Minggu, 14 Agustus 2016

Teman Ngobrol di Perjalanan

gambar dari sini


Sering, setiap kali saya ada kerjaan di luar, saya menemukan teman ngobrol ngalor-ngidul yang menyenangkan. Para sopir yang bertugas membawakan mobil sewaan ketika saya saat itu sedang memperjalankan diri. Para sopir ini, kebanyakan yang saya temui, sudah banyak makan asam garam kehidupan. Sehingga, apa yang saya dapatkan selama mengobrol di perjalanan adalah cerita-cerita hidup yang kadang membuat saya geleng-geleng kepala sampai terkagum-kagum.

Seperti seorang sopir yang kami panggil “Bang” -- saya lupa namanya – yang menemani perjalanan napak tilas tsunami Aceh 2014, dua tahun lalu, dari Meulaboh sampai Banda Aceh. Kemampuannya menguasai jalanan Aceh sekaligus kemampuannya berkisah dan bercerita bak guide yang mengantarkan penumpangnya piknik membuat perjalanan kami di sana menjadi menyenangkan. Apalagi, ditambah penguasaannya terhadap tempat-tempat kuliner di Aceh. Termasuk, penguasaannya terhadap dunia perkopian Aceh. Lalu, pada akhirnya saya tahu beliau dulu adalah pengusaha kopi Aceh yang akhirnya memilih menjadi sopir sehingga bisa pergi kemana-mana. 

“Kalau dulu masih jualan kopi, saya tiap hari cuma di warung saja. Sekarang jadi sopir, saya bisa tahu dunia luar,” begitu jawabannya ketika salah seorang rekan memprotes pilihannya. Memang, memiliki warung kopi di Aceh adalah usaha kuliner khas yang cukup menjanjikan. Di Acehlah, pertama kali saya merasakan nikmatnya racikan kopi Aceh dan lezatnya kue srikaya di kedai-kedai khasnya. 

Selain hal di atas, penguasaan dan pengetahuan si Abang terhadap suatu tempat yang kami singgahi kala itu sempat membuat saya terkagum-kagum. Sebut saja ceritanya tentang sejarah masyarakat Lamno, “si mata biru” keturunan Portugis yang mendiami salah satu wilayah di Aceh. Atau tentang seluk beluk sebuah desa yang kami lewati, yang dulunya dikenal sebagai kampung GAM atau sebuah kampung yang banyak praktek sihir di dalamnya. Atau tentang cerita-cerita yang menyertai tsunami besar pada tahun 2004 lalu. Awalnya, saat pertama kali bertemu beliau ketika menjemput kami di Bandara Cut Nyak Dhien, saya memandang beliau sebagai orang yang gahar, tinggi besar, dan nada bicaranya cukup membuat yang mendengarkan berpikir kalau beliau orangnya keras. Ternyata, jauh dari yang dibayangkan, beliau penuh banyolan dan berwawasan luas. Pelajaran buat saya kala itu, untuk kedua kalinya, jangan suka menilai orang ketika baru pertama ketemu!

Bertemu orang baru yang mau menceritakan kisah hidupnya, membuat kita tahu, kalau setiap orang yang kita temui memiliki kisah hidupnya masing-masing. Setiap orang memiliki kesulitan dan masalah yang sering, membuat mereka berubah.

Suatu hari sehabis salah satu perjalanan dinas dari Pulau Dewata, di bandara saya bertemu dengan seorang kawan sekantor yang sama-sama pulang dari perjalanan dinas dari tempat berbeda. Biasanya, kalau sendiri, saya lebih memilih naik Damri dari Cengkareng-Gambir disambung naik bajaj atau ojek sampai kos. Namun, karena saat itu bertemu teman saya yang bawaannya banyak, kami memutuskan naik taksi. Kami dipertemukan dengan seorang sopir taksi. Sebut saja namanya Pak A. Beliau orangnya banyak omong, banyak cerita. Sehingga perjalanan kami yang berlangsung saat jam puncak macet di jalanan Cengkareng-Jakarta, menjadi tidak membosankan. Pak A, yang ternyata terlahir di Jogja, memiliki kisah hidup yang membuat capek saya seketika hilang pada waktu itu.

