Minggu, 28 Agustus 2016

Bidayatul Hidayah: Pertemanan

Akhir-akhir ini saya sedang tertarik pada sebuah kitab yang usianya sudah ratusan tahun. Karya fenomenal Imam Al-Ghazali selain Ihya Ulumuddin, Bidayatul Hidayah. Isinya tentang hal-hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjemput hidayah. Ada satu bagian yang menarik bagi saya, tentang persahabatan dan pertemanan. Membangun benteng untuk menjemput hidayah. Saya dapatkan tulisan di bawah ini, terjemahan Bidayatul Hidayah dari blog ini. Tentang apa yang harus kita perhatikan dalam memilih teman. Menarik, karena saya merasa pernah salah memilih. Karena, jika baik teman atau partner hidup kita, baik pulalah kita. Semoga bermanfaat. 


Akal.Tidak ada untungnya bergaul dengan orang bodoh karena bisa berakhir kepada kemalangan dan terputusnya hubungan. Paling-paling mereka hanya akan memberikan mudarat kepadamu serta ingin memanfaatkanmu. Musuh yang pandai lebih baik daripada teman yang bodoh. Imam Ali r.a. berkata:
Janganlah engkau bergaul dengan orang bodoh
Hendaknya kau betul-betul menghindarinya
Betapa banyak orang bodoh yang menghancurkan
si penyabar ketika ia menginginkannya
Seseorang diukur dengan orang lain
di mana orang itu mengikutinya
Seperti sepasang sendal yang sama
di mana sendal itu menyerupainya
Sesuatu dan yang lain
mempunyai ukuran dan kemiripan
Hati yang satu menjadi petunjuk
bagi hati yang lain ketika berjumpa

Akhlak Yang Baik.Jangan engkau bersahabat dengan orang yang buruk akhlaknya. Yaitu, orang yang tak bisa menahan diri ketika muncul amarah dan syahwat. Alqarnah al-‘Atharidi rahimahullah, dalam wasiatnya kepada putranya manakala akan wafat, telah mengungkapkan hal itu, “Wahai anakku, jika engkau ingin bergaul dengan manusia, bergaullah dengan orang yang jika kau layani dia menjagarnu, jika kau temani dia membaguskanmu. Bersahabatlah dengan orang yang jika engkau ulurkan tanganmu untuk kebaikan ia juga mengulurkannya, jika melihat kebaik­anmu ia mengingatnya, dan jika melihat keburukan­mu ia meluruskannya. Bersahabatlah dengan orang yang jika engkau mengungkapkan sesuatu, ia mem­benarkan ucapanmu itu, jika engkau mengusahakan sesuatu ia membantu dan menolongmu, serta jika kalian berselisih dalam sebuah persoalan ia mengalah padamu.” Imam Ali r.a. mengungkapkan syair rajaz­nya:
Sesungguhnya saudaramu adalah yang ada bersamamu,
yang membiarkan dirinya menderita demi kepentinganmu,
Dan yang jika bingung dia menjelaskannya padamu
Dia rusak integritas dirinya untuk mengumpulkan dirimu

Baik Dan Saleh. Jangan engkau bersahabat dengan orang fasik yang selalu berbuat maksiat besar. Karena, orang yang takut kepada Allah tak akan terus berbuat maksiat besar. Engkau tak akan aman dari bencana yang ditimbulkan oleh orang yang berbuat maksiat besar itu. Ia akan selalu berubah-rubah sikap sesuai dengan kondisi dan kepentingan. Allah Swt. berfir­man, “Jangan engkau ikuti orang yang Kami lalaikan hati­nya dari berzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsu­nya. Orang itu telah betul-betul melampaui batas” (Q.S. al-­Kahfi: 28). Hindarilah bergaul dengan orang fasik. Sebab, selalu menyaksikan kefasikan dan maksiat akan membuatmu toleran dan meremehkan maksiat. Karena itu, hatimu akan memandang remeh masalah gibah. Seandainya mereka melihat cincin emas atau pakaian sutera yang dipergunakan seorang fakih, me­reka akan sangat mengingkarinya. Padahal, gibah le­bih hebat daripada itu.

