Kamis, 25 Agustus 2016

CERITA LAIN


Kami bertemu di sebuah kamar paling pojok di tempat bernama Logico Camp. Kamar paling riuh di antara kamar-kamar lainnya. Jika kamar lain berisi dua atau empat orang, kamar kami berisikan delapan manusia ditambah satu makhluk lain tak kasat mata yang biasa kami sebut dengan sebutan ‘mbaknya’.

Tenang saja. Ini bukan cerita tentang kisah misteri makhluk tak kasat mata seperti yang pernah ngehits di kaskus tempo lalu.

Saya hanya sedang ingin sedikit bercerita tentang jejak-jejak yang pernah saya tapaki bersama beberapa manusia yang pernah tinggal 24 jam bersama saya di Pare sana. Sebuah tempat yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Inggris di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Pare, sebuah tempat yang lumayan jauh dari kota, di mana – pada waktu itu – AC hanya bisa ditemukan di dalam tiga petak bangunan ATM. Pare, memiliki ramuan kesederhanaan untuk para penghuninya yang pernah memutuskan tinggal di sana. Itulah keunggulan Pare. Mengapa dia banyak dicari-cari orang. Inti dari tempat ini adalah tentang “hidup sederhana”. Dengan sepeda-sepedanya, dengan kehidupan ala-ala asramanya, dengan kelas-kelas yang kadang masih berbentuk ruangan berbilik bambu bersekat berlantai semen tanpa AC, dengan kehidupannya yang dekat dengan sawah dan jauh dari gemerlapnya bioskop dan dunia mall, dengan makanan-makanan yang harganya masih lebih murah daripada di Jogja.

Rara, seorang kawan sekamar yang waktu itu baru lulus SMA dan sedang mengejar cita-citanya menjadi dokter, menemukan titik perubahan semenjak tinggal di Pare. Walaupun, pada akhirnya dia gagal menggenggam cita-citanya menjadi dokter setelah berulang-ulang kali berusaha mencoba, dia akan selalu bilang: Semua ada hikmahnya, kak. 

Adek yang satu ini, memang selalu berpikiran positif. Setelah lulus SMA dan gagal masuk dunia kedokteran, dia memutuskan pergi ke Pare. Bulan-bulan pertama, dia merasa tidak betah dan mau pulang saja. Tapi, dia menahan diri. Katanya, saat pendakian bersama kami ke Gunung Andong beberapa waktu lalu, “Aku mulai berubah semenjak hidup di Pare, lalu di Jogja.” 

Kehidupan Rara di sebuah Pulau di seberang Pulau Jawa sana, memang penuh dengan kemewahan katanya. Kemana-mana harus naik mobil. Dia sendiri menyebutnya hedon. Punya sepatu, tas, atau barang-barang lainnya harus yang mahal dan bermerk, hangout kesana kemari, bersenang-senang dengan sesuatu yang tampak bergengsi dan mahal.

“Sejak hidup di Pare dan sekarang di Jogja, beda banget rasanya, Kak. Aku punya teman-teman yang sederhana dan nggak gengsian. Itulah hikmahnya juga kak, kenapa aku gagal masuk kedokteran dan sekarang harus tinggal di Bantul. Mungkin aja kalau aku jadi masuk kedokteran, aku bakal jadi sombong dan gengsiku nggak hilang-hilang,” ceritanya saat kami leyeh-leyeh  di tengah-tengah perjalanan menuju puncak Andong.

Semua ada hikmahnya, Kak.

Kata-kata yang selalu terucap selama empat jam perjalanan menuju puncak Andong. Empat jam perjalanan naik gara-gara kami salah pos. Seharusnya, kami naik lewat jalur Sawit, jalur yang banyak dilewati orang dan pasti rame di kala weekend. Namun, waktu itu, jalur yang kami lewati sepi. Hanya ada kami, empat wanita bersama satu rombongan lain, dua pasang suami-istri. Disusul beberapa jam kemudian, beberapa gelintir orang lewat menyusul kami.

Semua ada hikmahnya, Kak.

Di bawah pancaran sinar rembulan dan kerlipan genit para bintang, di atas gemerlapan lampu kota, dan jalanan yang cukup bikin bengek para amatiran macam kami, Jalur Kudusan membawa kami bersama lagi sehari semalam. Mengobrol, bercanda, dan saling memberi semangat. Rara, paling muda di antara kami berempat tapi paling kuat dan paling ceria. Saya menemukan dia pertama kali sebagai wanita tomboy dan penuh percaya diri. Karin, mantan wartawan yang memutuskan resign dan menjadi penulis lepas dan kuliah lagi sama seperti saya. Saat menemukannya pertama kali, dia tidur semalaman di lantai kamar asrama bersama sleeping bagnya. Dan Dian, seseorang yang pertama kali saya temukan di Flores dan sudah banyak perjalanan yang saya lalui bersamanya. Mereka dan cerita-ceritanya, setidaknya membuat saya bertambah yakin terhadap jalan yang saya pilih dan sedang saya lalui.

Semua ada hikmahnya, Kak.




Lakukanlah perjalanan sekali-kali. Setiap perjalanan, tidak hanya meninggalkan jejak, tetapi juga perubahan. (sebuah kalimat yang saya dapatkan dari sebuah lembaran dari Sekolah Petualang).

Allah lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira (Q.S. Ar-Ruum:48)


Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.