Selasa, 26 Juli 2016

Petuah Ibuk #2

Menurut Ibuk, saya adalah anaknya yang paling keras kepala dibandingkan kakak-kakak saya. Hmm,  ya, saya pikir memang begitu. Saya menyetujui pernyataan itu. Karena, mungkin ada beberapa hal di mana pikiran kami susah menyatu.

Saya adalah anak Ibuk yang paling jarang cerita macem-macem. Cerita pun seperlunya saja. Berbeda dengan kakak pertama saya yang selalu bisa cerita secara mendetail tentang kehidupan sehari-harinya. Mungkin saya lebih nurunin sifat bapak, banyak diem. Diem. Diem. Dan Diem. Kakak lelaki saya lebih mending daripada saya untuk urusan cerita bercerita, walaupun tidak sebanyak cerita yang keluar dari kakak pertama saya.

Pada banyak hal, Ibuk membebaskan saya. Pada beberapa hal, Ibuk memproteksi saya.

Ibuk terkadang langsung bilang “ya” atas apa yang ingin saya lakukan. Terkadang bilang “terserah kamu” atas sesuatu yang ingin saya lakukan tapi beliau tidak sepenuhnya setuju. Atau langsung bilang “tidak” pada sesuatu yang khawatir saya tak bisa menjalaninya dengan baik, atau terdapat keburukan di belakangnya.

Intuisi Ibuk, adalah intuisi yang tajam dan terpercaya menurut saya. Walaupun, saat otak dan hati saya sedang tidak waras, saya lebih sering untuk tidak mempercayai intuisi itu. Dan belum lama sebenarnya, saya bisa berpikir lebih dewasa tentang intuisi Ibu saya yang lebih banyak benarnya ketimbang salahnya.

Sebagai contoh, saya ingin bepergian jauh dari rumah. Naik gunung atau main ke suatu tempat yang jauh. Terkadang saya saya mudah mendapatkan izin. Terkadang, sulit setengah mati. Dan saya baru menyadari bahwa saat mudah mendapatkan izin, selalu ada kebaikan-kebaikan dalam setiap perjalanan saya. Dan ketika Ibuk terkesan keberatan atas perjalanan saya atau sangat sulit mendapatkan izin – namun saya memaksakan diri – selalu ada ketidakbaikan yang mengiringi perjalanan saya tersebut.  Pergi dengan siapa juga akan mempengaruhi turunnya izin. Dan sejauh ini, izin bepergian akan sangat mudah turun jika saya bepergian bersama teman-teman kuliah S1 saya. Entah mengapa. Mungkin Ibuk merasa saya aman jika bersama mereka, nggak bakal dianeh-anehin dan diapa-apain. Berbeda ketika jawaban ibu cuma sebatas “hmmm” atau kata-kata tegas: “nggak!”, ada sesuatu yang kurang baik di balik itu semua.

Saya bukan orang yang sering ditelepon atau menelepon saat berada jauh dari rumah. Prinsipnya, kamu pokoknya ngabarin kalau pergi ke suatu tempat, saat berangkat, saat sampai, saat pulang. Yang penting ngabarin kalau hendak pergi ke tempat yang nggak ada sinyal. Selebihnya hanya saling SMS atau WA-nan dan berkirim foto. Namun, saat saya sedang dalam keadaan tidak baik, sakit atau kecelakaan misalnya. Ibuk selalu tahu tanpa saya bercerita, lalu menelepon saya. Saya tidak tahu bagaimana keterikatan Ibu dan anak bekerja. Tapi, beberapa kali saya sakit, Ibuk juga ikutan sakit. Saat saya thypus misalnya, Ibuk juga sakit dan harus bedrest. Lalu saat saya thypus kedua campur demam berdarah, Ibuk masuk UGD.

Petuah ibuk, kadang tidak muncul dalam kata-kata tegas “ya” atau “tidak”. Tapi Ibuk lebih sering bilang “terserah” agar anak-anaknya memilih sendiri dan menjalani pilihannya, walaupun sebenarnya beliau tahu pada akhirnya pilihan itu bukan pilihan yang baik. “Kalau nggak gitu, nggak bakal belajar,” kata beliau suatu hari.

Ketika kata-kata “terserah” yang muncul, saya hanya bisa meraba-raba, antara yakin dan tidak yakin. Satu-satunya yang menentukan hanyalah ridha-Nya Zat yang jiwa kita ada pada genggaman-Nya. Tak lain, tak bukan.

Kadang kata “terserah” muncul ketika kami tidak saling bersepakat atas suatu hal. Perkara memilih jurusan dan pekerjaan misalnya. Sedari dulu beliau lebih mengarahkan saya untuk menekuni dunia kesehatan. Sedangkan saya, tertarik sedikitpun tidak pernah pada dunia kesehatan. Walaupun memang, saya juga mendaftar pada berbagai jurusan kesehatan, namun beliau juga membebaskan saya memilih yang lainnya. Dan saat  pada akhirnya saya tidak memilih dunia kesehatan, ibuk hanya bilang “terserah kamu”. Beruntung, saya merasakan keputusan saya tersebut akhirnya tepat.

Ada juga keputusan saya yang pada akhirnya tidak tepat. Salah satunya adalah perkara memilih seseorang sebagai pendamping hidup. Diawali dengan kata “terserah”. Lalu akhirnya saya tahu, di balik kata “terserah” itu kemudian muncul berbagai alasan-alasan yang mengarah pada kata “tidak”. Dan seorang kawan berkata pada suatu ketika, “Saat yang muncul adalah alasan-alasan yang kadang tak masuk akal dan memberatkan dari orang tua, maka itu artinya adalah tidak.”

Dan omongan kawan saya tersebut terbukti benar. Lalu setelah semua sudah berakhir, ibuk baru mengungkapkan alasan sebenarnya:

“Ibuk cuma nggak pengen anak gadisnya Ibuk disakiti nanti. Ibuk tidak melihat dia baik buat kamu. Mungkin juga sebaliknya. Ibuk biarin, biar kamu tahu sendiri. Ibuk sudah merasa dari awal, dia bukan jodohmu. Jodohmu memang belum kelihatan. Nggak tahu siapa.”

Kadang, saya terkesima dengan cara beliau mendidik kami. Kadang menyenangkan. Kadang melelahkan. Kadang juga membingungkan. Kadang saya masa bodoh. Tapi yang pasti, dengan cara tersebut saya semakin menyadari kalau hidup itu adalah proses belajar tiada henti.  

Related Articles

@putrimaru. Diberdayakan oleh Blogger.