Tidak Tamak terhadap Dunia. Bergaul dengan orang yang tamak terhadap dunia merupakan racun yang membunuh. Sebab, kecenderungan untuk meniru sudah menjadi hukum alam. Sebuah tabiat bisa mencuri tabiat lainnya tanpa disadari. Dengan demikian, berteman dengan orang tamak bisa membuatmu lebih tamak, sebaliknya berteman dengan orang zuhud bisa membuatmu lebih zuhud.

Jujur. Jangan engkau bersahabat dengan pembohong karena bisa jadi engkau tertipu olehnya. Ia seperti fatamorgana. Ia membuat dekat yang jauh darimu dan membuat jauh yang dekat darimu.
Bisa jadi kelima hal ini tidak kau dapati pada orang-orang yang berada di sekolah atau di mesjid. Dengan demikian, engkau harus memilih salah satu, entah meng­asingkan diri karena hal itu akan membuatmu selamat, atau engkau bergaul dengan mereka sesuai dengan karakter mereka. Hendaknya engkau mengetahui bahwa saudara itu ada tiga macam:(1) Saudara untuk akhiratmu. Dalam hal ini engkau harus melihat pada agamanya. (2) Saudara untuk duniamu. Dalam hal ini, engkau harus memperhatikan akhlaknya. (3) Saudara untuk bersenang-senang Dalam hal ini  engkau harus selamat dari kejahatan, fitnah, dan keburukannya.

Manusia itu ada tiga jenis: ada yang seperti makanan dimana memang selalu diperlukan, ada yang seperti obat di mana hanya sewaktu-waktu saja diperlukan dan ada pula yang seperti penyakit di mana sama sekali tak diperlukan, tapi seorang hamba kadangkala diuji de­ngannya. Jenis yang ketiga inilah yang tidak menyenangkan dan tidak pula memberikan manfaat Maka, engkau harus berpaling darinya agar selamat. Ketika menyaksikan tingkah lakunya kalau paham engkau akan mendapatkan manfaat yang besar. Yaitu, dengan menyaksikan kondisi dan perbuatannya yang buruk, engkau akan membenci dan menghindar darinya. Orang yang bahagia adalah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain. Seorang mukmin merupakan cermin bagi mukmin yang lain. Nabi Isa a.s. pernah ditanya, “Siapa yang telah mengajarkan adab padamu?” Nabi Isa a.s. menjawab, “Tak ada yang mengajariku. Tapi aku me­lihat kejahilan orang bodoh, maka aku pun menghin­darinya.” Benar sekali yang beliau katakan. Seandainya manusia meninggalkan apa yang mereka benci dari orang lain, adab mereka akan menjadi sempurna dan tak perlu lagi kepada para muaddib (orang yang mengajarkan adab atau etika).

Sabtu, 27 Agustus 2016

Wahai Bumi, Wahai Langit


Seandainya bumi diberi kehendak seperti manusia, niscaya dia akan menghancurkan manusia yang selalu bermaksiat di atasnya. Tapi, Tuhan menghendaki dia untuk taat. Maka taatlah dia. Dan selamatlah manusia untuk sementara waktu.

Bumi dan langit. Saksi atas segala sesuatu yang terjadi pada awal penciptaan manusia pertama sampai dibinasakannya manusia terakhir. Penciptaan mereka dalam enam masa, jauh mendahului penciptaan manusia. Jejak-jejak manusia di atasnya, disaksikannya dalam setiap detik waktu. Segala yang terjadi semenjak apa yang disebut zaman pra sejarah sampai zaman millenium, sampai nanti dia diperintahkan untuk hancur sehancur-hancurnya, dia akan menjadi salah satu saksi kunci.

Perebutan kekuasaan, peperangan, kedamaian, pergantian tahta, hancurnya peradaban-peradaban, munculnya kerajaan-kerajaan, dan apapun yang pernah terjadi, terekam dengan baik oleh mereka, bumi dan langit. Pun apa yang terjadi pada tiap diri kita. Semenjak keluar dari perut ibu, tumbuh dewasa dengan kenakalan-kenakalan kita, memakai beberapa tempatnya pada koordinat tertentu untuk bermaksiat dan bertindak jahat maupun beramal yang baik-baik, lalu mati menjadi bangkai di dalam tanah, bumi dan langit merekam itu semua dengan baik – selain malaikat tentunya. Sehingga, selain pendengaran, penglihatan, dan kulit kita, bumi dan langit akan menjadi pelengkap kesaksian pada saat hari hitung menghitung  tiba.

