toko buku, maupun rumah teman yang suka baca buku. Saya akan menemukan jawaban-jawaban itu di sana.

Saat bingung terhadap keputusan resign, saya tiba-tiba sudah berada di Gramedia Matraman kala itu, menemukan buku yang ditulis oleh Gol A Gong: "Pasukan Matahari". Atau ketika saya sedang berusaha memahami tentang sebuah perjalanan, "Titik Nol" karya Agustinus Wibowo tanpa direncanakan sudah berada di dalam kantung plastik yang saya tenteng sebelum saya berangkat ke Flores. Dari sana saya memahami bahwa setiap perjalanan selalu bermuara pada pulang, kembali ke rumah, kembali lagi ke titik nol. Setiap jiwa akan kembali pulang ke peraduannya.

Ada lagi, sebuah novel karya Tere Liye: Sunset Bersama Rossie. Buku yang sudah saya baca dan saya punyai beberapa tahun lalu, ternyata menyimpan satu kisah dalam suatu episode kehidupan saya. Tidak ada yang kebetulan. Sama sekali tak ada yang kebetulan. Atau, saat saya sedang dalam perjalanan mengikhlaskan sesuatu yang saya inginkan, "Lapis-Lapis Keberkahan" karya Salim A. Fillah mampu menenangkan hati yang kala itu sedang meronta. Atau tiba-tiba seorang teman mengirimi saya dua buku yang cukup menakjubkan. Satu buku berjudul "Kite Runner", tulisan Khaled Hosseini dan "Looking for Alaska" karya John Green yang pernah saya ulas dalam blog saya ini. Ada yang menarik pada buku John Green. Di dalam buku novel pop yang isinya adalah tentang kehidupan remaja dunia barat, ada satu paragraf yang menyentak saya. Satu paragraf yang menceritakan tentang Rabiah Al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang mencintai Allah dengan sebenar-benar cinta. Hanya satu paragraf dari keseluruhan buku yang sebagian besar berisi tentang kehidupan bebas ala-ala barat, dan bagi saya itu 'wow'. Satu paragraf yang menyentak, berisi jawaban atas sesuatu yang saya cari-cari pada waktu itu.

Jalan Orang Bijak, sebuah buku klasik karya Imam Al-Ghazali, adalah buku yang baru saja selesai saya baca. Saat memilih membaca buku ini, saya heran pada diri saya sendiri. Sejak kapan saya suka kitab-kitab klasik yang isinya "berat" semacam ini? Dan setelah saya resapi baik-baik, seperti yang saya bilang di awal tulisan, buku ini sangat disarankan untuk kalian yang sedang mulai merangkak maupun berlari menuju Allah. Berisi tentang adab-adab ibadah, awal-awal menjemput hidayah, serta berisi nasehat-nasehat yang bermaksud meluruskan hati-hati yang sedang bengkok.

Selamat berlari menuju-Nya! Semoga hati kita tidak dikembalikan kepada hati yang bengkok.
Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa diinik, wa 'alaa taa'atik.

Perpustakaan Pusat UGM, hari ini.


Jumat, 16 September 2016

Tiga Puluh Tahun Lagi

Ada apa tiga puluh tahun lagi?

Just wait and see :))

Kamis, 08 September 2016

Have A Nice Die!


Saya masih di atas travel menuju Jogja tadi malam, ketika Ibuk mengabarkan tentang meninggalnya seorang tetangga karena gantung diri. Umurnya 34 tahun, meninggalkan seorang istri dan seorang anak kelas 6 SD.

Sepanjang hidup saya selama menghadiri pemakaman, baru kali ini saya merasakan suasana sedih yang teramat sedih. Sedih yang berasa suram. Sebelumnya, saya pernah merasakan suasana pemakaman yang sedih saat meninggalnya Jejen, kawan seangkatan, akibat sakit thypus. Tapi kali ini, suasananya berkali-kali lebih sedih.

“...apapun yang terjadi, kita jangan bersu’udzon terhadap almarhum. Karena yang tahu sebenar-benarnya hanyalah Allah. Dan urusan takdir itu hanyalah milik Allah,” samar-samar saya mendengar sang pembaca doa berbicara.

Saat jenazah diangkat, saya melihat banyak mata berkaca-kaca. Keluarganya, tentu saja, sangat terpukul atas kepergian salah seorang di antara mereka dengan cara yang tidak pernah diinginkan oleh siapapun.

Bagaimana cara kita mati nanti. Bagaimana cara kita memasuki gerbang kehidupan kedua kita, adakah yang sudah tahu akan seperti apa? Tidak ada.

Maka benar apa yang diucapkan oleh si pembaca doa: Dan urusan takdir itu hanyalah milik Allah.
Sebagus apapun ibadah kita, amalan kita, kebaikan yang selalu kita usahakan, apakah akan mengantarkan kita kepada akhir yang baik?

Belum tentu.

Kapan kita mati dan dengan cara apa kita mati. Itu akan terus menjadi pertanyaan terbesar bagi seluruh umat manusia. Pertanyaan yang baru bisa dijawab pada saatnya tiba.

Seorang teman pernah membercandai saya saat saya sedang galau soal jodoh. Katanya, “Coba tebak, yang berhasil ngelamar kamu duluan sesosok lelaki atau sesosok malaikat?” Lalu saya bungkam seribu bahasa. Iya, bisa jadi yang duluan di-ACC untuk menjemput saya adalah sesosok malaikat maut. Kemudian  dia bilang, “Nikah itu nggak pasti. Yang pasti itu mati.” Saya kembali dihadapkan pada kebungkaman karena kalimat itu.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Yang membedakan dari kematian itu adalah bagaimana dan dalam keadaan bagaimana kehidupan kita di dunia akan berakhir. Semoga akhir kita adalah akhir yang baik. Akhir di atas jalan-Nya, bukan di atas jalan maksiat, bukan di atas jalan kesesatan, bukan di atas jalan yang dibenci oleh-Nya.