Beliau penderita gagal ginjal yang harus rutin cuci darah seminggu dua kali. “Saya kalau tiap hari Senin Kamis libur narik neng, ke rumah sakit dulu. Nyuci darah. Alhamdulillah gratis, dapet bantuan dari Yayasan A. Kalau lagi ngga cuci darah ya narik tiap malem.”

Selanjutnya, beragam kisah muncul dari beliau. Tentang beliau yang pernah gagal dalam berumah tangga. Tentang pengalaman tak terlupakan yang membawa mayat sembunyi-sembunyi di taksinya dari Jakarta-Banten. Tentang pengalaman-pengalaman lain yang tak kalah menarik. Beliau tidak menceritakan kesulitan-kesulitan yang pernah beliau alami dengan nada sedih lagi nestapa. Beliau menceritakan itu semua dengan nada optimis penuh semangat dan pada akhirnya adalah: kesyukuran. Beliau sakit cukup parah, namun tidak terlihat sebagai orang sakit.

“Bapak nggak apa-apa memang tiap hari kerja?” saya bertanya seperti ini mengingat keadaan beliau yang harus sering cuci darah. Pikir saya, apa ya nggak lemes?

“Alhamdulillah masih diberi kekuatan buat kerja, Neng. Yang penting bapak jaga makan. Ntar kalo capek kan bisa istirahat Neng...”

“Bapak seneng masih bisa kemana-mana, Neng. Kerja itu yang penting bisa ngerasain tentram, seberat apapun kerjaannya...”

Lalu saya ingat diri saya yang suka ngeluh dan protes capek setiap kali lembur. Kalo kayak begini mah, gue belum ada apa-apanya dibandingin ni Bapak...

Di lain kesempatan, di suatu perjalanan darat ke Pangandaran, seorang bapak-bapak setengah baya menjadi teman ngobrol yang membuat saya tersadar akan sesuatu. Suatu kenyataan bahwa godaan berupa harta, tahta, dan wanita itu benar-benar membuat buta mata.  Sebut saja teman ngobrol saya kali itu adalah Pak B. Pak B ini sering diminta menjadi sopir di beberapa instansi pemerintah. 

“Saya suka susah kalo diminta nyopirin pejabat-pejabat, Mbak,” beliau memulai curhatnya.

“Kenapa, Pak?”

“Nggak semua pejabat memang. Tapi ada beberapa oknum pejabat tertentu yang kadang bikin dilema...”

“....banyak yang minta dianterin ‘jajan’ kalau lagi pas dinas keluar kota”

Pemilihan diksi ‘jajan’ di sini, tentu saja, adalah mencari kesenangan dari wanita yang pekerjaannya memang menjajakan diri untuk membuat para lelaki terpuaskan.

“Kadang ada juga tuh, pejabat, pas lagi ada kerjaan di luar kota, malamnya minta dianterin ke tempat-tempat kayak begitu. Saya bilang aja nggak tahu. Eh, saya diiming-imingi gratis satu kalau mau nganterin...”

“Trus pak..?” Saya penasaran. Saya tahu, sangat tahu, godaan semacam ini sangat berat ditampik bagi mereka yang imannya setipis tisu.

“Kadang akhirnya saya antarkan, tapi saya nunggu di mobil. Setelah itu saya ngerasa nggak tenang atinya, Mbak. Apa ya mereka nggak ingat anak istri di rumah ya? Saya sih takut Mbak. Semua itu kan pasti ada balasannya.”

Semua itu ada balasannya.
Iya, bener banget. Saya cuma membatin.

Harta, tahta, wanita. Tiga hal yang sangat berbahaya bagi mereka yang moral dan akhlaknya kurang kuat, sehingga keinginan untuk bersenang-senang lah yang menjadi lebih kuat. Dan bagi saya itu mengerikan. Dan semoga lelaki yang berjodoh dengan saya nanti tidak gampang tergoda dengan hal-hal semacam itu. Pun saya sendiri, semoga jauh-jauh dari hal macam begitu.

Tiga orang saya saya ceritakan di atas, baru sedikit dari beberapa teman ngobrol di perjalanan yang cukup membuat pemikiran dan hati saya teraduk-aduk. Mengutip kalimat favorit yang pernah dilontarkan oleh salah seorang kenalan: Seseorang itu adalah guru bagi orang lain. Maka kosongkanlah gelasmu saat bertemu orang baru, agar gelas itu kembali terisi penuh dengan sesuatu yang baru juga.

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.