Tanahnya, batuannya, udaranya, airnya. Apa yang pernah dipakai dan ditinggali oleh masing-masing jiwa yang dihidupkan lalu dimatikan di atasnya akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Dia – bumi –  tidak akan pernah mengkhianati Tuhannya. Karena yang dia bisa hanyalah taat, seperti apa yang pernah dikatakannya bersama langit kala Tuhan memerintahkan mereka untuk bersatu. Kala langit masih berupa asap, Allah berkata kepada langit dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Waktu itu, mereka berdua menjawab, “Kami datang dengan suka hati.” 

Taat.

Seandainya bumi dan langit tidak taat, tidak ada manusia yang tersisa di atasnya dan di bawahnya saking kesalnya mereka kepada perbuatan-perbuatan manusia. Manusia yang taat, akan kesal jika melihat perbuatan-perbuatan yang tidak baik di hadapannya. Pun dengan bumi dan langit. Selama berabad-abad, mereka menyimpan kekesalan itu, pada makhluk-makhluk yang katanya berakal. Pada makhluk-makhluk yang diberi keistimewaan untuk berbuat sesuka hati, pada makhluk yang diperbudak oleh nafsu. Tapi, mereka – bumi dan langit – dengan suka hati taat terhadap Tuhannya. Mereka menahan diri untuk tidak melakukan apa yang tidak diperintahkan pada mereka. Gempa bumi, tsunami, erupsi, tornado, puting beliung, badai, petir dan kilat, adalah bentuk ketaatan mereka kepada Tuhannya. Saat diperintahkan untuk sedikit berimprovisasi dengan bentuk-bentuk yang baru saja disebutkan, sungguh, mereka hanya sedang menjalankan ketaatannya.

Saat nanti kubur menjadi sempit atau lapang, maka saat itu juga bumi sedang melaksanakan tugasnya. Dan ketika nanti dia hancur bersama langit, itu adalah tugas paling penting bagi mereka. Maka, wahai bumi, wahai langit, kami sampaikan salam untuk kalian. Selamat menjalankan tugas dengan baik. Selamat beribadah untuk-Nya dan hanya untuk-Nya.

disarikan dari tafsir Q.S Al-Zalzalah oleh Ust Muhammad Yahya
dan tafsir Q.S Fushshilat 11

Kamis, 25 Agustus 2016

CERITA LAIN


Kami bertemu di sebuah kamar paling pojok di tempat bernama Logico Camp. Kamar paling riuh di antara kamar-kamar lainnya. Jika kamar lain berisi dua atau empat orang, kamar kami berisikan delapan manusia ditambah satu makhluk lain tak kasat mata yang biasa kami sebut dengan sebutan ‘mbaknya’.

Tenang saja. Ini bukan cerita tentang kisah misteri makhluk tak kasat mata seperti yang pernah ngehits di kaskus tempo lalu.

Saya hanya sedang ingin sedikit bercerita tentang jejak-jejak yang pernah saya tapaki bersama beberapa manusia yang pernah tinggal 24 jam bersama saya di Pare sana. Sebuah tempat yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Inggris di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Pare, sebuah tempat yang lumayan jauh dari kota, di mana – pada waktu itu – AC hanya bisa ditemukan di dalam tiga petak bangunan ATM. Pare, memiliki ramuan kesederhanaan untuk para penghuninya yang pernah memutuskan tinggal di sana. Itulah keunggulan Pare. Mengapa dia banyak dicari-cari orang. Inti dari tempat ini adalah tentang “hidup sederhana”. Dengan sepeda-sepedanya, dengan kehidupan ala-ala asramanya, dengan kelas-kelas yang kadang masih berbentuk ruangan berbilik bambu bersekat berlantai semen tanpa AC, dengan kehidupannya yang dekat dengan sawah dan jauh dari gemerlapnya bioskop dan dunia mall, dengan makanan-makanan yang harganya masih lebih murah daripada di Jogja.

Rara, seorang kawan sekamar yang waktu itu baru lulus SMA dan sedang mengejar cita-citanya menjadi dokter, menemukan titik perubahan semenjak tinggal di Pare. Walaupun, pada akhirnya dia gagal menggenggam cita-citanya menjadi dokter setelah berulang-ulang kali berusaha mencoba, dia akan selalu bilang: Semua ada hikmahnya, kak. 

