Sabtu, 27 Agustus 2016

Wahai Bumi, Wahai Langit


Seandainya bumi diberi kehendak seperti manusia, niscaya dia akan menghancurkan manusia yang selalu bermaksiat di atasnya. Tapi, Tuhan menghendaki dia untuk taat. Maka taatlah dia. Dan selamatlah manusia untuk sementara waktu.

Bumi dan langit. Saksi atas segala sesuatu yang terjadi pada awal penciptaan manusia pertama sampai dibinasakannya manusia terakhir. Penciptaan mereka dalam enam masa, jauh mendahului penciptaan manusia. Jejak-jejak manusia di atasnya, disaksikannya dalam setiap detik waktu. Segala yang terjadi semenjak apa yang disebut zaman pra sejarah sampai zaman millenium, sampai nanti dia diperintahkan untuk hancur sehancur-hancurnya, dia akan menjadi salah satu saksi kunci.

Perebutan kekuasaan, peperangan, kedamaian, pergantian tahta, hancurnya peradaban-peradaban, munculnya kerajaan-kerajaan, dan apapun yang pernah terjadi, terekam dengan baik oleh mereka, bumi dan langit. Pun apa yang terjadi pada tiap diri kita. Semenjak keluar dari perut ibu, tumbuh dewasa dengan kenakalan-kenakalan kita, memakai beberapa tempatnya pada koordinat tertentu untuk bermaksiat dan bertindak jahat maupun beramal yang baik-baik, lalu mati menjadi bangkai di dalam tanah, bumi dan langit merekam itu semua dengan baik – selain malaikat tentunya. Sehingga, selain pendengaran, penglihatan, dan kulit kita, bumi dan langit akan menjadi pelengkap kesaksian pada saat hari hitung menghitung  tiba.

Tanahnya, batuannya, udaranya, airnya. Apa yang pernah dipakai dan ditinggali oleh masing-masing jiwa yang dihidupkan lalu dimatikan di atasnya akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Dia – bumi –  tidak akan pernah mengkhianati Tuhannya. Karena yang dia bisa hanyalah taat, seperti apa yang pernah dikatakannya bersama langit kala Tuhan memerintahkan mereka untuk bersatu. Kala langit masih berupa asap, Allah berkata kepada langit dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Waktu itu, mereka berdua menjawab, “Kami datang dengan suka hati.” 

Taat.

Seandainya bumi dan langit tidak taat, tidak ada manusia yang tersisa di atasnya dan di bawahnya saking kesalnya mereka kepada perbuatan-perbuatan manusia. Manusia yang taat, akan kesal jika melihat perbuatan-perbuatan yang tidak baik di hadapannya. Pun dengan bumi dan langit. Selama berabad-abad, mereka menyimpan kekesalan itu, pada makhluk-makhluk yang katanya berakal. Pada makhluk-makhluk yang diberi keistimewaan untuk berbuat sesuka hati, pada makhluk yang diperbudak oleh nafsu. Tapi, mereka – bumi dan langit – dengan suka hati taat terhadap Tuhannya. Mereka menahan diri untuk tidak melakukan apa yang tidak diperintahkan pada mereka. Gempa bumi, tsunami, erupsi, tornado, puting beliung, badai, petir dan kilat, adalah bentuk ketaatan mereka kepada Tuhannya. Saat diperintahkan untuk sedikit berimprovisasi dengan bentuk-bentuk yang baru saja disebutkan, sungguh, mereka hanya sedang menjalankan ketaatannya.

Saat nanti kubur menjadi sempit atau lapang, maka saat itu juga bumi sedang melaksanakan tugasnya. Dan ketika nanti dia hancur bersama langit, itu adalah tugas paling penting bagi mereka. Maka, wahai bumi, wahai langit, kami sampaikan salam untuk kalian. Selamat menjalankan tugas dengan baik. Selamat beribadah untuk-Nya dan hanya untuk-Nya.

disarikan dari tafsir Q.S Al-Zalzalah oleh Ust Muhammad Yahya
dan tafsir Q.S Fushshilat 11

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.