Sabtu, 20 Agustus 2016

CERITA





Sekali lagi setelah berkali-kali. Saya kagum sama skenario Gusti Allah. Jalan cerita yang dibuatNya selalu menarik dan mengagumkan. Setiap kejadian dalam skenarioNya selalu punya keterkaitan satu sama lain. Setidaknya, itulah yang sering saya rasakan.

Mengapa saya harus mengalami ini? Mengapa saya berada di tempat itu? Mengapa saya bertemu orang seperti ini? Mengapa harus berurusan dengan orang seperti itu? Mengapa saya harus ke situ? Mengapa? Mengapa? Dan Mengapa? Dari setiap pertanyaan itu selalu ada jawaban di belakangnya di suatu waktu yang lain.

Seperti, mengapa saya harus berurusan dengan orang yang meremehkan, membuat hati sempit, dan mendzolimi saya? Mungkin, dia adalah investasi. Investasi untuk diambil amalnya oleh saya nanti saat datang hari tuntut menuntut, atau bahkan lebih dari itu, mereka adalah penyebab “dihadiahkannya” sebuah bangunan serupa istana nanti olehNya, jika saya bisa memaafkan dia yang telah berbuat aniaya. Semuanya memiliki esensi sama, berujung pada hal baik.

Pertemuan dengan tempat tertentu dan orang tertentu, itu juga memiliki kaitan tak terlihat dengan sesuatu yang kita jalani di masa mendatang.

Salah satu tempat itu, dalam cerita rangkaian hidup saya, adalah Teluk Awur. Sebuah tempat yang menarik bagi saya. Tempat yang dulu pernah dihadirkan sesaat dan pada akhirnya sekarang pun saya berurusan dengan dia lagi. Siapa sangka?

Dua tahun lalu, di Teluk Awurlah, pertama kalinya saya berhasil mengatasi rasa megap-megap saat nyemplung ke laut. Pasca hampir “tenggelamnya” saya di Pulau Bakungan di Kalimantan sana, saya selalu ketakutan setiap nyemplung air dan harus pakai life jacket kalau memang harus nyemplung. Saat itu, di Teluk Awur, salah satu dosen pelatihan survey pemetaan pesisir dan laut yang diadakan kantor, tidak memperbolehkan kami memakai life jacket. Saya yang masih ketir-ketir di tepi kapal pun, didorong nyemplung ke laut. Megap-megap lah saya akibat efek panik. Lalu, seorang asisten menarik saya dan membimbing saya sampai saya berani. Mulai dari situlah, saya menjadi lebih tenang setiap kali nyemplung ke air.

Entahlah, efek trauma selalu membuat saya seperti itu. Pada lift misalnya. Karena pernah terjebak seorang diri di dalam lift setahun lalu, saya sekarang lebih memilih jalan melalui tangga jika di lift yang akan saya masuki tidak ada orang dan jika lantainya tidak lebih tinggi dari empat atau lima lantai. Padahal, tidak terlalu lama saya terjebak di dalam lift, tidak lebih dari dua puluh menit. Tapi paniknya itu yang bikin sengsara. Padahal waktu itu saya tidak apa-apa. Dan Itu baru dua puluh menit di dalam lift yang terasa sempit dan terasa sendiri. Coba ya, besok di dalam kubur gimana rasanya?  

Selain itu, gempa misalnya. Tidak lebih dari satu menit memang. Tapi, seumur hidup saya, baru kali itu saya merasa sangat-sangat ketakutan. Kalau istilah Jawanya, atine entek. Dan sejak saat itu hati saya selalu berdesir setiap tanah yang saya pijak bergetar atau bergoyang walaupun itu hanya akibat efek kendaraan lewat atau efek elastisitas gedung dan bukan efek gempa. Coba ya, besok saat kiamat bakal setakut apa rasanya?

Kembali ke Teluk Awur. Urusan perkuliahan saya akhirnya harus berurusan dengan tempat itu juga. Beberapa minggu yang lalu saya mengunjunginya lagi saat perjalanan survey persiapan kuliah lapangan di pulau kecil di seberang Teluk Awur yang akan dilaksanakan awal September nanti. Saya kembali bernostalgia atas sedikit waktu yang pernah saya lalui di tempat itu. Pada kamar-kamar asramanya. Pada mangrove yang tumbuh di sana. Pada sunset  serupa kuning telur paling indah yang pernah saya pandang di tengah laut. Pada sedikit rasa berani yang berhasil saya tumbuhkan di tempat tersebut.

Pun dengan salah seorang teman saya, yang pernah menghabiskan setahun setengah waktu hidupnya, setiap hari, enam belas tahun lalu, di tempat yang sama. Dia bernostalgia, bergembira bisa mengunjungi tempat yang baginya penuh dengan cerita-cerita tak terlupakan puluhan tahun lalu. Berbahagia menemui kamar-kamar asrama yang masih sama dengan enam belas tahun lalu. Menemui penjaga asrama yang masih sama. Bercerita tentang nelayan yang sering memberi ikan. Dan tersenyum menemukan kenyataan bahwa pohon mangga yang tumbuh di samping asramanya adalah pohon mangga yang sering dipanjatnya bersama kawan-kawan kuliahnya semester pertama, enam belas tahun lalu.

Asrama.
Selalu punya kisah sendiri untuk diceritakan.
Seperti apa yang akan saya ceritakan pada tulisan berikutnya.

Bantul, 20 Agustus 2016

Kamar kakak kedua,

Berpagi hari


Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.