Adek yang satu ini, memang selalu berpikiran positif. Setelah lulus SMA dan gagal masuk dunia kedokteran, dia memutuskan pergi ke Pare. Bulan-bulan pertama, dia merasa tidak betah dan mau pulang saja. Tapi, dia menahan diri. Katanya, saat pendakian bersama kami ke Gunung Andong beberapa waktu lalu, “Aku mulai berubah semenjak hidup di Pare, lalu di Jogja.” 

Kehidupan Rara di sebuah Pulau di seberang Pulau Jawa sana, memang penuh dengan kemewahan katanya. Kemana-mana harus naik mobil. Dia sendiri menyebutnya hedon. Punya sepatu, tas, atau barang-barang lainnya harus yang mahal dan bermerk, hangout kesana kemari, bersenang-senang dengan sesuatu yang tampak bergengsi dan mahal.

“Sejak hidup di Pare dan sekarang di Jogja, beda banget rasanya, Kak. Aku punya teman-teman yang sederhana dan nggak gengsian. Itulah hikmahnya juga kak, kenapa aku gagal masuk kedokteran dan sekarang harus tinggal di Bantul. Mungkin aja kalau aku jadi masuk kedokteran, aku bakal jadi sombong dan gengsiku nggak hilang-hilang,” ceritanya saat kami leyeh-leyeh  di tengah-tengah perjalanan menuju puncak Andong.

Semua ada hikmahnya, Kak.

Kata-kata yang selalu terucap selama empat jam perjalanan menuju puncak Andong. Empat jam perjalanan naik gara-gara kami salah pos. Seharusnya, kami naik lewat jalur Sawit, jalur yang banyak dilewati orang dan pasti rame di kala weekend. Namun, waktu itu, jalur yang kami lewati sepi. Hanya ada kami, empat wanita bersama satu rombongan lain, dua pasang suami-istri. Disusul beberapa jam kemudian, beberapa gelintir orang lewat menyusul kami.

Semua ada hikmahnya, Kak.

Di bawah pancaran sinar rembulan dan kerlipan genit para bintang, di atas gemerlapan lampu kota, dan jalanan yang cukup bikin bengek para amatiran macam kami, Jalur Kudusan membawa kami bersama lagi sehari semalam. Mengobrol, bercanda, dan saling memberi semangat. Rara, paling muda di antara kami berempat tapi paling kuat dan paling ceria. Saya menemukan dia pertama kali sebagai wanita tomboy dan penuh percaya diri. Karin, mantan wartawan yang memutuskan resign dan menjadi penulis lepas dan kuliah lagi sama seperti saya. Saat menemukannya pertama kali, dia tidur semalaman di lantai kamar asrama bersama sleeping bagnya. Dan Dian, seseorang yang pertama kali saya temukan di Flores dan sudah banyak perjalanan yang saya lalui bersamanya. Mereka dan cerita-ceritanya, setidaknya membuat saya bertambah yakin terhadap jalan yang saya pilih dan sedang saya lalui.

Semua ada hikmahnya, Kak.




Lakukanlah perjalanan sekali-kali. Setiap perjalanan, tidak hanya meninggalkan jejak, tetapi juga perubahan. (sebuah kalimat yang saya dapatkan dari sebuah lembaran dari Sekolah Petualang).

Allah lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira (Q.S. Ar-Ruum:48)


Sabtu, 20 Agustus 2016

CERITA





Sekali lagi setelah berkali-kali. Saya kagum sama skenario Gusti Allah. Jalan cerita yang dibuatNya selalu menarik dan mengagumkan. Setiap kejadian dalam skenarioNya selalu punya keterkaitan satu sama lain. Setidaknya, itulah yang sering saya rasakan.

Mengapa saya harus mengalami ini? Mengapa saya berada di tempat itu? Mengapa saya bertemu orang seperti ini? Mengapa harus berurusan dengan orang seperti itu? Mengapa saya harus ke situ? Mengapa? Mengapa? Dan Mengapa? Dari setiap pertanyaan itu selalu ada jawaban di belakangnya di suatu waktu yang lain.

Seperti, mengapa saya harus berurusan dengan orang yang meremehkan, membuat hati sempit, dan mendzolimi saya? Mungkin, dia adalah investasi. Investasi untuk diambil amalnya oleh saya nanti saat datang hari tuntut menuntut, atau bahkan lebih dari itu, mereka adalah penyebab “dihadiahkannya” sebuah bangunan serupa istana nanti olehNya, jika saya bisa memaafkan dia yang telah berbuat aniaya. Semuanya memiliki esensi sama, berujung pada hal baik.