Yaa Muqallibal Quluub. Tsabbit Qalbi ‘ala diinik.

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan:Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari.

Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.

Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka.

Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.

(Riwayat Bukhari dan Muslim)


Pelemsewu Garden, 08 September 2016




Selasa, 06 September 2016

Seperti Terumbu Karang

Menjangan Kecil, 5 September 2016


Seorang wanita, adalah seperti terumbu karang.
Ia cantik, siapa yang memandangnya akan jatuh cinta.
Ia adalah Rumah, Rumah bagi para ikan-ikan kecil, Rumah bagi para bayi.
Ia adalah tempat berkembang dan tempat tumbuh.
Ia membutuhkan yang lain, lamun dan mangrove,
Seperti wanita yang membutuhkan lelaki dan orangtuanya.

Seorang wanita, adalah seperti terumbu karang.
Yang menyukainya tak hanya ingin memandangnya
Yang menyukainya, sangat ingin menyentuhnya.
Ingin berfoto ria dengannya,
Kemudian memajangnya di media sosial.
Pada akhirnya, itu hanya ajang pamer belaka.

Terumbu karang yang telah disentuh oleh dia yang tak boleh menyentuh,
Tak akan sama lagi.
Terumbu karang yang sering disentuh,
Ia sebenarnya sedang mati perlahan-lahan.
Bahkan bukan. 
Sebenarnya, mati lebih cepat.
Tanpa disadari, warna-warna indahnya berubah.
Dia memutih.
Bleaching.
Mati. Karang mati.
Lalu ikan-ikan mulai meninggalkannya. 
Dia yang dulu berbahagia menikmati dan menyentuhnya  juga sudah meninggalkannya.
Mencari yang lain yang lebih Indah berwarna-warni.

Wanita itu seperti terumbu karang,
Sekali dia hancur dan ditinggalkan,
Apakah kau tahu berapa lama dia akan kembali pulih?
Lama. Lama sekali.

Asari Timo Beach, 
Pulau Kemujan, 6 September 2016

Pembicaraan di Bukit Cinta

”If everything has been written down, so why worry we say?” (Grew A Day Older, Dewi Lestari)

Adalah hari itu, ketika saya dipertemukan lagi dengan pembuktian kalimat: Seseorang adalah guru bagi orang lainnya.

Saya dipertemukan dengan seorang teman dalam satu tim kegiatan lapangan di Pulau Kemujan dan Pulau Karimunjawa seminggu ini. Beliau memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih berwarna daripada saya dan memiliki sudut pandang berbeda dari saya.

Adalah hari itu, ketika saya harus mengamini lagi sebuah kalimat yang lain, don’t judge a book by its cover. Jangan pernah lihat seseorang dari bungkus luarnya saja.

Ketika itu seorang kawan mengatakan, “Saya mikirnya dulu Mbak Marul itu alim lho. Ternyata...bla..bla..bla.” Dan itu membuat saya berpikir, apa yang dilihat orang lain dari saya adalah bukan saya. Saya menjadi takut atas anggapan orang lain terhadap saya. Karena saya tidak pernah sebaik apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Penampilan saya yang mungkin nampak alim di mata orang lain, tapi memiliki sisi minus yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh orang lain adalah bukti dari kalimat kedua yang selalu terngiang-ngiang di kepala saya. Berbeda dengan teman saya yang saya ceritakan tadi. Meski dia nampak terlihat sebagai seorang yang jutek dan seenaknya sendiri, sisi baiknya sungguh jauh lebih banyak daripada saya.

“Memang benar, bahwa Tuhan selalu memberi sesuai kemampuan kita,” katanya pada sebuah obrolan panjang lebar yang dibuka saat menunggu matahari terbenam di salah satu sudut Pulau Karimunjawa, Bukit Love atau Bukit Cinta.

Lalu dia bercerita tentang kehidupannya. Tentang keinginan masa lalunya yang hanya sederhana: kuliah di jurusan Teknologi Informasi kemudian lulus S1. Kenyataannya, Tuhan memberikan hal lain untuk dirinya. Bukan hal yang dia inginkan, namun hal yang sesuai dengan kemampuannya.

Dari semua usahanya menembus jurusan TI mulai dari universitas negeri sampai universitas swasta, bahkan sampai sekolah tinggi pun, tak ada jurusan TI yang mau menerimanya. Takdir pulalah yang membawanya meneruskan pendidikan di salah satu sekolah ikatan dinas, menjadi salah satu abdi negara, menjalankan tugas-tugas yang tidak ada dalam keinginan hidupnya sebelumnya di berbagai tempat di Indonesia sekitar lima tahun terakhir ini, sampai akhirnya kuliah S2 bersama saya. Takdir pulalah yang membuat dia memilih untuk tidak jadi menikah beberapa tahun lalu.

Kalau coba saya renungkan, iya ya memang benar. Apa yang kita lakukan memang adalah sesuai kemampuan kita. Sesederhana apapun kita meminta, jika kita memiliki kemampuan lebih, yang diberikan kepada kita adalah sesuatu yang tidak sederhana. Pun sebaliknya.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi saat kita menjalani apa yang digariskan untuk kita.
Kita baru bisa tahu kenapa harus menjalaninya, pada satu titik saat semua itu sudah berhasil kita lewati.



Karimunjawa, 6 September 2016
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.