Pertemuan dengan tempat tertentu dan orang tertentu, itu juga memiliki kaitan tak terlihat dengan sesuatu yang kita jalani di masa mendatang.

Salah satu tempat itu, dalam cerita rangkaian hidup saya, adalah Teluk Awur. Sebuah tempat yang menarik bagi saya. Tempat yang dulu pernah dihadirkan sesaat dan pada akhirnya sekarang pun saya berurusan dengan dia lagi. Siapa sangka?

Dua tahun lalu, di Teluk Awurlah, pertama kalinya saya berhasil mengatasi rasa megap-megap saat nyemplung ke laut. Pasca hampir “tenggelamnya” saya di Pulau Bakungan di Kalimantan sana, saya selalu ketakutan setiap nyemplung air dan harus pakai life jacket kalau memang harus nyemplung. Saat itu, di Teluk Awur, salah satu dosen pelatihan survey pemetaan pesisir dan laut yang diadakan kantor, tidak memperbolehkan kami memakai life jacket. Saya yang masih ketir-ketir di tepi kapal pun, didorong nyemplung ke laut. Megap-megap lah saya akibat efek panik. Lalu, seorang asisten menarik saya dan membimbing saya sampai saya berani. Mulai dari situlah, saya menjadi lebih tenang setiap kali nyemplung ke air.

Entahlah, efek trauma selalu membuat saya seperti itu. Pada lift misalnya. Karena pernah terjebak seorang diri di dalam lift setahun lalu, saya sekarang lebih memilih jalan melalui tangga jika di lift yang akan saya masuki tidak ada orang dan jika lantainya tidak lebih tinggi dari empat atau lima lantai. Padahal, tidak terlalu lama saya terjebak di dalam lift, tidak lebih dari dua puluh menit. Tapi paniknya itu yang bikin sengsara. Padahal waktu itu saya tidak apa-apa. Dan Itu baru dua puluh menit di dalam lift yang terasa sempit dan terasa sendiri. Coba ya, besok di dalam kubur gimana rasanya?  

Selain itu, gempa misalnya. Tidak lebih dari satu menit memang. Tapi, seumur hidup saya, baru kali itu saya merasa sangat-sangat ketakutan. Kalau istilah Jawanya, atine entek. Dan sejak saat itu hati saya selalu berdesir setiap tanah yang saya pijak bergetar atau bergoyang walaupun itu hanya akibat efek kendaraan lewat atau efek elastisitas gedung dan bukan efek gempa. Coba ya, besok saat kiamat bakal setakut apa rasanya?

Kembali ke Teluk Awur. Urusan perkuliahan saya akhirnya harus berurusan dengan tempat itu juga. Beberapa minggu yang lalu saya mengunjunginya lagi saat perjalanan survey persiapan kuliah lapangan di pulau kecil di seberang Teluk Awur yang akan dilaksanakan awal September nanti. Saya kembali bernostalgia atas sedikit waktu yang pernah saya lalui di tempat itu. Pada kamar-kamar asramanya. Pada mangrove yang tumbuh di sana. Pada sunset  serupa kuning telur paling indah yang pernah saya pandang di tengah laut. Pada sedikit rasa berani yang berhasil saya tumbuhkan di tempat tersebut.

Pun dengan salah seorang teman saya, yang pernah menghabiskan setahun setengah waktu hidupnya, setiap hari, enam belas tahun lalu, di tempat yang sama. Dia bernostalgia, bergembira bisa mengunjungi tempat yang baginya penuh dengan cerita-cerita tak terlupakan puluhan tahun lalu. Berbahagia menemui kamar-kamar asrama yang masih sama dengan enam belas tahun lalu. Menemui penjaga asrama yang masih sama. Bercerita tentang nelayan yang sering memberi ikan. Dan tersenyum menemukan kenyataan bahwa pohon mangga yang tumbuh di samping asramanya adalah pohon mangga yang sering dipanjatnya bersama kawan-kawan kuliahnya semester pertama, enam belas tahun lalu.

Asrama.
Selalu punya kisah sendiri untuk diceritakan.
Seperti apa yang akan saya ceritakan pada tulisan berikutnya.

Bantul, 20 Agustus 2016

Kamar kakak kedua,

Berpagi hari


Minggu, 14 Agustus 2016

Teman Ngobrol di Perjalanan

gambar dari sini


Sering, setiap kali saya ada kerjaan di luar, saya menemukan teman ngobrol ngalor-ngidul yang menyenangkan. Para sopir yang bertugas membawakan mobil sewaan ketika saya saat itu sedang memperjalankan diri. Para sopir ini, kebanyakan yang saya temui, sudah banyak makan asam garam kehidupan. Sehingga, apa yang saya dapatkan selama mengobrol di perjalanan adalah cerita-cerita hidup yang kadang membuat saya geleng-geleng kepala sampai terkagum-kagum.

Seperti seorang sopir yang kami panggil “Bang” -- saya lupa namanya – yang menemani perjalanan napak tilas tsunami Aceh 2014, dua tahun lalu, dari Meulaboh sampai Banda Aceh. Kemampuannya menguasai jalanan Aceh sekaligus kemampuannya berkisah dan bercerita bak guide yang mengantarkan penumpangnya piknik membuat perjalanan kami di sana menjadi menyenangkan. Apalagi, ditambah penguasaannya terhadap tempat-tempat kuliner di Aceh. Termasuk, penguasaannya terhadap dunia perkopian Aceh. Lalu, pada akhirnya saya tahu beliau dulu adalah pengusaha kopi Aceh yang akhirnya memilih menjadi sopir sehingga bisa pergi kemana-mana. 

“Kalau dulu masih jualan kopi, saya tiap hari cuma di warung saja. Sekarang jadi sopir, saya bisa tahu dunia luar,” begitu jawabannya ketika salah seorang rekan memprotes pilihannya. Memang, memiliki warung kopi di Aceh adalah usaha kuliner khas yang cukup menjanjikan. Di Acehlah, pertama kali saya merasakan nikmatnya racikan kopi Aceh dan lezatnya kue srikaya di kedai-kedai khasnya. 

Selain hal di atas, penguasaan dan pengetahuan si Abang terhadap suatu tempat yang kami singgahi kala itu sempat membuat saya terkagum-kagum. Sebut saja ceritanya tentang sejarah masyarakat Lamno, “si mata biru” keturunan Portugis yang mendiami salah satu wilayah di Aceh. Atau tentang seluk beluk sebuah desa yang kami lewati, yang dulunya dikenal sebagai kampung GAM atau sebuah kampung yang banyak praktek sihir di dalamnya. Atau tentang cerita-cerita yang menyertai tsunami besar pada tahun 2004 lalu. Awalnya, saat pertama kali bertemu beliau ketika menjemput kami di Bandara Cut Nyak Dhien, saya memandang beliau sebagai orang yang gahar, tinggi besar, dan nada bicaranya cukup membuat yang mendengarkan berpikir kalau beliau orangnya keras. Ternyata, jauh dari yang dibayangkan, beliau penuh banyolan dan berwawasan luas. Pelajaran buat saya kala itu, untuk kedua kalinya, jangan suka menilai orang ketika baru pertama ketemu!

Bertemu orang baru yang mau menceritakan kisah hidupnya, membuat kita tahu, kalau setiap orang yang kita temui memiliki kisah hidupnya masing-masing. Setiap orang memiliki kesulitan dan masalah yang sering, membuat mereka berubah.

Suatu hari sehabis salah satu perjalanan dinas dari Pulau Dewata, di bandara saya bertemu dengan seorang kawan sekantor yang sama-sama pulang dari perjalanan dinas dari tempat berbeda. Biasanya, kalau sendiri, saya lebih memilih naik Damri dari Cengkareng-Gambir disambung naik bajaj atau ojek sampai kos. Namun, karena saat itu bertemu teman saya yang bawaannya banyak, kami memutuskan naik taksi. Kami dipertemukan dengan seorang sopir taksi. Sebut saja namanya Pak A. Beliau orangnya banyak omong, banyak cerita. Sehingga perjalanan kami yang berlangsung saat jam puncak macet di jalanan Cengkareng-Jakarta, menjadi tidak membosankan. Pak A, yang ternyata terlahir di Jogja, memiliki kisah hidup yang membuat capek saya seketika hilang pada waktu itu.

Beliau penderita gagal ginjal yang harus rutin cuci darah seminggu dua kali. “Saya kalau tiap hari Senin Kamis libur narik neng, ke rumah sakit dulu. Nyuci darah. Alhamdulillah gratis, dapet bantuan dari Yayasan A. Kalau lagi ngga cuci darah ya narik tiap malem.”

Selanjutnya, beragam kisah muncul dari beliau. Tentang beliau yang pernah gagal dalam berumah tangga. Tentang pengalaman tak terlupakan yang membawa mayat sembunyi-sembunyi di taksinya dari Jakarta-Banten. Tentang pengalaman-pengalaman lain yang tak kalah menarik. Beliau tidak menceritakan kesulitan-kesulitan yang pernah beliau alami dengan nada sedih lagi nestapa. Beliau menceritakan itu semua dengan nada optimis penuh semangat dan pada akhirnya adalah: kesyukuran. Beliau sakit cukup parah, namun tidak terlihat sebagai orang sakit.

“Bapak nggak apa-apa memang tiap hari kerja?” saya bertanya seperti ini mengingat keadaan beliau yang harus sering cuci darah. Pikir saya, apa ya nggak lemes?

“Alhamdulillah masih diberi kekuatan buat kerja, Neng. Yang penting bapak jaga makan. Ntar kalo capek kan bisa istirahat Neng...”

“Bapak seneng masih bisa kemana-mana, Neng. Kerja itu yang penting bisa ngerasain tentram, seberat apapun kerjaannya...”

Lalu saya ingat diri saya yang suka ngeluh dan protes capek setiap kali lembur. Kalo kayak begini mah, gue belum ada apa-apanya dibandingin ni Bapak...

Di lain kesempatan, di suatu perjalanan darat ke Pangandaran, seorang bapak-bapak setengah baya menjadi teman ngobrol yang membuat saya tersadar akan sesuatu. Suatu kenyataan bahwa godaan berupa harta, tahta, dan wanita itu benar-benar membuat buta mata.  Sebut saja teman ngobrol saya kali itu adalah Pak B. Pak B ini sering diminta menjadi sopir di beberapa instansi pemerintah. 

“Saya suka susah kalo diminta nyopirin pejabat-pejabat, Mbak,” beliau memulai curhatnya.

“Kenapa, Pak?”

“Nggak semua pejabat memang. Tapi ada beberapa oknum pejabat tertentu yang kadang bikin dilema...”

“....banyak yang minta dianterin ‘jajan’ kalau lagi pas dinas keluar kota”

Pemilihan diksi ‘jajan’ di sini, tentu saja, adalah mencari kesenangan dari wanita yang pekerjaannya memang menjajakan diri untuk membuat para lelaki terpuaskan.

“Kadang ada juga tuh, pejabat, pas lagi ada kerjaan di luar kota, malamnya minta dianterin ke tempat-tempat kayak begitu. Saya bilang aja nggak tahu. Eh, saya diiming-imingi gratis satu kalau mau nganterin...”

“Trus pak..?” Saya penasaran. Saya tahu, sangat tahu, godaan semacam ini sangat berat ditampik bagi mereka yang imannya setipis tisu.

“Kadang akhirnya saya antarkan, tapi saya nunggu di mobil. Setelah itu saya ngerasa nggak tenang atinya, Mbak. Apa ya mereka nggak ingat anak istri di rumah ya? Saya sih takut Mbak. Semua itu kan pasti ada balasannya.”

Semua itu ada balasannya.
Iya, bener banget. Saya cuma membatin.

Harta, tahta, wanita. Tiga hal yang sangat berbahaya bagi mereka yang moral dan akhlaknya kurang kuat, sehingga keinginan untuk bersenang-senang lah yang menjadi lebih kuat. Dan bagi saya itu mengerikan. Dan semoga lelaki yang berjodoh dengan saya nanti tidak gampang tergoda dengan hal-hal semacam itu. Pun saya sendiri, semoga jauh-jauh dari hal macam begitu.

Tiga orang saya saya ceritakan di atas, baru sedikit dari beberapa teman ngobrol di perjalanan yang cukup membuat pemikiran dan hati saya teraduk-aduk. Mengutip kalimat favorit yang pernah dilontarkan oleh salah seorang kenalan: Seseorang itu adalah guru bagi orang lain. Maka kosongkanlah gelasmu saat bertemu orang baru, agar gelas itu kembali terisi penuh dengan sesuatu yang baru juga.
@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.